
"Iya benar, tuan Robinson daddy nya nona Monica dan beliau baru saja memaksa untuk masuk," ucap Evita membenarkan.
"Aunty,, kami akan menunggu di ruangan om Alex, tolong kabari kami jika tuan Robinson sudah keluar dari ruangan daddy," pinta Kevin dengan sopan pada Evita, sekretaris Rehan yang sudah bekerja di sana belasan tahun lama nya. Tepat nya, semenjak Susan resign dari RPA Group karena menikah dengan Alvian.
Evita mengangguk, dan tersenyum kepada putra atasan nya itu.
Kevin segera berlalu menuju ke ruangan Asisten Pribadi nya sang daddy, yang masih berada satu lantai dengan ruangan daddy nya.
Sedangkan di dalam ruangan CEO RPA Group, Rehan dan sahabat-sahabat nya sedang berkumpul untuk membahas peresmian villa yang baru selesai di bangun oleh Devan... Villa di sebuah pulau pribadi di daerah kepulauan seribu yang sengaja di beli Devan dengan uang pribadi nya, sedangkan pembangunan villa nya di danai oleh Fatima.
Villa itu, rencana nya untuk anak-anak mereka kelak jika ingin liburan keluarga. Tengah asyik dengan obrolan nya yang segar ala geng tampan, tiba-tiba tuan Robinson memaksa untuk masuk dan bertemu dengan bos RPA Group tersebut.
Setelah beberapa saat tuan Robinson duduk di sofa bersama yang lain, "maaf Mr. Robinson, ada hal apakah hingga anda datang kemari tanpa memberi kabar terlebih dahulu?" Tanya Rehan pada inti nya, tatkala melihat air muka tamu nya yang nampak tidak bersahabat.
"Bisakah kita bicara empat mata saja?!" Pinta tuan Robinson seraya mengedarkan pandangan nya, menatap Alex, Devan dan Alvian dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Alex mengernyit, begitupula dengan Alvian.. dan Devan nampak mendengus kesal, "dia pikir, siapa diri nya?!" Lirih Devan pada Alvian yang duduk tepat di sebelah nya.
Alvian menanggapi protes sahabat nya itu hanya dengan tersenyum, om dari Nabila itu semakin berumur semakin terpancar aura wibawa nya.
"Maaf Mr. Robinson, jika boleh tahu,, apa yang akan anda bicarakan? Jika urusan bisnis, saya akan usir dua orang ini," ucap Rehan seraya menunjuk Devan dan Alvian, "tapi Asisten Alex akan tetap berada di ruangan ini," lanjut Rehan dengan tegas.
"Tapi jika urusan pribadi, mereka bukan hanya sahabat saya tapi juga keluarga saya,, dan mereka akan tetap tinggal di ruangan ini," Rehan menatap tuan Robinson.
"Ini memang urusan pribadi, tuan Rehan.. tentang putra putri kita." Tuan Robinson mulai membuka obrolan nya, dari nada bicara nya terdengar ada kemarahan yang tertahan.
"Ada apa dengan mereka?" Tanya Rehan santai, seraya melempar senyum.. mencoba menularkan aura positif pada tamu nya.
Tapi tuan Robinson nampak terlanjur di kuasai oleh amarah, "Tuan Rehan, bukan kah saat itu kita sudah membahas rencana pertunangan putra putri kita? Tapi mengapa justru putra anda memamerkan pacar nya di hadapan putri saya, Monica?!" Tuan Robinson bertanya dengan nada tinggi, dan mata nya seperti hendak menerkam mangsa nya.
Kembali Rehan tersenyum,, "Mr. Robinson, apakah saat itu saya menyetujui nya?" Tanya Rehan dengan memelankan suara nya.
Daddy dari Monica itu menggeleng, "memang belum tuan Rehan, tapi saya yakin putri saya akan dapat menaklukkan hati putra anda.. jika saja gadis murahan itu tidak merayu putra anda, dan memberikan tubuh nya dengan cuma-cuma!" Geram tuan Robinson dan menjelek-jelek kan Salma.
"Jika anda berkata demikian, itu sama saja dengan anda telah menuduh putra saya melakukan hal rendah semacam itu.." ucap Rehan dengan nada pelan namun mengintimidasi, menatap tajam tuan Robinson.
"Emm,, tuan Rehan, maksud saya bukan seperti itu." Ucap tuan Robinson sedikit menyesali perkataan nya yang keliru, "saya hanya ingin mengatakan bahwa, pacar putra anda hanya lah gadis miskin yang sama sekali tidak selevel dengan kita. Nama besar anda akan tercoreng dan dipandang rendah oleh rekan-rekan bisnis anda, jika memiliki menantu seperti gadis miskin itu!" Ketus tuan Robinson dengan kembali menjatuhkan Salma.
"Saya tidak khawatir dengan cibiran rekan-rekan bisnis saya jika putra putri saya bergaul dengan orang-orang yang menurut anda miskin, tapi yang saya takutkan adalah jika putra putri saya bergaul dengan orang-orang yang kata nya dari kalangan atas namun sikap nya rendahan,, tidak punya etika dan sopan santun, suka memaksakan kehendak dan senang menindas yang lemah." Balas Rehan dengan tegas dan penuh wibawa.
Tuan Robinson terdiam, dia nampak berpikir keras.. dahinya berkerut.
"Tuan Rehan, tidak bisakah anda membujuk putra anda untuk memutuskan kekasih nya? Dan memberi kan putri saya kesempatan untuk dekat dengan nya?" Pinta tuan Robinson dengan memelankan suara nya.
"Saya percaya sepenuh nya dengan putra saya Mr. Robinson.. dan maaaf, saya tidak akan ikut campur dengan urusan pribadi Kevin selagi putra saya itu masih berada di jalur yang semestinya." Balas Rehan seraya tersenyum.
"Ck,," tuan Robinson nampak berdecak kesal, dia kemudian berdiri dan berkata, "saya akan buat putra anda meninggalkan gadis miskin itu!" Nada kemarahan terdengar jelas dari ucapan nya.
Devan, Alvian dan Alex yang sedari tadi menjadi pendengar setia, saling pandang...
Sedangkan Rehan hanya tersenyum seraya ikut berdiri dan bersedekap, "jika orang lain memperlakukan keluarga saya dengan baik, saya akan memperlakukan orang tersebut dengan lebih baik. Tapi jika ada yang berani menyentuh dan melukai sedikit saja anggota keluarga saya, maka saya tidak akan segan untuk membalas nya dengan lebih kejam," ucap Rehan pelan namun mematikan.
Tuan Robinson segera berlalu meninggalkan ruangan Rehan, tanpa berkata-kata lagi. Dia keluar dengan membanting pintu ruangan Rehan.
Rehan hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan tamu nya barusan, "daddy nya saja seperti itu, bagaimana dengan anak nya?" Gumam Rehan, dan kemudian mendudukkan diri nya kembali di sofa.
"Kok ada ya, orang tua macam gitu? Segala kemauan anak dituruti, sampai memaksakan kehendak?!" Gumam Alvian tak habis pikir.
Terdengar pintu di ketuk, dan sedetik kemudian di buka dari luar. Kevin dan Salma muncul seraya tersenyum, "Assalamu'alaikum,," ucap salam mereka berdua bersamaan.
"Wa'alaikumsalam,," jawab Rehan dan yang lain nya kompak.
"Ee,, ada pengantin baru," ucap Alex dengan tersenyum menggoda kearah Kevin, "gimana rasa nya bang?"
Kevin hanya senyum-senyum,, dan kemudian mereka berdua menyalami daddy nya dan sahabat-sahabat daddy nya itu, dan mencium punggung tangan mereka dengan takdzim.
"Kok tanya rasa nya, emang mereka sudah tidur bareng?" Tanya Devan to the point.
Wajah Salma memerah,
Kevin menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal..
"Ya, kalau ngobrol nya sama yang seumuran sih gak bakalan malu Dev... lah ini, yang nanyain sudah om om, pasti nya malu lah," balas Alvian membela Kevin.
"Duduk dulu son, ada yang mau daddy tanyakan." Titah Rehan.
Kevin pun duduk di sofa, begitupun dengan Salma.
"Yaelah,, pengantin baru, duduk aja mpet-mpetan... masih luas ini bang," kembali Devan usil menggoda Kevin dan Salma.
Kevin malah menjadi dan memeluk pinggang istri nya dengan mesra, Salma hanya tersenyum dan tertunduk malu.
"Cie,,, abang udah berani ya sekarang," ucap Alex dengan tersenyum menggoda.
"Mirip sama lu deh Rey watak nya dia, kalau di ledekin malah semakin menjadi," ucap Alvian seraya terkekeh.
Rehan hanya senyum-senyum,, dan memang seolah melihat diri nya pada Kevin, padahal mereka bukan ayah dan anak kandung.
"Daddy mau nanya apa? Kebetulan kami kemari, juga ada yang mau kami tanyakan," Kevin membuka suara, menatap sang daddy.
"Abang bilang, teman-teman di sekolah abang belum tahu kalau kalian pacaran, jadian, atau apalah nama nya,,, tapi kenapa barusan Mr. Robinson mengatakan pada daddy, kalau abang memamerkan pacar abang di hadapan Monik?" Tanya Rehan menyelidik.
"Kami kemari juga mau membicarakan tentang Monik dad.. dan memang benar sebelum nya tidak ada yang tahu kalau kami pacaran karena memang kami tidak pernah jadian," Kevin menghentikan ucapan nya.
"Tapi langsung nikah ya bang,, good job boy," sela Alvian.
Kevin tersenyum, "ya opa, begitulah kebenaran nya." Balas Kevin, masih dengan memeluk Salma.
"Itu tangan enggak di kondisikan dulu bang," sela Devan.
Rehan melempar bantal sofa kearah Devan,, "berisik aja dari tadi," gerutu Rehan.
Devan tersenyum seringai, sedangkan Alex dan Alvian hanya geleng-geleng kepala. "Berani nya godain anak nya, coba saja godain daddy nya.. berani enggak?!" Ucap Alex mencibir.
Devan hanya mengangkat kedua tangan nya.
"Tapi dad,, tadi pagi Kevin akhir nya mengatakan pada teman-teman Kevin yang ada di kantin, bahwa Salma udah jadi milik Kevin." Lanjut Kevin, menatap daddy nya. Dan kemudian, Kevin menceritakan apa yang dikatakan Monik di kantin. Juga tentang Nathan yang menyatakan cinta pada Salma, hingga akhir nya Kevin mengatakan tentang hubungan nya dengan Salma di hadapan teman-teman nya.
"Dad, apa tadi Mr. Robinson membahas tentang Monik?" Tanya Kevin kemudian.
"Ya, tapi abang gak perlu khawatir. Daddy dan mommy selalu mendukung abang," balas Rehan, tanpa memberitahukan ancaman tuan Robinson kepada putra nya itu.
"Salma, apa pun yang kamu dengar dari Monik.. abaikan saja, belajarlah untuk saling percaya dan saling menjaga kepercayaan pasangan. Karena itu adalah kunci keutuhan sebuah hubungan," lanjut Rehan menasehati putra dan menantu nya.
Kevin dan Salma mengangguk,
"Kalian sudah makan siang?" Tanya Rehan, penuh perhatian.
"Sudah dad, tadi sebelum kemari," balas Kevin.
"Ya sudah bang, ajak istri mu istirahat di apartemen.. ingat pesan daddy tadi pagi," titah Rehan pada putra nya.
Kevin dan Salma pun berpamitan, "kami permisi dulu," ucap Salma dengan sopan.
"Pesan apa Rey?" Alex mulai kepo..
"Paling juga disuruh main aman," balas Alvian seraya terkekeh.
"Wow,,, mau buka segel ya bang,," cetus Devan tanpa basa basi, sebelum Kevin dan Salma mencapai pintu ruangan sang daddy.
Kevin dan Salma saling pandang,,
Rehan hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan sahabat-sahabat nya yang absurd.
to be continue,,,