
Bukan hanya Dion, tapi kedua orang tua Dion pun merasa lega.. begitu pula dengan ayah Yusuf dan bunda Fatima, anak gadis nya kini secara resmi telah dipinang oleh pemuda yang baik dan dari keturunan yang baik pula. Ayah Yusuf tak perlu lagi mencari-cari alasan untuk menolak rekan-rekan bisnis nya yang ingin menjodohkan anak-anak mereka, yang semata hanya lah perjodohan bisnis demi untuk meraih keuntungan dengan memperbesar bisnis mereka.
Begitu pun dengan keluarga Dion, suatu kehormatan bagi mereka karena dapat meminang putri dari salah satu pengusaha terkaya di Asia itu tanpa melalui proses yang sulit dan berbelit.. pun tanpa syarat apapun.
Setelah prosesi acara pertunangan diakhiri oleh opa Alvian, bunda Fatima mempersilahkan tamu nya untuk menikmati jamuan makan malam yang sudah dipersiapkan. Semua nya kemudian segera menuju ruang makan, untuk menikmati santap makan malam.
Semua terlihat sangat menikmati santap makan malam tersebut, anak-anak tak ada yang bersuara.. semua nya makan dengan tertib, hanya sesekali terdengar obrolan hangat para orang tua di sela-sela makan.
Sedangkan di sudut meja makan, nampak Fira menikmati makanan nya sambil terus mengembangkan senyum. Begitu pun dengan Dion, yang duduk tepat di seberang Fira.
Sesekali kedua nya saling mencuri pandang, dan berbicara melalui tatapan mata mereka.
"Ehm,,," hingga suara dehaman dari Zaki, mengangetkan Fira dan mengembalikan tatapan Fira ke makanan nya. Fira tersipu malu, karena kedapatan oleh abang nya tengah bertatapan dengan Dion.
"Dik, segera habiskan makanan mu.. dan ikut abang keluar." Bisik Zaki di telinga sang adik.
Fira mengangguk, dan segera menghabiskan makanan yang ada di piring nya.
Zaki pun memberi kode pada Dion, agar mengikuti nya nanti.
Dion yang belum paham maksud Zaki mengernyit, tapi pemuda tunangan Fira itu pun segera menghabiskan makanan nya seperti hal nya Fira.
Setelah Zaki melihat bahwa Fira dan Dion sudah selesai makan, Zaki pun berdiri yang diikuti oleh Fira dan Dion. "Maaf semua nya, dengan tidak mengurangi rasa hormat kami.. kami bertiga mohon ijin untuk terlebih dahulu meninggalkan meja makan," pamit Zaki dengan sopan, seraya membungkukkan badan nya. Yang juga diikuti oleh Fira dan Dion.
Ayah Yusuf menatap tuan Hadi, dan eyang Atmaja bergantian. Eyang Atmaja yang mengerti arti tatapan ayah Yusuf pun mengangguk, "baiklah nak, kalian boleh pergi," balas eyang Atmaja dengan bijak.
Opa Sultan tersenyum pada tamu nya dan mengangguk-anggukkan kepala nya.
Zaki, Fira dan Dion merasa sangat lega setelah mendapatkan ijin tersebut, karena meninggalkan meja makan mendahului orang tua itu sangat lah tidak sopan. Mereka bertiga pun langsung meninggalkan meja makan dengan perlahan.
Mereka bertiga menuju ruang tamu, "kalian berdua silahkan ngobrol, abang mau naik ke atas sebentar," ucap Zaki penuh pengertian, sambil berlalu meninggalkan Fira dan Dion berdua di ruang keluarga. Zaki tahu, malam ini adalah kesempatan terakhir bagi adik nya dan juga Dion untuk dapat berbicara secara langsung dari hati ke hati,,, sebelum nanti nya mereka berdua akan saling berjauhan, dan menjalani hubungan jarak jauh.
Sepeninggal Zaki, Fira dan Dion hanya berdiri mematung,,, untuk sesaat kedua nya sama-sama bingung, harus bersikap bagaimana?
"Neng, ayo kita duduk," ajak Dion, setelah berhasil menguasai keadaan.
Fira pun nurut dan duduk tak jauh dari Dion.
Dion menatap Fira begitu dalam, mengagumi kecantikan Fira malam ini. Sapuan make up tipis oleh tangan terampil oma Susan, telah mampu membuat kecantikan Fira semakin terlihat sempurna. Dan balutan kebaya modern yang warna nya senada dengan jas yang di kenakan Dion, membuat penampilan Fira semakin menawan.
Mendapat tatapan seperti itu dari sang tunangan membuat pipi Fira merah merona, gadis itu tertunduk malu.
"Neng Fira,," panggil Dion lembut.
"Aku harap setelah ini, kita saling terbuka tentang apapun." Pinta Dion penuh harap.
Fira mengangguk, mengerti maksud perkataan Dion. "Iya bang, Fira setuju," balas Fira tanpa ragu.
"Jangan pernah sungkan bertanya langsung padaku, jika kamu mendengar kabar minor tentang aku di sana. Tapi jika kamu merasa tak enak hati untuk menanyakan nya padaku secara langsung, kamu boleh bertanya pada orang yang kamu percaya.. pada Kevin atau Salma misal nya, dan jangan kamu mengambil kesimpulan secara sepihak tanpa menelusuri kebenaran nya terlebih dahulu." Dion menatap Fira, dan sejenak menghentikan ucapan nya.
Fira kembali mengangguk, gadis itu pun mengerti bahwa menjalin hubungan jarak jauh akan sulit bertahan jika tidak ada komunikasi yang baik diantara kedua nya.
"Aku akan mencoba untuk mempercayai mu neng Fira, dan aku pun berharap.. kamu percaya padaku," lanjut Dion dengan tatapan serius, dan kemudian pemuda itu menggeser duduk nya mendekati Fira.
"Bang Dion mau ngapain?" Tanya Fira, seraya menyipitkan mata nya.
Dion tersenyum, "jangan khawatir neng, aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku tahu batasan ku, dan kita belum halal untuk melakukan hal yang aneh-aneh bukan?" Dion mengerling, menggoda Fira.
Fira mengerucutkan bibir nya, "tuh, bang Dion tahu.. tapi kenapa duduk nya dekat-dekat?!" Protes Fira.
"Aku hanya ingin kita saling berjabat tangan, aku ingin meyakinkan diri ku bahwa kita telah membuat komitmen untuk saling percaya dan saling menjaga hati." Dion mengulurkan tangan nya kehadapan Fira.
Dengan sedikit ragu, Fira akhir nya menyambut tangan Dion,,, kedua nya kini saling berjabat tangan, dan untuk sejenak kedua nya terdiam. hanya pandangan mata mereka berdua yang bertemu, dan mewakili ungkapan hati kedua nya
"Neng Fira,, I really really love you," ungkapan pernyataan cinta Dion yang sangat lembut dan dengan sepenuh hati seraya menggenggam erat tangan Fira, mampu menusuk ke kedalaman jantung hati Fira. Hingga membuat debaran di hati Fira semakin terasa kencang, dan darah Fira berdesir hangat.
Perasaan Fira terbang melayang dan melambung tinggi ke angkasa raya, dan ketika menatap mata Dion untuk memastikan kesungguhan ucapan dari pemuda di hadapan nya itu,,, membuat Fira seakan menyaksikan jutaan bintang yang bertebaran menghiasi indah nya cakrawala malam.
Tanpa Fira sadari, senyuman manis terbit di sudut bibir tipis nya.
Dan Dion sangat menikmati pemandangan indah di hadapan nya itu, netra nya terus menatap Fira dan enggan untuk berpaling dari mahakarya indah ciptaan sang Maha Kuasa.
"Ehm,,," lagi-lagi dehaman Zaki, membuyarkan lamunan sepasang sejoli yang tengah dilanda asmara itu.
"Berjabat tangan boleh, tapi jangan lama-lama," ungkap Zaki, seraya menuruni anak tangga dan kemudian duduk di samping sang adik.
Fira buru-buru melepaskan tangan nya, "enggak lama kok bang," elak Fira seraya tertunduk malu.
Sedangkan Dion hanya tersenyum simpul.
"Kalian tahu kan kenapa agama kita melarang untuk berpacaran? Karena pacaran itu mendekati zina.. kenapa demikian? Awal nya mereka yang berpacaran itu menganggap, bahwa tak mengapa duduk berdekatan. Kemudian mereka mulai berani berpegangan tangan, dan setelah merasa kan hangat nya bersentuhan kulit lewat berpegangan tangan,,, tidak menutup kemungkinan, kemudian timbul keinginan untuk menyentuh yang lain nya bukan? Dan bisikan syetan itu sangat lah merdu terdengar,," Zaki mengakhiri ceramah nya.
Dion dan Fira mengangguk-angguk, membenarkan ucapan Zaki barusan. "Ya banar, bisikan syetan itu sangat merdu.. mengalahkan merdu nya suara muadzin di masjid istiqlal," gumam Dion dalam hati.
to be continue,,,