All About KEVIN

All About KEVIN
Terbit nya Secercah Harapan



Pagi hari di villa milik keluarga Alamsyah, semua keluarga besar Alamsyah, Antonio dan keluarga besar Salma, serta teman-teman dekat Kevin tengah berkumpul di ruang keluarga. Tak ketinggalan baby El bersama ayah dan bunda nya, serta Aditya dan sang istri. Serta om Rudi dan tuan Hadi, papa nya Dion.


Sedangkan Mr. Robinson dan putri nya serta Jonathan telah pamit pulang lebih awal, setelah menanda tangani surat perjanjian yang di buat oleh Dion.


Mr. Robinson berjanji, tidak akan membiarkan putri nya mengganggu ketentraman rumah tangga Kevin dan Salma. Dan dia juga bersedia untuk menerima sanksi, apabila di lain waktu.. Monica kembali berulah.


Suasana di ruang keluarga itu menjadi sangat ramai, para papa ngobrol seru tentang berbagai hal yang menyangkut dunia usaha. Para mama, heboh membicarakan fashion trend serta barang-barang branded koleksi terbaru yang ada di butik bunda Fatima.


Anak-anak remaja, asyik mabar game online. Sedangkan Mirza and the gang, sibuk membuat origami.


Kevin dan teman-teman dekat nya, Zaki serta Angga dan Aditya nampak asyik ngobrol tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bisnis online yang saat ini tengah menjamur dan memang sangat menjanjikan.


Sedang Salma, Fira dan Devi malah sibuk memperebutkan baby El.. putra pertama dari Diandra dan Erlangga, atau yang biasa di sapa Angga. "Ma, biar gue yang pangku El,," pinta Devi, dengan sedikit memaksa teman baik nya itu.


"Nanti ah, gue kan juga baru aja pegang El," tolak Salma, seraya melindungi El dengan menyembunyikan baby gembul itu dalam dekapan nya.


Fira terkekeh kecil, melihat istri dari adik sepupu nya itu begitu posesif memeluk baby El. "Biar Salma dulu Dev," ucap Fira.


"Kak Fira sih, kelamaan bawa El nya," gerutu Devi, seraya cemberut.


Diandra tersenyum mendengar perdebatan kecil itu, sedangkan Airin malah ikut-ikutan memperebutkan baby El.


"Dah,, El biar sama gue aja," pinta Airin ingin mengambil baby El dari pelukan Salma.


"Eh,, jangan dong kak, El biar sama Salma dulu," Salma pun menjauhkan baby El dari jangkauan Airin.


Baby El yang diperebutkan malah sibuk menggigit teether atau mainan untuk gigitan bayi yang berguna untuk merangsang pertumbuhan gigi bayi.


"Jangan pada belebut,, nanti baby El nangis," Maira yang baru saja datang bersama Maida memperingatkan, gadis kecil itu berkacak pinggang dengan gaya nya yang lucu dan menggemaskan.


Maida langsung duduk di sebelah Fira, sambil memainkan pop it terbaru milik nya. Sedangkan mulut nya, tak berhenti mengunyah makanan.


"Enggak berebut kok adik cantik.. kak Airin cuma pengin membantu kak Salma, soal nya kak Salma kayak udah capek gitu memangku baby El yang montok," Airin mencari-cari alasan.


Maira menatap istri abang nya, Salma, dan ingin memastikan apakah benar kakak ipar nya itu kelelahan. Maira kemudian menatap Airin, "kak Salma ndak capek tuh," ucap Maira, "pasti kak Ailin cali-cali alasan, bial bisa gendong baby El kan?" Tebak Maira, seraya menatap Airin dengan penuh selidik.


Airin tersenyum manis, dan mencubit pipi Maira dengan gemas. "Kamu kok pintar banget sih," ucap Airin.


Kevin yang mendengar perdebatan kecil itu menoleh kearah sang istri, dan langsung wajah tampan itu berubah menjadi khawatir.. kala melihat sang istri tengah memangku baby El, yang memang bertubuh gendut itu.


Kevin mendekati istri nya, "Baby,, kalau kamu kecapekan bagaimana? Sini, biar El sama aku aja," bisik Kevin, seraya mengambil baby El dari tangan sang istri. "Tubuh El meski masih kecil tapi berat, aku enggak mau kamu dan bayi kita kenapa-napa," lanjut Kevin menatap istri nya dengan lembut, tatkala melihat ekspresi sang istri yang nampak tidak suka saat baby El di ambil dari tangan nya.


Salma mengangguk mengerti, dan kemudian tersenyum, bumil muda itu sangat bahagia mendapatkan perhatian kecil dari sang suami.


"Abang,, Mela mau dong memangku baby El, cepet taluh sini bang," pinta Maira, yang tahu-tahu sudah duduk di samping Salma sambil menepuk pangkuan nya.


"Emang Maira bisa?" Kevin nampak khawatir.


Salma memberikan isyarat, agar sang suami memenuhi permintaan adik bungsu nya. "Salma akan bantu jagain," lirih nya, menatap sang suami.


"Jangan khawatil abang, Mela kan udah gede. Bental lagi Mela bakalan jadi aunty kan,, kalau anak abang udah lahil?" Ucap Maira dengan yakin, gadis kecil itu sudah memeluk perut baby El dengan benar.


Salma yang duduk di samping nya ikut menjaga baby El, begitupun dengan Airin yang kemudian ikut duduk di samping kanan Maira.. istri Aditya yang juga tengah hamil muda itu, ikut menjaga baby El yang berada dalam pangkuan Maira.


Dari tempat nya duduk, Angga,, si ayah posesif, melihat adegan itu dengan perasaan was-was. Dia merasa khawatir, karena putra kesayangan nya di pegang sama anak kecil.


Diandra yang mengerti kekhawatiran sang suami memberikan isyarat, bahwa putra mereka akan baik-baik saja.


Sementara itu, obrolan para papa telah menjurus ke hal yang lebih serius. Sehingga Kevin dan yang lain nya pun, ikut bergabung dengan obrolan tersebut. Begitupun dengan para mama, yang juga ikut bergabung.


Diandra dan Airin bersama suami mereka, kemudian memilih untuk kembali ke villa milik om Alex,, karena merasa, bahwa mereka tak berhak untuk mengetahui obrolan keluarga besar tersebut. Mereka ditemani oleh Devi, tante Lusi serta anak-anak geng tampan.


Obrolan tersebut di dominasi oleh opa Arman, yang merasa memiliki kewajiban untuk menyampaikan amanah kepada nenek Syarifah, nenek nya Salma. "Andi', perusahaan yang saat ini dikelola oleh Irfan adalah perusahaan kita berdua." Ucap opa Arman menatap adik nya, "dan aku ingin membagi nya dengan adil," lanjut nya dengan serius.


"Daeng, semenjak aku meninggalkan rumah dan mengikuti suami ku.. aku sudah tidak lagi memikirkan tentang harta warisan, karena bagiku harta ku adalah keluarga ku, anak dan cucu-cucu ku," balas nenek Syarifah.


"Tapi itu hak kamu andi',, mungkin kamu sudah tidak membutuhkan nya tapi anak cucu mu, mereka harus ikut merasakan perjuangan datu' nya saat ikut membangun perusahaan itu dahulu. Suami mu telah ikut membesarkan perusahaan itu andi'," opa Arman kekeuh dengan keputusan nya, ingin membagi harta yang saat ini dikelola oleh putra nya kepada adik kandung nya.


Om Irfan nampak mengangguk-angguk, menyetujui keinginan papa nya.


Nenek Syarifah hanya bisa pasrah, dan menyerahkan semua nya pada pak Sulaiman dan putri pertama nya.


Dan akhir nya, dari obrolan tersebut dicapai lah kesepakatan.. bahwa perusahaan yang di Jakarta di serahkan kepada Salma selaku putri tunggal pak Sulaiman, sedangkan Azka yang merupakan adik angkat sekaligus sepupu Salma dari tanta bungsu nya, akan mendapatkan salah satu perusahaan di kota lain.


Begitupun dengan kedua sepupu Salma dari kakak pertama pak Sulaiman, juga mendapatkan hak nya masing-masing.


Nenek Syarifah merasa terharu, beliau tak pernah berfikir.. di masa tua nya, beliau akan dipertemukan kembali dengan abang satu-satu nya yang dimiliki. Dan mendapatkan kelimpahan berkah dari jerih payah suami nya di masa lalu, "daeng, makasih karena daeng masih mengingat ku," lirih nya, dengan netra berkaca-kaca.


"Bicara apa kamu andi', tentu saja aku mengingat mu, karena kamu adalah adikku. Aku sangat menyayangi mu andi'," opa Arman langsung memeluk erat sang adik, yang baru dipertemukan kembali dengan diri nya setelah puluhan tahun terpisah.


Sejenak hening menyapa ruang keluarga di villa milik keluarga Alamsyah, semua seakan ikut larut dalam keharuan yang dirasakan oleh kakak beradik itu.


"Bang Yusuf, bagaimana dengan putri mu?" Ucap daddy Rehan setelah beberapa saat, memecah keheningan.


Semua mata kini tertuju pada daddy tampan itu, mereka bertanya-tanya dalam hati akan maksud dari perkataan daddy Rehan.


Ayah Yusuf mengerutkan kening nya sesaat, dan setelah mengerti arah pembicaraan sang adik ipar beliau pun tersenyum.


Sedangkan daddy tampan itu tersenyum kearah tuan Hadi dan juga Dion, merasa mendapatkan dukungan dari daddy Rehan,,, membuat Dion mengembangkan senyum nya dengan lebar, seiring terbit nya secercah harapan di netra elang nya.


Malika yang dapat melihat binar bahagia di mata Dion, berbisik pada kakak sepupu nya yang duduk tak jauh dari nya. "Kak Fira, lihatlah.. mata bang Dion banyak bintang nya, persis kayak mata bang Kevin saat sedang jatuh cinta pada kak Salma."


Fira pun tersenyum bahagia mendengar celoteh Malika, "benarkah perasaan mu terhadap ku begitu besar, Dion?" Tanya Fira dalam hati, seraya menyelipkan do'a.. semoga Dion adalah jodoh, yang dikirimkan Tuhan untuk nya.


to be continue,,,