
Selepas anak-anak panti dan ustadzah berpamitan, seluruh anggota keluarga Salma dan Kevin pun kembali ke kamar nya masing-masing untuk bersiap menunaikan ibadah sholat maghrib.
Para asisten rumah tangga, di daulat untuk membersihkan ruang utama agar bisa digunakan untuk sholat maghrib berjama'ah.. karena musholla yang ada, tidak memadai untuk keluarga super besar tersebut.
Tepat di saat waktu maghrib tiba, ruang utama telah siap untuk di gunakan. Dan kakek Ilyas segera menggiring cucu-cucu nya, untuk segera menempatkan diri di barisan terdepan.
Ayah mommy Billa itu memang selalu disiplin dalam menerapkan pendidikan agama untuk anak cucu nya, karena itu adalah bekal yang paling utama, dan akan sangat berguna serta bermanfaat dalam menjalani kehidupan.
Keluarga yang lain pun segera ikut menempatkan diri, dan setelah adzan maghrib dikumandangkan dengan merdu oleh Mirza, dan iqomah oleh si kecil Iqbal yang ngotot pengin dikasih kesempatan.. sholat maghrib berjama'ah itu pun segera dilaksanakan, dan seperti biasa kakek Ilyas lah yang menjadi imam sholat.
Usai sholat dan ritual lain nya yang kemudian diakhiri do'a, meski keluarga besar nya saat ini tengah berkumpul.. kakek Ilyas tetap mewajibkan cucu-cucu nya untuk mengaji Al-Qur'an meski hanya sebentar, dan anak-anak yang manis itu pun menurut dengan perintah sang kakek.
Dan hal itu lah yang membuat anak dan menantu kakek Ilyas sangat menghormati dan menyayangi beliau, termasuk om Devan dan tante Lusi yang bukan siapa-siapa nya. Karena om Devan dan istri nya itu juga merasakan nilai positif dari ajaran yang diberikan oleh kakek Ilyas bagi putra putri nya, meski hanya seminggu sekali mereka bertemu.
Anak-anak itu mengaji hingga waktu 'isya tiba, dan setelah sholat 'isya berjama'ah.. barulah mereka diijinkan untuk melakukan apa pun yang mereka mau, tentu nya setelah makan malam bersama keluarga besar.
Tepat bakda 'isya, kembali keluarga besar itu berkumpul, termasuk nenek Syarifah dan keluarga Salma yang lain. Mereka bahkan tidak diijinkan pulang dan diharuskan menginap di rumah super luas itu oleh kakek Ilyas, begitupun dengan opa Sultan dan keluarga nya.
"Pak Arman, pak Sultan,, kami mohon kiranya bapak dan keluarga sudi untuk menginap di sini, ya mumpung kita masih bisa sama -sama berkumpul seperti ini. Kapan lagi coba, kita punya momen spesial seperti ini, apa lagi kita ini sudah tua.. dan maut, kapan saja siap menjemput kan?" Pinta kakek Ilyas ketika di meja makan, yang membuat opa Sultan dan juga opa Arman tak bisa menolak.
"Baik lah pak Ilyas, jika hal itu tidak merepotkan keluarga di sini," balas opa Arman, mewakili adik dan anak nya.
"Tentu saja kami sangat senang om, dan sama sekali tidak merasa direpotkan," ucap daddy Rehan menyambut gembira kesediaan kakek dari Salma untuk menginap, karena itu arti nya kedekatan mereka akan semakin terjalin erat.. meski sebelum nya, antara opa Arman dan opa Sultan memang sudah sangat dekat sedari masa kuliah dulu.
Dan opa Sultan pun mengangguk setuju, dan tersenyum bahagia.
Usai makan malam, mereka berkumpul kembali. Anak-anak segera naik ke lantai atas untuk bermain di sana bersama, termasuk si kecil Iqbal dan duo kembar bungsu putri daddy Rehan dan mommy Billa.
Kakek Ilyas, opa Sultan, opa Arman dan istri-istri nya memilih mengobrol di ruang keluarga. Bergabung pula di sana pak Sulaiman dan bu Widya, om Irfan dan istri nya serta daddy Rehan dan mommy Billa. Serta oma Carla, nenek Syarifah dan nenek bibi.
Mereka nampak ngobrol dengan penuh keakraban dan kehangatan, hingga tanpa terasa waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam.. dan para orang tua itu pun membubarkan diri untuk beristirahat di kamar masing-masing. Termasuk om Irfan dan istri nya, yang masih merasa lelah karena habis perjalanan jauh.
Tinggallah daddy Rehan dan mommy Billa yang belum hendak beristirahat, dan kemudian mereka berdua ikut bergabung bersama geng nya di halaman belakang.. di gasebo, tempat favorit mereka.
Di dalam gasebo tersebut ternyata sangat ramai, hingga sebagian duduk di anak tangga, dan ada juga yang duduk di bangku kayu yang sengaja di dekatkan.
Ada opa Alvian, papi Vincent, ayah Yusuf, om Devan, om Alex dan tak ketinggalan om Ilham dan om Rahmat yang juga dipaksa untuk menginap... mereka berkumpul bersama para nyonya, termasuk tante Jihan yang perut nya sudah sangat besar.
"Dik, kamu enggak istirahat aja di dalam? Enggak baik loh angin malam untuk kesehatan kamu yang lagi hamil tua?" Tanya mommy Billa seraya menatap tante Jihan yang duduk di bangku kayu di luar gasebo, sesaat setelah mommy Billa ikut duduk di anak tangga.
"Jihan belum ngantuk mbak, terus di dalam kayak gerah gitu.. pada hal kata ayah AC nya dingin," balas tante Jihan membela diri.
"Emang HPL nya kapan dik?" Tanya tante Lusi, "soal nya aku dulu waktu mau lahiran bawaan nya kepanasan melulu, dan pengin berendam," lanjut nya mengingat saat hamil putri kembar nya, Laila dan Laili.
"Masih akhir bulan nanti sih mbak, tapi enggak tahu juga ya.. nih perut kayak nya udah di bawah banget," keluh tante Jihan, yang terlihat tak nyaman dengan duduk nya.
Om Ilham yang duduk di samping sang istri, dengan setia memijat lembut kaki tante Jihan yang nampak sedikit membengkak. "Bunda juga gitu mbak Lusi, kalau di kamar enggak mau pakai baju.. gerah kata nya, maka nya aku pusing."
"Kenapa pusing dik? Ya biarin aja, toh di dalam kamar kan?" Bunda Fatima mengernyit.
"Nah karena di dalam kamar itu kak Fa,, bunda kan gak mau pakai baju tuh, tapi juga gak mau kalau Ilham sentuh.... gimana Ilham enggak pusing coba?!" Protes Ilham dengan blak-blakan, seraya melirik sang istri yang nampak cuek.
Dan jawaban vulgar om Ilham mengundang gelak tawa dari abang-abang nya, termasuk om Rahmat yang malam ini nampak santai berbaur dengan keluarga besar daddy Rehan dan mommy Billa, "ya sabar aja Ham,, latihan puasa, sebelum kamu puasa betulan selama satu bulan setengah," ledek om Alex, yang membuat om Ilham cemberut kesal.
Sedangkan di gasebo yang lain pun tak kalah heboh,,, Tasya yang centil menjadi bahan kejahilan Kevin dan teman-teman nya, termasuk Zaki yang juga ikut heboh mengerjai gadis yang baru beranjak remaja tersebut.
Sedangkan Malik, hanya tersenyum simpul..
"Sya, kalau nanti SMU nya bang Malik ngelanjutin di luar negeri gimana?" Pancing Zaki, yang ingin tahu sejauh mana keberanian gadis kecil itu dalam mengungkapkan perasaan nya pada Malik di hadapan mereka semua.
Sejenak Tasya terdiam, dan menatap sang pangeran tampan pujaan hati. "Kalau bang Malik beneran suka ama Tasya, pasti bang Malik enggak akan pergi jauh dari Tasya," balas Tasya diplomatis, "ya kan bang?" Tanya Tasya pada Malik.
Kembali Malik hanya mengulas senyum, remaja itu memang cukup irit bicara.. tak seperti saudara kembar nya ataupun sang adik, namun Tasya sudah pandai mengartikan senyuman itu.
"Tuh kan, benar feeling Tasya.. bang Malik enggak akan bisa jauh dari Tasya bang Zaki," sorak Tasya dengan riang nya, hingga membuat Zaki dan yang lain nya tertawa melihat kepolosan Tasya. Dan mereka semua merasa terhibur dengan kehadiran gadis centil Itu.
"Dik, udah hampir jam sepuluh.. bocil saat nya tidur," titah Kevin, menatap Malika dan Tasya bergantian.
"Bentar atuh bang Kevin, baru juga jam sepuluh.. lagian kita kan bukan bocil?!" Protes Tasya, "Bang Kevin enggak asyik ih, kayak enggak pernah abege aja," lanjut nya dengan cemberut, yang semakin mengundang gelak tawa.
Salma pun ikut terkekeh mendengar nya,,
"Bang Kevin emang enggak pernah abege dik, langsung dewasa dia... langsung jadi ayah." Imbuh Dion, yang semakin membuat gaduh.
Dan kegaduhan itu terhenti tatkala terdengar keributan di gazebo sebelah, di sana terlihat tante Jihan tengah kesakitan.
to be continue,,,