All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Rencana Resepsi di Pulau Donasi



Setibanya di rumah utama, nampak keluarga Rahman yang kemarin ikut ke rumah sakit.. sudah berada di sana. Dan kedatangan pengantin baru itu, di sambut dengan antusias oleh geng tampan dan para nyonya.. yang kemarin tak bisa ikut hadir di rumah sakit.


Masih di teras rumah utama, tante Nisa yang langsung memeluk keponakan nya itu merasa sangat terharu, "kak Icha sayang,, selamat ya, gadis kecil nya tante. Moga sakinah, mawaddah, warohmah,,," do'a tulus tante Nisa untuk keponakan tersayang, seraya melepaskan pelukan nya.


"Makasih do'a nya tante Nisa ku yang cantik, Icha do'ain juga.. moga tante sehat-sehat terus, dan bisa mendampingi dan menyaksikan kami semua tumbuh dan berkembang menjadi orang yang sukses, dan bermanfaat untuk sesama." Balas Malika, dengan penuh rasa haru. Malika bahagia, karena lahir dan di besarkan di lingkungan orang-orang yang penuh kasih dan bersahaja.. seperti sang mommy dan keluarga kakek Ilyas.


"Tante enggak nyangka, kak Icha bisa bersikap dewasa juga. Rasa nya baru kemarin, kak Icha tuh berceloteh sambil menari-nari dan mencari perhatian dari kita semua.. tapi sekarang udah jadi milik orang aja, waktu ternyata begitu cepat berlalu ya," lanjut tante Nisa, yang di setujui oma Susan, tante Lusi dan tante Jihan yang juga sedang mengerubuti pengantin baru itu.


Oma Susan pun memeluk cucu kesayangan nya itu, cucu yang selalu di jadikan eksperimen untuk gaya make up terbaru yang dipelajari, kala gabut melanda nya. Karena hanya Malika, satu-satu nya cucu perempuan yang besar di keluarga Antonio.


"Kak Icha,, selamat ya sayang, bahagia selalu," ucap nya singkat, dengan netra yang telah berkaca-kaca sesaat setelah melerai pelukan nya.


Melihat oma cantik nya menangis, Malika kembali memeluk oma Susan. "Oma,, meski Icha udah nikah, tapi Icha tetap cucu kesayangan nya oma kan? Kita masih bisa make up bareng kan? Icha boleh minta lipstick nya oma kan, kalau Icha mau ke pesta teman?" Rajuk Malika, yang sontak di sambut tawa oleh tante-tante nya.


"Kak Icha kan udah nikah, kalau mau pakai lipstick gak perlu sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan mommy Billa sekarang," ucap tante Lusi, masih dengan menahan tawa. "Kalau perlu harus rajin dandan, biar bang Rahman tambah klepek-klepek," lanjut tante Lusi, seraya melirik Rahman yang sedari tadi mendampingi istri nya. Rahman hanya senyum-senyum.


Mommy Billa memang melarang putri tertua nya itu untuk memakai makeup secara berlebihan, bahkan mommy Billa hanya menyediakan krim wajah, pelembab bibir dan bedak tabur di meja rias Malika. Sehingga jika ingin pergi ke pesta ulang tahun teman sekolah nya, Malika harus bela-belain ke hunian keluarga Antonio dulu untuk meminta oma Susan me make over wajah nya.. tentu make up yang sesuai dengan usia nya.


"Benar juga ya tan," balas Malika yang kemudian ikut tertawa.


"Lagian di hantaran dari suami kak Icha, pasti ada dong skin care nya?" Timpal tante Jihan, "pasti kak Icha enggak ngeh ya, sama mas kawin dan barang-barang pemberian bang Rahman... karena yang ada di pikiran kak Icha pasti bang Rahman seorang," goda tante Jihan, seraya mengedipkan sebelah mata nya pada Rahman. Hingga membuat Rahman menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Ah,, tante bisa aja," bisik Malika.


Dan tante Jihan kemudian memeluk keponakan nya, serta memberikan ucapan selamat. "Selamat ya kak Icha, harus rajin bercocok tanam biar panen nya melimpah," ucap tante Jihan seraya melerai pelukan nya, yang kembali di sambut tawa para mama itu.


"Kamu kira mereka berdua petani dik," timpal tante Nisa, masih dengan tawa nya.


"Petani ternak ya dik," tante Saskia ikut menimpali, yang membuat Rahman geleng-geleng kepala.


"Ternyata sama aja,, enggak om, enggak tante.. gesrek semua," batin Rahman.


Ucapan selamat di sertai dengan pelukan hangat, masih berlanjut. Kini giliran tante Lusi, tante yang tak ada ikatan darah diantara mereka.. namun cinta dan kasih sayang diantara mereka, terjalin dengan tulus. Mommy Billa yang bersahabat baik dengan tante Lusi, dan daddy Rehan yang bersahabat dengan om Devan. Hingga hubungan mereka, sudah selayak nya saudara kandung.


Di lanjut kan tante Saskia yang juga masih berada di sana, mami Nina dan terakhir bu Widya.


"Ini, peluk-pulukan nya kenapa lama sekali? Kak Icha, bang Rahman.. udah di tungguin tuh, di ruang keluarga." Ucap om Ilham.


"Eh, bentar.. belum mengucapkan selamat sama bang Rahman," sela tante Saskia, dan kemudian mereka semua menyalami Rahman.


Kini mereka telah berkumpul bersama di ruang keluarga yang sangat luas di kediaman keluarga daddy Rehan, untuk membicarakan mengenai rencana resepsi pernikahan Rahman dan Malika.. sekaligus untuk mematangkan acara resepsi pernikahan Fira dan Dion yang akan di selenggarakan minggu depan di Singapura, dan lanjut minggu berikut nya di Jakarta.


Om Doddy, om nya Rahman.. yang memang sudah sering bertemu dengan para mama di keluarga besar Alamsyah dan Antonio, karena mereka adalah pelanggan setia di toko berlian nya,,, tak canggung lagi ikut larut dalam obrolan hangat tersebut.


Bukan hanya sesekali, bahkan seringkali.. obrolan mereka keluar dari topik pembahasan, hal itu membuat obrolan semakin seru dan kental dengan nuansa kekeluargaan.


Dan setelah kata sepakat tercapai, keluarga Rahman pun pamit undur diri. Yang di antar oleh Rahman dan Malika, daddy Rehan dan mommy Billa, serta opa oma, dan kakek nenek nya Malika.


Sementara di ruang keluarga, obrolan masih berlanjut..


"Eh, ini kita tadi ngobrol nya udah sampai jauh ya.. tempat, waktu dan jumlah undangan serta penyambutan untuk tamu undangan udah fix? Tapi tempat nya, bisa benar-benar ready enggak Dev?" Tanya opa Alvian menatap om Devan, untuk memastikan.


"Beres,, beres,," balas om Devan santai.


"Jangan beres-beres aja lu Dev,, ntar pas hari H ternyata belum siap! Awas aja lu!" Ancam om Alex, "bisa kena semprot kita semua sama si Rey," lanjut om Alex.


"Siap tuan asiaten,," balas om Devan meyakinkan, "asal jangan ada tambahan-tambahan lagi dari si Rey, pusing kepala gue menuruti kemauan Rehan yang enggak ada habis nya," protes om Devan.


"Apaan, sebut-sebut nama gue?" Tanya daddy Rehan yang baru kembali dari luar.


"Lagi mastiin sama bang Devan bang, rencana resepsinya kan di pulau donasi,,, nah, tempat nya bisa ready enggak pas awal bulan itu," jawab om Ilham mewakili yang lain.


"Pulau pribadi Ham, tepat nya pulau keluarga AA.. bukan pulau donasi?!" Sungut om Devan, yang tak terima.


"Terus gimana Dev? Bisa?!" Daddy Rehan menatap om Devan dengan tatapan mengintimidasi.


Om Devan mengangguk, "bisa," jawab nya tegas, "asal ya itu tadi.. asal jangan ada tambahan-tambahan lagi Rey, pusing kepala gue menuruti kemauan lu yang enggak ada habis nya," ulang om Devan, seperti yang telah di sampai kan nya tadi pada yang lain.


"Kalau gue jadi istri lu nih Rey, mungkin gue udah minggat dari dulu!" Lanjut om Devan, tanpa dosa... yang langsung mendapat toyoran dari om Alex, yang duduk di sebelah nya. Sedangkan yang lain tersenyum simpul, seraya geleng-geleng kepala.


"Billa, kenapa bisa betah gitu ya?" Om Devan masih melanjutkan ucapan nya yang absurd itu.


"Ck,,," hingga membuat daddy Rehan berdecak kesal.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,


Mohon maaf bestie,,, up nya dikiiiit dan telat 🙏


Cos, aku nya lagi 'merindukan kasih sayang' 🤒


Sehat-sehat untuk kalian semua 🤗😘