All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Icha Hanya Butuh Abang



Setelah mendiskusikan nya dengan daddy Rehan dan juga Kevin, serta melalui berbagai macam pertimbangan.. akhir nya mommy Billa pun merestui Rahman, untuk menikahi putri nya dalam waktu seminggu ke depan.


Dan kedua belah pihak keluarga sepakat, akan menggelar acara resepsi pernikahan Rahman dan Malika bersamaan dengan resepsi Dion dan Fira yang di Jakarta seperti yang sudah terlebih dahulu direncanakan.. karena resepsi pernikahan Dion dan Fira diadakan di dua negara, salah satu nya di gelar di hotel milik ayah Yusuf di Singapura.


Rahman nampak lega, begitupun Malika yang tersenyum bahagia.


"Lu yakin mau nikah secepat ini? Lu enggak takut, bakalan enggak punya waktu untuk menyelesaikan tugas akhir tepat waktu?" Tanya Bayu seraya menatap Rahman, tatkala kedua keluarga besar tersebut masih ngobrol dengan hangat.


"Maksud lu? Enggak punya waktu bagaimana?" Tanya Rahman tak mengerti.


"Ya,, Icha bakalan enggak ngebolehin lu keluar kamar pasti nya, kalau udah ngerasain enak nya.. walau hanya sedetik. Percaya sama gue?!" Bayu tersenyum seringai.


Dion yang mendengar celotehan Bayu pun tersenyum, "ada-ada aja lu Bay,," ucap Dion seraya geleng-geleng kepala.


"Ck,," Rahman berdecak kesal, "emang nya lu?! Pulang dari bulan madu, langsung enggak keluar seminggu??" Cibir Rahman.


"Itu karena kalian yang udah ngejahilin gue sama yayang?! Orang lagi bulan madu malah pada nginthilin!" Sungut Bayu, yang ternyata masih merasa kesal.


Rahman dan Dion terkekeh pelan.


"Lu mau bulan madu kemana?" Tanya Dion.


Rahman menggeleng, "belum kepikiran, fokus nyelesaiin kuliah dulu sama kerjaan," balas Rahman.


"Emang nya, Icha enggak nuntut?!" Tanya Bayu, mengernyit.


"Kami udah membahas nya kemarin,, dan Icha bisa ngerti kok," balas Rahman.


Di saat mereka bertiga masih asyik ngobrol, mommy Billa mempersilahkan tamu istimewa nya itu untuk menikmati hidangan makan malam yang sudah disiapkan meski dengan dadakan.


"Mari, silahkan pak, bu..", nenek Lin ikut mempersilahkan calon besan mommy Billa, dan menuntun mama nya Dion untuk menuju meja makan.


"Ayo, anak-anak sekalian di ajak semua bang.. biar pada kenal sama keluarga nya bang Rahman," titah daddy Rehan, pada Kevin dan juga om Ilham.


Dan semua nya pun berkumpul di meja makan yang di tata berbentuk oval, termasuk Vinsa yang duduk di samping eyang kakung nya, dan Jelita yang selalu nempel pada ayah nya.


Setelah para orang tua mengambil makanan, kini giliran anak-anak yang dilayani oleh orang tua masing-masing. Sedangkan Vinsa, diambilkan oleh eyang putri nya. "Vinsa mau lauk apa sayang?" Tanya mommy Billa, penuh perhatian.


"Mau sama ayam kremes itu eyang," balas Vinsa dengan gaya nya yang lucu, seraya menunjuk ayam yang dia inginkan.


Salma dan Kevin hanya tersenyum, melihat putri nya yang sangat dekat dengan kedua eyang nya tersebut.


Sedangkan om Ilham dibuat bingung dengan putri bungsu nya, yang menolak semua makanan yang ditawarkan. Bunda Jihan hanya tersenyum melihat nya, dan tak hendak mengambil alih peran untuk membujuk sang putri.


Semua mulai menikmati makan malam dengan tenang, kecuali om Ilham yang masih mencoba membujuk putri bungsu nya.


"Adik Jelita cantik mau nya apa? Semua enggak mau, ayah bingung nak?" Tanya om Ilham, seraya menatap putri nya yang mulai cemberut.


"Adik mau hasi hoyeng ayah,,, henapa ayah gak ngelti sih?" Rajuk Jelita yang masih cadel bicara nya, bukan hanya di pelafalan huruf R.. namun sebagian awalan konsonan diganti huruf H.


Ilham menepuk jidat nya sendiri,, "budhe enggak masak nasi goreng nak, maem yang ada dulu ya? Nanti kita maem lagi, dan minta budhe bikinin nasi goreng spesial," bujuk om Ilham.


"Enggak ada, enggak ada.. enak aja nyuruh-nyuruh istri orang," protes daddy Rehan, "Dikiranya di sini restoran," lanjut nya, sambil menyendok kembali makanan dari piring nya.


Geng tampan yang sudah paham dengan gaya becanda nya daddy Rehan, pun tersenyum. Sedangkan keluarga Rahman, mengernyit.


"Jangan kaget pak Adam, begitulah bang Rehan kalau sedang kumpul bareng keluarga. Kami semua memang senang bercanda," terang om Alex, seraya tersenyum.


Om Rahmat dan tante Saskia pun ikut tersenyum, mereka berdua juga sudah hafal di luar kepala karakter daddy Rehan dan geng tampan,, termasuk om Ilham yang suka jahil.


Sedangkan kakek Ilyas dan nenek Lin, tetap melanjutkan makan nya dan tidak merasa terganggu dengan keributan kecil yang sudah biasa itu. Sesekali nenek Lin mengambilkan tambahan lauk untuk Maida dan Maira yang duduk di sebelah kanan dan kiri nya, dan kali ini kembar bungsu itu tidak mengeluarkan suara nya.


Anak-anak geng tampan yang lain pun nampak tidak terganggu, dan tetap menikmati makan malam dengan lahap. Sesekali mereka saling bercengkrama sambil berbisik dan dengan kode-kode tertentu, karena khawatir mengganggu para orang tua dan tamu dari daddy Rehan.


"Ya elah bang, biar keponakan nya diem ini. Posesif amat sama istri, mbak Billa kan mbak ku??" Balas om Ilham, cemberut.


Daddy Rehan hanya mengedikkan bahu nya, dan melanjutkan makan tanpa merasa terganggu dengan rengekan keponakan bungsu nya. Sesekali daddy Rehan terlihat telaten membantu cucu pertama nya, memotong kan ayam kremes menjadi potongan kecil agar mudah di sendok oleh sang cucu.


Sedangkan Jelita masih saja merajuk, "ndak mau ayah,, adik mau hasi hoyeng nya sekalang?? Huwa...." dan gadis kecil itu pun mulai menangis.


Jihan pun segera bangkit dan mengambil putri nya, "yuk, bikin nasi goreng nya sama bunda," bujuk tante Jihan.


"Ndak mau hama bunda,, adik mau hama ayah,," Jelita semakin meraung.


Om Ilham pun mengalah, dan kemudian pamit undur diri pada keluarga nya Rahman.


"Maaf pak Adam, beginilah kalau keluarga super besar." Ucap opa Alvian, setelah om Ilham berlalu membawa Jelita yang disusul tante Jihan.


Om Adam mengangguk mengerti, "malah menyenangkan yang seperti ini pak Alvian, saya sudah sangat lama tidak merasa kan kehangatan keluarga besar seperti ini," terang papa nya Rahman yang terlihat sendu, mengingat kembali keluarga nya yang di Malaysia.


Mama nya Rahman menepuk lembut paha sang suami, "semoga anak-anak dianugerahi banyak anak, banyak rizqi, agar masa tua kita bisa sehangat dan semeriah ini ya pa," bisik mama nya Rahman di telinga sang suami.


Om Adam mengangguk, "aaminn,,," lirih nya mengaminkan.


Dan mereka melanjutkan makan malam, dengan suasana yang hangat.


Usai makan malam, Rahman meminta ijin pada mommy Billa untuk ngobrol berdua dengan Malika. Karena setelah malam ini, mereka disarankan untuk tidak saling bertemu hingga hari akad nikah tiba.


"Dik, kamu mau mas kawin apa?" Tanya Rahman sambil menggenggam tangan lembut Malika.


"Apa aja deh bang, sebisa nya bang Rahman aja.. dan jangan sampai memberatkan abang," balas Malika penuh pengertian.


"Makasih atas pengertian nya yang sayang,,," lirih Rahman, seraya menatap dalam netra indah milik Malika.


"Barusan abang panggil Icha apa?" Tanya Malika, yang ingin mendengar kembali panggilan sayang dari sang pangeran tampan kepada diri nya.


"Icha sayang,,, kenapa? Apa kamu suka, sayang?"


Malika mengangguk, dan kemudian memeluk Rahman dengan penuh perasaan. "Icha hanya butuh abang, Icha enggak butuh harta dan segala kemewahan. Hanya abang,,," bisik Malika.


Rahman membalas pelukan sang kekasih dengan erat, sebagai isyarat bahwa diri nya akan selalu ada untuk Malika.


Malam yang dingin dengan semilir angin yang menerpa dedaunan di halaman belakang rumah utama, serta bintang-bintang yang bersinar indah menghiasi cakrawala malam.. menjadi saksi bisu, betapa tulus dan suci nya ikatan cinta mereka berdua.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,