All About KEVIN

All About KEVIN
Pindah ke Surabaya



Keesokon hari nya, Kevin dan teman-teman nya yang baru datang ke kampus untuk mengikuti kegiatan orientasi pengenalan kampus yang masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.. di buat terkejut, karena langkah mereka dihentikan oleh sejumlah kakak-kakak senior mereka yang menjadi panitia ospek.


"Kevin, Salma,," panggil salah satu dari mereka dengan tersenyum ramah.


Kevin mengernyit, merasa aneh dengan sikap mereka yang tiba-tiba ramah pada mahasiswa baru seperti mereka. "Ada apa kak?" Tanya Kevin dengan penasaran.


"Kalian berdua di panggil oleh rektor, dan dimohon untuk ke ruangan beliau sekarang," jawab kakak senior tadi.


Kevin menoleh pada istri nya, "gimana baby?" Bisik Kevin. Pemuda tampan itu bisa menebak, pasti ini ada hubungan nya dengan Bagas yang kemarin sempat nyamperin Kevin dan Salma hingga ke apartemen. "Semoga wakil ketua BEM yang arogan itu tidak menyebar fitnah bahwa kami tidur bareng di apartemen," gumam Kevin dalam hati, yang tahu persis kelicikan orang-orang seperti Bagas.


Salma mengangguk, "ya udah mas, kita ikuti aja," balas Salma lirih.


"Hanya kami berdua kak?" Tanya Salma memastikan.


"Iya dik," balas senior yang lain, "dan kalian, bisa gabung dengan teman-teman yang lain di lapangan," titah kakak senior tersebut pada Bayu dan yang lain nya.


"Baik kak, makasih info nya," ucap Kevin seraya menggandeng tangan sang istri berlalu dari hadapan mereka semua, Kevin dan Salma berjalan dengan santai menuju ruang rektor.


Di ruangan rektor, Bagas terlihat menekuk wajah nya. Dia tidak suka dengan situasi seperti ini, yang dinilai nya akan menjatuhkan harga diri seorang Bagas sebagai putra mahkota pemilik kampus. Karena kemarin rektor kampus meminta pada papa nya agar Bagas mau minta maaf sama Kevin dan Salma, serta merubah perilaku nya agar tak lagi arogan.


Sedangkan pak Soni, juga terlihat sedikit kesal tapi pria tambun itu mencoba untuk bersikap wajar, karena papa nya Bagas itu menyadari bahwa diri nya bukan siapa-siapa jika dibanding Salma yang ternyata adalah CEO dari perusahaan pemilik saham terbesar di perusahaan milik nya dan juga Kevin yang seorang founder dan CEO dari sebuah perusahaan e-commers terbesar kedua se-Asia.


Terdengar pintu ruangan rektor tersebut di ketuk dari luar, dan Kevin kemudian membuka pintu yang tidak tertutup sempurna itu seraya mengucap kan salam, "assalamua'alaikum pak, selamat pagi,," sapa Kevin dan Salma bersamaan.


"Ya, selamat pagi nak Kevin dan nak Salma ya?" Pak Rektor memastikan bahwa yang datang adalah dua mahasiswa jenius yang di miliki oleh kampus nya.


"Benar pak," balas Kevin singkat.


"Silahkan duduk nak Kevin, nak Salma.." pak Rektor mempersilahkan kedua nya untuk duduk di sofa, bersama dengan Bagas dan juga pak Soni.


Kevin dan Salma pun duduk di sofa tersebut.


"Nak Kevin, nak Salma,, kalian pasti sudah mengenal nak Bagas kan? Dia adalah wakil ketua BEM, yang kemarin ikut memberikan sambutan nya di acara pembukaan PKKMB," jelas pak Rektor seraya melirik Bagas.


Kevin dan Salma mengangguk.


"Sedangkan beliau adalah pak Soni, pemilik kampus kita ini,,, pak Soni adalah orang tua nak Bagas," pak Rektor memperkenalkan pak Soni kepada Kevin dan Salma.


Kembali Kevin dan Salma mengangguk, dan mereka tak hendak mengatakan apa pun.. karena mereka berdua masih menunggu, apa kira-kira yang telah di rencana kan Bagas kepada mereka berdua?


"Nak Kevin, nak Salma.. kami mohon maaf, jika kemarin dua mahasiswa kami sempat membuat kalian berdua merasa tidak nyaman..." sejenak pak rektor menjeda ucapan nya.


Kevin mengernyit, dan melirik istri nya. Salma mengedikkan bahu nya, tanda belum mengerti arah pembicaraan rektor tersebut.


"Karena Bagas dan Yura, telah menguntit kalian berdua sampai ke apartemen," lanjut pak rektor, seraya menatap Kevin dan Salma bergantian.


"Maaf, ini kenapa jadi bapak yang meminta maaf?" Kevin menatap rektor, meminta penjelasan.


Mendengar ucapan sang putra, pak Soni langsung melotot pada Bagas. Sedangkan pak rektor, hanya bisa geleng-geleng kepala. "Ternyata sulit membuat Bagas sedikit saja punya rasa empati pada orang lain.. bahkan pada papa nya pun dia tak perduli," gumam pak rektor dalam hati.


"Bagas, kemarin kan kita sudah sepakati ini! Mengalah lah sedikit saja, agar perusahaan yang sudah papa rintis bisa tetap aman dan kamu juga masih bisa mendapatkan segala fasilitas seperti sekarang! Kalau kamu masih saja keras kepala, dan arogan seolah kamu lebih hebat dari mereka,, maka jika mereka tidak terima dan bertindak, hancurlah semua yang papa bangun selama ini!" Bisik pak Soni, menatap putra nya dengan menahan amarah.


Bagas membuang muka nya, dan mendengus kesal, "tapi Bagas tetap tidak mau minta maaf pada mereka pa,, Bagas mengikuti mereka berdua, hanya untuk memastikan bahwa mahasiswa di kampus kita tidak ada yang kumpul kebo!" Kilah Bagas seraya menunjuk Kevin dan Salma, Bagas kekeuh tak mau minta maaf dan tak mau di salahkan.


"Kumpul kebo? Jadi kak Bagas mengikuti kami sampai apartemen, karena kakak curiga kami pasangan mesum? Bukan karena hal lain?" Tanya Kevin dengan penuh selidik, dan tersenyum seringai.


Bagas melotot kearah Kevin dan terlihat sangat kesal, karena merasa diri nya dilawan oleh bocah kemarin sore seperti Kevin.


"Kak Bagas naksir kan sama istri Kevin?" Tatapan Kevin begitu tajam, menusuk tepat ke netra Bagas. Kevin merasa tak suka, ada laki-laki lain yang menatap istri nya dengan tatapan mendamba.


"Cih,, memang secantik apa dia?!" Elak Bagas.


"Bukan nya kak Bagas, yang kemarin dengan percaya diri ingin menukar harga diri Salma dengan uang?" Sindir Salma, mengingatkan kesombongan Bagas kemarin.


Pak Soni semakin melotot pada putra nya, "berkali-kali papa bilang, jangan gegabah dalam bertindak!" Umpat pak Soni, menatap putra nya dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.


Bagas semakin kesal pada pasangan Kevin dan Salma, "kurang ajar kalian berdua, kalian bisa menjadi CEO juga karena orang tua kalian kan? Bukan karena kemampuan kalian sendiri?!" Ejek Bagas yang merasa semakin terjepit posisi nya, karena sang papa terus menyalahkan diri nya.


"Nak Bagas, tidakkah nak Bagas menyimak obrolan kita kemarin? Dan tidakkah nak Bagas membaca semua data diri nak Kevin, yang sudah di berikan oleh asisten pribadi papa nak Bagas.. mengenai prestasi nak Kevin di dunia bisnis?" Pak rektor menatap Bagas, dengan mengerutkan kening nya begitu dalam. Laki-laki paruh baya itu benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran pemuda di hadapan nya, "Soni benar-benar telah salah mendidik Bagas," gumam nya dalam hati.


Bagas menatap rektor di kampus nya dengan tatapan kemarahan, dia ingin memaki rektor tersebut tapi sang papa keburu menarik tangan nya. "Ikut papa!"


Kedua orang ayah dan anak itu kemudian keluar dari ruang rektor tersebut.


"Maaf kan atas kejadian yang tidak mengenakkan ini nak Kevin, nak Salma," ucap rektor tersebut, dengan tak enak hati.


Kevin menggeleng, "ini bukan kesalahan bapak, bukan pula kesalahan pihak kampus. Ini hanya lah kesalahpahaman kak Bagas pada kami, dan menurut saya tak seharusnya bapak dan juga pak Soni ikut dilibatkan dalam masalah ini." Balas Kevin.


Pak rektor tersebut mengangguk-angguk, "masalah nya kemarin, nak Bagas meminta bapak untuk mengeluarkan nak Kevin dan nak Salma dari kampus ini," ucap pak rektor, dan rektor tersebut kemudian menceritakan semua nya yang terjadi kemarin, baik di kantor nya maupun di kantor pak Soni kepada Kevin dan Salma. Termasuk pernyataan Bagas, bahwa pemuda itu menyukai Salma.


Kevin menatap istri nya, "begitu terobsesi nya kak Bagas pada mu baby,,," gumam Kevin dalam hati.


Tepat di saat yang sama, pak Soni dan Bagas masuk kembali ke ruangan rektor. Mereka berdua kemudian segera duduk di tempat nya semula.


"Nak Kevin, nak Salma, atas nama orang tua Bagas secara pribadi,,, saya minta maaf, atas perlakuan Bagas kepada istri nak Kevin," ucap pak Soni seraya melirik Salma, "dan saya mohon, agar masalah ini jangan sampai diketahui oleh tuan Rehan dan juga tuan Irfan." Pinta pak Soni dengan sungguh-sungguh.


"Dan demi kenyamanan nak Kevin dan nak Salma kuliah di kampus ini, maka Bagas akan saya pindahkan ke Surabaya dan ikut dengan nenek nya di sana," lanjut pak Soni seraya menatap Bagas.


Bagas hanya bisa tertunduk lesu, dan menyimpan kemarahan dan kekecewaan nya dalam hati. Bagas sudah tidak dapat berkutik, sebab sang papa telah mengancam nya,,, jika dia tidak menuruti perintah sang papa agar mau pindah ke Surabaya, maka segala fasilitas kemewahan yang telah papa nya berikan selama ini akan ditarik semua nya.


to be continue,,,