All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Surprise Party



Setelah semua keluarga besar Alamsyah dan Antonio kembali ke kediaman masing-masing, Rahman pun segera membawa sang istri ke hunian nya di lantai empat di gedung perkantoran milik Kevin.


"Bang Rahman jangan banyak gerak dulu ya biar tangan nya cepat pulih," pesan mommy Billa, saat mereka tengah berpamitan.


"Ah, mommy kasih nasehat nya telat.. udah kebanyakan gerak dan gaya dia," balas Kevin, sambil melirik Rahman.


Daddy Rehan tersenyum, mendengar jawaban putra sulung nya yang menjurus.


"Gaya apa aja bang, gaya dada,, punggung atau kupu-kupu?" Tanya daddy Rehan, semakin memperjelas.


Kevin terkekeh, begitu pula dengan daddy Rehan,, sedangkan Rahman tersenyum canggung.


"Semua gaya kayak nya dad, termasuk gaya bebas," balas Kevin seraya menepuk punggung Rahman cukup keras, hingga membuat suami Malika itu terbatuk kecil.


Daddy Rehan semakin tertawa keras bersama Kevin, sementara mommy Billa mengernyitkan dahi.


"Abang, ih... apaan sih, bahas yang gituan sama daddy," gerutu Malika, dengan bibir mengerucut.


Kevin hanya mengedikkan bahu, menanggapi protes sang adik.


"Lagi sakit aja, bisa seganas itu ya bro.. apa lagi kalau sehat?!" Bisik Kevin semakin menjadi, menggoda sahabat nya.


Rahman menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, ingin rasa nya membalas omongan Kevin,, tapi dia urungkan demi melihat tatapan mata sang istri.


Mereka berempat kemudian menyalami daddy dan mommy nya, untuk kembali ke gedung perkantoran milik Kevin... dan meninggal kan Vinsa yang masih betah berada di kediaman eyang tampan dan eyang uti yang paling cantik sedunia, begitu titah daddy Rehan pada sang cucu jika memanggil diri nya dan mommy Billa.


*****


Kedatangan pengantin baru tersebut disambut meriah oleh Bayu dan tim dadakan, yang sengaja di bentuk untuk membuat acara sederhana di kafe yang di punggawai oleh Dika.


Bayu dan Devi yang pulang lebih awal dari rumah utama, langsung menyetujui ketika Dika dan Edo menyampaikan gagasan mereka berempat untuk membuat surprise party untuk Rahman dan Malika di kafe.


Sederet bangku di halaman belakang yang terbuka telah di kosongkan dari pengunjung, dan taman belakang kini telah di sulap menjadi pelaminan untuk sepasang pengantin baru yang menghabiskan malam pertama di rumah sakit tersebut.


"Oh, my God,,, kalian, bikin apa sih?!" Ucap Malika speechless, melihat pelaminan minimalis nan cantik di kafe bagian belakang tersebut.


Malika langsung memeluk Devi, Sesil dan Yura bergantian, karena dia tahu pasti.. bahwa ini pekerjaan mereka bertiga, "makasih kak Devi, kak Sesil, makasih kak Yura," ucap nya penuh rasa haru.


"Ini enggak ada apa-apa nya, di banding dengan apa yang telah abang dan daddy lu kasih ke kami dik," ucap Dika, mewakili istri nya dan juga Yura.


"Spesial untuk Rahman juga, yang sudah men support kami sejak awal kami masuk di sini," imbuh Edo, yang berdiri di samping istri nya.


"Thanks bro,," lanjut Edo, seraya menepuk pundak Rahman.


"Ayo,, ayo kita foto-foto dulu sebelum makan-makan," ajak Dion yang baru saja datang bersama fotografer langganan keluarga Kevin.


Ya, Dion datang paling akhir sebab dia ke bandara terlebih dahulu untuk mengantarkan calon istri nya yang hendak pulang ke negara asal bersama keluarga serta opa dan oma nya.


"Kemarin waktu akad nikah kan kalian belum sempat foto-foto di pelaminan, nah sekarang saat nya kita berfoto ria," lanjut Dion, seraya menuntun Rahman dan Malika untuk menuju pelaminan.


"Ini, pakai kostum kayak gini aja?" Malika mengernyit, memperhatikan penampilan nya yang hanya memakai dress panjang dengan pasmina menutupi kepala nya.


"Enggak apa-apa dik, gitu juga udah bagus kok," balas Yura dengan jujur.


"Bentar-bentar, biar gue tambahin ini," Sesil nampak mengambil sebatang ranting agak kering yang paling kecil dan panjang, kemudian di potong jadi dua dan disatukan untuk kemudian di pilin dan dibuat menjadi lingkaran,,, serta menyelipkan beberapa bunga kecil yang berwarna-warni dalam lingkaran tersebut, bunga-bunga cantik yang di ambil dari pot bunga di sekitar nya.


"Beneran cantik mahkota nya dik," puji Salma, seraya mengacungkan ibu jari nya.


"Iya loh Cha, kamu tambah cantik dan eksotis... kayak putri-putri di negeri dongeng gitu," imbuh Devi, yang disetujui oleh Sesil, Yura dan juga Salma.


Malika melihat ke samping kearah sang suami, untuk memastikan.. dan Rahman pun mengangguk setuju, "apa pun yang di pakai istri ku pasti cantik," jawab Rahman yang mengerti arti tatapan sang istri, "tapi, kamu lebih cantik jika tidak memakai apa-apa," lanjut Rahman berbisik, yang langsung mendapatkan cubitan mesra di perut nya yang kotak-kotak seperti roti sobek.


"Aw,," Rahman pura-pura mengaduh, pada hal cubitan sang istri sama sekali tak terasa sakit bagi nya.. justru malah terasa geli.


Sedangkan Malika yang mendengar bisikan maut dari sang suami, wajah nya langsung merona merah.. "hanya mendengar kata-kata seperti itu, kenapa hatiku sangat bahagia ya? Dan perut ku,, kenapa tiba-tiba menjadi seperti ini, like being hit by a butterfly effect," gumam Malika dalam hati.


"Udah, udah,, pamer kemesraan mulu. Ayo bersiap,," titah Dion, yang sebenar nya iri karena kalah set dari Rahman.


"Halah,,, bilang aja, lu iri kan bang,,,?" Goda Rahman, seraya mengerling kearah Dion.


"Ya elu si, mau nyalip enggak nyalain sein kanan!" Protes Dion bersungut, "untung enggak gue tabrak," lanjut nya sambil berlalu, yang di balas Rahman dengan terkekeh.


"Sabar bang, palingan nahan nafas seminggu ini,,, pasti kuat lah berada di antara kami selama seminggu, dengan status abang yang jomblo seorang diri." Ledek Bayu ketika Dion melintas di samping nya, seraya meraih pinggang sang istri dan memeluk nya mesra,, yang membuat Dion semakin meradang.


"Ogah, mulai ntar malam.. gue akan tidur di apartemen," balas Dion dengan ketus.


"Yakin, enggak kangen sama kita??" Timpal Rahman sedikit berseru pasal nya Dion sudah duduk menjauh dari pelaminan.


"Cih,," Dion hanya berdecih.


"Ayo mas, kita mulai aja," ucap Kevin yang sedari tadi diam di samping istri nya, yang langsung memberi instruksi pada fotografer karena mendengar obrolan teman-teman nya semakin melebar kemana-mana.


Mereka semua pun kemudian berfoto ria di pelaminan, dengan Rahman dan Malika sebagai pengantin yang di daulat untuk melakukan berbagai pose sesuai permintaan mereka.


"satu, dua,, action.." begitu aba-aba yang diberikan oleh mas fotografer, yang berlangsung selama hampir setengah jam lama nya.. karena mereka kebanyakan bercanda nya, daripada serius mengikuti arahan sang fotografer.


"Udah ya gaess,, gue capek nih," ujar Rahman dengan wajah memelas, karena sedari tadi di kerjai habis-habisan oleh teman-teman nya. Kondisi Rahman yang belum benar-benar fit, di tambah langsung bertempur di malam pertama bahkan hingga beberapa putaran dengan gaya yang berbeda.


Dan langsung lanjut mengikuti pertemuan keluarga keesokan hari nya, bahkan belum sempat rehat karena malam nya pun mengulang kesenangan yang sama dengan suasana yang berbeda di rumah utama.. tentu tanpa adanya tiang infus yang mengganggu pergerakan, kini Rahman harus kembali menjalani serangkaian prosesi dadakan yang cukup menguras energi.


"Oke, oke," ucap Dika dan Edo bersamaan, yang tidak tega melihat ekspresi Rahman.


"Ayo, kita makan-makan," ajak Dika, seraya memanggil salah satu anak buah nya yang memang sudah bersiap di sana.


"Siapkan semua nya sekarang," titah Dika pada anak buah nya itu.


"Ayo mas, kita duduk," ajak Kevin pada fotografer langganan keluarga nya tersebut. Yang kemudian diikuti oleh Salma dan yang lain nya.


Malika dengan setia menggandeng sang suami yang sudah terlihat kelelahan, "kalau abang udah capek banget, kita naik aja yuk. Nanti kita makan di kamar aja," ajak Malika yang prihatin melihat wajah tampan suami nya nampak sangat kelelahan.


Tapi Rahman menggeleng, "enggak apa-apa yank, cuma makan bentar kok. Enggak enak kalau enggak ikut, karena mereka udah mempersiapkan nya untuk kita," balas Rahman seraya tersenyum, untuk mengalihkan kekhawatiran istri nya.


Malika mengangguk, dan mereka berdua kemudian ikut duduk di kursi yang sudah di tata melingkari meja oval menyusul teman-teman nya yang sudah terlebih dahulu duduk di sana.


Dua orang waiters terlihat sibuk menata hidangan makan siang untuk mereka semua, dan Sesil beserta Yura ikut membantu membawakan minuman dingin kesukaan mereka masing-masing.


Mereka pun mulai menikmati santap siang dengan meriah, karena lagi-lagi mulut mereka melakukan double job.. tak hanya mengunyah, tapi juga diselingi dengan mengobrol. Dan canda tawa pun terdengar, mengiringi acara makan siang bersama dalam rangka surprise party pernikahan Rahman dan Malika.. yang di usung oleh Dika, Edo dan pasangan.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,