All About KEVIN

All About KEVIN
Wakil Ketua BEM



Kevin, Salma dan teman-teman dekat nya yang lain sudah bersiap hendak berangkat ke kampus. Mereka tengah menunggu Devi yang masih dalam perjalanan.


"Bay, Devi sampai mana? Kita bisa telat kalau kelamaan?" Rahman nampak tidak sabar, berkali-kali pemuda itu melihat jam mahal di pergelangan tangan nya.


Dion juga nampak mondar-mandir, abang sepupu Devi itu merasa tidak tenang.


Sedangkan Bayu selalu menatap layar ponsel nya, menunggu kabar dari Devi yang tak bisa dihubungi. "Dia belum bisa dihubungi lagi bro, tunggu bentar lagi ya.. kalau tidak datang juga, kalian silahkan berangkat duluan biar gue yang nunggu Devi sendiri," balas Bayu, seraya menatap teman-teman nya.


Tak berapa lama, Devi pun tiba dengan menggunakan ojek online. "Sorry guys gue telat, tadi macet banget,,, maka nya gue naik ojol biar cepat sampai." Devi menjelaskan tanpa diminta.


"Udah, cerita nya lanjut nanti. Ayo buruan kita berangkat," ajak Dion seraya menuju ke mobil nya yang sudah disiapkan.


Ya, sesuai kesepakatan bersama mereka akan berangkat ke kampus bareng dengan satu mobil, yaitu mobil nya Dion. Karena minggu ini mereka masih menjalani masa orientasi, sehingga jadwal mereka akan sama dan mereka bisa berangkat dan pulang bersama-sama pula.


Berbeda jika nanti mereka sudah mulai aktif dengan perkuliahan, mereka tak lagi dapat berangkat dan pulang bareng karena sudah pasti jadwal mereka berbeda-beda karena jurusan yang mereka ambil pun berbeda pula.


"Ma, Vin, mulai ntar malam gue ikut nginap di kantor aja ya? Kejauhan gue kalau harus bolak-balik dari rumah? Belum lagi kalau kena macet kayak tadi?" Keluh Devi, setelah mereka semua nya berada di dalam mobil Dion.


Dion pun segera melajukan kendaraan nya dengan kecepatan sedang, menyusuri padat nya jalanan ibukota.


"Dari kemarin kan gue udah nyaranin gitu Dev? Lu nya aja yang nolak kan?" Olok Salma, sambil menoleh ke bangku belakang dimana Devi duduk bersama Bayu.


"Hehe,, iya juga sih," balas Devi dengan terkekeh pelan.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Dion memasuki pintu gerbang kampus. Dion mengedarkan pandangan nya, mencari tempat parkir yang sudah hampir penuh itu.


Setelah cukup lama berputar-putar, akhirnya Dion mendapatkan tempat untuk memarkir mobil nya. Tempat yang cukup nyaman dan adem, karena dekat dengan pohon besar dan tidak terlalu jauh dari gedung utama.


Setelah mobil terparkir dengan benar, mereka semua nya turun. Di lokasi parkir tersebut tidak banyak mahasiswa yang mereka jumpai, hanya ada beberapa mahasiswa yang mengenakan dress code seperti yang mereka kenakan yaitu atasan putih dan bawahan hitam.


"Ayo buruan, tinggal lima menit lagi waktu kita," ajak Rahman, yang memang selalu tertib dan tepat waktu itu.


Mereka pun kemudian berjalan dengan cepat menuju gedung utama, dimana PKKMB atau Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru pagi ini akan dibuka.


PKKMB merupakan istilah lain dari masa pengenalan kampus yang dahulu dikenal dengan istilah ospek. Melalui kegiatan ini, mahasiswa baru diharapkan dapat mempermudah proses adaptasi mereka dengan lingkungan di perguruan tinggi.


Mahasiswa lain yang mengenakan seragam sama dengan mereka, juga nampak berlari-lari kecil menuju gedung utama.


Ketika mereka masuk ke gedung utama, mahasiswa baru dengan dress code putih hitam sudah memenuhi aula gedung tersebut. Tempat duduk pun hampir semua telah terisi, dan mereka harus mengedarkan pandangan dan mencari dengan jeli tempat duduk yang masih tersedia.


Dari kejauhan terlihat beberapa mahasiswa dengan jas almamater perguruan tinggi melambaikan tangan kearah mereka, dan Dion yang melihat nya langsung mengajak teman-teman nya menuju kearah senior mereka di bagian belakang gedung tersebut.


"Tuh masih ada dua bangku kosong! Biar yang cewek dulu yang duduk, kalian bisa cari bangku yang lain!" Ucap salah seorang senior laki-laki dengan sedikit ketus, dan tanpa melihat kearah Kevin dan teman-teman nya.


"Makasih kak," balas Devi dan Salma bersamaan.


"Mas, aku duduk sini enggak apa-apa?" Tanya Salma memastikan, dengan berbisik.


"Iya, duduk lah baby," balas Kevin, dengan berbisik pula.


"Di sebelah sana ada yang kosong tuh dik," tunjuk salah seorang senior wanita seraya tersenyum manis pada Kevin.


Kevin melihat kearah yang di tunjuk, dan benar saja masih ada tiga bangku kosong di sana.


Dan Rahman segera menuju ke sana untuk mengamankan bangku tersebut, agar tidak ditempati oleh mahasiswa baru yang lain yang masih sibuk mencari-cari.


Gedung yang luas, serta ribuan mahasiswa dengan dress code yang sama,,, membuat mereka yang datang terlambat, kesulitan mencari tempat duduk yang masih tersedia.


Kevin mengangguk, "oke," balas nya singkat.


"Dev, lu duduk di sana sama Bayu dan Rahman ya.. biar gue duduk di sini sama Salma," Pinta Kevin setelah Dion menuju tempat duduk nya.


Devi mengangguk dan segera beranjak dari duduk nya.


"Mau kemana?!' Tanya senior laki-laki itu, "udah duduk aja, biar dia yang duduk di sana!" Senior laki-laki itu menunjuk Kevin dengan jari telunjuk nya, dan tatapan nya nampak tidak suka.


"Jangan galak-galak dong bro,," lirih salah seorang senior wanita tadi, yang nampak membela Kevin.


"Hai tampan, duduk sana aja," ucap nya lembut, dan masih dengan mengembangkan senyum manis nya.


"Cih, manis sekali lu kalau lihat berondong!" Senior laki-laki tadi berdecih, dan mencibir teman wanita nya.


"Kayak enggak tahu Yura aja lu Gas," timpal teman mereka yang lain.


Kevin tak mempedulikan obrolan mereka yang enggak penting itu, dan remaja tampan itu pamit pada istri nya dan langsung menuju tempat duduk nya bersama Bayu dan Rahman. Sedang kan Devi kembali duduk di samping Salma.


Senior wanita yang bernama Yura tadi terkekeh kecil, dan sesaat kemudian dia nampak berbisik pada teman nya yang menimpali tadi, "Bagas dapat mangsa baru nih, kita harus bantu dia untuk mendapatkan nya.. dan kita minta imbalan jatah traktiran satu bulan."


Senior laki-laki yang ketus sama Kevin tadi yang ternyata bernama bagas, masih bisa mendengar bisik-bisik Yura.. dan dia tersenyum seringai, "jangan kan satu bulan, satu tahun juga gue kasih Ra. Asal, kalian harus bantu gue," ucap Bagas, seraya menunjuk Salma dengan dagu nya.


Yura dan teman nya yang lain mengacungkan ibu jari nya, tanda setuju.


Dan di saat yang sama, terdengar suara MC yang berdiri di depan panggung yang menginstruksikan kepada semua mahasiswa baru untuk berdiri menyambut kehadiran Rektor universitas yang akan membuka acara secara resmi.


Bagas dan teman-teman nya langsung berlari kecil menuju panggung, untuk ikut menyambut kehadiran Rektor Universitas beserta jajaran nya.


Ya, acara PKKMB dihadiri oleh Rektor, Ketua dan Sekretaris Senat, Para Wakil Rektor, para Ketua Lembaga, Dekan dan Direktur Pascasarjana, Kepala Badan dan Kepala Biro dan Para Pejabat lainnya di lingkungan Universitas.


Setelah orang-orang penting itu menempatkan diri di tempat nya masing-masing, MC pun mulai membuka acara nya.


Acara demi acara berlangsung dengan tertib, mulai dari pembukaan dan ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru oleh Rektor Universitas hingga sambutan-sambutan dari berbagai pihak yang berkompeten, semua nya berjalan dengan lancar.


Acara kemudian ditutup dan diakhiri dengan pidato singkat dari ketua BEM, dan Bagas lah yang maju ke depan panggung untuk menyampaikan pidato nya.


Dengan senyum licik nya, Bagas berbicara dengan gaya nya yang angkuh dan sombong.


Salah seorang Dekan yang melihat nya hanya bisa menarik nafas panjang dan geleng-geleng kepala, beliau nampak tidak respect dengan cara bicara Bagas. "Kemana Dimas? Kenapa jadi wakil ketua BEM yang songong itu yang pidato di depan?" Gumam nya dalam hati.


Sementara Bagas yang masih saja berbicara, terus menatap kearah Salma,, hingga membuat Salma merasa tidak nyaman. "Kenapa sih, dia lihatin gue terus? Apa ini cuma perasaan gue aja ya?" Lirih Salma pada Devi.


"Benar kok Ma, dia itu lihatin lu terus. Lu enggak nyadar ya, pandangan nya tadi saat dia nawarin bangku sama kita? Kayak terpesona gitu sama lu,, beneran,," balas Devi dengan bisik-bisik.


"Kok gue jadi takut ya Dev,," Salma nampak sangat khawatir, "orang nya kayak ambisius gitu," lanjut nya, seraya menatap Devi dengan tatapan penuh kekhawatiran.


Kevin pun merasa kan hal yang sama, "laki-laki itu, berani berani nya dia menatap istri ku dengan tatapan lapar!" Geram Kevin, seraya mengepalkan kedua tangan nya.


Rahman yang menangkap kemarahan sahabat nya itu berbisik, "hadapi dengan kepala dingin, dan dengan cara yang smart seperti yang biasa lu lakuin bang. Kecuali, jika apa yang dia lakukan sudah membahayakan kakak ipar,, maka lu harus segera ambil sikap tegas," canda Rahman, mencoba mengurai kemarahan dan kecemburuan Kevin dengan memanggil Kevin bang dan menyebut Salma kakak ipar.


"Kakak ipar? Belum tentu juga daddy Rey sama mommy Billa menerima elu bro?!!" Ejek Bayu, yang mendengar Rahman mengatakan kakak ipar pada Salma.


Kevin pun akhirnya tersenyum, begitupun dengan Rahman yang ikut tersenyum karena berhasil mengembalikan mood Kevin menjadi lebih baik.


to be continue,,,