All About KEVIN

All About KEVIN
Tentang Malik dan Malika...



Usai jama'ah sholat isya' semua berhambur menuju kamar masing-masing, yang laki-laki segera berganti dengan pakaian santai dan yang perempuan akan merapikan mukena nya dan meletakkan di tempat semula.


Begitu pun dengan Maira dan Maida, yang dibantu oleh pengasuh pengasuh nya. Mereka sejak kecil sudah dilatih berdisiplin dan menempatkan segala sesuatu sebagaimana mesti nya.


Kini keenam putra putri daddy Rehan itu sudah berkumpul di meja makan, mereka masih menunggu sang daddy yang masih berada di dalam kamar. Sedangkan mommy Billa nampak sibuk mengisi piring-piring mereka dengan nasi, dan bibi pelayan menyiapkan minuman.


Daddy Rehan berjalan mendekati meja makan dan langsung duduk di kursi kebesaran nya. Mommy Billa dengan sigap melayani suami nya itu, mengambilkan nasi beserta lauk nya tanpa bertanya lagi karena sudah hafal dengan makanan kesukaan sang suami pun dengan porsi makan nya yang sedikit jika malam.


Usai melayani sang suami, Mommy Billa kemudian mengambil kan lauk untuk si bungsu Maira dan Maida, sedangkan Kevin dan ketiga adik nya yang lain mengambil sendiri-sendiri tanpa bersuara dan tanpa berebut. Mereka sudah hafal dengan aturan di meja makan, yaitu mendahulukan yang tua dan jangan membuat keributan.


Setelah semua putra dan putri nya mengambil lauk, giliran sang mommy yang mengambil paling akhir. Ya, begitulah naluri seorang ibu, beliau baru bisa menikmati makanan nya ketika sudah memastikan bahwa anak-anak dan suami nya benar-benar telah mendapatkan makanan mereka.


Mirza segera memimpin do'a sebelum makan, dan semua nya mengaminkan do'a dari Mirza tersebut. Mereka kemudian mulai menyantap makanan dengan tenang, dan setelah beberapa lama tiba-tiba celoteh Maira memecah keheningan.


"Abang tadi kenapa pulang nya kesolean... Mela kan jadi lepot pakai mukena sendili," protes Maira di sela-sela makan nya. Ya, biasa nya Kevin yang akan rempong menggiring adik-adik nya untuk sholat maghrib berjama'ah dan membantu kembar bungsu memakaikan mukena nya.


"Kenapa enggak minta bantuan kakak?" Kevin balik bertanya dengan mengernyit, sambil melirik Malika.


"Kakak ndak mau bantu, kata nya bial Mela mandili,," balas Maira setelah mengunyah makanan nya yang terakhir. "Emang mandili itu apa abang?" Tanya Maira mulai kepo, menatap abang sulung nya yang masih makan.


Beberapa saat menanti dan melihat abang nya masih mengunyah makanan, Malik yang sudah menyelesaikan makan nya itu pun membantu menjawab. "Mandiri itu, mengerjakan segala sesuatu kebutuhan dengan sendiri sesuai kemampuan kamu,, ya seperti tadi, Maira belajar pakai mukena sendiri." Malik yang biasa nya lebih banyak diam mencoba memberi pengertian adik nya, Malik pun seperti Malika.. yang tak percaya bahwa abang nya pulang terlambat karena ada pelajaran tambahan.


Sepanjang makan malam, Malik ternyata mengamati gerak gerik abang sulung nya itu. Dan dia merasa, harus mulai belajar untuk mengambil alih tugas abang sulung nya dalam membimbing adik-adik. Malik mengerti, abang nya sudah beranjak dewasa dan sudah saat nya untuk hidup mandiri di luar sana. Karena sebentar lagi abang nya akan lulus SMA dan akan melanjutkan studi nya ke perguruan tinggi. Dan bisa jadi, itu di luar negeri.


"Tapi, tadi lambut poni Mela kelihatan semua bang,," Maira masih protes.


Sedangkan kembaran nya, Maida.. nampak cuek dan masih asyik menikmati makanan nya yang hampir habis, dengan mulut dan tangan yang belepotan seperti biasa nya.


"Ram,, but,, Maira, bukan lambut!" Mirza yang juga sudah menyelesaikan makan nya seperti biasa, memprotes perkataan adik nya yang belum bisa mengucap kan huruf R dengan benar.


"iya,, iya,, bang Milza yang benal," Seru Maira sewot, sambil menatap abang nya yang suka jahil itu dengan bola mata yang membulat sempurna.. dan itu membuat wajah imut nya, nampak lucu dan menggemaskan.


Mirza tertawa senang, karena sudah berhasil menggoda adik nya.


Daddy Rehan dan mommy Billa yang juga sudah menyelesaikan makan nya hanya geleng-geleng kepala, menyaksikan keusilan Mirza terhadap adik nya.


"Maira juga benar kok," bela Malik dengan tersenyum hangat pada sang adik, lagi-lagi apa yang dilakukan Malik membuat daddy dan mommy nya mengernyit. Begitupun dengan Kevin, yang sedari tadi merasa di perhatikan oleh Malik.


Dering ponsel di saku Kevin mengalihkan semua perhatian kearah putra sulung daddy Rehan dan mommy Billa tersebut, Kevin mengambil ponsel dan melihat di layar tertera nama Bayu. "Dad Kevin ijin angkat telpon dari Bayu," pinta Kevin dengan sopan pada sang daddy.


Sang daddy mengangguk, "angkat lah bang, barangkali penting."


Kevin pun segera mengangkat telpon dari teman dekat nya itu, "iya Bay, wa'alaikumsalam.. ada apa?"


Kevin nampak mendengar kan suara dari seberang sana, dahi nya mengernyit dan sesekali menatap sang daddy.


"Oke Bay, makasih informasi nya. Lu enggak perlu khawatir, gue akan pasti kan Salma baik-baik saja," balas Kevin seraya menatap daddy nya.


"Ada apa bang?" Tanya mommy Billa nampak khawatir.


Kevin segera menyimpan ponsel nya kembali, "dad, ada yang ingin Kevin bicarakan dengan daddy," ucap Kevin menatap daddy dan mommy nya bergantian.


Kedua orang tua bijak itu pun mengerti,,, daddy Rehan dan Kevin akan berbicara di ruang kerja sang daddy, sedangkan mommy Billa akan menemani adik-adik Kevin bercengkrama di ruang keluarga. Dan putra putri nya yang lain bisa memahami situasi seperti ini, Malika pun menurun kan kadar keingintahuan nya karena dia tahu ada kala nya seseorang butuh privasi.


Setelah memastikan si kecil Maida menyelesaikan makanan nya, daddy Rehan segera mengajak Kevin menuju ruang kerja milik nya.


Sedangkan Malika, membantu membersihkan tangan dan mulut Maida yang belepotan makanan. Dan Malik, menuntun Maira menuju ruang keluarga.


Di dalam ruang kerja daddy Rehan, "dad, apa tadi Mr. Robinson mengancam kita?" Pertanyaan Kevin mengejutkan daddy nya.


"Kenapa kamu menyimpulkan seperti itu nak?" Sang daddy balik bertanya dengan mengernyit.


"Apa mungkin like father like son, juga berlaku untuk Mr. Robinson dan Monica dad?"


"Maksud kamu apa bang? Katakan saja bang, jangan muter-muter?" Titah daddy Rehan penasaran.


"Monik dan Nathan bersekongkol dad,, Nathan akan melakukan apa saja untuk mendapatkan yang dia inginkan, begitupun dengan Monik. Dan Kevin yakin, tadi Mr. Robinson pun mengancam akan melakukan sesuatu untuk memenuhi keinginan putri nya.. benar begitu kan dad?" Tanya Kevin menyelidik.


Daddy tampan itu tersenyum, dia tahu betul putra sulung nya itu memiliki kemampuan untuk menganalisa sesuatu dengan sangat detail. Daddy enam putra itu pun mengangguk, "tapi kamu enggak perlu khawatir nak, tadi daddy sudah mengerahkan orang-orang kepercayaan daddy untuk menjaga Salma dan keluarga nya selama 24 jam penuh. Begitu pun dengan adik-adik mu.. karena tidak menutup kemungkinan, Mr. Robinson juga bisa berbuat nekat bukan hanya mencelakai keluarga Salma tapi juga mengincar keluarga kita."


"Dan daddy juga memata-matai gerak gerik Mr. Robinson dan putri nya, juga Jonathan.. tapi tidak dengan ayah nya Nathan, karena daddy tahu betul bahwa om Ramon juga tidak menyukai sifat Nathan yang pemaksa seperti mama nya." Rehan menjelaskan dengan detail apa yang sudah dia lakukan untuk melindungi keluarga nya, agar putra sulung nya itu tidak khawatir.


"Terimakasih dad,, daddy selalu melakukan yang terbaik untuk kami," balas Kevin tersenyum bangga.


"Sudah menjadi tugas daddy son, kelak kamu juga pasti akan seperti daddy. Melakukan apa pun untuk melindungi orang-orang yang kamu sayangi," balas sang daddy seraya tersenyum hangat.


Sesaat kedua nya terdiam, hening menyapa ruang kerja milik daddy tampan itu.


"Son, seperti nya masih ada yang kamu pikirkan? Katakan lah,," titah Rehan menatap dalam manik biru sang putra.


"Dad,," sejenak Kevin terdiam, dia sedikit nampak ragu.


Rehan mengernyit..


"Ini tentang Malik dan Malika," ucap Kevin.


"Ada apa dengan mereka?" Tanya Rehan yang tak ingin menduga-duga.


Kevin kemudian menceritakan tentang pertanyaan-pertanyaan Malika dan tatapan menyelidik dari Malik kepada diri nya, "apa tidak sebaik nya, kita terbuka saja pada mereka dad?" Tanya Kevin hati-hati.


Rehan menarik nafas dalam, dan menghembus nya perlahan.


to be continue,,,