All About KEVIN

All About KEVIN
Yes Sir,, I'm Ready Now



"Kevin, apa kita mau ke apartemen?" Tanya Salma sedikit curiga menatap sang suami sesaat setelah mereka berada di dalam lift, yang akan membawa kedua nya turun ke lantai dasar.


"Iya baby,, kamu enggak keberatan kan?" Pinta Kevin sambil melingkarkan tangan nya dengan mesra, di pinggang sang istri.


"Mau ngapain kita ke apartemen daddy?" Tanya Salma, seraya menoleh kearah sang suami yang berada di samping nya.


"Aku mau berduaan saja sama kamu baby," bisik Kevin, menatap Salma yang tinggi nya hanya sebahu nya itu. Kevin mulai mendekatkan wajah nya, hembusan nafas Salma yang hangat menyapu wajah tampan nya. Membuat adrenalin remaja yang baru genap berusia tujuh belas tahun itu semakin meningkat, dan debaran jantung nya berdetak dengan lebih cepat.


Jarak kedua nya hanya beberapa inci saja, dan Salma pun merasa kan hal yang sama. Gadis putih dan cantik itu, memejamkan mata nya. Menikmati harum tubuh maskulin milik sang suami, dan aroma nafas mint suami nya yang segar membuat imajinasi Salma semakin terbang.


Namun sedetik kemudian, Salma segera tersadar dan membuka mata nya. Dengan pelan dia dorong tubuh tegap sang suami, "ini enggak benar Kevin, kita sebentar lagi sampai di lantai dasar." Lirih Salma, sambil mengatur nafas nya.


Kevin nampak sedikit kecewa, dan tersenyum kecut.


Tapi benar apa yang dikatakan Salma, beberapa detik kemudian lift berhenti dan pintu lift terbuka. Kedua nya bergegas keluar dari lift dan dengan sedikit tergesa berjalan keluar menuju mobil sport yang terparkir di depan lobi.


Setelah memastikan sang istri duduk dengan nyaman, Kevin berlari kecil memutari mobil dan segera duduk di kursi kemudi. Dengan perlahan, Kevin melajukan mobil sport milik nya, menuju apartemen daddy nya yang jarak nya tak terlalu jauh itu.


Kevin langsung menuju baseman dan memarkir mobil nya di sana. Seperti biasa, remaja tampan itu membuka kan pintu untuk permaisuri nya dan menuntun Salma menuju lift. Mereka naik menuju apartemen sang daddy yang sudah jarang di kunjungi, hanya ada pak Amir, istri dan anak bungsu nya yang menempati apartemen khusus pegawai Rehan... yang setiap hari membersihkan dan menjaga apartemen Rehan, Fatima dan apartemen Alex yang masih berada di satu lantai.


Pintu lift terbuka, Kevin dan Salma segera keluar. Dengan menggandeng mesra tangan sang istri, Kevin menuju apartemen yang ditinggali pak Amir, sopir pribadi nya kala masih kecil. Kevin tiba di depan pintu apartemen yang dituju, dan di saat yang bersamaan pak Amir memanggil nya dari arah belakang.


"Den,, den Kevin, kebetulan aden sudah datang," Seru pak Maman, sambil berjalan tergopoh-gopoh menghampiri majikan kecil nya. Bagi pak Maman, Kevin tetap lah majikan kecil nya yang menggemaskan dan selalu bisa membuat semua orang jatuh cinta pada nya.


"Iya pak Maman, kok pak Maman tahu kalau saya mau kesini?" Tanya Kevin mengernyit.


"Tuan muda yang memberitahu saya, kalau den Kevin mau kesini sama non.." pak Maman sejenak menghentikan ucapan nya, dan menatap Salma seraya tersenyum tulus, "selamat ya den, atas pernikahan nya dengan non Salma," lanjut nya dengan binar bahagia, pak Maman ikut merasakan kebahagiaan bocah kecil yang dulu diantar nya kemana-mana itu.


"Oh ya den, tadi tuan muda nyuruh saya membelikan ini buat non Salma," pak Maman menyodorkan paper bag eksklusif yang bertuliskan Butik Putri Alamsyah.


Kevin membuka dan mengintip isi nya, "seperti pakaian untuk wanita lengkap dengan daleman nya?" Gumam Kevin seraya mengerutkan kening.


"Benar den, itu pakaian ganti untuk non Salma.. tadi nyonya bos telpon saya dan memberi tahukan ukuran nya, sedangkan untuk model nya dipilihkan sama penjaga butik nyonya Fatima, semoga saja cocok ya den, non.." Balas pak Maman seraya tersenyum pada kedua remaja di hadapan nya.


"Daddy dan mommy ada-ada saja," Kevin menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Salma tersenyum lebar. Dalam hati Salma, membuncah perasaan bahagia,,, karena merasa di perhatikan dan di sayangi oleh kedua mertua nya.


"Sama ini den," pak Maman memberikan kantong plastik bertuliskan apotik Sehat kepada Kevin seraya tersenyum canggung.


Kevin menerimanya dan segera membuka kantong plastik tersebut, Kevin membulatkan mata nya tatkala melihat isi di dalam nya. "Pak Maman, yang nyuruh pak Maman beli pengaman ini daddy juga?" Tanya Kevin.


"Ya iyalah den, barang gituan mah.. pak Maman mana ngerti?" Balas pak Maman dengan polos, "tapi untuk rasa nya, tadi nyonya bos yang milih," lanjut pak Maman menjelaskan.


Kevin langsung menarik tangan Salma dan menuntun nya menuju apartemen sang daddy, pak Maman mengekor di belakang nya hendak membuka kan pintu.


"Silahkan den, non," pak Maman mempersilahkan kepada putra dan menantu majikan nya untuk masuk, setelah membuka pintu apartemen Rehan.


"Baik pak Maman, terimakasih," balas Kevin dengan sopan, sedangkan Salma mengangguk dan tersenyum ramah pada pak Maman.


Setelah kedua remaja tersebut masuk kedalam apartemen, pak Maman segera menutupkan pintu nya dari luar. Dan laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun itu, segera kembali ke apartemen nya.


Sedangkan di dalam apartemen, sepasang suami istri itu nampak canggung. Tak seperti biasa nya ketika mereka berdua terlibat kerja ataupun diskusi bareng, dimana Kevin akan selalu menjahili Salma. Terkadang Kevin sengaja membuat kesalahan agar di koreksi oleh Salma, sehingga mereka bisa lebih lama berdekatan.


Kali ini, remaja tampan itu merasa ragu dan bingung harus memulai dari mana? Kalau hanya berciuman, mereka memang sudah pernah melakukan nya, di malam pertama pernikahan mereka.. dan itu murni hanya berciuman.


Tapi mengingat perkataan sang daddy tadi pagi, dan melihat kantong plastik yang diberikan pak Maman... justru membuat Kevin merasa bimbang, siapkah istri nya melakukan nya sekarang? Di saat mereka masih duduk di bangku sekolah?.


Karena jujur, niat Kevin menikahi Salma.. dia tidak berfikir untuk bertindak sejauh itu, Kevin hanya ingin jika mereka berdekatan dan sampai bersentuhan secara fisik, agar tidak menimbulkan fitnah dan dosa.


Tapi kini dia sadar, memberikan nafkah lahir adalah merupakan kewajiban seorang suami. Kevin masih sibuk dengan pikiran nya, begitu pun dengan Salma. Gadis berhijab yang sudah sah menjadi istri Kevin itu, hanya diam membisu.


Mereka berdua menaiki anak tangga menuju lantai dua, tangan mereka saling bertaut tapi pikiran mereka berkelana sendiri-sendiri.


Di tengah-tengah tangga, dengan tanpa berkata-kata, Kevin langsung menggendong istri nya ala bridal style dan membawa nya naik menuju lantai dua.


Salma sempat terkejut dan menutup mulut nya, tatapan mereka bertemu.. Salma tersipu malu, dan gadis itu kemudian menyusupkan wajah nya di dada sang suami.


Kevin tersenyum, dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar masa kecil nya. Kevin membuka pintu dengan kaki nya, dan terus melangkah masuk.


Dengan perlahan Kevin membaringkan sang istri di tempat tidur empuk milik nya, yang selalu terawat, bersih dan wangi. Remaja tampan suami dari Salma itu membungkukkan badan nya, dan menatap intens netra sang istri.


Kevin semakin mendekatkan wajah nya, nafas kedua nya saling menyapu wajah pasangan dan menimbulkan gelenyar aneh di tubuh kedua nya.


Kening mereka bertemu, dan kedua nya sama-sama memejamkan mata nya. "Baby, are you ready now?" Bisik Kevin dengan membuka mata dan menatap netra sang istri.


"Yes sir,, I'm ready now.. but slowly please, I'm afraid, co's this is the first time for me," pinta Salma dengan suara bergetar.


"Not only for you baby, but for us," protes Kevin seraya tersenyum manis.


Salma pun tersenyum, dan entah siapa yang memulai.. mereka kini telah saling ******* dan menyesap, hingga suara ******* merdu Salma memenuhi kamar Kevin.


to be continue,,,