All About KEVIN

All About KEVIN
Laki-laki Pengkhianat



Pagi hari di rumah utama keluarga Alamsyah terlihat sangat ramai, di ruang keluarga terdengar suara gaduh anak-anak dari dua keluarga besar yaitu keluarga Alamsyah dan Antonio.


Ada yang berebut mainan, berkejaran dan ada yang suka usil menggoda yang kecil... hingga suara tangis pun terdengar dan semakin menambah keriuhan suasana di ruang keluarga yang sangat luas itu.


Sedangkan para mama, ikut sibuk membantu pelayan di rumah utama untuk menyiapkan sarapan pagi. Dan para papa, ngobrol santai sambil ngopi di teras depan.


Menu sarapan sudah siap, masing-masing mama menggiring anak-anak nya menuju meja makan. Sedangkan ibu Lin dan mama Sekar menuju teras depan untuk memanggil para suami.


Kini dua keluarga besar telah berkumpul di meja makan, lebih dari tiga puluh kursi yang melingkari meja panjang di ruang makan tersebut yang terisi. Masing-masing duduk dengan tenang, dan menunggu piring nya diisi makanan oleh para mama.


Ibu Lin membantu Nabila, menyiapkan makanan untuk si kembar Maira dan Maida, sedangkan mama Sekar mengambilkan makanan untuk Kevin dan Mirza, dan Kembar Malik serta Malika dilayani oleh sang mommy. Sedangkan anak-anak yang lain, dilayani oleh mama mereka masing-masing.


Setelah mendapatkan makanan nya masing-masing, mereka mulai menyantap sarapan dengan tenang. Anak-anak tak ada yang ribut, karena opa Sultan dan kakek Ilyas tidak menyukai ada keributan di meja makan, dan cucu-cucu mereka bisa mengerti dan mematuhi nya.


Hanya sesekali terdengar obrolan hangat para orang dewasa yang di selingi celotehan lucu si Iqbal putra dari ayah Ilham dan bungsu kembar putri dari daddy Rehan dan Nabila.


"Iqbal maem nya kok sedikit?" Tanya ibu Lin pada cucu bungsu nya, tatkala melihat tempat makan Iqbal yang baru berkurang sedikit.


"Iqbal udah kenyang nek, tadi udah mimik cucu buanyak,,," jawab nya dengan menggemaskan.


"Susu nya ayah, di habisin juga lho nek sama Iqbal," timpal Jihan menatap putra gembul nya dengan gemas.


"Wah,, pantesan maem nya cuma sedikit. Lain kali kalau mau maem, jangan mimik susu dulu ya nang,, biar maem nya habis banyak dan cepat besar," ucap Nabila pada keponakan nya.


"Kayak Mela ya mom,, Mela kan makan nya buanyak.. bial cepat besal dan cantik sepelti mommy," timpal Maira.


"Memang nya mommy cantik?" Tanya Ilham berniat menggoda keponakan nya yang ceriwis itu, "lebih cantik tante Jihan tahu Ra,," lanjut nya seraya nyengir.


"Cantikan mommy nya Mela om Ilham,, daddy seling bilang, mommy paling cantik sedunia,,, ya kan dad?" Jawab Maira seraya meminta persetujuan sang daddy.


Rehan hanya mengangguk dan tersenyum, "bicara nya nanti lagi nak, habisin dulu makanan nya," titah Rehan dengan lembut.


"Siap daddy Lehan,," balas Maira menirukan sepupu sepupu nya yang memanggil sang daddy dengan sebutan daddy Rehan.


"Heh bocil, nih bang Mirza kasih saus biar bisa ngucap kata Er..." ledek Mirza pada adik nya.


"Ndak mau, Mela ndak suka pedas bang Milza... nanti lidah Mela telbakal.." tolak nya seraya menggeleng-gelengkan kepala nya dengan lucu.


Dan obrolan sambil sarapan itu pun terus berlanjut hingga setelah beberapa lama, mereka semua akhir nya menyelesaikan sarapan nya.


Usai sarapan, Ibu Lin dan pak Ilyas membawa anak-anak ke halaman belakang untuk melanjutkan bermain, sedangkan para mama membantu pelayan membereskan meja makan.


Dan keluarga besar papa Sultan, semua berkumpul di ruang keluarga, termasuk oma Clara, Vincent dan sang istri, Nina. Mereka bermaksud melanjutkan pembicaraan tentang Ayah kandung Kevin yang sempat tertunda semalam, karena Kevin keburu kabur dari rumah.


"Nak, tanyakan lah apa yang ingin kamu ketahui," titah Rehan pada Kevin membuka obrolan.


Semua mata tertuju pada Kevin yang duduk diapit mommy dan daddy nya.


Kevin menarik nafas panjang dan menghembus nya kasar, "pertanyaan yang semalam dad," ucap Kevin melirik sang daddy, "mengapa bukan papi Vincent yang merawat Kevin, jika benar Kevin putra kandung papi Vincent?" Kevin mengulang pertanyaan nya semalam seraya menatap papi Vincent nya meminta penjelasan.


Meskipun Vincent telah menyiapkan mental nya jauh-jauh hari dengan pertanyaan semacam ini dari putra kandung nya, namun tetap saja.. papi bule berdarah Inggris itu merasa tidak siap untuk mengatakan kebenaran nya.


Nina yang mengerti kegelisahan suami nya, mencoba memberikan dukungan nya, "Kevin anak yang baik pi, kalau pun dia marah.. mami yakin itu tidak akan berlangsung lama, jadi sebaik nya papi katakan saja sejujur-jujur nya," bisik Nina di telinga sang suami.


Vincent mengangguk, dan mulai berani membuka suara setelah beberapa saat terdiam,, "Papi minta maaf nak, papi salah," ucap nya mengakui.


"Salah kenapa pi? Cecar Kevin.


"Ketika kamu masih dalam kandungan mommy Keyla, papi malah menjalin hubungan dengan sekretaris papi dan kemudian menikahi nya." Balas Vincent dengan getir, "papi ninggalin mommy mu dengan kondisi hamil besar," lanjut nya seraya menitikkan air mata.


Rahang Kevin mengeras dan gigi nya terdengar gemurutuk, remaja tujuh belas tahun itu menatap tajam papi kandung nya. "Jadi, papi ninggalin mommy Key saat Kevin masih dalam kandungan? Dan membiarkan mommy melahirkan seorang diri?! Dan papi juga tidak peduli dengan kehadiran Kevin?!" Cecar Kevin dengan banyak pertanyaan.


Vincent mengangguk lemah, "iya nak, dan itu adalah kebodohan terbesar papi yang hingga saat ini terus papi sesali," balas Vincent dengan suara bergetar menahan sesak di dada.


Nina terus mengusap lembut punggung suami nya.


Kevin meremas rambut nya kasar, air mata nya telah terjun bebas membasahi wajah bule nya yang tampan. "dad, mom,, ijinkan Kevin memaki laki-laki yang tidak bertanggung jawab itu! Laki-laki pengkhianat!" Seru Kevin dengan tangan mengepal kuat, otot-otot tangan nya yang berwarna hijau begitu jelas terlihat.


Nabila merengkuh tubuh sang putra dan membawa nya dalam dekapan hangat nya. Dia biar kan Kevin menumpahkan segala kekesalan nya dan menumpahkan seluruh kesedihan nya, melalui air mata yang terus mengalir hingga membasahi gamis yang dipakai Nabila.


Daddy tampan Rehan pun, tak henti mengusap punggung kokoh putra yang dirawat nya semenjak baru lahir. Bahkan dialah yang menemani sang adik, tatkala mengandung hingga melahirkan Kevin. Dan Rehan tahu persis bagaimana perasaan putra nya saat ini.


Sedangkan yang lain ikut larut dalam keharuan yang dirasakan oleh Kevin, mama Sekar dan Fatima bahkan sampai menangis. Oma Carla dan Nina juga ikut menitikkan air mata.


"Ikhlaskan apa yang telah terjadi nak dan jangan kotori hatimu dengan dendam, agar hidup mu menjadi lebih tenang. Yakinlah nak, bahwa Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba Nya."


"Jika saja saat itu, Kevin tidak diasuh oleh daddy... mungkin kita tidak akan bertemu. Karena Allah mempertemukan daddy dan mommy melalui kamu nak, hingga mommy dan daddy bisa bersama sampai sekarang." Lirih Nabila lembut seraya mengusap kepala sang putra.


Cukup lama Kevin sesenggukan dalam pelukan sang mommy, dan apa yang sang mommy sampaikan barusan, dicerna baik oleh Kevin hingga membuat remaja itu merasa lebih tenang.


Dan setelah merasa cukup tenang, Kevin melerai pelukan sang mommy, dan mengangkat wajah nya menatap papi kandung nya.


to be continue,,,