All About KEVIN

All About KEVIN
Mode On



Setelah beberapa lama melajukan kuda besi nya melintasi jalanan padat ibukota, sampai lah mereka bertiga di hunian keluarga Antonio. Dion segera memarkir mobil nya, berjajar dengan mobil-mobil mewah yang sudah terparkir di sana.


"Dik, kayak nya saudara-saudara kamu sudah pada berkumpul semua," ucap Rahman, sesaat setelah mobil terparkir.


"Iya, bang Rahman benar. Mobil om Ilham dan om Devan juga sudah ada tuh," balas Malika, yang hafal dengan semua kendaraan om om nya.


"Tapi si Kevin kayak nya belum nyampai deh Man," Dion ikut angkat bicara, setelah mengedarkan pandangan dan tak menemukan mobil Kevin di antara mobil-mobil mewah di halaman hunian megah itu.


"Ya bro, lu benar.. Kevin dan Salma belum nyampai sini," balas Rahman.


"Ini kita ikut turun, atau langsung pulang?" Tanya Dion ragu-ragu, dia yang new comer di group TTM dan belum begitu mengenal keluarga Kevin merasa sungkan jika harus bergabung bersama orang-orang hebat di dalam hunian sana tanpa ada nya Kevin.


"Kita ikut turun, dan menemui orang tua Icha,," balas Rahman dengan yakin, dan kemudian segera turun dari mobil yang diikuti oleh Malika. Dan Dion pun akhirnya ikut turun.


Mereka bertiga berjalan bersisihan memasuki hunian keluarga Antonio dengan mengucapkan salam, "assalamu'alaikum,,," ucap mereka serempak.


"Wa'alaikumsalam,," jawab beberapa asisten rumah yang sedang bersih-bersih di ruang utama hunian tersebut.


"Eh non Icha,, baru datang non?" Tanya salah seorang bibi.


"Iya bi, mommy dimana ya bi?" Tanya Malika basa-basi, meski sebenar nya dia sudah tahu kebiasaan di keluarga besar Antonio.. jika jelang waktu sore seperti ini, para orang dewasa akan berkumpul di gasebo.


"Nyonya Billa di gasebo, bersama dengan tuan Rehan dan yang lain nya nona," balas bibi yang lain, yang tadi sempat membawakan makanan ringan untuk tuan-tuan nya di halaman belakang sana.


"Baik bi, kami langsung ke belakang saja. Makasih ya bi," balas Malika dengan sopan. Ya, begitu lah mommy Billa mengajarkan kepada putra putri nya agar berlaku sopan kepada siapa pun yang lebih tua.. tanpa membedakan status sosial nya.


Para asisten yang berada di sana mengangguk hormat pada Malika dan tersenyum hangat, mereka merasa senang diperlakukan dengan baik oleh seluruh anggota keluarga Antonio.


Malika terus, berjalan dengan langkah pasti menuju halaman belakang, Rahman dan Dion mengekor di belakang nya tanpa bersuara.


Meski Rahman baru pertama kali datang ke hunian keluarga Antonio tapi dia terlihat cool dan tetap santai, berbeda dengan Dion yang nampak sedikit tegang. "Gila,, ini rumah panjang banget, perasaan udah jalan dari tadi tapi enggak nyampai-nyampai juga," gumam Dion dalam hati.


"Terus ngapain juga mereka pada demen di halaman belakang, ruangan-ruangan yang gede dan luas di anggurin malah memilih ngobrol di halaman belakang?" Dion masih penasaran dengan halaman belakang yang dimaksud oleh Malika.


Begitu tiba di halaman belakang, Malika langsung menghampiri gasebo dimana keluarga nya tengah berkumpul. Rahman masih setia mengekor di belakang kekasih nya itu.. sedangkan Dion, dia nampak terpukau melihat deretan paviliun yang sangat artistik itu.


"Assalamu'alaikum,," Mereka bertiga memberi salam pada keluarga Malika.


"Wa'alaikumsalam,," balas mommy Billa, daddy Rehan dan yang lain nya bersamaan.


"Kak,, kok sudah sampai?" Tanya mommy Billa, menyambut uluran tangan putri nya.


"Iya mom, tadi jalanan nya lancar," balas Malika dan kemudian menyalami daddy dan opa serta om om nya yang lain.


Rahman dan Dion pun ikut menyalami mereka semua.


"Bayu sama Devi tidak ikut kemari?" Tanya daddy Rehan, menatap Rahman dan Dion bergantian sesaat setelah kedua nya duduk di dalam gasebo.


"Tidak dad,, mereka ada acara bersama keluarga Devi," balas Rahman jujur.


"Kok nak Dion enggak ikut?" Tanya daddy Rehan, yang mengetahui bahwa Dion adalah sepupu Devi.


"Tidak dad, itu pertemuan dari keluarga tante Linda," balas Dion apa ada nya.


Daddy Rehan mengangguk-angguk.


Seorang asisten datang dengan membawa minuman dan menghentikan sejenak obrolan mereka.


Mommy Billa mengambil minuman itu dari tangan asisten dan meletakkan di hadapan Rahman dan Dion, "silahkan di minum bang Rahman, bang Dion," ucap mommy Billa dengan lembut.


"Iya mom, makasih," balas Rahman dengan sopan, sedangkan Dion hanya mengangguk.


"Bang Rahman sama bang Dion nanti menginap di sini kan?" Tanya om Ilham, menatap kedua nya.


Rahman menggeleng, "tidak om, kami hanya mengantar dik Icha," balas Rahman seraya tersenyum ramah.


"Wah,, enggak seru, kirain nginap?" Protes om Ilham, "sekali-kali menginap lah,," pinta om Ilham dengan tulus.


"Oh ya, nak Rahman di rumah hanya berdua sama kakak nya ya?" Tanya daddy Rehan yang mendengar sekelumit cerita tentang keluarga om Adam dari orang kepercayaan nya, sebelum memutuskan untuk mengangkat om Adam menjadi wakil direktur di perusahaan Kevin.


"Bertiga dad, sama kakak ipar juga," balas Rahman.


"Oh,, kakak nya sudah menikah?" Daddy Rehan nampak terkejut.


"Benar dad, baru beberapa bulan yang lalu. Suami nya orang Bandung, dan kakak menikah di sana karena diminta oleh pihak keluarga laki-laki. Dan pernikahan kakak memang tidak di publish, karena papa tidak mau keluarga di Malaysia mengetahui," balas Rahman menjelaskan.


Daddy Rehan mengangguk-angguk,, "pantas saja, tak ada informasi yang mengatakan kalau tuan Adam sudah punya menantu?" Gumam daddy Rehan dalam hati.


Dert,, dert,,


Tiba-tiba ponsel Rahman bergetar, Rahman segera mengambil ponsel dari dalam kantong baju nya. Rahman melihat ke layar ponsel nya, dan tertera nama Kak Alifa di sana.


"Maaf dad, saya angkat telpon dulu dari kakak," ijin Rahman pada daddy Rehan.


"Silahkan," balas daddy Rehan, dengan tatapan hangat.


Rahman menggeser tombol hijau di layar ponsel nya, dan segera mendekatkan ponsel tersebut di telinga kiri nya. "Wa'alaikumsalam,,," balas Rahman, menjawab salam dari seberang sana. Rahman nampak khusyuk mendengar kan, dan terlihat mengangguk.


"Iya kak,, salam buat keluarga di Bandung." Ucap Rahman, Wa'alaikumsalam..." balas nya, dan kemudian mengembalikan ponsel kedalam saku baju nya.


"Kenapa bro? Kakak lu ke Bandung?" Tanya Dion menebak.


Rahman mengangguk, "iya, barusan dapat kabar kalau nenek nya bang Adrian masuk rumah sakit," balas Rahman.


"Ya udah, lu nginap di rumah gue aja ntar malam," saran Dion, pada teman baik nya itu.


"Boleh," balas Rahman singkat.


"Mendingan kalian menginap di sini saja,,, bang Rahman, bang Dion." Om Ilham yang sedari tadi menyimak obrolan mereka, membuka suara.


"Ya, om Ilham benar. Kalian menginap di sini saja, malam ini. Kevin dan Salma pasti senang kalau tahu kalian menginap," timpal daddy Rehan, menyetujui ide om Ilham.


"Bukan hanya Kevin dan istri nya bang yang senang, adik nya Kevin juga happy banget tuh..." om Ilham tersenyum menggoda kearah Malika, yang tengah tersenyum lebar mendengar sang pangeran akan menginap.


"Icha biasa aja kok om,," balas Malika dengan cepat, "mom, dad, Icha naik dulu ya mau mandi," pamit Malika, dan segera berlalu untuk menyembunyikan senyum nya yang semakin merekah. "Yes,,, nanti malam, gue bisa malam mingguan sama bang Rahman," lirih nya bergumam, sambil berlari kecil dan sesekali melompat-lompat saking bahagia nya.


*****


Sementara itu di apartemen daddy Rehan, Kevin baru saja membuka mata nya. Dengan posist tidur saling berhadapan, Kevin dapat menatap dengan leluasa wajah istri cantik nya yang masih tertidur dengan pulas.


Dengan lembut Kevin mencium kening istri nya, dan kemudian membelai surai hitam nan panjang milik sang istri. "Maaf kan aku baby, aku sudah membuat mu kelelahan," bisik nya dengan masih terus mengagumi wajah putih bersih milik istri nya.


Merasa kan ada yang mengganggu tidur nya, Salma menggeliat.. dan kemudian membuka kedua mata nya, "selamat sore bidadari ku," ucap Kevin dengan lembut, menyambut istri nya yang terbangun.


"Mas Kevin sudah bangun? Jam berapa sekarang mas?" Tanya Salma, seraya merubah posisi tidur nya membelakangi sang suami.


"Jam empat lebih baby," balas Kevin, seraya memeluk istri nya dari belakang. "Kenapa membelakangi mas, hmm?" Tanya Kevin, seraya meremas pelan buah kesukaan nya.


Salma mendesah pelan, "aku tidak berniat memunggungi mas, aku hanya cari posisi nyaman mas. Badan ku rasa nya remuk semua deh,,," balas Salma lirih, dia seakan kehabisan tenaga untuk sekedar berbicara.


"Mana nya yang sakit baby, aku pijat ya,," bujuk Kevin, dengan perasaan bersalah. Suami Salma itu ingat, bagaimana permainan nya di dalam mobil tadi. "Baby,, apa pinggang mu yang sakit?" Tanya Kevin dengan penuh kekhawatiran, seraya meraba pinggang sang istri.. dan tangan nya terus turun menyusuri bagian tubuh yang lain, hingga singgah di lembah favorit nya.


"Bukan hanya pinggang, tapi semua.." balas Salma dengan suara yang lemah, sengaja Salma mengatakan seperti itu agar suami nya tak lagi meminta jatah. Karena dengan posisi seperti sekarang, Salma dapat merasakan kalau suami nya telah kembali pada mode on.


to be continue,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Batre nya udah kembali full, gantian PB nya yang lemah daya..


Salma sebagai PB,, mau dong di kasih kembang biar kembali semangat dan bisa nge charge lagi 😄😄🤭 ( mode malak)