All About KEVIN

All About KEVIN
Siapa sih, Ganggu Aja?!



Akhirnya, Salma di ijinkan bergabung pada kelompok nya dan kembali ke dalam barisan. Dan Bagas menatap kepergian Salma dengan senyuman licik dan penuh rencana.


"Gue pasti kan, besok lu akan jatuh ke dalam pelukan gue nona cantik," gumam Bagas dalam hati.


"Ma, lu diapain sama senior songong itu?!" Tanya Devi, sesaat setelah Salma bergabung bersama Devi, Kevin dan beberapa orang mahasiswa baru lain nya yang tergabung dalam kelompok mereka.


Salma tersenyum, "enggak di apa-apain kok Dev, santai aja," balas Salma.


"Baby, seperti nya Bagas suka sama kamu?" Bisik Kevin, dengan tatapan cemburu sekaligus khawatir.. Kevin takut jika Bagas nekat melakukan hal yang buruk dan dapat mencelakai istri serta calon anak nya.


"Masak?!" Salma malah nampak menggoda sang suami, "tapi aku suka nya sama mas Kevin," lirih nya seraya mengerling nakal.


Kevin merasa gemas dengan sikap istri nya, yang sedari tadi terus menggoda diri nya itu. "Baby, kita nanti pulang ke apartemen kita yang baru ya.. nanti sore, baru kita balik ke kantor," pinta Kevin yang sudah tidak tahan ingin menggoda balik sang istri yang semakin hari semakin terlihat montok dan menggemaskan di mata nya.


Setelah mendapatkan pembekalan untuk kegiatan lima hari mendatang, sekaligus mendapatkan PR agar besok semua mahasiswa baru membawa tumbu atau tempat nasi kecil yang terbuat dari anyaman bambu yang akan mereka pakai selama masa orientasi berlangsung.. Kevin dan teman-teman nya pun segera berkumpul di tempat parkir untuk pulang bareng.


"Kita nyari keperluan yang untuk besok dulu ya, sebelum balik?" Saran Devi, menatap teman-teman nya bergantian.


"Ya, lu benar Dev. Apa tadi nama nya, bambu?" Tanya Rahman, yang merasa asing dengan nama dan belum memiliki gambaran sama sekali tentang benda tersebut.


"Tumbu bro nama nya, terbuat dari bambu,," koreksi Bayu.


"Ah ya, itu,,, gue sama sekali gak ada gambaran barang nya kayak apa?" Keluh Rahman.


"Browsing aja,, pasti ketemu," balas Salma.


Dan Kevin yang ternyata sudah mengutak-atik ponsel nya menunjuk kan pada Rahman, gambar tumbu yang di maksud. "Nih, kayak gini. Beli aja yang ukuran nya sesuai untuk kepala," ucap Kevin.


"Wah, gila... benar-benar di jajah kita selama lima hari nanti, masak iya cowok tampan kayak kita harus pakai topi yang beginian," protes Dion, yang ikut melihat ke layar ponsel Kevin.


"Udah, kita ikuti aja kemauan senior.. palingan juga cuma lima hari, dan setelah itu kita bisa tunjukkan taring kita ke mereka. Ayo buruan kita cari, nanti keburu habis.." ajak Devi seraya naik kedalam mobil Dion yang sudah dibuka itu.


"Gue enggak ikut nyari ya, tolong nanti beliin sekalian. Gue mau menemani Salma istirahat di apartemen, drop aja kami di sana," pinta Kevin pada Dion.


"Oke," balas Dion singkat, dan mereka segera naik kedalam mobil milik Dion menyusul Bayu dan Devi yang sudah masuk terlebih dahulu.


"Kita nyari barang kayak gituan dimana Dev?" Tanya Dion, melirik Devi dari kaca spion.


"Di supermarket juga pasti ada kok bang, di bagian peralatan masak," balas Devi.


"Di butik bunda Fatima ada kali bro.. butik nya kan butik terlengkap se Jakarta,," ucap Bayu dengan memasang wajah serius, dan sejenak kemudian meledakkan tawa nya.


Yang lain pun ikut tertawa, "beneran ada kali ya,, di pajang di etalase bagian aksesoris, berjajar dengan topi base ball," timpal Devi, masih dengan tertawa.


Dion yang menatap pasangan yang duduk di belakang sana melalui kaca spion hanya geleng-geleng kepala, "dasar, pasangan somplak," gerutu nya.


Dion kemudian segera melajukan mobil mewah nya keluar dari area Kampus, dan setelah menyusuri jalan raya selama lima menit sampailah mereka di apartemen yang di maksud.


Dion mengantarkan Kevin dan Salma sampai ke lobi Apartemen, "nanti kalau mau balik ke kantor telpon aja bro, biar gue jemput," tawar Dion sesaat sebelum Kevin dan istri nya turun.


"Sama calon adik ipar, emang mesti baik-baik bang Dion.. biar dilancarkan dan dimuluskan jalan nya, demi terwujud nya impian menjadi the next sultan Singapura." Canda Bayu dari bangku belakang.


Teman-teman nya yang lain tertawa mendengar celoteh Bayu, sedangkan Dion hanya tersenyum simpul. Dan mendengar kata Singapura membuat Dion jadi teringat Fira, dan merindukan gadis cantik yang sudah resmi menjadi tunangan nya itu.


"Gue dari dulu kan emang udah care sama kalian semua, abang ipar gue pasti tahu lah gue orang yang kayak apa?" Balas Rahman datar, seraya tersenyum melirik Kevin.


Kevin pun membalas senyum Rahman dengan mengangguk dan mengacungkan jempol.


"Restu sih emang sudah di dapat, tapi nunggu nya itu loh.. kelamaan?? Lu enggak pengin apa, bisa kayak abang ipar lu dan istri nya? Dikit-dikit ngilang dari kantor,,," Bayu mencoba mendobrak pertahanan Rahman, sekaligus menyindir Kevin dan sang istri.


Rahman menggelengkan kepala, "gue bahkan sanggup menunggu Icha sampai lulus kuliah," balas Rahman dengan mantap.


Dion menepuk-nepuk pundak Rahman, "gue sehati sama lu bro.. gue juga sanggup menunggu, jika neng Fira menginginkan gue menyelesaikan studi hingga ke jenjang tertinggi," ucap Dion menyemangati Rahman.


"Gue salut sama kalian berdua.." ucap Kevin menatap Rahman dan Dion bergantian.


"Jangan kayak Bayu, tahu gue ngilang sama istri gue.. langsung mupeng, pengin kawin." Balas Kevin, seraya melirik Bayu.


Rahman dan Dion terkekeh, menertawakan Bayu. Sedangkan Bayu yang mendapatkan sindiran balik dari Kevin tersenyum kecut.


Kevin dan Salma kemudian segera turun dari mobil Dion, "makasih semua," ucap Kevin, dan Salma melambaikan tangan pada semua nya.


Setelah mobil Dion meninggalkan lobi Apartemen, Kevin menggandeng mesra sang istri memasuki lobi Apartemen dan kemudian menuju lift untuk naik ke lantai dimana unit nya berada.


Tak lama kemudian kedua nya sampai di depan unit milik Kevin, unit apartemen mewah hadiah dari papi Vincent untuk putra yang sempat disia-siakan nya.


Kevin segera membuka pintu dengan akses card yang diberikan papi Vincent, dan setelah pintu terbuka mereka berdua segera masuk.


Kevin tersenyum senang melihat interior ruangan apartemen tersebut, mewah dan classy. "Baby, apa kamu menyukai nya?" Tanya Kevin, saat langkah kaki mereka berhenti di mini bar.


Salma tersenyum dan mengangguk, "iya, aku suka. Terlihat estetis,," balas Salma seraya mengedarkan pandangan nya.


Kevin mengusap meja mini bar yang terbuat dari marmer, yang terlihat sangat indah. Tiba-tiba saja Kevin mengangkat tubuh istri nya dan mendudukkan di atas meja mini bar tersebut, hingga membuat Salma terpekik kaget, "aw,, mas.." reflek Salma memeluk leher sang suami karena takut jatuh.


Kevin tersenyum lebar, dan menatap istri nya dengan intens, "baby, kamu tidak keberatan kan kita melakukan nya di sini?" Tanya Kevin.


Salma mengernyitkan kening, dan kemudian tangan Salma meraba meja marmer yang pasti nya keras itu. "Mas, kita belum lihat-lihat ruangan lain? Lihat kamar juga belum kan?" Protes nya, Salma bergidik ngeri membayangkan jika mereka bercinta di atas alas yang keras tersebut... yang pasti nya akan membuat pinggang nya menjadi sakit, "atau kita lihat balkon di lantai atas dulu mas? Pasti sensasi nya beda,,," bujuk Salma, mengalihkan keinginan sang suami.


Gantian Kevin yang mengernyit, "balkon? Itu tempat terbuka baby,, kalau ada yang melihat kita dan kemudian iseng menyebarkan nya bagaimana?" Kevin pun menolak ide konyol sang istri.


Salma hanya tersenyum nyengir, "aku juga tahu itu mas, aku hanya ingin mengalihkan tempat saja.. aku enggak mau ah, kalau di sini?" Salma mengerucutkan bibir nya.


Kevin tersenyum dan menatap bibir sang istri dengan tatapan sayu, Kevin sudah tidak tahan dan segera ******* bibir istri nya dengan lembut.


Hingga beberapa saat kedua nya tenggelam dalam hangat nya ciuman tersebut, dan akhirnya Kevin menggendong tubuh sang istri dan membawa nya ke sofa yang empuk dan tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Meski menginginkan sensasi yang berbeda, tapi mengingat sang istri saat ini tengah mengandung.. maka Kevin lebih mengutamakan kenyamanan sang istri dari pada sekedar menuruti keinginan nya.


Kevin mulai liar mencumbui istri nya, dan kedua insan yang telah halal tersebut mulai hanyut dalam permainan yang mereka ciptakan.


Tiba-tiba terdengar bunyi bel dari pintu apartemen yang mengganggu keasyikan mereka berdua, "siapa sih, ganggu aja!" Gerutu Kevin seraya beranjak dari atas tubuh sang istri yang sudah setengah polos, Kevin menggendong istri nya dan membawa nya ke dalam kamar utama.


Dan setelah merapikan pakaian nya kembali, Kevin segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. "Kak Yura?" Netra kebiruan Kevin membulat sempurna, begitu mengenali siapa yang ada di depan nya saat ini.


to be continue,,,