All About KEVIN

All About KEVIN
Anak Sultan kan Bebas..



"Papa,, Mama,, wa'alaikumsalam..." mereka semua langsung berdiri menyambut kehadiran opa Sultan, oma Sekar dan keluarga kecil bunda Fatima dan ayah Yusuf.


Mereka semua saling melepas rindu dengan berpelukan, Rahman dan Dion pun ikut menyalami opa dan oma nya Kevin tersebut.. juga menyalami bunda Fatima dan ayah Yusuf serta mencium punggung tangan mereka dengan takdzim.


"Ini teman nya bang Kevin juga? Kok bunda baru lihat?" Tanya bunda Fatima, menatap Dion.


Ya, karena Dion baru bergabung bersama Kevin CS maka keluarga besar Kevin belum mengenal nya. Berbeda dengan Rahman dan yang lain, yang sudah beberapa kali bertemu dengan keluarga besar Alamsyah.


"Iya tante, saya Dion," balas Dion memperkenalkan diri nya.


"Panggil saja bunda, seperti yang lain," pinta bunda Fatima dengan tersenyum ramah.


"Baik bunda," balas Dion, rasa kagum nya terhadap keluarga besar Kevin semakin besar, "bagaimana mungkin, orang-orang hebat seperti mereka bisa sangat ramah bahkan sangat wellcome dengan orang yang baru ditemui nya?" Gumam Dion dalam hati.


Rahman menyalami Zaki dan Fira, setelah saudara sepupu Kevin itu melepaskan pelukan nya dengan Kevin. "Bang Zaki, kak Fira, apa kabar?" Sapa Rahman dengan hangat.


"Alhamdulillah,, kami baik Rahman," balas Fira dengan lembut.


"Bayu dan Devi mana? Kok gak keliatan?" Tanya Zaki, mengedarkan pandangan. Karena setahu Zaki, mereka berlima, Kevin, Salma, Rahman, Bayu dan Devi, selalu kompak kemanapun pergi.


"Mereka berdua ada acara keluarga bang," balas Rahman.


"Hai,," sapa Zaki pada Dion, tapi yang disapa nampak masih bengong.


Rahman menyenggol lengan Dion, agar menyambut uluran tangan Zaki,, dan hal itu berhasil membuyarkan lamunan Dion, "eh iya, apa bro?"


Rahman memberi kode dengan mengarahkan dagu nya ke tangan Zaki yang menjulur, dan Dion tersenyum malu menyambut uluran tangan Zaki, "iya bang maaf, tadi lagi mikir sesuatu," kilah Dion, "saya Dion, teman satu angkatan sama Kevin,, tapi memang baru banget gabung sama Kevin dan yang lain." Dion memperkenalkan diri nya, dan menjelaskan panjang lebar.


Zaki mengangguk, "Zaki, abang sepupu nya Kevin," balas Zaki yang juga memperkenalkan diri nya, "dan ini adikku, Fira," lanjut nya, melepas jabat tangan nya dan memeluk pundak Fira.


Fira tersenyum hangat pada Dion, dan hal itu membuat Dion gelagapan,, "busyet,, cantik banget kakak sepupu nya Kevin," puji Dion dalam hati.


Dengan berdebar Dion mengulurkan tangan nya, "Dion," ucap nya singkat dan dengan susah payah, suara nya seperti tercekat di tenggorokan dan rasa nya sangat sulit untuk bisa dikeluarkan.


Fira menyambut tangan Dion, dan mereka berjabat tangan dengan erat. Fira tersenyum manis, dan hal itu mampu menghipnotis Dion,,, hingga remaja itu seakan tak rela melepaskan jabat tangan nya, "tangan nya lembut sekali, dan senyum itu.. ah, senyum nya membuat aku mabuk kepayang," batin Dion meronta, dia seperti melihat dan bertemu langsung dengan bidadari khayangan yang selama ini hanya dia dengar melalui dongeng pengantar tidur.. yang sering kali diceritakan sang ibu, kala dia masih kanak-kanak.


"Ehm,,, suara dehaman Zaki berhasil melepaskan jabat tangan kedua nya.


"Maklum bang, anak muda," kalau udah merasa ada setrum ya gitu.. jabat tangan aja lama nempel nya, kayak ada perekat yang kuat yang susah untuk di lepaskan," om Ilham mulai dengan keisengan nya, menggoda Fira dan Dion.


Yang di sambut senyuman dan gelengan kepala oleh semua yang hadir.


Dion tersenyum kecut, sedangkan Fira tersipu malu.


Mereka semua kemudian duduk kembali, di sofa yang empuk di ruang keluarga hunian milik keluarga besar Antonio. Sedangkan Annas, putra bungsu keluarga ayah Yusuf langsung naik ke lantai dua untuk menemui saudara-saudara nya.


Ya, Opa Sultan dan oma Sekar beserta keluarga kecil Yusuf datang untuk memenuhi janji nya. Selama seminggu ini, keluarga besar Alamsyah akan mempersiapkan pesta pernikahan untuk cucu dari putri bungsu keluarga Alamsyah dengan totalitas.


Dan keluarga besar Antonio, juga akan mensupport acara tersebut. Meski dari segi finansial, papi Vincent yang akan menghandle semua nya seperti keinginan nya kala itu.


Mereka mulai membicarakan segala persiapan untuk pesta pernikahan Kevin dan Salma. Mulai dari memastikan tempat, kesiapan pihak Wedding Organizer, catering, MUA, penginapan untuk tamu dari luar kota dan luar negeri, serta undangan yang di sebar.


"Untuk tempat udah fix ya, di bahas saat itu,, dan untuk desain nya udah sampai tahap akhir, sekitar tiga hari ke depan udah finish," ucap om Devan, mengawali laporan nya. Dia yang jago desain eksterior di tugaskan untuk mendesain tempat, seperti yang diinginkan Salma. Yaitu sebuah pesta pernikahan di taman bunga yang indah, ala putri raja dalam dongeng.


"Catering untuk sejumlah undangan plus space nya sudah siap, MUA juga sudah fix," mami Nina, yang menghubungi langsung sahabat-sahabat terbaik di bidang nya juga memberi kan laporan.


"Untuk penginapan, gue dah sewa beberapa villa di sekitar untuk tamu-tamu kita nanti nya. Dan beberapa, bahkan ada yang kasih free,, kata nya sih, sebagai kado untuk cucu bang Alamsyah." Ucap opa Alvian seraya tersenyum, "mereka sahabat lama papa, dan mereka juga kirim salam untuk papa," lanjut opa Alvian, menatap papa Sultan.


Opa Sultan mengangguk-angguk, dan tersenyum.


Daddy Rehan nampak mengangguk-angguk.


"Tuh kan bro, udah fix semua.. terus ngapain coba, kami disini?" Protes Rahman seraya berbisik pada Kevin.


"Dengerin dulu lanjutan nya?" Pinta Kevin.


"Oh ya bang, untuk teman-teman abang.. mau di kasih undangan tertulis atau mau ditemui satu-satu? Terus mau ngundang berapa orang? Barangkali ada tambahan?" Mommy Billa menatap putra nya.


"Sama kayak yang kemarin sih mom, cuma teman sekelas. Dan rencana nya, kami undang melalui pesan di group chat aja." Balas Kevin, "oh ya, paling ada tambahan beberapa temen yang ikut kerja sama Kevin mom," lanjut nya.


"Ish, enggak sopan banget ngundang acara spesial di group chat!" Protes Dion, "gue buatin desain undangan nya, terus ntar biar gue, Rahman sama Bayu yang kasih undangan ke mereka," lanjut Dion, dengan penuh semangat ingin membantu.


"Benar itu bro yang dibilang Dion," timpal Rahman.


"Ya, bang,, apa yang dikatakan teman-teman abang itu ada benar nya, kita harus menghargai orang lain jika kita juga ingin dihargai," ucap mommy Billa, "oh ya, nanti kalian berdua, sama nak Bayu dan nak Devi, datang sehari sebelum nya ya.. kalian nanti bisa menempati villa keluarga nya om Alex, yang bersebelahan dengan tempat pesta nanti," lanjut mommy Billa, menatap Rahman dan Dion dengan tersenyum hangat.


Rahman dan Dion mengangguk patuh.


"Jadi, udah fix semua ya,," daddy Rehan memastikan, dan mengedarkan pandangan nya menatap semua anggota keluarga nya satu persatu.


"Udah bang, souvenir juga udah siap. Dua hari sebelum acara, akan langsung di antar ke villa," om Ilham memberi kan laporan terakhir.


"Oke, terimakasih atas semua bantuan kalian," ucap daddy Rehan mencoba untuk serius.


"What?! Gue enggak salah denger nih!" Seru om Devan, dengan membulatkan mata nya.


Daddy Rehan melemparkan bantal sofa ke arah om Devan, "biasa aja kali, ekspresi nya,," gerutu daddy Rehan dengan kesal.


"Kesurupan apa lu Rey,, sampai ingat bilang makasih segala?!" Om Alex pun tak kalah terkejut.


"Pencitraan dia,," cibir opa Alvian, tersenyum seringai.


"Emang adik gue yang tampan mau nyalon presiden ya bang, pakai pencitraan segala?!" Timpal bunda Fatima, seraya terkekeh pelan.


"Palingan sedang khilaf aja dia bun," ayah Yusuf ikut-ikutan berkomentar.


Daddy Rehan kembali pasang wajah dingin, dia terlihat sangat kesal.. dia sungguh-sungguh ingin berterimakasih, tapi malah di bully sama sahabat-sahabat nya, dan sang kakak serta abang ipar malah ikut-ikutan. "Kalau anak Sultan kan bebas mau ngapain aja, mau bilang makasih, mau enggak.. suka-suka gue dong?!" Ucap daddy Rehan, dengan dingin.


Papa Sultan dan oma Sekar, terkekeh mendengar ucapan sang putra mahkota,,, karena benar ada nya, bahwa daddy Rehan adalah anak Sultan, yaitu anak dari papa Sultan Alamsyah.


"Abang, ajak teman-teman abang ke gasebo aja sana.. minta sama bibi untuk dibuatkan kopi," titah mommy Billa, mengalihkan pembicaraan.


"Iya mom," balas Kevin, dan segera beranjak seraya mengajak Rahman dan Dion untuk meninggalkan ruang tamu.


"Bang Zaki sama kak Fira sekalian gabung aja sama mereka, biar seru.. kayak nya ada yang mau pedekate tuh," seru om Ilham, yang sedari tadi diam-diam mengawasi Dion yang curi-curi pandang pada Fira.


Dan apa yang dikatakan om Ilham, membuat Fira tersipu malu.


Sedangkan Dion, garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


"Ayo dik, kita gabung sama mereka," ajak Zaki penuh pengertian.


"Kalian ke sana dulu gih, bareng sama bang Zaki dan kak Fira.. gue mau jemput istri gue," Rahman, Dion, Zaki dan Fira langsung menuju halaman belakang, sedangkan Kevin naik ke lantai atas untuk menjemput sang istri.


to be continue,,,