
Tiba di kediaman nya, daddy Rehan dan mommy Billa langsung menyalami tamu-tamu nya. Berbincang sebentar dengan para rekan bisnis nya itu, dan setelah beberapa saat,,, satu persatu tamu undangan itu pun pamit undur diri.
Setelah semua tamu kembali pulang, keluarga besar Alamsyah dan Antonio pun menikmati makan siang bersama. Termasuk kedua orang tua Salma dan Azka, om Devan dan keluarga nya, juga om Rahmat dan keluarga kecil nya yang masih berada di sana.
Begitu pun dengan teman-teman dekat nya Kevin, yang baru saja sampai. Mereka langsung bergabung di meja makan yang memanjang, bersama para senior nya.
Seperti biasa, keluarga besar itu selalu penuh kehangatan di setiap kesempatan. Pun saat sedang makan seperti sekarang ini, obrolan ringan dan canda tawa mewarnai selama acara santap siang berlangsung.
"Bang, rencana nanti sore.. kami mau besuk bang Rahman di rumah sakit," ucap om Ilham memberitahukan kepada daddy Rehan, sesaat setelah mereka selesai menikmati makan siang.
Anak-anak sudah kembali dengan aktifitas nya masing-masing, menyisakan orang dewasa dan para orang tua yang masih ngobrol hangat di meja makan itu.
"Jangan dulu deh Ham, besok si Rahman sudah boleh pulang kok.. biar mereka menikmati istirahat nya, jangan di ganggu," larang daddy Rehan.
"Palingan cuma bentar kok bang, masak enggak boleh sih?" Protes om Ilham, "lagian di rumah sakit, emang nya apa yang akan mereka lakukan? Sampai enggak boleh di ganggu?" Lanjut om Ilham.
"Ya, nama nya pengantin baru... mau ngapain lagi ayah?" Balas tante Jihan, yang ternyata sesuai dengan apa yang akan dikatakan daddy Rehan.
"Nah, itu... istri mu aja tahu," timpal daddy Rehan.
Tahu tuh si bontot, sejak ada Jelita.. ngeblank dia," olok om Alex, seraya terkekeh, yang disambut tawa oleh semua nya. Karena mereka semua tahu, betapa rempong nya om Ilham, dalam mengurus putri kecil nya itu.
"Kena karma dari putri nya sendiri dia,,," imbuh om Devan, dengan tawa nya.
"Hi hi,,, iya, benar bang Dev. Ayah kan suka jahil, sekarang di jahilin deh sama Lita," tante Jihan ikut terkekeh, menertawakan suami nya.
Om Ilham hanya bisa tersenyum kecut, karena memang benar ada nya.. keberadaan putri bungsu nya itu, menyita begitu banyak perhatian om Ilham karena Jelita hanya mau di pegang sama ayah nya
"Kalau di rumah, atau di hotel si iya bun.. lah ini, rumah sakit?! Masak mau gituan?!"
"Lah,, kita di tempat yang lebih ekstrim aja pernah kan?" Balas tante Jihan dengan vulgar, adik sepupu om Alex itu mulut nya memang lumayan bocor.. tapi orang nya asyik dan bisa bikin hidup suasana.
Tante Jihan pandai pula bergaul dengan orang yang jauh lebih tua, atau pun yang usia nya jauh dibawah nya. Tak heran, jika geng tampan dan istri-istri nya sangat menyayangi tante Jihan dan juga om Ilham tentu nya.
"Wah, yang benar dik.. dimana?" Tante Nisa mulai kepo.
"Hahaha,, bang Alex, mbak Nisa mau suasana baru tuh," ledek tante Jihan, yang ternyata cuma iseng doang.
"Assem kamu dik," tante Nisa tersenyum kecut.
Om Alex geleng-geleng kepala melihat tingkah adik sepupu nya yang enggak pernah berubah, persis seperti masih ABG dulu... meski umur nya telah semakin matang.
Sejenak hening menyapa ruang makan tersebut. Kevin dan teman-teman nya, kemudian pamit undur diri dan memilih ngobrol di tempat lain.. yang diikuti om Rahmat dan tante Saskia, serta papi Vincent dan mami Nina yang memilih kembali ke kamar mereka.
Sedangkan para orang tua, beranjak meninggalkan meja makan untuk beristirahat,,, termasuk mertua Kevin yang membawa serta Vinsa. Kini hanya tersisa geng tampan, dan keluarga ayah Yusuf. Sebab om Ilham dan tante Jihan juga sudah meninggalkan meja makan, karena Jelita rewel.
"Rahman ma Icha, mau pulang kemana Rey? Apartemen Rahman atau pulang kemari?" Tanya opa Alvian, memecah keheningan.
"Rahman mau nya langsung ngajak Icha pulang ke apartemen nya, tapi karena mereka belum bertemu saudara nya semua.. tadi Billa nyuruh mereka agar balik dulu ke sini," balas daddy Rehan, seraya melirik mesra sang istri.
Opa Alvian mengangguk,
"Ya lebih baik pulang ke sini dulu, kasihan Icha kalau harus ngurus suami nya sendiri," timpal bunda Fatima, yang menyetujui keinginan mommy Billa. Oma Susan pun mengangguk-angguk, menyetujui rencana itu.
"Ya udah, kalau gitu.. kita nginap di sini sampai besok," ucap om Devan.
"Biar hemat ya Dev,, lumayan kan, gratis makan dua hari dua malam," balas daddy Rehan tanpa dosa.
Yang kembali disambut gelak tawa para hot papa, dan hot mama.. termasuk tante Lusi, sedangkan om Devan mencibir.
"Yaelah,, big bos perhitungan banget sih!" Gerutu om Devan, "adik lu tuh Fa, pelit!" Adu om Devan pada bunda Fatima.
Bunda Fatima hanya tersenyum.
Om Devan tersenyum nyengir,, "hehe,, gue lupa, uang nya udah habis sih," balas om Devan jujur.
"Udah jadi belum?" Tanya daddy Rehan, "tiap di tanya, jawaban nya bulan depan, bulan depan mulu.. ngeles kayak bajai," gerutu daddy Rehan.
"Iya Dev, fix nya kapan? Kita syukuran bareng di pulau pribadi itu?" Timpal bunda Fatima.
"Sabar Fa, dikit lagi,," balas om Devan, seraya mengusap tengkuk nya.
"Perasaan, tiap kali di tanya.. jawaban lu, kalau enggak bulan depan, ya.. dikit lagi, dikit lagi. Dari empat tahun lalu loh Dev?" Opa Alvian menatap om Devan, penuh selidik.
"Ya karena mereka berdua minta nambah-nambah terus bang,,," om Devan menunjuk daddy Rehan dan bunda Fatima, "udah fix jadi, minta di renovasi. Dah gitu nambah mulu,, nambah satu unit untuk Kevin, nambah lagi untuk Icha, untuk Malik. Fatima juga sama, minta nambah mulu.." gerutu om Devan.
Daddy Rehan tersenyum, begitu pula dengan bunda Fatima.
"Dev, sekarang gue butuh kepastian. Kira-kira kapan pulau yang lu rancang itu bisa ditempati manusia?" Tanya daddy Rehan serius, "berhubung resepsi Rahman dan Icha enggak jadi dibarengkan sama Dion dan Fira, gue berencana untuk ngadain resepsi nya di pulau pribadi kita itu," lanjut daddy Rehan, seraya menatap om Devan.
"Lu mau nya kapan? Gue bisa ngebut, asal..." om Devan menghentikan ucapan nya, seraya memainkan kedua alis nya.
"Dasar, mata duitan lu?!" Om Alex yang paham maksud om Devan, melempar suami dari tante Lusi itu dengan tissue makan yang telah di remas.
Om Devan terkekeh.
"Ya, kira-kira sampai tangan Rahman sembuh,, sanggup enggak?!" Tegas daddy Rehan.
Om Devan mengangguk pasti, "siap," balas om Devan singkat.
"Fa, yang tambahan satu unit untuk Fira.. belum ya? No rek gue masih sama," ucap om Devan, seraya terkekeh.
"Iya, iya, bawel ah..!" Sungut bunda Fatima, "tapi yang untuk Bayu, udah di transfer bang Yusuf kan?" Lanjut bunda Fatima menegaskan.
Om Devan mengangguk,
Ya, karena kala itu Bayu memilih bulan madu di dalam negeri.. akhir nya ayah Yusuf membuat kan satu buah villa sebagai kado pernikahan nya, di pulau pribadi keluarga AA tersebut.
"Tuan asisten,, yang punya big bos kurang satu, yang tambahan terbaru itu... untuk mantan rival sekaligus calon besan," ucap om Devan seraya mengerling menggoda daddy Rehan.
"Ck,,," daddy Rehan berdecak kesal.
"Gue tunggu transferan nya." Tagih om Devan, seraya menatap om Alex.
"Ke rekening donasi kayak biasa nya kan?" Om Alex tersenyum seringai.
"Enak aja, rekening donasi." Protes om Devan.
"Lah, habis nya.. lu sok-sokan punya ide bikin pulau, tapi ending-ending nya minta donasi sana-sini," cibir om Alex
"Hahaha iya benar, rekening donasi. Dan tuh pulau akhir nya bukan lagi pulau pribadi, tapi pulau donasi," ledek opa Alvian, yang disambut tawa oleh geng tampan.
π·π·π·π·π· tbc,,,
(Edisi special, buat yang kangen sama geng tampan π€π)
Selamat Hari Raya Idul Adha 1443 H
"Maka dirikan lah sholat karena Tuhan mu, dan berqurban lah."
Momen berqurban tidak melulu dengan qurban hewan, ada makna qurban dengan cara berqurban hati kita mencegah kemaksiatan hati.
Berqurban untuk bisa berbuat baik, mendoakan kebaikan untuk orang lain,,, terlebih bagi orangΒ² yang sudah berbuat tidak baik kepada kita
#buyayahya