All About KEVIN

All About KEVIN
Kalena ini Lahasia



Sementara itu, mommy Billa mengajak tante Saskia untuk bergabung bersama saudara-saudara nya yang lain. Ada oma Susan, tante Lusi, tante Nisa dan tak ketinggalan tante Jihan. Sedangkan nenek Lin, nenek Bibi dan kakek Ilyas, sudah kembali masuk kedalam rumah utama untuk beristirahat.


Dan om Rahmat, nampak bergabung bersama geng tampan dan juga om Ilham. Mereka nampak asyik ngobrol sesama orang dewasa, sesekali terdengar tawa mereka berenam. Daddy Rehan juga nampak enjoy ngobrol bersama om Rahmat, dan tak terlihat kecemburuan ataupun aura permusuhan di mata nya.


Entahlah, daddy Rehan seperti pandai memainkan dua peran sekaligus.. sebab jika mereka berdua bertemu dan ngobrol tanpa ada mommy Billa, maka suasana hati daddy Rehan akan sangat baik dan membuat daddy enam anak itu akan bisa ngobrol dengan enjoy dan menyenangkan.


Namun, jika diantara mereka ada mommy Billa,, maka mood daddy Rehan akan langsung memburuk, cemburu menguasai hati nya dan dapat dipastikan suami mommy Billa itu akan menjadi suami yang over posesif. Bahkan tak jarang, bicara nya akan menjadi ketus dan sama sekali tidak dapat diajak bercanda. Daddy Rehan seakan tidak terima, jika om Rahmat memandangi Istri nya


Itu sebab nya, setiap kali bertemu.. mommy Billa lebih memilih memisahkan diri dari para suami, dan mengajak tante Saskia untuk bernostalgia tanpa ada yang harus terbakar hati nya oleh api cemburu.


Sedangkan di bangku yang lain, Rahman masih di buat pusing dengan permintaan Malika yang tiba-tiba ingin di halalin. "Bro,, jangan diam saja dong? Ini gimana cara nya jelasin?!" Ucap Rahman tanpa bersuara, namun terlihat penuh penekanan.


Kevin mengusap tengkuk nya yang tidak gatal, dan tersenyum kecut. Kevin menghela nafas panjang... sebelum mulai berbicara dengan adik nya.


"Dik,,, kamu tahu enggak, maksud dari permintaan kamu tadi?" Tanya Kevin pelan-pelan pada adik nya.


Sejenak Malika berfikir, "ya, kayak abang dan kak Salma kan? Yang bisa bebas berdekatan dan enggak ada yang melarang-larang?" Balas Malika dengan pemikiran nya yang sederhana.


"Ya, kamu benar dik... diantara nya memang itu, agar bisa bebas berduaan. Tapi ada yang lebih penting dari itu dik," Kevin menatap adik nya.


"Sebuah hubungan di halal kan itu arti nya, dua orang yang menjalin hubungan tersebut harus disatukan dalam ikatan pernikahan.. dengan kata lain, dik Icha dan Rahman harus menikah jika ingin bebas berdekatan atau berduaan."


"Apa dik Icha siap menikah dengan Rahman dan menjadi istri nya, di usia mu yang baru tiga belas tahun? Apa dik Icha siap, jika setiap pagi suami mu minta di buat kan sarapan? Dan dik Icha juga harus menyiapkan baju untuk suami dan segala keperluan nya nanti, gimana?" Jelas Kevin dengan cara paling sederhana, yang dapat dipahami adik nya.


"Ya, enggak mau..." Malika cemberut, "Icha mau nya pacaran dulu, enggak mau kalau harus repot ngurus semua nya seperti mommy. Enggak bang,, Icha belum siap kalau untuk itu!" Ucap Malika dengan mantap.


"Good,," Kevin mengacungkan ibu jari nya, dan tersenyum lebar.


Rahman pun tersenyum lega.


"Tapi Icha boleh pacaran sama bang Rahman kan?" Malika menatap Kevin, dengan penuh harap.


"Kalau pengin lebih saling mengenal sih boleh-boleh aja,, tapi tidak boleh berduaan, harus ada yang menemani," balas Kevin tegas, seraya melirik Rahman untuk memperingatkan.


"Iya, iya bro,, gue juga tahu itu,," balas Rahman seraya mencebik.


"Yah, enggak asyik dong.." protes Malika seraya mengerucutkan bibir nya.


"Santai Cha,, lu kan bisa ngajak Malik dan pacar nya, jadi double date gitu Cha," Bayu memberikan ide.


"Eh,, apa-apaan sih lu Bay, malah ngajarin yang enggak benar!" Seru Kevin, menatap tajam Bayu.


Bayu tersenyum kecut, "salah lagi gue?!" Gerutu Bayu.


Rahman tersenyum,, "rasain lu di omelin bos, maka nya kalau jadi asisten itu ngomong nya yang bener?" Olok Rahman, pada Bayu yang di gadang-gadang oleh daddy Rehan untuk menjadi asisten Kevin nanti nya.


"Sialan lu Man, berani ngolok gue ya sekarang.. mentang-mentang mau jadi adik ipar bos," Bayu cemberut.


"Eh, tapi kalau kencan kalian ngajak salah satu kembar bungsu pasti di bolehin sama abang lu deh Cha. Terus si Rahman ngajak Dion,, gimana, pasti seru" Bayu tersenyum seringai melirik Dion, yang sedari tadi asyik ngobrol dengan Devi dan Salma.


"Kok bawa-bawa nama gue?!" Sahut Dion yang mendengar nama nya di sebut.


Kevin menghela nafas kasar, "semakin absurd aja pemikiran mu Bay,," ucap Kevin sambil geleng-gelang kepala.


"Tahu tuh si Bayu, habis kejedot dinding kali kepala nya.. maka nya jadi geser gitu! Masak jodoh-jodohin gue sama si bungsu, kayak bujang lapuk yang enggak laku aja!" Protes Dion dengan ketus, seraya melirik tajam pada Bayu.


Dion, Rahman dan Kevin hanya bisa geleng-gelang kepala.


Bayu masih ngotot dengan rencana perjodohan untuk Dion, sementara di deretan bangku panjang di sisi yang lain... nampak keriuhan terdengar di sana. Dan Malika yang melihat pemandangan tersebut dari tempat nya duduk, mengulas senyum kemenangan.


"Abang,, boleh ya, please??" Pinta Maira pada Malik, "Di kulkas cokat nya udah abis,, di makan semua sama Meda, dan Mela enggak di bagi," Maira pasang wajah memelas.


"Kasihkan sama dik Maira aja enggak apa-apa kok bang," ucap Tasya, menatap Malik dengan lembut.


"Bener enggak apa-apa? Ini kan coklat istimewa Sya.." Malik masih merasa keberatan untuk memberikan coklat dari Tasya tersebut kepada adik nya.


"Tu,, abang dengel kan? Kak Tasya aja ngebolehin kok, masak abang malah melalang? Bang Malik enggak selu olang nya,," cibir Maira.


Malik menarik nafas panjang,, menatap Maira yang bergelayut manja pada Tasya. Gadis kecil yang menggemaskan itu, benar-benar tengah menguji kesabaran nya.


Sedangkan di samping nya duduk Maida yang sedang asyik makan coklat, yang diambil nya dari kulkas dan tak mau berbagi pada saudara kembar nya,, hingga coklat milik Malik pemberian dari Tasya menjadi incaran Maira.


Malik mengedarkan pandangan, mencari tahu siapa dalang dibalik semua kekacauan kebersamaan nya dengan Tasya. "Kurang ajar,, siapa sih yang ngerjain gue? Gagal deh rencana berduaan sama Tasya!" Gerutu Malik dalam hati.


"Za,, sini kamu dik," seru Kevin memanggil adik nya, yang pura-pura asyik main ponsel.


Mirza menunjuk diri nya sendiri, "abang manggil Mirza?"


Malik mengangguk.


Mirza mendekat kearah abang nya dan berjalan dengan setenang mungkin, pura-pura tidak tahu dengan apa yang dilakukan oleh adik kembar nya. "Ada apa bang?" Tanya Mirza, seraya mendudukkan diri nya di samping Maida.


"Ini semua ulah kamu kan dik? Maira tidak akan tahu kalau abang punya coklat, jika bukan kamu yang memberitahu nya?" Tuduh Malik pada adik nya yang suka jahil itu.


Maira yang mendengar perkataan Malik langsung angkat bicara, sesuai dengan daya tangkap nya, "Mela tahu kok kalau bang Malik punya cokat,," tukas Maira dengan cepat.


"Iya Maira,, bang Malik tahu itu, tapi Maira tahu darimana sayang?" Tanya Malik dengan lembut.


"Tadi Mela di kasih tahu sama bang Milza.. tapi kata bang Milza, Mela enggak boleh bilang sapa-sapa?" Balas Maira dengan gaya nya yang lucu.


"Dik, Maira sayang,, ikut bang Mirza yuk, ntar abang beliin coklat yang buanyaaak," rayu Mirza pada adik nya.


"Diem dulu kamu dik, biarkan Maira selesai bicara," titah Malik, Melirik Mirza dengan mengintimidasi.


"Memang nya bang Mirza bilang gimana sayang?" Tanya Malik, sedikit merayu agar adik bungsu nya itu mau buka suara.


"Bang Milza bilang, kalau bang Malik punya cokat. Telus Mela disuluh minta cokat nya bang Malik, dan makan cokat nya halus di sini,,, agal bang Malik tidak bisa pacalan sama kak Tasya." Balas Maira dengan jujur, "tapi bang Malik halus diam saja ya, dan pula-pula tidak tahu... kalena ini lahasia! Awas jangan di bocolin..." lanjut Maira mewanti-wanti.


"Bocil,,, udah di bilangin kalau ini lahasia, kenapa bilang sama bang Malik sih?!"


to be continue,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Demi kalian,,


Aku bela-belain update di jam pocong 😄😄


Sahur,,, sahur,,,