
"Ternyata papa dan om Rudi juga di undang sama daddy Rey,, kenapa kemarin papa enggak cerita kalau mau menghadiri undangan pernikahan di puncak?" Gumam Dion dalam hati, seraya mengetikkan sesuatu di layar ponsel milik nya.
"Pa, maaf.. kalau Dion kemarin berbohong, dan bilang sama papa kalau Dion menginap di rumah Devi. Papa jangan salah paham ya pa, Kevin teman baik Dion.. jadi Dion dan Devi dari kemarin menginap disini. Dan gadis yang sering Dion ceritakan sekarang duduk di samping Dion, dia putri tuan Yusuf sahabat baik om Rudi. Tolong papa jangan bahas tentang kami, karena Dion ingin berjuang sendiri. Makasih pa,," dan Dion segera mengirimkan pesan tersebut ke nomor papa nya, seraya melirik papa nya dan memberikan kode agar sang papa, membuka ponsel nya.
Mendengar bunyi pesan masuk di ponsel nya, papa Dion segera membuka pesan dari putra nya yang baru saja masuk tersebut. Papa Dion tersenyum membaca pesan yang dikirimkan oleh Dion, dan kemudian menunjukkan pesan tersebut kepada om Rudi, adik kandung nya.
Setelah membaca pesan tersebut, om Rudi melirik keponakan kesayangan nya dan tersenyum, "putra mu dari dulu memang selalu seperti itu bang, dia lebih senang menyembunyikan identitas nya pada orang lain," bisik om Rudi pada abang nya, "tapi untuk kali ini, aku rasa ini adalah saat yang tepat untuk mengenalkan Dion pada semua orang termasuk Robin dan putri nya.. bahwa dia adalah putra mu, pewaris PT. DH Putra Pratama," lanjut om Rudi, masih dengan berbisik.
Nampak papa nya Dion mengangguk-angguk, "ya, kamu benar dik." Lirih papa nya Dion, menyetujui usulan sang adik untuk mengenalkan putra nya.
Sejenak hening menyapa, masing-masing orang sibuk dengan pemikiran nya sendiri-sendiri.
"Jadi gimana bang Hadi, apa abang masih mau mempercayakan saham abang di Robinson Group atau mau menarik semua nya?" Tanya om Rudi memecah keheningan, dan menatap abang nya.
Mr. Robinson mendongakkan wajah nya, dan menatap papa nya Dion dengan menghiba, "tuan Hadi, tolong jangan tarik semua saham tuan di perusahaan saya. Saya menyesal telah berlaku buruk pada putra tuan Rehan dan saya berjanji, tidak akan berbuat buruk lagi. Saya janji tuan, saya akan memperbaiki diri," pinta Mr. Robinson sungguh-sungguh.
Tuan Hadi menatap daddy Rehan yang juga merupakan salah satu rekan bisnis nya, daddy Rehan nampak mengangguk-anggukan kepala.
Tuan Hadi kemudian menatap adik nya dan ayah Yusuf bergantian, nampak ayah Yusuf membisikkan sesuatu pada om Rudi.
"Bro, bilang sama abang lu.. jangan mudah percaya pada Robinson. Kalau pun abang lu masih mempercayakan saham nya pada Robinson, pastikan bang Hadi memberikan syarat-syarat tertentu. Gue enggak mau Robinson dan putri nya, mengganggu lagi kehidupan Kevin dan istri nya."
Om Rudi mengangguk mengerti, dan kemudian menyampaikan pesan ayah Yusuf kepada abang nya.
Papa Dion pun dapat memahami kekhawatiran ayah Yusuf, dan kemudian beliau nampak tersenyum pada ayah Yusuf.
"Mr.Robinson, saya tidak lagi memiliki kewenangan untuk mengambil keputusan mengenai kelanjutan kerja sama kita," Ucap tuan Hadi, seraya menatap Mr. Robinson.
Mr. Robinson mengerutkan kening nya.
"Ya, karena pengambil kebijakan di DH Putra Pratama saat ini adalah putra saya. Dia lah pemilik sah perusahaan tersebut saat ini," lanjut tuan Hadi, seraya melirik putra nya.
Mr. Robinson nampak semakin tidak mengerti.
Dan Dion dibuat terkejut oleh pernyataan sang papa barusan, "papa?! Kenapa papa malah berbicara seperti itu sih?!" Gerutu Dion dalam hati, seraya menatap papa dan om nya bergantian untuk meminta penjelasan.
Sedangkan Om Rudi nampak tersenyum penuh kemenangan pada keponakan nya itu, "sampai kapan kamu akan menghindar dan bersembunyi Dion?" Gumam om Rudi dalam hati.
Om Ilham serta sahabat-sahabat daddy Rehan yang juga tahu informasi mengenai Dion dari daddy Rehan, terlihat mengangguk-angguk. Begitu pula dengan Kevin dan Salma, yang sedikit banyak telah tahu tentang Dion dari Bayu dan juga dari sang daddy.
"Lantas kemana saya harus menemui putra anda tuan Hadi? Saya akan memohon pada nya, agar kerjasama perusahaan kita tetap di lanjut," tanya dan pinta Mr. Robinson dengan penuh harap, dia tidak mau kehilangan investor terbesar nya saat ini.
Monica dan Jonathan sedari tadi hanya menyimak obrolan para orang tua tersebut seraya menundukkan pandangan, mereka berdua tidak lagi memiliki nyali untuk sekedar mendongakkan wajah nya dan menatap teman-teman seangkatan nya.
"Dion adalah putra saya, anda bisa meminta kebijakan dari nya tentang masalah ini," balas tuan Hadi, dengan tersenyum penuh arti menatap putra nya.
Dion mendengus kesal, "papa enggak kira-kira kasih surprise nya," Dion cemberut menatap sang papa.
Tuan Hadi hanya terkekeh kecil, begitupun dengan om Rudi yang sudah paham betul dengan sikap sang keponakan.
"Kamu sudah beranjak dewasa bang, sudah saat nya kamu muncul ke publik dan bukan nya terus-terusan bersembunyi" ucap tuan Hadi, menatap lembut putra nya.
Fira serta Zakki nampak sangat terkejut, mengetahui kenyataan tentang Dion. Fira melirik Dion, dengan tatapan penuh selidik.
Dion balik menatap Fira, dengan tatapan lembut dan tersenyum hangat.. hingga membuat Fira menjadi salah tingkah, dan sejenak melupakan keingintahuan nya tentang Dion.
Sedangkan Monica dan Jonathan, mereka berdua pun sangat terkejut.. enam tahun mereka berteman, tapi nyata nya mereka tidak mengenal Dion dengan baik. Dan bahkan, selama ini mereka berdua menganggap Dion berasal dari keluarga yang tak lebih kaya dari keluarga kedua nya.
Mereka memang mengetahui bahwa keluarga Dion memiliki perusahaan, tapi Monica dan Jonathan pikir perusahaan orang tua Dion pastilah perusahaan kecil.. karena Dion selama ini tak pernah menunjukkan kemewahan, dan lebih senang dengan kesederhanaan.
Mr. Robinson yang juga tak kalah terkejut membulatkan mata nya, mendengar nama Dion disebutkan sebagai putra dari tuan Hadi dan selaku pemilik PT. DH Putra Pratama yang saat ini memiliki saham tujuh puluh persen lebih di perusahaan milik nya. "Dion?!" Seru Mr. Robinson seraya menunjuk Dion dengan jari telunjuk nya.
Tuan Hadi mengangguk, "ya, Dion putra saya. Dan saya serahkan semua keputusan di tangan Dion, balas tuan Hadi dengan tegas.
"Bagaimana bang Dion? Kamu pasti sudah mengetahui duduk persoalan nya kan?" Tanya tuan Hadi, seraya menatap putra nya. "Papa serahkan semua keputusan di tangan mu bang," lanjut tuan Hadi.
Mr. Robinson kembali menundukkan pandangan nya, dia tak memiliki keberanian untuk menatap Dion.. apalagi meminta kebijakan dari pemuda tersebut untuk keberlangsungan perusahaan nya, mengingat diri nya pernah menghina Dion karena putri nya pernah kalah taruhan satu unit mobil mewah sama Dion kala itu.
Dion menarik nafas panjang dan menghembus nya perlahan, "Dion akan diskusikan dahulu dengan Kevin dan teman-teman yang lain pa, Bagaimana pun masalah ini ada hubungan nya dengan Kevin dan Dion enggak mau gegabah dalam mengambil keputusan." Balas Dion, seraya melirik Kevin dan Salma.
to be continue,,,