
Rapat untuk membahas kejahatan Monica yang menyebabkan Salma masuk ke rumah sakit,, akan segera di mulai. Segenap dewan guru yang membidangi masalah ini sudah hadir di ruang rapat guru tersebut, Kepala sekolah, wali kelas Monica, guru bimbingan dan konseling serta guru pengawas ujian yang tadi menjadi saksi atas kondisi yang menimpa Salma.
Rapat siang hari ini, menghadirkan pula pelaku yaitu Monica dan juga orang tua nya, Mr. Robinson. Menghadirkan pula orang tua Salma, selaku korban, dan juga Kevin selaku saksi pelapor.
Semua nya nampak sudah hadir di ruang rapat tersebut, hanya satu orang yang belum terlihat.. dan kehadiran nya masih di nanti dengan banyak tanya di benak Kevin, yaitu petugas operator. "Kenapa pak Robby belum hadir juga ya? Apa terjadi sesuatu dengan diri nya? Dan Nathan.. Nathan tidak dihadirkan, apa Nathan tidak terlibat? Tapi sikap nya tadi pagi, seperti nya mencurigakan?" Kevin bermonolog dalam hati, netra nya terus tertuju kearah pintu ruang rapat tersebut
Sepuluh menit berlalu, namun operator yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidung nya. "Kevin, bisa minta tolong.. kamu panggilkan pak Robby, agar segera datang kemari?" Pinta bapak kepala sekolah.
"Baik pak," balas Kevin, dan remaja tampan itu segera berlalu meninggalkan ruangan rapat.
Kevin menyusuri koridor sekolah dengan sedikit tergesa tujuan nya adalah ruang khusus operator.
Tak berapa lama, Kevin sampai di ruangan tersebut. Dan tanpa mengetuk pintu, siswa berprestasi di sekolahan tersebut langsung masuk dengan memberi salam. "Selamat siang pak Robby,," sapa Kevin pelan, karena di lihat nya pak Robby tengah duduk termenung di kursi tempat nya bekerja.
Kevin pun duduk di kursi, tepat di hadapan bapak operator itu persis seperti tadi pagi. "Pak Robby,," panggil Kevin kembali, karena setelah beberapa saat menunggu tak ada respon dari orang yang di sapa.
"Pak," Kevin mengulang panggilan nya, sambil menepuk pundak pak Robby.
"Eh,, iya,," pak Robby tersadar dari lamunannya, dan nampak terkejut. "Mas Kevin?!" Pak Robby membulatkan mata nya, melihat Kevin yang berada di hadapan nya.
"Iya pak, ini saya. Bapak sudah di tunggu, di ruang rapat." Ucap Kevin mengingat kan kepada pak Robby.
"Oh,, ya,, ya,, saya akan ke sana," balas pak Robby tergagap.
Kevin mengernyitkan dahi nya, "pak Robby,, ada apa?" Tanya Kevin dengan menyelidik.
"Tidak mas, tidak ada apa-apa," balas pak Robby dengan gugup.
Kevin tersenyum, "saya tahu pak Robby orang nya tidak suka berbohong,, kalau saat ini bapak menyembunyikan sesuatu, pasti pak Robby punya alasan tersendiri. Dan jika bapak tidak ingin berbagi, saya pun tidak akan memaksa. Namun, jika pak Robby butuh bantuan.. Insyaallah, saya siap membantu bapak," ucap Kevin dengan bijak.
Pak Robby termenung untuk sesaat lama nya, "aku tahu, tuan Rehan orang yang memiliki pengaruh besar.. dan mungkin, putri ku akan aman jika aku meminta bantuan sama mas Kevin. Tapi, rekaman itu sudah terlanjur aku hapus.. dan tidak ada bukti lain, untuk bisa menyeret mas Nathan!" Gumam pak Robby dalam hati.
"Pak,, ayo, kita segera ke ruang rapat. Kehadiran pak Robby sudah di tunggu oleh semua," ucap Kevin menyadarkan pak Robby, Kevin pun segera beranjak dari tempat duduk nya.
"Tunggu mas Kevin," Panggilan pak Robby mengurungkan niat remaja itu untuk segera berlalu meninggalkan ruang operator. "Iya, ada apa pak?" Tanya Kevin penasaran, sambil kembali duduk.
"Mas, tadi pagi setelah mas Kevin kemari.. mas Nathan juga datang kesini," ucap pak Robby mengawali cerita nya.
Kevin menatap pak Robby dan mendengar kan ucapan petugas operator tersebut dengan seksama, "mau ngapain dia pak?" Tanya Kevin dengan tidak sabar.
Pak Robby kemudian menceritakan semua nya tentang kedatangan Nathan ke ruang operator tersebut, serta ancaman Nathan jika diri nya tidak memenuhi permintaan Nathan. "Maaf kan saya mas Kevin, terpaksa saya menghapus rekaman tersebut karena mas Nathan mengancam akan melukai putri saya," ucap pak Robby dengan penuh penyesalan.
Kevin menghela nafas kasar, "berarti, sudah tidak ada lagi bukti bahwa Nathan terlibat?" Tanya Kevin memastikan.
Kevin menatap pak Robby dan tersenyum hangat, "tak mengapa pak," balas Kevin, nampak biasa saja dan tidak menunjukkan kekecewaan. "Biar Nathan senang dulu, karena kali ini dia bisa berhasil lolos.. tapi aku akan terus memantau setiap gerak-gerik nya, dan akan aku pastikan dia tidak akan dapat hidup tenang jika sampai dia berani mengganggu istri ku," gumam Kevin dalam hati.
"Mas Kevin tidak marah dengan saya?" Tanya pak Robby dengan tatapan bingung.
Kevin menggeleng, sambil berdiri. "Bapak berada dalam tekanan, saat melakukan nya bukan? Dan jika saya ada di posisi bapak, saya juga akan melakukan hal yang sama seperti yang pak Robby lakukan.. demi melindungi buah hati," balas Kevin sambil tersenyum tulus.
Ayolah pak, kita sudah di tunggu yang lain," lanjut Kevin sambil berlalu meninggalkan ruang operator, yang diikuti oleh pak Robby.
"Makasih atas pengertian nya ya mas Kevin, semoga Allah senantiasa melindungi mas Kevin dan keluarga kecil mas Kevin nanti nya," ucap pak Robby merasa terharu.
"Aamiin,," Kevin mengaminkan do'a pak Robby, dan terus melangkah menuju ruang rapat.
Kevin dan pak Robby memasuki ruangan yang cukup luas tersebut, semua mata tertuju kearah mereka berdua.
Kevin duduk di tempat nya semula, di samping ayah mertua nya.. yang berhadapan langsung dengan Monica dan sang ayah, Mr. Robinson.
"Pak Robby, duduk lah di sini," titah bapak kepala sekolah, menunjuk bangku kosong di sebelah nya.
Petugas operator itu pun nurut dan duduk di samping bapak kepala sekolah.
"Pak Robby membawa alat bukti nya kan?" Tanya bapak kepala sekolah memastikan.
Pak Robby mengangguk pasti, "bawa pak," jawab nya.
"Baik, bapak dan ibu sekalian.. pertemuan kali ini bisa kita mulai, mengingat semua nya telah hadir di sini." Ucap bapak kepala sekolah memulai pertemuan yang akan membahas tentang kejadian tadi pagi, yang menyebabkan salah seorang siswi nya menjadi korban hingga harus di rawat di rumah sakit.
Bapak kepala sekolah kemudian menceritakan dari awal, bagaiman Kevin melihat korba yaitu Salma bersikap tidak seperti biasa nya. Dan Kevin kemudian mencari tahu melalui CCTV apa yang terjadi pada Salma, dan terungkap lah kejadian yang sebenar nya.
Bahwa ada siswi lain yang sengaja merencanakan kejahatan kepada Salma, dan siswi itu adalah Monica. "Pak Robby, tolong putarkan rekaman CCTV nya," titah bapak kepala sekolah kepada pak Robby, selaku petugas operator.
Semua mata tertuju kearah layar proyektor yang tengah menampilkan gambar kejadian tadi pagi di ruang ujian, tepat nya di bangku milik Salma.
"Rekaman itu pasti editan!" Seru Monica dengan suara lantang.
"Tidak, saya tidak pernah mengutak-atik hasil rekaman ini," sanggah pak Robby dengan tegas.
Sedang kan Mr. Robinson nampak hanya diam menyimak, namun di benak nya menyusun rencana jahat untuk Salma. "Tak masalah jika Monik dikeluarkan dari sekolah ini, tapi orang yang membuat putri ku terusir dari sini.. akan menerima akibat nya! Demi putri kesayanganku, apapun akan aku lakukan!" Gumam nya dalam hati.
to be continue,,,