All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Bulan Madu di Rumah Sakit.



"Dad,," panggil Kevin pelan, ketika ayah dari Vinsa itu sudah berada di dekat daddy Rehan.


"Ada apa bang?" Daddy Rehan mengernyit kan kening, tatkala mendapati wajah sang putra terlihat sangat cemas.


Begitu pun para hot papa yang lain, mereka ikut penasaran.


"Barusan asisten Rahman kasih kabar, kalau..." sejenak Kevin menjeda ucapan nya, mengedarkan pandangan untuk memastikan bahwa tidak ada para mama atau adik-adik yang mendengar apa yang hendak dia sampaikan.


"Rahman mengalami kecelakaan di proyek," lanjut Kevin, "Kevin mohon ijin untuk ke sana sekarang, sama bang Dion dan Bayu," pamit Kevin, hendak segera berlalu.


"Biar di dampingi sama om Alex bang," daddy Rehan melirik asisten pribadi yang sekaligus adik ipar nya itu, dan om Alex langsung mengiyakan.


"Siap," balas om Alex singkat, dan langsung beranjak mengikuti langkah Kevin dan kedua teman nya.


"Gue ikut, sama Devan,," opa Alvian pun bergegas menyusul Kevin, dengan diiringi om Devan yang mengekor di belakang nya.


Kevin, Dion dan Bayu, dengan di dampingi om Alex berada dalam satu mobil. Sedangkan opa Alvian dan om Devan menggunakan mobil opa Alvian, mengikuti mobil Kevin dan langsung menuju rumah sakit tempat dimana Rahman di bawa oleh asisten nya.


Kevin melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, karena ingin segera sampai di rumah sakit dan memastikan keadaan Rahman. Opa Alvian pun tak mau kalah, selalu mengiringi mobil Kevin agar tak kehilangan jejak.


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, sampailah mereka di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruang operasi karena kabar terakhir dari asisten Rahman, Rahman mengalami patah tulang humerus dan pihak keluarga memutuskan untuk langsung dilakukan operasi.


Patah tulang humerus atau lengan atas, yaitu patah yang terjadi di tulang panjang yang membentang dari bahu dan skapula atau tulang belikat ke siku. Dan tindakan operasi dilakukan terhadap kasus yang menimpa Rahman, karena Fragmen tulang lepas dan mengenai sendi


Di ruang tunggu, nampak om Adam dan istri nya, serta kakak dan abang ipar nya Rahman sudah berada di sana. Begitu juga dengan asisten Rahman, yang masih menemani keluarga Rahman tersebut.


"Pak Rendra, bagaimana kondisi Rahman?" Tanya Kevin, pada asisten nya Rahman yang berusia sekitar empat puluh tahun itu.


Pak Rendra adalah orang kepercayaan om Adam, yang dulu bekerja dengan om Adam ketika papa nya Rahman itu masih memegang perusahaan keluarga nya. Dan karena Rahman merintis usaha sendiri dari nol, pak Rendra di minta oleh om Adam untuk mendampingi putra nya.


"Operasi baru berjalan sekitar lima belas menit yang lalu mas, sedangkan untuk hasil pemeriksaan yang lain.. Alhamdulillah semua nya bagus, meski kepala mas Rahman tadi terbentur cukup keras. Ada sedikit jahitan di pelipis nya," terang pak Rendra.


"Alhamdulillah,,," ucap Kevin, Dion dan Bayu merasa lega.


Sedangkan om Alex, opa Alvian dan om Devan, terlihat berbincang dengan om Adam dan istri nya.


Kevin sedikit menjauh dari yang lain, dan langsung menghubungi daddy Rehan untuk mengabarkan keadaan Rehman. Kevin menceritakan keadaan Rahman kepada daddy Rehan, perisis seperti yang dia dengar dari penjelasan pak Rendra tadi.


"Dad, seperti nya kalau pernikahan Icha dan Rahman tetap lanjut.. enggak bisa dilaksanakan di rumah, karena pasti nya Rahman masih harus menjalani perawatan intensif pasca operasi." Ucap Kevin lebih lanjut.


"Ya, kamu benar bang. Daddy akan ke sana sekarang bersama Icha, biar adik kamu dan Rahman yang memutuskan sendiri.. mau lanjut atau pending dulu sampai Rahman pulih," balas daddy Rehan, dengan suara yang cukup lega karena telah mengetahui kondisi Rahman yang tidak terlalu berbahaya.


Usai menutup panggilan telpon nya, Kevin kembali bergabung bersama yang lain.


*****


Kevin, om Alex dan yang lain nya, juga masih berada di sana untuk membahas teknis acara esok hari.. jika nanti nya Rahman dan Malika, tetap menginginkan untuk melanjutkan rencana pernikahan nya.


Malika yang baru di kasih tahu saat berada di dalam mobil tadi, langsung menangis. Bahkan air mata nya masih saja mengalir saat dia sudah tiba di ruang perawatan Rahman. Dan putri daddy Rehan itu langsung menghambur memeluk calon suami nya di depan semua orang, "abang... kenapa bisa begini?" Lirih nya di dada Rahman, diantara suara isak yang tertahan.


Rahman memberanikan diri mengusap punggung Malika, "hey cantik,, jangan nangis, nanti cantik nya jadi ilang loh," bisik Rahman lembut, "abang enggak apa-apa kok, hanya di suruh rehat bentar di rumah sakit," Rahman mencoba bercanda.


"Ehm,," daddy Rehan berdeham, dan Malika langsung melepaskan pelukan nya. Suasana sejenak menjadi hening...


"Bang Rahman dan kak Icha, sebaik nya kalian bicarakan kembali rencana untuk besok." Ucap daddy Rehan, "apakah mau tetap lanjut atau mau di tunda dulu? Kami ikut apa kata kalian berdua, bukan kah begitu pak Adam?" Daddy Rehan menoleh kearah om Adam, yang berdiri di samping nya.


Om Adam mengangguk,


"Jangan di tunda dad, tetap seperti rencana awal ya... please," pinta Malika dengan tatapan sendu.


"Dik,,," Rahman menggeleng, "kita tunda dulu enggak apa-apa ya? Tunggu abang sampai sembuh?" Bujuk Rahman, menatap Malika meminta pengertian.


Malika menggeleng, "enggak mau,,," rajuk Malika.


"Dad, kita beri waktu untuk mereka berdua berbicara dari hati ke hati," ucap mommy Billa, dan kemudian mengajak semua untuk keluar dari ruangan yang luas tersebut.


Kini tinggal Malika dan Rahman, yang masing-masing saling diam. Keheningan itu tercipta hingga beberapa saat lama nya, sesekali masih terdengar isakan kecil Malika yang duduk di tepi bad memunggungi Rahman.


Rahman berkali-kali menghembus kan nafas nya dengan berat, sungguh dia tak ingin tragedi ini terjadi dan mengacaukan mimpi indah mereka berdua. Namun takdir Tuhan siapa yang tahu bukan?


Beruntung, diri nya masih selamat dan hanya mengalami patah tulang dan beberapa jahitan kecil di bagian tubuh nya. Hingga Rahman tak henti mengucap rasa syukur, karena masih diberikan kesempatan untuk melanjutkan hidup dan memperbaiki diri.


Rahman menggapai tangan Malika dan menggenggam nya erat, untuk beberapa saat kedua nya masih sama-sama diam. "Sayang,,," panggil Rahman lirih.


Mendengar panggilan tersebut, senyum tipis terbit di sudut bibir Malika.. tapi Malika mencoba untuk menutupi nya dengan mengerucutkan bibir, seolah masih ngambek saat menoleh kearah Rahman.


"Apa?!" Tanya Malika pura-pura ketus, "enggak mau nikah sama Icha kan?! Ya udah, Icha akan pergi sekarang," Malika pura-pura marah, mencoba melepaskan genggaman tangan Rahman hendak beranjak. Tapi Rahman semakin mempererat genggaman tangan nya.


"Sayang,,, dengerin dulu, abang kan belum ngomong??" Pinta Rahman, "sini peluk abang," Rahman membawa Malika dalam dekapan nya.


"Abang bukan nya enggak mau nikah sayang,, tapi kan saat ini tangan abang lagi sakit? Abang enggak bakalan bisa gendong dik Icha di malam pertama kita, ala-ala bridal style gitu?? Kan enggak ada romantis-romantis nya, kalau kita tetap memaksakan menikah di saat kondisi abang seperti ini sayang,,," ucap Rahman memberi pengertian.


Malika mendongak menatap Rahman, "abang pikir, dengan menjadi istri abang dan merawat abang yang sedang sakit seperti ini... itu bukan hal yang romantis? Itu bahkan lebih romantis abang... Icha mau merawat abang dua puluh empat jam, tapi kalau kita belum menikah pasti enggak bakal di bolehin kan?" Malika cemberut.


"Tapi kamu akan kerepotan sayang,,, lihat, tangan kiri abang enggak bisa ngapa-ngapain kan? Lebih baik kita tunda dulu ya.. abang janji, abang akan ajak dik Icha bulan madu kemanapun dik Icha mau," bujuk Rahman.


Lagi, Malika menggeleng. "Icha mau nya kita bulan madu di rumah sakit bang, biar lain dari pada yang lain.. ya,, ya,, please,, mau ya??" Rajuk Malika dengan ekspresi innocent, membuat Rahman tak berdaya untuk menolak keinginan gadis kecil yang diincar nya sedari dulu itu.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...