
"Daddy dan mommy juga sudah memikirkan hal itu nak,,," sejenak daddy tampan yang semakin berwibawa itu menghentikan ucapan nya, dan menatap putra nya.
"Masalah nya kita juga harus membuka jati diri abang di dadapan mereka, karena itu adalah awal mula kenapa abang bisa menikah di usia sekolah. Daddy tidak mau adik-adik abang berfikir, bahwa daddy dan mommy mengijinkan abang pacaran saat masih bersekolah," Rehan menjelaskan alasan nya.
"Apa abang siap, jika adik-adik tahu tentang orang tua kandung abang?" Rehan bertanya dengan suara berat, dan menahan sesak di dada. Daddy yang mengasuh Kevin sejak baru lahir itu tahu persis, bahwa Kevin belum seutuh nya bisa menerima Vincent sebagai ayah kandung nya.. Kevin masih belajar, meski awal nya demi orang yang dicintai nya yaitu Salma.
Sejenak Kevin terdiam, ada sedikit kekhawatiran menyelinap di benak nya.. bagaimana jika sikap Malik dan Malika nanti berubah terhadap nya? Sanggup kah dia, jika di jauhi adik-adik nya? Tapi sejurus kemudian, Kevin berhasil menepis pikiran buruk tersebut. Dia tahu betul bagaimana si kembar itu, yang sangat menyayangi diri nya.
"Kevin siap dad, toh cepat atau lambat mereka juga akan tahu tentang pernikahan Kevin dan Salma," balas Kevin dengan penuh keyakinan.
Rehan mengangguk, "baiklah,, panggil kedua adik abang itu kemari, sekalian sama mommy," titah Rehan pada putra sulung nya.
"Baik dad," balas Kevin, dan segera beranjak keluar dari ruang kerja daddy nya.
Sesampainya di ruang keluarga, "mom, mommy ikut kami ke ruang kerja daddy ya.. ada yang mau kita bahas, bersama Malik dan Malika," bisik Kevin pada sang mommy, sambil melirik Malik dan Malika yang juga tengah memperhatikan nya.
Ya, Malika yang melihat kehadiran abang nya tadi, rasa nya sudah gatal pengin bertanya.. tapi diurungkan saat mendapati abang nya malah bisik-bisik sama sang mommy. "Abang kenapa ya?" Malika mengerutkan kening.
"Abang ajak mereka berdua untuk menemui daddy duluan, mommy mau nganter Mirza dan bungsu ke kamar nya," ucap sang mommy, dan kemudian bergegas menggiring ketiga anak nya menuju kamar mereka di lantai dua. Dua orang pengasuh Maida dan Maira, mengekor di belakang nya.
"Mom, Mirza boleh main game dulu sebentar? Pinta Mirza, sambil menaiki anak tangga.
"Besok kan bang Mirza sekolah?" mommy Billa mengernyit. Karena memang peraturan nya, anak-anak tidak di perbolehkan main game jika bukan hari libur.
"Sebentar aja mom,, habis nya Mirza enggak di ajak ngobrol sama daddy, kayak bang Malik dan kakak," protes Mirza sambil cemberut.
"Karena ini urusan nya orang-orang yang sudah gede bang,, nanti kalau bang Mirza sudah besar, pasti juga akan di ajak diskusi sama daddy," sang mommy mencoba memberi pengertian.
"Iya nih bang Milza, mommy benal.. itu kan ulusan olang besal, Mela aja ngelti masak bang Milza enggak ngelti sih.. ya kan mom?" Sela Maira dengan gaya nya yang lucu.
Mommy Billa mengangguk, dan tersenyum pada putri ceriwis nya itu.
"Bocil,, ikut-ikutan aja kamu," Mirza cemberut menatap kesal pada Maira, tapi Maira justru menjulurkan lidah nya,, menggoda abang nya itu.
"Tapi ini baru jam delapan mom, dan Mirza belum ngantuk. Masak di suruh masuk kamar untuk tidur?" Mirza masih protes, "please mom, kali ini saja dan gak akan lewat dari jam sembilan," pinta nya merajuk.
"Hem,, baiklah." Akhir nya sang mommy pun mengalah, "tapi bang Mirza tahu kan apa yang akan dilakukan oleh anak sholeh?" Tanya mommy Billa sambil menghentikan langkah nya tepat di depan kamar milik Mirza, yang bersebelahan dengan kamar si kembar bungsu.
Sedangkan Maira dan Maida langsung dibawa kedua pengasuh nya, menuju ke kamar mereka.
Mirza mengangguk, "ya mom, Mirza akan menepati perkataan Mirza." Balas nya dengan mata berbinar, karena akhir nya di ijinkan bermain game meskipun hanya sebentar.
"Jangan lupa, gosok gigi dan berwudhu sebelum tidur bang," sang mommy mengingatkan dan kemudian bergegas menuju kamar si kembar bungsu.
Seperti biasa nya, mommy Billa hanya akan memberi kan kecupan selamat malam kepada mereka berdua jika mommy enam anak itu tidak busa menemani kedua putri kecil nya itu untuk tidur.
"Maira, Maida,, bersih-bersih dulu sama bibi ya.. setelah itu, habiskan susu kalian dan jangan lupa,,, apa sayang?" Pancing sang mommy, sambil berjongkok mensejajarkan diri nya dengan kedua putri nya.
"Baca do'a mom,," jawab kedua nya serempak.
"Anak pintar,,," ucap mommy Billa sambil mencium kening kedua nya bergantian. "Mommy mau bantu daddy kerja dulu ya,,?" Pamit sang mommy pada Maira dan Maida.
"Bi,,, saya titip anak-anak ya," ucap mommy Billa sambil tersenyum hangat pada kedua bibi pengasuh putri kembar nya, dan mommy enam anak yang masih terlihat sangat muda itu bergegas meninggalkan kamar putri nya.
Di ruang kerja daddy Rehan, Kevin dan kembar Malik Malika sudah duduk di sofa bersama sang daddy. Sambil menunggu sang mommy datang, daddy Rehan mengajak putra putri nya itu berbincang tentang sekolah mereka.
Tak berapa lama, sang mommy pun masuk dengan mengulas senyum hangat untuk suami dan anak-anak nya. Mommy Billa kemudian duduk di samping daddy Rehan, "ada apa dad?" Tanya mommy Billa sesaat setelah duduk.
Kedua nya nampak serius mendengar kan sang daddy, sambil sesekali melirik abang nya yang duduk dengan tenang di tengah-tengah kedua nya.
"Sebenar nya bang Kevin bukan abang kandung kalian," ucap Rehan hati-hati.
"Apa?!" Seru Malika seraya berdiri, dia nampak tak percaya. Sedangkan Malik, membulat kan mata nya. Ya, Malika memang lebih ekspresif dibanding Malik.
"Tenang dulu nak, dan dengar kan cerita daddy," titah Rehan pelan namun tegas.
Malika kembali duduk, dan Malik pun nampak membetulkan duduk nya kembali. Daddy Rehan pun kemudian menceritakan tentang orang tua kandung Kevin, dengan detail.
Malika menangis, "tidak dad,,, abang putra daddy dan mommy, bang Kevin gak boleh ikut papi Vincent." Seru Malika tak rela abang nya pergi, "bang Kevin harus tetap bersama kami, karena abang adalah abang kami," lanjut Malika sambil memeluk abang nya.
Sedangkan Malik terlihat menitikkan air mata, tapi remaja cool itu buru-buru mengusap nya.
"Hai, anak cantik.. siapa yang mau pergi? Abang akan tetap disini bersama kalian,," ucap Kevin sambil mengusap lembut punggung adik perempuan nya itu.
"Kakak,, masih mau dengar cerita daddy lagi enggak?" Tanya sang mommy dengan lembut.
Malika melerai pelukan nya, dan menyeka air mata nya. Dia mengangguk, "iya mom,," balas Malika singkat.
"Abang juga awal nya tidak bisa terima sama seperti kalian, dan saat itu abang kabur. Kalian ingat, saat abang ulang tahun minggu kemarin? Abang kalian enggak pulang sampai malam, dan kalian terus menanyakan nya kan?" Mommy Billa mengingatkan.
Malik dan Malika mengangguk, "daddy mencari abang sampai larut, dan mommy menangis di kamar. Sedangkan keluarga yang lain semua cemas, menunggu kabar daddy," balas Malika mengingat kejadian malam itu.
Kevin terkejut mendengar kenyataan itu, dia merasa sangat bersalah telah membuat orang-orang yang menyayangi nya cemas,,, bahkan sang mommy sampai menangis.
"Abang mu pergi dalam keadaan yang kalut,,," daddy Rehan kembali membuka suara, dan kemudian daddy tampan itu menceritakan perjalanan Kevin kenapa bisa sampai di rumah keluarga Salma,, hingga kemudian mereka harus menikah karena sesuatu hal yang tidak di sengaja.
Malik mengangguk-angguk, remaja itu selalu bisa menyikapi segala sesuatu dengan rasional dan berpikir panjang.
"Jadi abang sudah nikah? Sama kak Salma?!" Malika membulatkan mata nya, menatap abang nya meminta penjelasan.
Kevin mengangguk dan tersenyum, "ya dik, kami sudah menikah."
"Aa.. kenapa kak Salma enggak di ajak tidur disini?" Tanya Malika, yang mengagetkan semua.
"Dik, kamu enggak protes,,, abang masih sekolah tapi malah sudah menikah?" Tanya Kevin bingung.
"Enggak," balas Malik dan Malika bersamaan,, "kan tadi daddy udah menceritakan awal mula nya bang, dan menurut Malik.. abang laki-laki gentlemen," puji Malik pada abang nya.
Daddy Rehan dan mommy Billa merasa lega, melihat respon kedua putra putri kembar nya terhadap masalah si sulung.
"Abang, mulai besok ajak kak Salma tidur disini ya.. please,," bujuk Malika pada abang nya, "seru tahu kalau ada kak Salma?" Lanjut Malika.
"Kak Salma kan pendiam?" Daddy mengernyit.
"Yah daddy, belum tahu kak Salma sih? Kak Salma itu seru dad,, kalau di luar apalagi ada laki-laki kak Salma memang lebih banyak diam, tapi kalau lagi di kamar sama teman-teman cewek, kak Salma yang paling rame.. kita ngedance bareng, dandan, seru pokoknya," cerita Malika dengan antusias.
Kevin senyum-senyum mendengar cerita adik nya, dia juga baru tahu tadi siang saat mereka hanya berdua di apartemen. Istri nya itu ternyata memang seru dan sedikit liar, "ah Salma,, aku kangen sama kamu," gumam nya dalam hati.
Daddy Rehan dan mommy Billa saling pandang, "menantu kita seperti nya mirip kamu mom, di luar sangat lembut.. tapi jika kita hanya berdua, mommy itu mengagumkan dan bikin daddy ketagihan," bisik Rehan di telinga sang istri sambil tersenyum menggoda, "cepat mommy usir mereka, dan suruh mereka segera tidur," lanjut Rehan seraya beranjak menuju meja kerja nya, pura-pura sibuk.
to be continue,,,