
Matahari semakin merangkak naik dan semakin lama semakin tinggi hingga tepat berada di atas kepala, sinar nya yang terik terasa panas menyengat dan membakar kulit. Namun belum juga ada tanda-tanda bahwa istri dari Kevin itu akan segera melahirkan.
Kevin masih setia menemani sang istri berjalan dengan pelan di teras pavilion, karena di taman saat ini sedang panas-panas nya. Sesekali Salma berhenti dan memegangi perut nya, merasakan sensasi dari kontraksi yang sering datang dan pergi sesuka hati.
Dan Kevin dengan penuh kasih segera mengelus perut istri nya itu, menciumi nya seolah sedang mencium buah hati mereka berdua. "Nak, pelan-pelan saja ya.. jangan buat bunda kesakitan," lirih Kevin, membisiki bayi yang masih bersemayam di dalam rahim sang istri.
"Cinta, kita istirahat di dalam dulu yuk.. mommy sudah membelikan kita makan siang, ayo kita makan," ajak Kevin dengan lembut.
Salma mengangguk, dan Kevin dengan sabar menuntun istri nya masuk ke dalam pavilion.
"Duduk di sofa saja bang, makanan nya biar mommy bawa ke situ," titah sang mommy dari meja makan, saat melihat sang putra dan menantu nya masuk.
"Baik mom," balas Kevin, dan kemudian mendudukkan sang istri dengan pelan di sofa, Kevin pun kemudian duduk di samping istri nya.
Tak berapa lama, mommy Billa membawakan makanan untuk Kevin dan Salma.
"Kak Salma harus makan yang banyak ya, dari tadi kak Salma enggak makan apa-apa.. cuma sarapan tadi pagi aja kan?" Titah mommy Billa seraya meletakkan makanan di atas meja.
"Ayo di makan, pastikan sampai habis ya bang. Mommy mau melanjutkan makan dulu," mommy Billa bergegas kembali ke ruang makan, untuk melanjutkan makan siang nya yang belum habis.
"Mom, tadi kan dokter bilang.. kalau proses pembukaan nya menantu kita, terhitung lambat. Daddy berencana menyewa beberapa pavilion di sebelah yang kebetulan lagi pada kosong untuk keluarga kita, karena barusan bang Alvian kirim pesan kalau bapak sama ibu juga keluarga yang lain mau datang kesini," ucap daddy Rehan, setelah menyelesaikan makan nya.
Mommy Billa mengangguk, "terserah daddy saja, gimana baik nya. Kak Icha tadi juga mengadu, si bungsu merengek terus pengin ikut kesini," balas mommy Billa.
Sementara di ruang tamu, Kevin dengan telaten menyuapi istri nya. "Cukup mas, rasa nya enggak enak," pinta Salma agar sang suami menyudahi menyuapi diri nya.
"Kamu baru makan sedikit cinta, lagi ya.. kamu harus makan yang banyak biar punya tenaga untuk mengejan nanti nya," bujuk Kevin.
Salma menggeleng,
"Ayolah cinta, aku enggak mau kamu kenapa-napa,," Kevin masih berusaha membujuk istri nya, "demi anak kita, mau ya?" Kevin menatap istri nya dengan tatapan penuh kasih.
Salma akhir nya mengangguk, "dikit-dikit aja ya mas," pinta nya dengan suara yang teramat lirih.
"Iya, yang penting ada makanan yang masuk," balas Kevin seraya menyuapi kembali sang istri.
Daddy Rehan dan mommy Billa yang baru saja keluar, tersenyum melihat betapa perhatian nya Kevin pada istri nya.
Kedua orang tua Kevin itu kemudian ikut duduk di sofa, menemani putra dan menantu nya yang masih makan.
"Assalamu'alaikum,,," ucap salam bu Widya dan pak Sulaiman, yang kembali datang dan kali ini bersama Azka.
Ya, kedua orang tua Salma itu tadi pagi begitu mendapat kabar dari Kevin,,, langsung meluncur menuju rumah sakit, untuk melihat keadaan Salma. Dan sebelum dhuhur tadi pamit pulang, karena hendak menjemput Azka.
"Wa'alaikumsalam,," balas semua yang ada di dalam ruang tamu tersebut.
"Wah, kebetulan ibu nya kak Salma sudah datang. Kami mau pulang dulu sebentar, karena adik-adik nya bang Kevin mau pada ikut kesini," ucap mommy Billa seraya beranjak, yang diikuti oleh daddy Rehan.
"Oh iya, silahkan.. biar kami yang menemani mereka," balas bu Widya.
"Mom, adik-adik mau kesini semua?" Tanya Kevin mengernyit.
"Iya bang, kakek nenek sama yang lain juga sudah on the way kemari. Abang enggak perlu khawatir, mereka bisa istirahat di pavilion sebelah.. jadi istri abang enggak akan terganggu istirahat nya," jelas mommy Billa yang mengerti kekhawatiran sang putra.
"Daddy sudah menyewa beberapa pavilion yang ada di deretan sini, dan pihak rumah sakit saat ini sedang mempersiapkan nya. Bapak dan ibu Leman, nanti juga bisa istirahat di salah satu pavilion tersebut," lanjut mommy Billa, seraya menatap Kevin dan bu Widya bergantian.
"Oh iya bu Nabilla, terimakasih. Pak Rehan memang luar biasa, selalu dapat membaca situasi dan memperhitungkan segala sesuatu nya dengan matang," puji pak Sulaiman, seraya tersenyum tulus menatap besan nya itu.
"Ya, kami kan keluarga besar pak Leman. Jadi kehadiran mereka akan sangat mengganggu pasien, kalau mereka semua berada di dalam satu ruangan yang sama dengan kak Salma," balas daddy Rehan dengan tersenyum.
"Iya, anda benar pak Rehan." Pak Sulaiman mengangguk-angguk.
"Baik, pak Leman. Kami pamit dulu.. titip anak-anak," daddy Rehan dan mommy Billa kemudian segera berlalu meninggalkan pavilion tersebut.
Matahari berangsur tergelincir dan kemudian tenggelam sempurna di ufuk barat, berganti dengan gelap yang menyapa dan menyelimuti malam.
Semua keluarga besar Antonio , termasuk om Ilham yang memiliki bayi kecil juga ikut berjaga menemani Salma dan Kevin di pavilion rumah sakit.
Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, dan itu arti nya sudah dua belas jam Salma dan Kevin berada di sana.. dan tanda-tanda Salma akan melahirkan belum juga terlihat.
"Pembukaan nya baru nambah satu ya,," ucap bu dokter, ketika mengecek kondisi Salma.
"Kenapa lama sekali ya dok?" Tanya Kevin yang nampak sangat khawatir.
"Maaf mas Kevin, saya juga tidak dapat memastikan kenapa? Saya hanya bisa menyarankan agar pasien melakukan gerakan-gerakan yang dapat memicu pembukaan, diantara nya ya dengan jalan-jalan tadi." jawab dokter jaga tersebut.
"Apa mbak Salma mau dilakukan operasi saja?" Tawar dokter tersebut, yang melihat kekhawatiran di wajah Kevin.
Lagi-lagi Salma menggeleng, dia masih bersikukuh ingin melahirkan secara normal.
"Kalau di induksi bagaimana mbak Salma?" Tanya dokter itu lagi.
"Di induksi kan kata nya sakit banget dok? Jangan, jangan,, kalau masih bisa menungggu atau ada cara lain yang enggak menyakitkan boleh saja dok," balas Kevin mewakili istri nya.
"Iya dok, enggak perlu induksi. Biar semua berjalan secara alami," balas Salma dengan santai.
"Hmm,, baiklah, kelihatan nya mbak Salma juga masih kuat kok. Tetap semangat ya mbak Salma," pungkas dokter tersebut mengakhiri kunjungan nya malam ini pada pasien, dan kemudian segera berlalu meninggalkan ruang perawatan Salma bersama perawat nya.
Di ruang tamu, sepeninggal dokter tersebut... mommy Billa yang ditemani suami serta geng tampan dan om Ilham, yang tadi mendengar penjelasan dokter dengan sangat jelas terlihat sangat khawatir. "Sudah mom, kak Salma pasti kuat," hibur daddy Rehan.
"Benar Bill, jangan terlalu khawatir.. perbanyak do'a biar cucu mu cepat lahir dan kedua nya sehat," timpal opa Alvian.
Mommy Billa mengangguk,
"Nang, si kecil nangis tuh.. dik Jihan kewalahan kayak nya," panggil tante Nisa, yang baru masuk ke ruangan tersebut.
"Kamu pulang aja Ham," titah opa Alvian.
"Bunda nya enggak mau aku ajakin pulang om," balas om Ilham yang nampak malas untuk beranjak.
"Udah sana pulang, paksa aja si Jihan nya," suruh om Alex, "kalian sih enggak apa-apa begadang dan tidur di sini, nah si Jeli kan masih orok?" Lanjut om Alex.
"Kok Jeli sih bang?! Jelek banget manggil nya?!" Protes om Ilham.
"Lah, kan kamu sendiri yang kasih nama? Kenapa kamu juga yang protes?!" Om Alex tersenyum seringai.
"Iya, tapi jangan Jeli juga kali bang.. nama nya kan Jelita, di panggil nama yang belakang nya kan bagus? Lita apa Tata gitu?" Om Ilham cemberut.
"Masih untung Ham, enggak di panggil Jejel," Canda om Devan yang semakin membuat om Ilham merasa kesal.
"Ck,, bang Devan, itu makin terdengar enggak enak banget bang?!" Om Ilham semakin protes.
"Udah, udah,, masalah panggilan aja kalian ribut. Di ambil nama tengah nya aja, kan beres," ucap daddy Rehan yang menengahi.
"Nah, boleh tuh bang Rehan. Ilham setuju sama abang,," balas om Ilham seraya tersenyum lega, merasa masih ada abang yang membela nya.
Yang lain mengernyit, menatap daddy Rehan.. yang tumben-tumbenan baik sama om Ilham, setelah sering dijahili sama adik ipar nya itu. "Mau lu panggil gimana anak nya Ilham, Rey?" Tanya opa Alvian.
"Lilit.. bagus kan?" Daddy Rehan tersenyum tanpa dosa.
"Bang Rehan,,,!!!" Dan teriakan tertahan om Ilham, disambut tawa oleh kedua kakak nya beserta geng tampan
to be continue,,,