
Kevin yang baru datang kembali ke lantai tiga dengan rambut yang masih basah, langsung menghubungi sang mommy saat Malik memberitahukan pada nya bahwa malam nanti Rahman akan resmi melamar kembaran nya.
"Iya mom, malam nanti," balas Kevin terdengar meyakinkan sang mommy yang berada di seberang sana.
"Baik mom, habis ini abang akan hubungi om Alex, om Devan dan om Ilham," balas Kevin kembali, seperti nya mengiyakan permintaan sang mommy. "Berarti nenek sama opa Vian, mommy sendiri ya yang ngabarin?" Kevin memastikan.
Kevin mengangguk-angguk, dan kemudian menutup panggilan telpon nya.
Kevin kemudian terlihat sibuk menghubungi om-om nya seperti permintaan sang mommy di telpon tadi.
"Dik Icha sama Rahman nya kemana?" Tanya Kevin pada Malik, setelah selesai menghubungi om Alex, om Devan dan om Ilham.
"Ke butik, sama kak Fira dan bang Dion," balas Malik.
"Tadi mereka ke sini?" Lagi, Kevin yang tak tahu apa-apa itu bertanya.
Malik mengangguk.
"Bro,, gue ma yayang bisa bantu apa nih?" Tawar Bayu, yang melihat Kevin seperti orang bingung.
"Lu dan Malik beresin semua yang di sini, Devi biar ngurus Bintang. Gue juga mau kasih tahu Salma, habis ini kita langsung ke rumah utama sama-sama," titah Kevin memberi instruksi.
Devi langsung bergegas meninggalkan ruangan tersebut, untuk bersiap-siap.
"Tasya gimana bang?" Tanya Malik sebelum abang nya berlalu, seraya melirik sang kekasih yang masih menemani Vinsa bermain.
"Besok kan libur? Ajak aja ke rumah, tapi minta ijin dulu sama tante Saskia dan om Rahmat," balas Kevin, kemudian berlalu membawa putri nya untuk naik ke lantai atas hendak bersiap-siap.
Usai berbenah, Malik dan Tasya menyusul abang nya ke lantai lima. Sedangkan Bayu, menuju kamar nya di lantai empat.
"Dik Tasya bawa baju ganti enggak? Kalau enggak bawa, pakai baju kak Salma aja.. ukuran kita kan sama?" Tawar Salma yang baru selesai memakaikan baju putri nya, saat Malik dan Tasya masuk ke hunian nya di lantai lima tersebut dan duduk di ruang keluarga.
"Bawa kok kak, tapi baju santai sih.. bukan gaun," balas Tasya, yang memang di dalam tas nya selalu ada baju ganti karena Tasya sering di ajak Malik untuk main ke kantor.
"Baju santai juga enggak apa-apa, toh nanti kita enggak ikut keluar. Kita sama adik-adik di dalam aja, sambil jagain mereka bermain," balas Malik, melirik mesra sang kekasih.
"Beneran ya, jagain adik-adik? Bukan cari-cari kesempatan?" Sindir Kevin.
Malik menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, sedangkan Tasya tersipu malu.
"Mas, enggak boleh gitu ah," protes Salma, "enggak boleh su'udhon sama adik sendiri," lanjut nya, seraya menyisir rambut putri nya.
Kevin tersenyum, "siap istri ku yang paling cantik," balas Kevin, seraya memuji istri nya.
"Enggak boleh ayah, bunda bukan yang paling cantik,,, yang paling cantik princess Vinsa," rajuk Vinsa, yang tak rela cinta pertama nya memuji wanita lain, meskipun wanita itu adalah ibu nya sendiri.
"Hahaha,, iya, iya,, yang paling cantik adalah putri ayah, princess Vinsa. Tapi, wanita yang ini milik nya ayah," goda Kevin seraya memeluk Salma dari belakang.
"Ayah gak boleh peluk bunda,,, ayah hanya boleh peluk Vinsa!" Seru gadis kecil itu, mencoba melepaskan pelukan sang ayah pada bunda nya.
"Mas, udah ah becanda nya.. kata nya buru-buru?" Salma mengingatkan, dan mencoba melepaskan diri dari jerat pelukan sang suami.
"Kiss dulu, baru mas lepas," bisik Kevin.
"Ada dik Malik dan Tasya mas, malu ah.. lagian tadi kan udah," tolak Salma pelan, dengan bibir mengerucut.
"Dik, anter Tasya untuk siap-siap sana,, di kamar depan." Titah Kevin, mengusir adik nya dengan halus.
"Vinsa cantik temani om ya, jangan sampai om Malik nakal sama tante Tasya." Rayu Kevin, agar putri nya mengikuti om nya ke kamar depan.
"Siap ayah, Vinsa akan jagain tante Tasya agar enggak di nakalin sama om Malik," balas Vinsa, menyanggupi.
"Om enggak akan nakal, ayah tuh yang mau nakalin bunda nya Vinsa,,," Malik mencoba mempengaruhi keponakan nya.
Tapi Vinsa tetap berjalan mengikuti om nya itu, "ayah enggak mungkin nakal sama bunda om, karena ayah sayang banget sama bunda,,, ya kan ayah?" Vinsa menoleh ke belakang, kearah ayah dan bunda nya.
Setelah ketiga nya meninggalkan ruang keluarga, dan menghilang di balik pintu kamar tamu... Kevin langsung menghujani sang istri dengan ciuman di wajah putih nan mulus milik Salma, Kevin seakan tak pernah puas mencium wajah cantik istri nya itu.
Hingga suara dering telpon di saku celana Kevin, menghentikan aksi ayah satu anak tersebut.
"Siapa sih, ganggu aja," gerutu Kevin, seraya mengambil benda pipih dari saku celana nya.
"Siapa mas?" Tanya Salma, saat ponsel sudah berada di tangan sang suami.
"Daddy," balas Kevin, dan kemudian segera mengangkat panggilan dari daddy nya.
*****
Di rumah utama, mommy Billa nampak sibuk memberikan instruksi kepada para asisten rumah tangga nya. Ada yang mendapat job untuk menghubungi pihak catering langganan, ada yang di suruh untuk membeli aneka jajanan dan ada yang di suruh untuk membeli aneka minuman spesial.
Sebagian yang lain, mulai menata ruang keluarga yang akan dijadikan sebagai tempat pertemuan dengan calon besan,, dan juga menyiapkan ruang makan, untuk acara jamuan nanti malam.
Semua persiapan dilakukan serba instan, karena kabar yang diterima mommy Billa juga dadakan. Dan hal itu membuat semua pegawai di rumah super besar itu tak boleh berleha-leha, mereka bekerja berpacu dengan waktu.
Tepat menjelang maghrib semua keluarga besar Antonio telah hadir, termasuk om Devan dan keluarga nya. Hadir pula, om Rahmat dan tante Saskia yang di undang khusus oleh mommy Billa.. tentu nya atas persetujuan sang suami tercinta.
"Wah, bener-bener ya temen abang yang satu itu.. ngasih kejutan nya enggak kira-kira," protes om Ilham, sambil mendudukkan diri nya di samping Kevin.
"Tahu tuh si Rahman Alvaro,," timpal Bayu, yang tadi datang bareng Kevin dan Malik.
Dan bukan hanya om Ilham yang protes, nyata nya bunda Fatima yang sedang di VC sama daddy Rehan karena hendak meminta do'a restu dari opa Sultan dan oma Sekar.. juga terlihat protes, karena tidak bisa ikut hadir di hari bahagia keponakan nya.
"Yah, kakak gak bisa ikut ngumpul kalian deh," bunda Fatima cemberut.
Sedangkan opa Sultan dan oma Sekar, nampak bisa memahami kondisi tersebut.
"Enggak ada lu enggak apa-apa Fa, acara tetap jalan kok meski tanpa lu?!" Goda om Devan seraya tersenyum smirk, yang membuat bunda Fatima semakin cemberut.
"Lu Van, gak asyik ah.. orang lagi sedih malah diledekin," protes bunda Fatima pada om Devan yang memang suka jahil itu.
"Kakak udah di wakili sama neng Fira, santai aja kak. Nanti cerita keseruan nya, pasti sampai ke kakak," sahut om Ilham, yang malah ikutan pamer keseruan kebersamaan mereka.
Fira yang duduk di samping Dion hanya tersenyum, melihat sang bunda di goda sama om-om nya.
Sontak bunda Fatima memanggil ayah Yusuf, "yah, jam tujuh kita bisa sampai Jakarta enggak sih yah?" Tanya bunda Fatima.
"Bisa bund, bisa banget. Tapi Jakarta bagian bandara ya, kalau sampai rumah nya Rey mungkin jam sepuluhan.. tahu sendiri kan, Jakarta macet nya kayak apa? Apalagi ini weekend?" Balas Ayah Yusuf, yang terlihat tengah duduk dengan santai sambil menikmati kopi hitam kesukaan nya.
"Yah,, udah bubar dong mereka, kalau jam sepuluh??" Sesal bunda Fatima yang tak bisa hadir, karena acara keponakan nya begitu mendadak.
"Kita bubar nya shubuh Fa, buruan gih terbang ke sini. Ambil sapu lidi dulu di belakang,," ucap opa Alvian kalem, yang disambut gelak tawa geng tampan.
"Hahaha,, iya benar kak, pakai sapu terbang. Bisa menembus batas, ruang dan waktu," timpal om Alex masih dengan tawa nya.
"Bang Vian,, kenapa sih jadi ikutan jahil kayak yang lain?! Awas ya kalian semua!!" Sungut bunda Fatima.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,
Bulan ini, up nya slow ya say... 🙏🙏
fokus dulu di kisah mengharu biru nya Aida dan gus Umar 😊😊
Yang belum ngintip, yuk mlipir,,, 🥰
Menjagamu Dengan Do'A 😇
Sehat2 untuk kalian semua 🤗🤗
love you 😘😘