
Keesokan hari nya, Malik menjemput kakak sepupu nya di apartemen milik bunda Fatima untuk menghadiri acara wisuda Dion. Karena Dion tak bisa menjemput calon istri nya itu, sebab seluruh wisudawan diharapkan untuk hadir lebih awal.
Setiba nya di kampus, nampak papa dan mama nya Dion sudah hadir di sana.,, yang ditemani oleh Devi dan Bayu, beliau berdua sedang menunggu antrian untuk masuk ke dalam auditorium.
Fira segera menghampiri calon mertua nya itu, dan mencium punggung tangan kedua nya dengan takdzim... yang di ikuti oleh Malik.
"Nak Fira, nak Malik,, kalian baru nyampai?" Tanya mama Ami, dengan tersenyum hangat, "bang Dion nya sudah di dalam," lanjut mama nya Dion itu memberitahukan.
Fira mengangguk, "iya ma, tadi bang Dion sudah kasih kabar ke Fira," balas Fira seraya tersenyum sopan.
"Ma, ayo,, giliran kita untuk masuk," ajak papa Hadi, seraya menoleh kearah istri nya yang masih ngobrol dengan Fira.
"Oh, iya pa," balas mama Ami.
"Nak Fira, kami masuk dulu ya,," pamit papa Hadi, seraya menepuk lembut lengan calon menantu nya itu.
Fira mengangguk, "silahkan pa," balas Fira sopan.
"Mama masuk dulu ya nak Fira, mari nak Malik," pamit mama Ami, "Devi, nak Bayu,,, budhe masuk dulu," mama Ami menepuk punggung Devi dan kemudian segera berlalu mengikuti langkah sang suami.
"Kak Fira, kita gabung sama yang lain yuk.. mereka dah nunggu di kafetaria seberang sana," ajak Devi, seraya menggandeng pergelangan tangan Fira.
Fira hanya menurut, mengikuti langkah Devi menuju kafetaria yang di maksud.
Di dalam kafetaria, Kevin bersama Salma, dan Rahman bersama Malika, sudah duduk sambil menikmati sarapan.. kecuali Malika, yang hanya menikmati jus buah dan makanan ringan.
"Kak Fira, dik Malik,, kalian udah sarapan belum?" Tanya Salma, sesaat setelah Fira dan yang lain nya duduk.
"Tadi udah sarapan bubur ayam dik, kakak pesan kopi aja," balas Fira.
"Malik juga udah sarapan di rumah, tahu sendiri kan kak.. mommy kayak gimana? Kami enggak bakal di bolehin berangkat, kalau belum sarapan," timpal Malik seraya tersenyum menatap kakak ipar nya, "Malik pesan kopi aja, samain kayak punya abang," lanjut Malik seraya melirik kopi milik Kevin, yang masih mengepul.
"Dik, sejak kapan kamu suka kopi?" Tanya Fira, menatap Malik dengan mengernyit.
"Sejak gabung di perusahaan e-commers milik abang kak, di sana tiap hari melihat orang-orang asyik menikmati kopi. Ya udah deh, jadi ketularan suka ngopi," balas Malik.
Semenjak setengah tahun yang lalu, selepas SMA.. Malik memutuskan untuk mulai belajar mandiri dan ikut bergabung di perusahaan e-commers milik Kevin. Kebetulan di saat yang sama, Dion juga harus mundur dari sana,, dan jadilah Malik menggantikan posisi Dion, untuk sementara ini.
Fira mengangguk-angguk,,
Kevin kemudian memanggil pelayan kafetaria, dan memesan dua kopi untuk Fira dan Malik.. dan beberapa camilan untuk mereka semua.
"Dev, Bay,, kalian mau pesan apa? Belum sarapan kan?" Tanya Kevin, "muka Bayu keliatan bete banget, kalau lagi kelaparan,,," ledek Kevin seraya terkekeh.
Bayu hanya tersenyum masam,, '
Devi pun kemudian memesan sarapan untuk diri nya dan Bayu, karena kebetulan mereka berdua juga belum sarapan.
"Bayu mana bisa menahan lapar bro? Menahan rindu juga dia gak bisa! Banyak banget ya ternyata, ketidak bisaan lu Bay...?!" Timpal Rahman, ikutan meledek.
"Ck,," Bayu berdecak, "banyak emang yang gue gak bisa," balas Bayu seraya mencebik.
"Enggak kayak lu bro,, yang sukses berat dapetin restu daddy Rey dan mommy Billa dalam waktu sekejap, untuk segera melamar princess Malika," papar Bayu seraya melirik Malika.
"Eh, ini beneran.. Rahman udah bicara sama daddy dan mommy?" Tanya Fira seraya menatap Rahman, Bayu dan Kevin bergantian.
Kevin mengangguk, "semalam kak, Rahman ke rumah dan bicara langsung sama daddy dan mommy," balas Kevin.
"Wah, selamat ya,,, moga dik Icha ke depan nya bisa bersikap lebih dewasa," Fira menepuk pelan bahu Malika, yang duduk di samping nya.
"Makasih kak," balas Malika seraya tersenyum malu, karena memang selama ini diri nya selalu bersikap kekanak-kanakan pada Rahman.
Setelah pesanan mereka datang, Suasana menjadi hening. Devi dan Bayu mulai menikmati sarapan nya, sedang kan Malik dan Fira,,, menikmati camilan dan meminum kopi yang di pesan kan oleh Kevin tadi.
"Bang Malik, mulai besok dari berangkat ngampus,, sampai kembali ke rumah, kita akan sama-sama terus bang," ucap Malika, memecah keheningan.
"Ya, karena mulai besok.. Icha juga akan bergabung di perusahaan abang, menggantikan bang Rahman," balas Malika dengan mata berbinar.
"Kamu? Yang biasa nya kalau main ke sana cuma ngerecokin.. dan sekarang mau ikut kerja?! Bukan nya, kamu cuma bisa dandan aja ya Cha?" Ledek Malik.
"Bang Malik... Icha emang suka dandan, dan itu wajar karena Icha perempuan! Tapi Icha juga cerdas, kalau cuma kerja kayak gitu.. Icha yakin pasti bisa!" Seru Malika seraya cemberut.
"Abang,, bang Malik tuh, bukan nya ngedukung malah ngeledekin Icha," adu Malika, seraya menatap abang pertama nya.
"Cih,, ngadu dia? Dasar bocah!" Lagi, Malik menggoda kembaran nya.
"Kenapa sih bang, semakin ke sini bang Malik semakin jahil," protes Malika.
"Aku jahil nya cuma sama kamu aja Cha? Sama yang lain, biasa aja.. masih tetep kalem aku tuh," balas Malik dengan ekspresi wajah yang kembali cool.
Fira tersenyum lebar,, "bener banget dik, kok bisa gitu ya? Apalagi kalau di depan Tasya, jaim banget kamu dik," timpal Fira, seraya menatap Malik.
Dan mereka terus ngobrol dengan diselingi canda dan tawa, hingga tanpa terasa waktu beranjak siang.
Mereka kemudian kembali ke gedung auditorium, tempat di mana wisuda Dion berlangsung.
Fira dan Malika duduk di kursi yang di sediakan oleh panitia bagi keluarga peserta wisuda, Malik ijin menemui teman nya di parkiran.. sedang kan Kevin dan yang lain nya, menuju perpustakaan yang letak nya tak jauh dari auditorium tersebut.
Sepanjang menunggu acara wisuda selesai, Fira banyak menasehati adik sepupu nya itu agar belajar untuk lebih memahami Rahman dengan segala kesibukan nya dan juga mengenai pekerjaan Rahman.
"Rahman bergelut di bisnis yang pasti nya banyak di kelilingi oleh perempuan-perempuan cantik dan juga seksi, sama seperti bang Dion. Sama juga kayak daddy, ayah dan om-om kita yang lain... dan tugas kita sebagai pendamping adalah memberi support, serta membuat pasangan kita merasa tenang menjalani pekerjaan nya di luar sana," Fira menatap Malika.
"Keruwetan mereka bekerja di luar, jangan di tambah dengan membebani mereka dengan kecurigaan atau kecemburuan yang tak beralasan. Kalau memang sekira nya ada masalah yang mengganjal, bisa dibicarakan baik-baik.. dan harus nunggu sampai situasi nya kondusif," lanjut Fira.
Malika mengangguk, "ya kak, makasih nasehat nya," ucap Malika, seraya menggenggam tangan kakak sepupu nya. "Icha bahagia banget, karena di kelilingi oleh keluarga yang selalu mendukung Icha," lanjut nya penuh rasa haru.
"Wah, gadis-gadis cantik lagi ngobrolin apa nih? Serius banget kayak nya?" Ucap Rahman yang tau-tau sudah berdiri di belakang kedua nya, dan membuat Malika dan Fira terkejut.
"Abang,, ngegetin aja," rajuk Malika, seraya mendongak menatap Rahman.
Rahman tersenyum, "yuk, udah mau selesai. Kita tunggu di mobil aja, habis ini kita ke galeri yang udah di booking Dion," ajak Rahman.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju mobil yang terparkir agak jauh dari gedung tersebut.
Setelah sepuluh menit menunggu, Dion memberi kabar untuk bertemu langsung di galeri karena tempat parkir mobil mereka berbeda.
Fira ikut rombongan Kevin menuju galeri, sedangkan Bayu dan Devi ikut rombongan Dion dan papa mama nya.
Sementara Malik ijin tidak bisa ikut, sebab sudah janji mau menjemput Tasya.
Rombongan Kevin sampai terlebih dahulu di galeri, sebab tadi Kevin memarkir mobil nya agak jauh dari gedung. Selang lima menit, barulah mobil Dion yang dikendarai Bayu terlihat memasuki halaman galeri tersebut.
Fira yang sudah menunggu di teras galeri, menyambut kedatangan Dion dengan senyuman termanis nya. "Congrats ya bang Dion,, moga kesuksesan selalu mengiringi langkah abang," bisik Fira, seraya menyalami tangan Dion.
Dion mencium punggung tangan wanita nya itu dengan penuh perasaan, "barometer kesuksesan ku adalah diri mu neng Fira, jika kamu bahagia.. itu arti nya aku adalah pria yang paling sukses di muka bumi ini," balas Dion seraya menatap dalam netra indah Fira.
"Gombal,,," sahut Bayu, yang disambut tawa oleh yang lain.
Mereka semua kemudian menuju halaman belakang, untuk sesi pemotretan sebagai kenang-kenangan.
Melihat Dion berpose berdua sama Fira dengan sangat mesra, Bayu pun angkat bicara. "Bro, sekalian foto prewed aja pakai toga," saran Bayu, yang mendapatkan toyoran dari Rahman.
Dion hanya mencebik,,
"Yang bener aja, foto prewed pakai toga. Enggak sekalian aja, suruh Dion pakai sarung sama baju koko.. lengkap dengan peci hitam? Cocok banget tuh, untuk photo booth khitan massal," Rahman terkekeh sendiri membayangkan Dion memakai busana muslim untuk photo booth nya.
"Ck,,, kalian ini, sama aja," gerutu Dion, sedangkan papa Hadi dan mama Ami tersenyum menyaksikan kekonyolan teman-teman Dion.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...