All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Posesif Amat Bang,,



"Icha kan udah cukup umur bang, Icha udah kuliah?" Lanjut Malika dengan cemberut, dan enggan beranjak. "Icha malas di godain cowok-cowok yang enggak jelas kayak tadi, Icha juga enggak suka abang deket-deket sama cewek lain," keluh nya.


"Sabar ya Cha, abang lagi buat tugas akhir dan semester depan Insyaallah bisa ikut wisuda. Abang berencana meminang kamu setelah wisuda, sebab abang enggak mau konsentrasi abang terpecah antara studi, pekerjaan dan juga kamu. Kalau abang sudah lulus, abang kan hanya mikirin kamu seorang," Jelas Rahman panjang lebar, seraya menatap dalam netra Malika.


"Terus kerjaan abang gimana?" Malika mengernyit kan dahi.


"Kan abang kerja buat kamu, itu arti nya sepanjang hidup abang,, hanya ada Malika ku tersayang," balas Rahman seraya mengedipkan mata nya, yang membuat hati Malika meleleh.


"Abang, so sweet..." lirih Malika, seraya bergelayut manja di lengan kekar Rahman.


"Cha,, tolong jangan seperti ini sayang," Rahman berusaha melepaskan tangan Malika, karena sesuatu yang kenyal milik Malika menempel sempurna di lengan Rahman.. dan itu membuat darah Rahman berdesir dan jantung nya berdegup kencang.


Tapi Malika malah semakin mengeratkan pelukan nya pada lengan sang pangeran tampan, "bentar aja abang, Icha merasa nyaman dekat sama bang Rahman," ungkap Malika dengan jujur.


"Kamu nya nyaman Cha, tapi aku yang ketakutan. Aku takut enggak bisa mengendalikan diri," bisik Rahman dalam hati, Rahman menghembus nafas nya dengan kasar mencoba menghalau pikiran negatif yang bisa merusak akal sehat nya.


"Cha, ini makanan nya masih banyak. Boleh abang makan enggak?" Rahman mencoba mengalihkan perhatian.


Malika mengendurkan pelukan nya, "iya bang, ayo kita habis kan bersama," balas Malika antusias dan kedua nya kemudian menghabiskan makanan yang telah di pesan oleh Malika hingga tandas tak bersisa.


Usai makan, Rahman segera mengajak Malika ke kantor.


Tak berapa lama, kedua nya sudah sampai di kantor milik Kevin. Dan Rahman segera menuntun kekasih hati nya itu untuk menaiki lift menuju lantai tiga, dimana Kevin, Bayu dan pasangan nya telah menunggu.


"Assalamu'alaikum,," ucap salam kedua nya, setelah sampai di ruang kerja Rahman CS.


"Wa'alaikumsalam,,," balas semua yang berada di sana kompak.


"Hai, anak cantik.. kok Vinsa ada di sini? Enggak bobok siang?" Tanya Malika, seraya mendekati putri abang nya yang sedang asyik bermain barbie di lantai yang ya beralaskan matras yang tebal.


"Vinsa tadi udah bobok siang aunty,,," balas princess Vinsa, seraya beranjak dan kemudian menyalami Malika dan Rahman bergantian.


"Eh, aunty punya sesuatu nih buat Vinsa,," Malika memberikan coklat yang tadi sengaja di beli nya dari kantin, untuk sang keponakan.


"Horee,, coklat kesukaan Vinsa, makasih aunty," ucap Vinsa dengan riang, dan kemudian mencium pipi Malika yang masih berjongkok di hadapan nya itu.


"Wah, barbie nya cantik banget,," Malika mengambil barbie dari tangan Vinsa.


"Iya dong aunty,, itu kan barbie spesial pemberian kakak El," balas Vinsa dengan tersenyum senang.


"Oh ya, kapan ketemu kakak El?" Tanya Malika.


"Kemarin, kakak El main ke sini sama bunda Didi. Vinsa juga di beliin baju bagus banget sama bunda Didi," cerita Vinsa dengan antusias.


Malika mengangguk-angguk, "kapan-kapan aunty beliin baju juga ya,, mau yang model apa?" Tawar Malika, "tapi pakai uang nya om Rahman," lanjut Malika seraya terkekeh pelan.


Rahman mengangguk setuju.


"Yang kayak princess, tapi yang ada lengan nya ya aunty.. karena bunda bilang, Vinsa harus pakai baju yang sopan," pinta bocah ceriwis itu seraya melirik bunda nya yang masih sibuk di depan layar komputer.


"Siap princess cantik,,,"Malika menyetujui syarat yang diajukan keponakan nya yang cerdas itu.


Vinsa kembali mencium pipi Malika, " makasih aunty," ucap nya dengan riang, seraya meletakkan barbie dan kemudian membuka coklat pemberian tante nya.


"Om Rahman kok enggak di cium sayang,," Rahman pura-pura merajuk.


Vinsa menggeleng, "kata ayah, enggak boleh sembarang cium cowok," balas Vinsa seraya menoleh kearah sang ayah, yang juga tengah menatap nya dengan tersenyum bahagia.


Setiap melihat tingkah polah putri nya, Kevin memang merasa selalu bahagia dan penuh semangat... energi nya seolah bertambah berkali-kali lipat.


Rahman mengusap puncak kepala Vinsa dengan gemas, hingga membuat putri nya Kevin itu cemberut.


"Om Rahman nackal.. rambut Vinsa jadi berantakan ayah," adu Vinsa seraya mendekati ayah nya.


Dengan telaten, Kevin membetulkan rambut putri nya yang sedikit berantakan itu. "Udah, dah cantik lagi. Sana, Vinsa lanjut kan main nya," Kevin menunjuk barbie yang tadi di geletakkan begitu saja oleh putri nya.


Dan bocah berusia tiga tahun yang sudah lancar bicara nya itu, kini sudah kembali asyik dengan mainan nya.


"Bro, tolong jelasin sama Icha.. kita tadi kemana dan sama siapa saja," pinta Rahman.


Kevin mengernyit, "maksud nya?" Tanya Kevin.


Rahman menunjuk Malika dengan sudut mata nya.


"Dik Icha cemburu sama Dian?" Kevin menatap Rahman.


Rahman mengangguk, dan Kevin tersenyum.


"Sontoloyo,," Rahman meninju pelan lengan Bayu, "masih dendam aja kayak nya lu sama kejadian tiga tahun lalu," kesal Rahman.


"Ya pastilah,, dan gue akan pastikan, bulan madu lu dan bang Dion akan gue ganggu," ancam Bayu dengan wajah serius.


"Enggak bakalan bisa, karena gue mau bulan madu ke kutub utara," balas Rahman seraya terkekeh.


Devi dan Salma yang sedari tadi serius dengan pekerjaan nya pun ikut tertawa, seraya menggelengkan kepala nya. "Ada-ada aja om Rahman," gumam Salma.


"Duduk sini dik," titah Kevin pada Malika.


Malika kemudian duduk di samping abang nya, dan Kevin mulai menceritakan bahwa tadi pagi diri nya, Rahman, Bayu dan dua wanita cantik yang sibuk dengan pekerjaan nya itu tengah melakukan survey untuk tugas akhir mereka, termasuk di sana ada Dian.. cewek yang di lihat Malika turun dari mobil bersama Rahman.


"Jadi, karena abang, bang Bayu, kak Salma dan kak Devi langsung pulang ke sini.. Rahman lah yang mengantar Dian balik ke kampus, karena mobil Dian masih di sana." Jelas Kevin.


"Dan, abang juga ada perlu ke perpustakaan untuk mengembalikan buku," timpal Rahman.


"Tapi cewek yang bernama Dian itu mepet terus sama bang Rahman, abang,,," protes Malika seraya menatap Kevin.


"Dian memang suka sama Rahman, tapi percaya sama abang.. Rahman sama sekali tak menanggapi nya," balas Kevin meyakinkan sang adik.


Rahman mengangguk-angguk membenarkan.


"Kalau ada abang lu Cha, Rahman enggak nanggepin,,, di belakang, siapa tahu??" Bayu mengedikkan bahu nya, seraya menatap Rahman dengan senyum seringai.


"Babay,," seru Rahman, sambil melempar Bayu dengan botol minuman kemasan yang baru saja habis di minum nya.


Sedangkan Devi, mencubit pinggang sang suami, "jahil banget sih a'," Devi melotot kepada suami nya.


"Bay,, bay,, udah punya baby juga, masih suka iseng," tegur Salma.


Ya, Devi dan Bayu kini sudah memiliki baby berusia satu tahun yang diberi nama Bintang.


"Yang benar yang mana nih?!" Malika cemberut.


"Dik Icha cinta enggak sama abang?" Tanya Rahman, seraya menatap Malika dengan intens.


Malika mengangguk pasti, "iya bang, Icha cinta banget sama abang," balas Malika sungguh-sungguh.


"Cie,, cie,," goda Bayu, yang mendapat tatapan tajam dari Kevin.


"Hii,, takut, abang nya galak!" Bayu terkekeh seraya menutup mulut nya.


"A'... diem dulu, biarkan mereka berdua ngobrol," pinta Devi, dan Bayu pun menurut dan patuh pada istri nya.


"Kunci dari sebuah hubungan, agar bisa langgeng itu adalah saling percaya..." sejenak Rahman menghentikan ucapan nya, "dan amanah," lanjut nya.


"Abang cinta sama Icha, abang juga percaya sama Icha. Dan abang yakin, bahwa Icha bisa menjaga kepercayaan yang abang berikan," jelas Rahman.


"Sekarang abang tanya sama dik Icha,, apa dik Icha juga percaya sama abang?"


Lagi, Malika mengangguk.


"Dan apakah dik Icha, juga yakin bahwa abang bisa menjaga kepercayaan yang dik Icha berikan?"


"Iya bang, maafin Icha,," lirih Malika, "habis nya, tadi di kantin sebelum abang datang,,, Icha dengar Richard kasak kusuk sama cewek-cewek yang duduk di depan, kalau abang sama cewek yang bernama Dian tadi sering jalan bareng," ungkap Malika, seperti yang di dengar nya saat dia baru masuk ke kantin.


"Siapa? Richard?! Dia kan yang pernah nantangin lu bro, kalau dia pasti bisa dapetin Icha?!" Bayu menatap Kevin.


Kevin mengangguk,


"Apa? Kok gue enggak tahu? Kenapa kalian enggak cerita kan hal sepenting ini sama gue?!" Protes Rahman, menatap Kevin dan Bayu bergantian.


"Karena gue tahu, Icha cinta nya cuma sama lu bro.. dan sekuat apapun Richard berusaha, gue yakin dia enggak bakalan bisa berhasil,,, karena dia bukan tipe adik gue yang cantik ini," Kevin tersenyum pada Malika.


"Makasih abang," balas Malika seraya memeluk abang nya dengan manja.


"Eh, dik Icha,, enggak boleh sembarang peluk-peluk cowok," tegur Rahman yang menirukan ucapan Vinsa.


"Yaelah,, posesif amat bang," cibir Bayu, "mereka berdua kan bukan orang lain tapi adik kakak," imbuh nya seraya menoyor kepala Rahman dengan pelan.


Rahman terkekeh, sedangkan Kevin hanya geleng-geleng kepala.. menyaksikan dua teman nya yang seperti Tom and Gerry itu.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...