All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Sampai Kapan Icha Harus Nunggu?



Sementara di tempat lain, tepat nya di kampus tempat Kevin dan teman-teman nya kuliah. Rahman yang baru saja keluar dari perpustakaan, terkejut karena tiba-tiba Malik menghadang langkah nya.


"Bang Rahman tadi darimana sih, tuh si Icha ngambek gara-gara tadi lihat bang Rahman turun dari mobil sama cewek," keluh Malik.


"Apa? Dik Icha lihat? Terus sekarang, Icha nya dimana? Kenapa enggak kamu temani?" Cecar Rahman dengan panik.


"Di kantin dia, bang Rahman kan tahu sendiri kalau marah bawaan nya pengin makan." Balas Malik, seraya menunjuk arah kantin.


Rahman mengangguk, "Oke, gue ke sana sekarang," Rahman hendak bergegas.


"Tadi si Icha bilang, pengin makan bang Rahman katanya.." seru Malik dengan cepat, yang membuat Rahman mengurungkan niat nya dan kemudian menatap Malik seraya tersenyum kecut.


"Kebiasaan kembaran lu itu kalau ngambek, enggak tanggung-tanggung marah nya," Rahman menggeleng-gelengkan kepala.


"Butuh bantuan?" Tawar Malik.


"Rahman menggeleng, " thanks bro, gue bisa atasi sendiri," balas Rahman, dan kemudian segera bergegas meninggalkan Malik.


"Semangat bang,," seru Malik, yang ditanggapi Rahman dengan mengacungkan ibu jari nya ke udara tanpa menoleh ke belakang.


Malik meneruskan langkah nya menuju perpustakaan seperti niat nya semula, sedangkan Rahman terus berjalan menuju kantin.


Malika dan kembaran nya akhirnya ikut program akselarasi, seperti niat nya semula yang ingin bisa segera menikah dengan Rahman.. hingga pendidikan SMU nya hanya di tempuh selama dua tahun.


Dan saat ini, kedua nya kuliah di perguruan tinggi yang sama dengan Rahman dan juga Kevin serta yang lain.


"Sial, gue lupa kalau Icha udah kuliah di sini," gerutu Rahman sepanjang jalan menuju kantin.


Sesampainya di kantin, Rahman mengedarkan pandangan nya...


"Abang tampan, cari Icha ya?" Sapa seorang gadis yang duduk di salah satu meja kantin bersama teman-teman cewek nya.


"Eh iya.." balas Rahman, "lihat dia dimana enggak?" Tanya Rahman kemudian.


"Duduk sama kita di sini aja bang, si Icha udah ada yang nemenin tuh di sana," balas gadis yang lain dengan mengerling, seraya menunjuk ke sudut ruangan yang terhalang tirai dari tempat Rahman berdiri.


Rahman melihat kearah yang di tunjuk, "makasih ya," ucap Rahman bergegas pergi dan mengabaikan ajakan gadis-gadis tersebut.


"Beruntung banget ya si Icha,, bisa dapetin si abang idola kita," celetuk yang lain, seraya menatap punggung kokok Rahman yang semakin menjauh.


Dan di tempat duduk nya, Malika yang tengah makan dengan rakus.. tiba-tiba di dekati oleh seorang cowok yang langsung duduk di depan Malika tanpa permisi, hingga membuat Malika terkejut dan hampir tersedak.


"Eh busyet,, main duduk aja, enggak pakai permisi?!" Protes Malika yang nampak tidak suka karena kesenangan nya menikmati makanan terganggu.


"Maaf nona manis,, tapi bangku ini kosong kan? Dan ini juga tempat umum, jadi gue bebas dong duduk di sini?" Kilah cowok tengil tersebut, seraya menatap Malika tanpa berkedip.


"Berapa minggu enggak makan, sampai buru-buru gitu makan nya? Pesan makanan nya banyak lagi?" Lanjut si cowok bertanya.


"Kepo,," balas Malika asal, dan kemudian melanjutkan makan tanpa menatap cowok tersebut.


"Malika Dalisha Alamsyah, saudara kembar dari Malik Daniyal Alamsyah," sebut cowok tersebut dengan lengkap, hingga membuat Malika menaruh sendok nya dan beralih menatap cowok yang duduk dengan tersenyum seringai di depan nya.


"Kok lu tahu tentang gue?" Tanya Malika dengan mengernyitkan dahi.


"Apa sih yang enggak bisa gue ketahui di kampus ini, gue juga tahu abang lu Kevin." Balas nya dengan mengerling.


"Dan gue juga tahu, kalau saat ini.. lu lagi galau, karena cinta pertama lu ternyata jalan sama cewek lain. Right??"


Malika semakin mengernyit dalam, "siapa sih lu?" Tanya Malika penasaran, "teman seangkatan nya abang ya?"


Cowok tersebut mengulurkan tangan nya, "perkenalkan, gue Richard.. calon suami lu," ucap nya penuh percaya diri.


Malika mengabaikan tangan Richard dan membiarkan nya menggantung begitu saja di udara, dan Malika tertawa mendengar ucapan Richard yang dianggap nya sebagai lelucon.


"Hai, kenapa malah tertawa? Gue serius cantik, gue suka sama lu saat pertama kali lihat lu waktu OSPEK tapi gue enggak pernah punya kesempatan untuk ngedeketin lu," ungkap Richard dengan jujur.


Malika menghentikan tawa dan seketika menutup mulut mendengar pengakuan cowok dihadapan nya yang bernama Richard itu, Malika menatap Richard dengan tatapan menyelidik.


Tepat di saat yang sama, Rahman datang. "Maksud lu bicara seperti itu apa Chard?" Tanya Rahman, yang langsung mendudukkan diri nya tepat di samping Malika.


Richard nampak ingin menjawab, tapi Rahman memberikan kode dengan tangan nya agar Richard tidak mengatakan apapun.


Rahman menatap dalam netra Malika, "apa tadi dik Icha lihat abang turun dari mobil sama cewek?" Tanya Rahman.


Malika mengangguk, seraya mengerucutkan bibir nya.


"Apa yang dik Icha pikirkan tentang abang?" Rahman masih menatap netra kebiruan milik Malika yang sangat indah itu.


Malika nampak bingung mau mengatakan apa, tapi wajah nya masih cemberut.


"Apa dik Icha cemburu?" Tanya Rahman dengan tersenyum menggoda.


Malika semakin mengerucutkan bibir nya, dan itu terlihat sangat menggemaskan di mata Rahman.


Sedangkan Richard yang duduk dihadapan mereka berdua, nampak tidak sabar hendak mengatakan sesuatu.


"Kalau abang jelaskan, apa dik Icha bisa percaya?" Rahman bertanya dengan nada yang lembut.


"Siapa dia?" Malika membuka suara, dan aura wajah nya sudah tidak terlihat emosi seperti tadi.


"Dia itu cewek baru nya Rahman," sahut Richard, "di bilangin kok enggak percaya?!" Lanjut Richard merasa kesal, karena seperti nya Malika akan luluh dengan penjelasan Rahman.


"Dik Icha percaya dengan kata-kata nya?" Tanya Rahman masih terlihat kalem dan tidak terpancing dengan ucapan Richard.


Malika menatap Rahman dan Richard bergantian, dan sedetik kemudian menggeleng. "Icha percaya pada abang, tapi Icha masih tetap marah karena abang enggak mengatakan dulu sebelum nya," balas Malika, dengan membuang pandangan nya kearah lain.


"Dik Icha,, gue lebih baik dan lebih setia dari Rahman?! Dan secara ekonomi, gue jelas lebih mapan.. bokap gue tajir melintir karena perusahaan bokap gue enggak kalah besar dengan perusahaan daddy lu, om Rehan. Enggak seperti Rahman, yang bokap nya hanya menjadi buruh di perusahaan abang lu?!" Hina Richard pada Rahman.


Rahman hanya dian, dan kemudian menatap Malika,, ingin tahu apa reaksi gadis di sebelah nya itu.


"Dengerin ya bang Richard yang terhormat, bang Richard yang anak orang tajir melintir.. yang kekayaan nya enggak akan habis di makan tujuh turunan, tujuh tanjakan, dan tujuh tikungan." Malika menghentikan sejenak ucapan nya, dan menatap tajam Richard.


"Tapi bukan itu yang gue cari, yang gue cari adalah laki-laki yang baik,,, yang bisa ngertiin gue dan menyayangi gue apa ada nya," lanjut Malika, seraya menatap Rahman dengan tersenyum manis.


"Makasih Icha sayang," ucap Rahman dengan haru, seraya menggengam tangan Malika dan mencium punggung tangan putih itu penuh perasaan. Hingga membuat jantung Malika berdesir, dan wajah cantik nan putih bersih itu menjadi merona merah.


Melihat kemesraan di depan nya, Richard buru;buru pergi dengan menghentakkan kaki nya ke lantai. Wajah angkuh itu terlihat sangat kesal, karena trik nya untuk membuat Malika membenci Rahman ternyata tidak berhasil.


"Dian,, harus nya lu tadi lebih mesra saat jalan bareng Rahman," gerutu Richard dengan semakin menjauh.


Sepeninggal Richard, Rahman buru-buru melepaskan tangan halus Malika dari genggaman nya.


"Kenapa di lepas?" Rajuk Malika yang ingin tangan nya terus berada dalam genggaman Rahman, "kapan lagi bisa seperti ini," gumam Malika dalam hati.


"Maaf dik Icha, emang enggak seharusnya abang melakukan itu. Tadi karena urgen,, ada hama pengganggu, dan abang lagi malas berdebat dengan orang yang enggak penting. Tadi abang reflek aja pakai cara itu, dan ternyata sangat efektif mengusir hama," jelas Rahman seraya terkekeh, menyadari penjelasan nya yang absurd itu.


Malika mengernyit,, dan sejenak hening menyapa tempat tersebut.


"Abang,, abang masih hutang penjelasan sama Icha, Icha masih ngambek nih," ucapan Malika memecah keheningan yang sejenak tercipta diantara mereka berdua.


Rahman tersenyum, "ngambek kok bilang-bilang," balas Rahman seraya mengusap puncak kepala Malika dengan lembut.


"Ikut abang ke kantor, abang akan jelasin di sana," lanjut Rahman, seraya melirik jam tangan bermerk di pergelangan tangan kanan nya.


"Icha mau, tapi jalan nya sambil di gandeng,,," rajuk Malika.


"Belum boleh dik Icha sayang,, sabar ya," bujuk Rahman.


"Terus, sampai kapan Icha harus nunggu?? Agar abang bisa bebas gandeng tangan Icha??"


🌷🌷🌷🌷🌷tbc...