
Di tengah kegugupan Rahman, Kevin langsung mengajak semua teman-teman nya untuk menuju halaman belakang.. tempat pesta ulang tahun Malik dan Malika akan di langsungkan.
"Cha,, kenapa wajah lu? Kalau emang enggak ada rasa, biasa aja kali,,," goda Malik pada kembaran nya, sesaat setelah abang dan teman-teman nya meninggalkan ruang keluarga.
"Dad,, Malik tuh, dari tadi nyebelin banget!" Adu Malika, pada sang daddy.
"Kakak,, manggil nya yang benar dong?" Pinta mommy Billa, dengan lembut.
"Yah mommy,, kan kita lahir nya hanya selisih menit saja, enggak apa-apa dong kalau kakak manggil nama saja?" Protes Malika.
Daddy Rehan memeluk sang putri, yang masih duduk menempel di sebelah nya. "Kak,,," hanya itu kata yang di ucap kan daddy Rehan dengan lembut.
"Maaf mom,," Pinta Malika dengan menyesal, karena sudah membantah ucapan sang mommy.
Mommy Billa tersenyum hangat, "iya kak,, ya sudah, kalian ikut ke belakang sana. Bantu abang dan kak Salma," titah sang mommy pada putra putri kembar nya, yang hari ini berulang tahun.
"Ayo tante Jihan," ajak Malika pada tante nya.
"Tunggu,, tunggu,," cegah om Ilham dengan tersenyum devil.
Malika yang sudah hafal dengan kejahilan om nya itu langsung menggandeng tante Jihan, "Ayo tan,," rajuk nya, seraya menyeret pelan tangan istri om Ilham.
"Cha,, bang Rahman nya enggak mau diikat dulu? Dia cakep banget lho Cha, gimana kalau ntar teman-teman kamu naksir dia? Dan karena bang Rahman merasa masih single, terus dia mau menerima salah satu teman kamu?" Pancing Ilham seraya tersenyum seringai, yang berhasil menghentikan langkah Malika.
Malik terkekeh mendengar perkataan om nya itu.
Sedangkan daddy Rehan dan geng tampan nya, hanya senyum-senyum saja.
"Om Ilham,,, bicara apa sih, kak Icha kan masih kecil?" Protes mommy Billa, menatap tajam adik nya.
"Ya kan hanya di ikat mbak,, bukan menyuruh mereka pacaran?!" Kilah om Ilham.
"Papa nya kan sudah diikat di Bali dik, santai saja.. pemikiran abang mu itu, selalu beberapa langkah lebih maju dari kita-kita," ucap om Alex, seraya melirik daddy Rehan.
Daddy Rehan hanya mengedikkan bahu nya, sedangkan opa Vian dan om Devan menatap daddy Rehan meminta penjelasan.
"Jangan percaya dengan perkataan asisten absurd kayak Alex, gue meminta tuan Adam untuk mengelola perusahaan di Bali itu pure karena gue ingin membantu,, lagian gue juga butuh orang seperti tuan Adam," elak daddy Rehan, menanggapi perkataan asisten pribadi nya.
"Tuan Adam orang yang baik, dan gue lihat Rahman juga anak yang baik. Dan kalau pun Icha sama Rahman saling ada rasa, ya silahkan saja mereka berjuang sendiri untuk mendapat kan apa yang mereka ingin kan." Lanjut daddy Rehan, melirik putri nya.
Malika tersenyum lebar, "yes, gue pasti bisa dapetin hati nya bang Rahman," gumam nya dalam hati.
"Dad, berarti kalau bang Malik pengin ngedeketin Tasya boleh dong?" Tanya Malika, seraya menatap kembaran nya dengan tatapan menggoda.
Malik membalas nya dengan melotot tajam, dan mulut nya komat kamit entah apa yang di ucap kan Malik pada kembaran nya itu.
Malika segera berlari menuju halaman belakang, yang di susul oleh Malik.
"Nah loh,, gimana Rey? Asyik kali ya Rey, besanan sama mantan saingan?" Devan kembali menyulut api, setelah kembar Malik dan Malika menghilang dari pandangan.
"Gimana Bill, kalau Rahmat jadi besan kalian? Kamu kan bisa ber nostalgia,,," timpal opa Vian, menambahkan kayu bakar pada api tersebut.
Mendengar lontaran perkataan sahabat absurd suami nya, dan melihat aura kemarahan di wajah sang suami... mommy Billa langsung duduk di samping sang suami. "Ya tidak apa-apa sih, kalau memang kami besanan. Bagus malahan,, jadi nanti kalau pas kami di sanding kan di pelaminan bersama mempelai, akan terlihat perbedaan nya. Raja dan Ratu bersanding di sebelah pangeran, patih dan istri nya bersanding di sebelah sang putri." Ucap Nabila seraya memeluk lengan suami posesif nya, dan tersenyum manis pada daddy tampan.
Mendengar ucapan istri nya, yang mengisyaratkan bahwa kedudukan nya lebih tinggi dari om Rahmat,, daddy Rehan tersenyum lebar, "makasih Ratu kesayangan ku," lirih daddy Rehan, menatap mesra sang istri.
"Ck,, Billa enggak asyik," protes Devan, yang merasa kesal karena mommy Billa dapat meredakan amarah daddy Rehan yang tadi sempat cemburu,, dan memperlihat kan tatapan nya yang penuh amarah.
Sedangkan daddy Rehan semakin menjadi, dengan menunjukkan kemesraan nya pada sang istri di depan sahabat-sahabat nya.
"Sana ngamar,,, sudah punya menantu juga, masih tidak sadar umur," titah opa Vian, menyudahi obrolan geng tampan yang tidak penting itu.
*****
Sementara itu, di halaman belakang.. Malika kembali menjelaskan keinginan nya untuk membuat pesta ulang tahun ala putri dan pangeran bak di negeri dongeng, di hadapan tante Jihan dan teman-teman abang nya yang akan membuat dekorasi untuk pesta nanti sore.
"Cha, aku udah bilang dari kemarin.. kalau aku enggak mau jadi pangeran nya," tolak Malik dengan tegas, sambil bersedekap.
Malika cemberut, dan kemudian menatap abang sulung nya meminta bantuan.
Kevin garuk-garuk kepala, bingung juga harus minta tolong pada siapa? "Dik, yang ulang tahun kan kalian berdua? Masak untuk pangeran nya di perankan orang lain?" Kevin menatap kedua adik kembar nya.
Untuk sejenak, suasana di halaman belakang menjadi hening.
"Bisa kok pakai pemeran orang lain, tapi harus dua orang,, yang satu jadi pangeran untuk kak Icha, dan yang satu lagi perempuan untuk dipasangkan dengan bang Malik," ucap tante Jihan memecah keheningan, mencoba memberi kan solusi.
"Kalau gitu, pangeran nya bang Rahman aja... mau ya bang?" Pinta Malika to the point.
Rahman nampak terkejut, tak menyangka diri nya akan langsung di tembak oleh gadis belia yang tiba-tiba saja menyelinap masuk ke dalam hati nya.
"Eh, kok abang sih dik?" Tanya Rahman gelagapan, dan berusaha menyembunyikan perasaan nya.
"Emm,, kalau abang Rahman enggak mau, ya udah enggak jadi aja ulang tahun nya," rajuk Malika seraya mengerucutkan bibir nya, Malika kemudian berjalan mendekati Rahman, "mau ya bang, please??" Pinta nya dengan manja, sambil memegang tangan Rahman dan menggoyang-goyangkan nya dengan perlahan.
"Dik, jaga sikap," tegas Kevin memperingatkan adik nya.
Malika langsung melepas kan tangan Rahman, yang di sambut dengan helaan panjang nafas Rahman yang merasa lega.. karena terlepas dari pesona Malika, "sialan,, kalau terus-terusan seperti ini, gue bisa benar-benar terkena serangan jantung," gumam Rahman dalam hati, seraya mengusap dada nya yang masih terasa sesak.
Berkali-kali Rahman menghirup nafas dalam-dalam, untuk mengisi kekosongan oksigen di rongga paru-paru nya akibat berdekatan dengan Malika.
Berkali-kali pula Rahman menghembus nafas nya dengan kasar, untuk dapat mengembalikan ritme detak jantung nya yang sudah tidak beraturan.. layak nya pelari marathon, yang baru saja melakukan finish setelah menempuh jarak ratusan kilometer.
"Iya bro,, bantuin lah," bujuk Bayu pada Rahman, agar mau menolong Malika.
Akhir nya Rahman pun mengangguk pasrah, "baik lah," balas nya singkat.
"Yes,, awal yang manis," bisik Malik pada saudara kembar nya, "manfaatkan moment ini dengan baik princess Malika Dalisha Alamsyah, dan pasti kan kamu bisa mendapat kan hati prince Rahman Alvaro Putra Adam," lanjut Malik memberi semangat, pada Malika yang wajah nya sudah bersemu merah.
to be continue,,,