
Di apartemen Kevin yang baru, sepasang suami istri itu baru saja selesai mandi bersama. Mereka berdua kemudian menjalankan sholat ashar, karena waktu hampir menunjukkan pukul lima sore.
Usai sholat, membaca wirid dan berdo'a, Kevin mencium kening sang istri dengan penuh kasih.. dan calon ayah siaga itu tak lupa mencium perut Salma yang nampak mulai sedikit membuncit.
Cukup lama Kevin menyembunyikan wajah nya di sana, seraya mengucap do'a terbaik untuk calon buah hati nya. Kevin juga mengajak calon anak nya berbicara, meski dia tahu ini belum saat nya.
"Mas, udah ah.. geli tahu," protes Salma, karena Kevin tak kunjung menyudahi kegiatan nya.
Kevin mendongak, dan menatap istri nya. "Kenapa baby, kamu cemburu karena aku mencium anak kita? Apa aku hanya boleh mencium mu saja baby?" Goda Kevin pada istri nya.
Salma cemberut, dan melihat hal itu.. suami tampan Salma yang darah muda nya masih sangat bergelora itu tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Kevin langsung menyambar bibir manis sang istri, yang bagai candu bagi nya itu. Kevin melu*mat bibir istrinya dengan lembut dan penuh perasaan.
Ciuman yang awal nya lembut dan hangat, kemudian berubah menjadi liar dan panas hingga nafas kedua nya kembali memburu dan jantung mereka berpacu begitu cepat.
Kevin menjauhkan sedikit wajah nya, dan menatap sang istri dengan tatapan berkabut penuh gai*rah. "Baby, boleh kah aku mengulang nya lagi?" Pinta nya dengan suara menahan has*rat.
Salma yang juga tengah diliputi gai*rah karena ciuman panas dari sang suami, hanya bisa mengangguk pasrah.
Dan kembali kedua muda-mudi yang sudah sah dalam ikatan pernikahan yang suci itu, melakukan kewajiban mereka bersama-sama dan saling bahu-membahu untuk membahagiakan pasangan nya.
Sajadah yang di gelar di atas permadani yang empuk, kini sudah berantakan dan tak lagi rapi seperti semula. Kevin sejenak menghentikan aksi nya, "women on top baby,, biar anak kita aman," pinta Kevin seraya membalik posisi nya menjadi di bawah dan sang istri berada di atas tubuh nya.
Sepasang suami istri itu, masih asyik bergulat hingga waktu hampir maghrib.
Sementara itu di lobby apartemen, Dion dan Rahman yang tengah menunggu Kevin dan Salma di buat jenuh. Pasal nya sudah setengah jam lebih mereka berdua menunggu, namun pasangan suami istri itu tak menampakkan batang hidung nya.
"Bro, lu enggak salah dengar kan? Kalau tadi Kevin minta di jemput jam lima?" Tanya Rahman, seraya menatap Dion.
Dion menggeleng, "benar Man, tadi waktu kita mau jalan, Kevin bilang mau sholat ashar dulu terus langsung turun ke lobi. Maka nya kita disuruh nunggu di lobi," balas Dion dengan yakin.
"Lu telpon gih,," pinta Rahman yang nampak sudah tidak sabar, "udah mau maghrib nih," lanjut nya seraya melihat jam tangan mahal di pergelangan tangan kanan nya.
"Gue chat aja ya, enggak enak gue.. siapa tahu mereka berdua masih ehm,, ehm,," ucap Dion seraya tersenyum.
Rahman mengernyit, "masak sih? Lah tadi sedari siang kan udah? Masak habis sholat terus nambah lagi, gitu?!" Rahman terkekeh sendiri dengan pertanyaan nya.
"Yah, mungkin saja Man,," balas Dion ikutan tertawa, setelah dia mengirimkan chat kepada Kevin. "Mereka berdua kan seusia kita Man, masih hot-hot nya," lanjut Dion dengan semakin mengeraskan tawa nya, hingga mengundang perhatian orang-orang yang lalu lalang di lobi tersebut.
"Bro,, pelan kan suara tawa lu," ucap Rahman mengingatkan.
Dion mengehentikan tawa nya, tapi masih tersenyum lebar. "Kalau lu nikah sama Icha sekarang, pasti lu pemecah rekor pasangan ter hot,," lirih nya, dengan tatapan menggoda kepada Rahman.
Rahman tersenyum kecut, dan menggeleng-gelengkan kepala nya, "mikir lu kejauhan,," Rahman meninju pelan lengan teman baik nya itu, namun dalam hati Rahman membenarkan ucapan Dion.
"Cowok mana coba yang tahan dengan godaan Icha??" Gumam Rahman dalam hati, seraya membayangkan Malika yang pernah dengan berani mencium pipi nya. Dan senyuman serta tatapan netra kebiruan milik Malika, yang seringkali menggoda keimanan nya.
Rahman mendesah pelan, "gimana, sudah ada balasan dari Kevin?" Tanya Rahman mengalihkan pembicaraan.
Dion menatap layar ponsel nya, "kita di suruh naik ke atas, sholat maghrib di sana sekalian," balas Dion seraya menatap layar ponsel nya.
"Ayo," ajak Dion pada Rahman, dan kedua pemuda tampan itu langsung menuju lift.
Tak berapa lama, kedua nya sampai di depan pintu apartemen Kevin. Dion langsung membuka pintu, karena Kevin via chat nya memberitahukan bahwa pintu nya tidak di kunci.
Ya, setelah membalas pesan Dion tadi,,, Kevin langsung membuka kunci pintu apartemen nya, sebelum kemudian dia kembali menyusul sang istri untuk mandi suci bersama.
Dion dan Rahman duduk di sofa ruang keluarga, sambil menunggu waktu maghrib.. mereka berdua sibuk memainkan ponsel nya.
Dion geleng-geleng kepala, "untung aja, tadi Bayu enggak jadi ikut. Kalau dia ikut, pasti sudah pusing gue denger pertanyaan nya yang pasti macam-macam. Berapa ronde sih dia main? Sampai lupa sama kita? Udah mau maghrib, masak nambah lagi?" Sindir Dion pada Kevin, seraya menirukan suara Bayu.
Kevin tersenyum kecut, sedangkan Rahman menahan tawa.
"Udah maghrib, kalian bisa sholat di kamar situ," tunjuk Kevin kearah pintu kamar yang masih tertutup rapat, "gue ke kamar dulu," lanjut nya, seraya melangkah meninggalkan Dion dan Rahman yang masih duduk di sofa ruang keluarga.
"Bakda sholat langsung cabut bro, gue lapar," seru Dion, sebelum Kevin membuka pintu kamar nya.
Kevin mengangguk, seraya mengacungkan ibu jari nya dan kemudian segera masuk ke dalam kamar utama milik nya.
Dion dan Rahman pun segera beranjak, untuk menunaikan kewajiban nya sebagai seorang Muslim.
Bakda sholat maghrib, mereka berempat kemudian meninggalkan kawasan apartemen Kevin. Dion melajukan mobil mewah nya dengan kecepatan sedang, "makan dimana kita? Barangkali bumil ada pengin makan sesuatu?" Tanya Dion penuh perhatian, seraya melirik Kevin dari kaca spion di depan nya.
"Baby, kamu mau makan apa?" Lirih Kevin, "jangan bilang, kamu masih mau memakan ku?" Lanjut nya dengan berbisik, seraya tersenyum menggoda kepada istri nya.
Salma mencubit perut Kevin, "aw, sakit baby.. kenapa di cubit?" Protes Kevin.
"Habis nya mas Kevin tuh ya, bukan nya malu sama mereka berdua karena udah nungguin kita lama.. malah masih aja pikiran nya omes kemana-mana," gerutu Salma, dengan wajah cemberut.
"Woi,, di belakang ada orang kan? Di tanya dari tadi, kok enggak jawab?" Kembali Dion bertanya, dan mengabaikan suara berisik di kursi belakang.
"Gue mau makan pecel lele, yang di jual di warung tenda," balas Salma.
"Eh, enggak boleh baby.. itu enggak higienis, banyak debu," protes Kevin, "Kita cari resto yang ada menu pecel lele nya bro," titah Kevin.
"Enggak mau, aku mau nya yang di warung tenda mas? Yang makan nya lesehan, sambil lihat bintang,," rajuk Salma.
"Baby,, kita cari resto yang jual pecel lele, dan kita juga bisa makan dengan lesehan di sana." Kevin mencoba memberikan pengertian.
"Kan enggak bisa lihat bintang?!" Salma masih merajuk.
"Baby, kalau kamu mau lihat bintang, kamu bisa ambil kaca.. dan lihat mata kamu sendiri, karena bintang nya ada di mata kamu. Mata kamu bersinar indah, seperti bintang baby..." rayu Kevin, seraya tersenyum manis.
Dion dan Rahman geleng-geleng kepala mendengar perdebatan kecil mereka berdua, perdebatan yang berakhir indah.. karena begitu mendengar rayuan sang suami, Salma langsung menjatuhkan kepala nya dengan bersandar manja di bahu sang suami.
"Di depan, lima ratus meter dari sini ada resto yang menyediakan menu pecel lele... gimana Ma, masih mau yang di warung tenda atau di resto depan?" Tanya Rahman yang sedari tadi berselancar di layar ponsel nya, mencari resto yang ada menu pecel lele.
"Di resto aja," balas Salma, masih dengan bersandar di bahu sang suami.
"Lu enggak lagi ngidam, pengin makan pecel lele di warung tenda?" Tanya Rahman seraya menoleh kearah Salma, untuk memastikan apa yang di dengar nya itu memang benar. Karena setahu Rahman, orang yang sedang ngidam harus dituruti semua keinginan nya.
Salma menggeleng, "gue cuma pengin makan pecel lele, dimana aja boleh. Kalaupun pecel lele nya ternyata enggak ada, menu yang lain juga enggak apa-apa sih,,, yang penting ada sambal dan lalapan nya," balas Salma dengan enteng nya.
"Memang nya kenapa bro?" Tanya Kevin.
"Setahu ku, kalau bumil lagi ngidam itu harus dituruti.. sebab kalau tidak, anak nya bisa ileran kata nya," balas Rahman.
"Itu mitos Man, ngidam itu enggak ada hubungan nya sama bayi. Itu hanya pengaruh hormon 8dari bumil yang pengin makan sesuatu yang segar, pedes, asem dan semacam nya.. dan itu juga enggak berlangsung lama, dan enggak semua orang merasakan hal semacam itu," balas Salma, seperti yang dia baca dalam sebuah artikel.
Kevin tersenyum puas, mendengar jawaban istri nya. "Benar apa kata om Ilham, jangan percaya dengan ngidam yang minta aneh-aneh,,, karena itu hanya alasan yang kemudian dibenarkan oleh sebagian orang untuk menuruti segala keinginan nya dan sebagian yang lain memanfaatkan nya untuk mengerjai pasangan."
to be continue,,,