All About KEVIN

All About KEVIN
Menjaga Hati untuk Malika



Waktu begitu cepat berlalu, Kevin beserta teman-teman dekat nya setiap hari masih berkumpul di base camp seperti biasa nya. Datang di pagi hari sekitar jam sembilan, dan akan membubarkan diri pada sore hari nya di jam empat sore.


Hubungan Devi dan Bayu semakin lengket, meski hingga minggu pertama telah berlalu namun belum ada keputusan yang pasti dari keluarga Devi.. apakah pernikahan mereka dapat di laksanakan secepat nya bareng dengan pernikahan abang nya Devi, ataukah harus bersabar hingga awal tahun depan.


Pun demikian, hal itu tak mengurangi kebahagiaan kedua nya, karena kini mereka sudah mengantongi restu dari kedua belah pihak orang tua. Dan Bayu tak perlu lagi khawatir dengan bayangan penolakan dari orang tua Devi, karena status sosial mereka yang berbeda jauh.


Kedekatan Dion dengan Kevin dan yang lain nya pun semakin akrab, remaja yang dulu pernah salah jalan dengan bergaul bersama Jonathan dan Monica itu kini mulai membenahi diri nya. Setiap hari dia belajar dengan rajin agar dapat lolos seleksi ujian masuk perguruan tinggi di tempat Kevin dan yang lain nya akan kuliah.


Dion sebenar nya berotak encer, tapi pergaulan yang salah membuat dia terlena hingga sering bolos sekolah.. dan hal itu sangat mempengaruhi prestasi nya, hingga Dion tak pernah mendapat kan nilai bagus pada raport nya di SMA. Padahal ketika dia di sekolah menengah pertama, Dion selalu masuk ke dalam tiga besar siswa yang berprestasi.


"Bro,, ngopi dulu, lanjut nanti belajar nya," ucap Bayu, seraya menyodorkan secangkir kopi kesukaan Dion.


Dion mengalihkan pandangan nya dari soal-soal ujian yang tengah dia pelajari, dan kemudian menerima kopi tersebut dari tangan Bayu, "camilan nya mana Bay?" Pinta Dion tanpa dosa.


"Yah, udah untung dibawain kopi kesukaan lu.. masih nawar aja minta yang lain?" Protes Bayu, sambil berlalu dari hadapan Dion.


Dion hanya mencebik.


Tak lama kemudian Bayu telah kembali dengan sepiring pisang coklat dan martabak spesial, yang merupakan camilan khas menu andalan kafe. "Nah, ini baru mantap.. makasih ya adik ipar," ucap Dion, tersenyum jahil kepada Bayu.


"Cih, adik ipar... kalau ada maunya aja, manggil adik ipar!" Bayu mencibir, dan kemudian kembali duduk di tempat nya semula di samping Devi.


"Bibir lu tuh Bay,, dikondisikan! Lagian sama kakak ipar, berantem melulu. Sama orang yang di panggil abang, meski usia nya seumuran,, kita tuh harus bersikap baik dan sopan Bay," tegur Rahman, seraya melirik Dion.


Dion mengacungkan jempol, mendapat pembelaan dari Rahman.


"Berarti lu sama Kevin juga harus mulai bersikap baik dong?" Ucap Bayu, tersenyum seringai.


Rahman mengernyit, "gue sama Kevin kan emang selalu baik, dan tak pernah berantem? Terus maksud kamu apa nih?" Tanya Rahman, menatap Bayu dengan tatapan menyelidik.


"Wales bro,," balas Bayu tersenyum devil, "Kevin kan abang nya nona Malika kan? Nah, otomatis lu harus hormat sama abang ipar lu yang tampan sedunia menurut neng Salma ini," lanjut Bayu semakin asal bicara nya.


"Ya emang Kevin abang nya Malika, dan kita semua tahu itu?! Dan, abang ipar,, apa pula maksud kamu??" Tanya Rahman semakin penasaran, yang benar-benar belum paham arah pembicaraan Bayu.


"Kalau lu jadian sama Malika, itu arti nya Kevin abang ipar lu kan Man?" Tegas Bayu, dengan mengangkat kedua alis nya.


Rahman hanya bisa menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, "gue kan bukan pedofil Bay, Malika kan masih sangat muda?" Protes Rahman, sengaja menghindar. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan untuk masuk ke dalam keluarga besar Alamsyah, yang bagi Rahman.. keluarga nya tak sepadan jika bersanding dengan keluarga Kevin.


Kevin mengernyit, abang dari kembar Malik dan Malika itu pun jadi teringat perdebatan kedua adik kembar nya beberapa waktu yang lalu. "Dik Malik bilang, dik Icha suka nyuri-nyuri pandang pada Rahman? Terus ini, si Bayu.. gencar banget jodoh-jodohin Rahman sama dik Icha? Kok bisa kebetulan gini ya?" Kevin bermonolog dalam hati, sedangkan netra nya menatap Rahman dengan intens.


"Tuh, abang ipar lu sedang memindai lu Man.." ucap Bayu, yang membuyarkan lamunan Kevin.


"Eh iya, ada apa Bay?" Tanya Kevin pura-pura tidak mendengar perdebatan Bayu dan Rahman.


Kevin mengangguk, "ya, empat atau lima tahun itu selisih yang ideal, balas Kevin, dan kemudian menyesap kopi nya yang sudah mulai berkurang panas nya.


"Tuh, abang nya sudah ngasih lampu hijau.. bentar lagi daddy Rey juga pasti menerima lu dengan kedua tangan terbuka bro.." ucap Bayu antusias.


"Eh, maksud nya apa nih? Lampu hijau apaan?" Kevin mengernyit kan dahi nya, dia sama sekali merasa sedang tidak membahas apapun.


"Tahu tuh si Bayu,, lagian mana berani gue, ngedeketin princess dari keluarga Alamsyah.." balas Rahman, sambil mencomot martabak di piring.


"Dev, Ma,, ngopi dulu, jangan kerja terus." Rahman menyodorkan piring yang berisi pisang coklat kepada Devi dan Salma, bermaksud mengalihkan pembicaraan.


"Makasih ya Man," Salma meletakkan laptop nya, dan mengambil piring dari tangan Rahman.


Sedangkan Dion, diam-diam menyimak obrolan Bayu dan Rahman. "Daddy Rey waktu di rumah Devi juga kayak nya respect sama Rahman, gue ikut komporin aja ah,,," gumam Dion dalam hati.


"Vin, gue kan belum pernah main ke rumah lu? Kalau nanti kita semua ikut ke rumah lu boleh kan?" Pinta Dion tiba-tiba, hingga membuat semua mata tertuju kepada diri nya.


"Kenapa lihatin gue kayak gitu? Ada yang salah dengan permintaan gue?" Tanya Dion pura-pura tak mengerti.


"Enggak sih, tapi aneh aja. Kenapa tiba-tiba lu pengin main ke rumah utama?" Tanya Bayu, menatap Dion penuh selidik.


"Ya, enggak ada apa-apa sih.. pengin ikut ngerasain aja perhatian dan kasih sayang dari mommy nya Kevin, kayak kalian?? Dan pengin lihat kecantikan gebetan nya Rahman??" Dion melirik Rahman, dan tersenyum jahil.


Kembali Kevin mengernyit, dan kemudian tersenyum kecut. "Semua orang kayak nya mendukung Rahman, dia emang baik sih.. tapi gue belum berani berterus terang untuk mendukung dia, secara dia nya masih belum menunjukkan sikap perhatian nya sama dik Icha kan?" Gumam Kevin dalam hati.


"Kalian ini pada ngomong apa sih?! Gue enggak mau ya, gara-gara omongan kalian yang absurd ini daddy Rey jadi ilfill sama gue?!' Protes Rahman.


"Mas, Rahman kayak nya emang cocok deh sama dik Icha," bisik Salma di telinga sang suami.


Kevin melirik istri nya, "kita diam aja baby, pura-pura tidak tahu. Sambil kita lihat gimana perkembangan nya,," balas Kevin, dengan berbisik pula.


"Malah bisik-bisik berdua,, boleh enggak main ke rumah kalian?" Kembali Dion bertanya.


"Kalau lusa aja gimana? Kebetulan, Malik dan Malika ulang tahun," balas Kevin, "acara nya sore, kalian boleh datang dari pagi kalau mau bantu-bantu," lanjut nya.


"Gimana, kalian bisa datang kan?" Tanya Kevin, "lu juga bisa kan Man?" Kevin menatap Rahman, penuh harap.


Rahman mengangguk dan tersenyum penuh arti, "insyaallah,, gue akan datang," balas Rahman, "mungkin untuk Malika, meski dia masih terlalu muda... gue akan cari tahu sendiri gimana perasaan Malika sama gue. Setidak nya jika gue sudah tahu, gue jadi bisa menjaga hati gue untuk Malika dan tidak berlabuh di sembarang tempat," gumam Rahman dalam hati.


to be continue,,,