
Hari yang di tunggu-tunggu Bayu selama ini pun tiba, perasaan pemuda itu campur aduk tak karuan.. ada senang, haru, cemas karena takut lupa saat ijab qabul nanti.
Rahman yang dengan setia menemani Bayu berpakaian di buat keki, karena sedari tadi Bayu mondar mandir di kamar apartemen nya dengan tidak jelas.
"Bay, gimana sih.. dasi nya belum lu pakai?!" Seru Rahman, ketika Bayu langsung memakai jas nya.
"Hehe,, iya, gue lupa," balas Bayu seraya terkekeh tanpa dosa.
Rahman hanya geleng-geleng kepala, seraya menatap Bayu yang sedang memakai dasi.
"Nanti lu juga bakalan ngerasain apa yang gue rasain sekarang bro.." sindir Bayu, karena merasa tatapan Rahman mengejek nya.
"Enggak akan, karena gue sudah dewasa dan matang saat nikah nanti.. enggak kayak lu yang labil," cibir Rahman.
"Berarti lu juga ngatain Kevin labil dong, dia kan malah yang udah nikah duluan," Bayu tersenyum senang karena merasa ada teman yang sama-sama labil.
"Kalau dia pengecualian,, Kevin kan bisa bersikap dewasa, enggak kayak lu," olok Rahman.
Bayu cemberut, "mentang-mentang dia kakak nya Icha, lantas lu baik-baikin si Kevin," gerutu Bayu.
"Lah, kenyataan nya emang gitu kan?" Balas Rahman, "udah, udah,, cepetan, lu udah di tungguin sama daddy Rey juga di lobi," Rahman segera beranjak, yang diikuti oleh Bayu. Dan mereka segera keluar menuju ruang tamu, dimana keluarga inti Bayu telah menunggu.
Ya, hari ini Bayu berangkat bersama keluarga nya menuju kediaman Devi dari apartemen karena jarak nya lebih dekat daripada berangkat dari rumah orang tua nya.
Kedua orang tua Bayu, kakak serta adik nya yang akan ikut mendampingi Bayu melaksanakan ijab qabul pun sudah berada di apartemen. Sedangkan keluarga Bayu yang lain, akan berangkat nanti dan langsung ke gedung tempat resepsi akan diselenggarakan.
Kevin beserta keluarga kecil nya juga sudah bersiap di apartemen nya, bersama daddy Rehan dan mommy Billa. Karena daddy Rehan diminta oleh orang tua Bayu secara khusus untuk menjadi saksi di pernikahan Bayu dan Devi.
Setelah tiga puluh menit lebih menunggu Bayu bersiap, akhir nya rombongan mempelai laki-laki itu berangkat menuju kediaman Devi dimana ijab qabul akan dilangsungkan.
Rahman yang mengendarai mobil nya, membawa Bayu dan keluarga nya. Sedangkan Kevin dan keluarga kecil nya, beserta daddy Rehan dan mommy Billa memakai satu mobil.
Di kediaman Devi, keluarga besar Devi semua sudah berkumpul. Penghulu nampak baru saja hadir, yang disambut oleh Dion dan papa nya.
Dion menuntun pak penghulu untuk duduk di tempat yang telah disediakan untuk pelaksanaan ijab qabul nanti, "maaf pak, tunggu sepuluh menit lagi ya.. mempelai laki-laki masih dalam perjalanan," bisik Dion pada penghulu, ketika dia mendapat kabar dari Bayu bahwa rombongan nya akan tiba sepuluh menit lagi.
Pak penghulu nampak mengangguk,
Dion kemudian duduk di samping papa dan mama nya, Dion terlihat gagah dan tampan dengan stelan jas semi formal berwarna silver.
Sedangkan di kamar pengantin, Devi nampak sudah selesai di rias. Devi terlihat sangat cantik dan manglingi dengan balutan kebaya modern dengan bawahan kain batik tulis khas solo buatan tangan nenek nya Bayu.
Devi masih duduk di meja rias tatkala mama nya datang sambil membawa segelas air minum, "minum dulu sayang, biar kamu tenang," tutur sang mama, yang melihat kegelisahan putri nya sedari tadi saat mama cantik itu menemani putri nya di rias.
Devi segera menerima gelas tersebut, dan meminum isi nya hingga tandas. "Alhamdulillah,," lirih Devi yang merasa sedikit lega.
Tante Linda, mama nya Devi yang masih terlihat cantik itu menepuk lembut punggung putri nya dan menatap Devi dengan intens. "Sebentar lagi kamu akan menjadi istri sayang, kamu harus ingat dan menjalankan kewajiban kamu sebagai seorang istri terhadap suami dengan baik."
Devi mengangguk,, "ya ma, Devi masih ingat wejangan mama kemarin. Insyaallah Devi akan selalu taat dan menjalankan perintah suami, selagi perintah tersebut sesuai dengan ajaran agama dan menjauhi segala hal yang dilarang Allah SWT."
"Devi juga akan melayani suami, baik lahir maupun batin. Menjaga kehormatan dan nama baik nya, serta tidak mengumbar aib suami yang juga merupakan aib keluarga. Dan Devi juga akan senantiasa meminta ijin a' Bayu, jika akan keluar dari rumah," ucap Devi, mengingat semua petuah mama nya.
"A',,,? Sejak kapan kamu memanggil Bayu Aa' sayang? Biasa nya kan Babay?" Goda sang mama, mencoba mengurai ketegangan sang putri.
Devi tersenyum tersipu malu, "sejak Devi di pingit ma,, tiap telponan Devi manggil a'Bayu dengan panggilan Aa', seperti mama memanggil papa," balas Devi.
"Eh, kamu di pingit tapi masih telponan?" Tanya sang mama terkejut, menatap Devi dengan penuh selidik.
Devi menutup mulut nya, karena keceplosan. "Cuma sekali ma, dan hanya sebentar," kilah Devi berbohong, karena kenyataan nya,,, hampir tiap malam diri nya dan Bayu bukan hanya melakukan panggilan suara, tapi juga panggilan video.
"Dik,, udah siap?" Tanya Dion dan Salma dari balik pintu, "tuh, calon suami lu udah datang," ucap Dion.
Sedangkan Salma langsung masuk kedalam kamar, memeluk Devi dengan erat, "Ish aunty,, kamu cantik sekali,,," puji Salma, yang memanggil Devi aunty untuk mengajari putri nya menghormati orang yang lebih tua.
"Udah dari dulu kali Ma,, kemana aja lu?!" Devi terkekeh pelan.
"Narsis.." cibir Dion dari ambang pintu.
Salma dan tante Linda tersenyum, dan Salma kemudian menyalami mama nya Devi itu dan mencium punggung tangan tante Linda dengan takdzim.
"Buruan dik, jadi nikah enggak?" Suruh Dion, nampak tidak sabar.
"Sabar napa bang," Devi cemberut, "yang mau nikah kan gue, kenapa abang yang enggak sabar?" Gerutu Devi.
"Si Bayu tuh, baru datang wajah nya udah pucet banget.. enggak tega gue liat nya, maka nya buruan biar cepat kelar ijab qabul dan dia bisa bernafas dengan lega," jelas Dion, yang tadi sempat mengejek Bayu ketika calon suami Devi itu baru datang.. dan Dion melihat wajah teman nya itu pucat dengan keringat dingin bercucuran di kening nya.
"Masak sih?" Devi mengernyit, menatap Salma.
Salma mengangguk, "benar aunty, grogi dia,," terang Salma membenarkan ucapan Dion.
"Ya udah, ayo kita keluar," ajak tante Linda mendahului keluar dari kamar bersama Dion, yang disusul oleh Devi dan Salma yang berjalan perlahan bergandengan tangan.
Sesampainya di ruang tamu, semua nya nampak sudah bersiap.. dan Devi di tuntun sang mama, untuk duduk di samping Bayu yang masih terlihat pucat.
"Bagaimana pak, apa bisa segera di mulai?" Pak penghulu menatap pak Gunawan yang duduk di samping nya, yang pagi ini akan menikahkan putri nya sendiri.
Pak Gunawan mengangguk, dan MC yang telah ditunjuk kemudian segera membuka acara.
Serangkaian acara telah berjalan dengan lancar, kini tiba saat nya pak Gunawan menikahkan putri nya dengan pemuda yang dicintai oleh Devi.
Dengan menjabat erat tangan Bayu, pak Gunawan menikahkan putri nya dengan suara nya yang tegas dan berwibawa.
Ananda Bayu Prasetya bin Zainal Abidin, Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Devi Permata dengan maskawin nya berupa seperangkat alat sholat, tunai.
Dan pengantin pria langsung menjawab lantang dengan satu tarikan nafas :
Saya terima nikahnya dan kawinnya Devi Permata binti Gunawan Wicaksono dengan maskawin nya yang tersebut, tunai.
"Sah,," suara sah yang dinyatakan daddy Rehan dan tuan Hadi selaku saksi dari mempelai laki-laki dan mempelai wanita yang dibarengi oleh semua yang hadir, mengiringi air mata haru tante Linda dan bu Diah yang kini resmi menyandang gelar ibu mertua bagi Bayu dan juga Devi.
Bayu langsung berseru dengan penuh kebahagiaan, lenyap sudah semua kecemasan yang bergelayut di wajah nya semenjak dari apartemen dan berganti dengan kegembiraan yang meluap-luap.
"Honey, kita akhirnya menikah,,, perjuangan kita selama ini enggak sia-sia honey, kita bisa terus bersama-sama sekarang dan enggak akan ada lagi satpam yang akan mengganggu kita," Bayu langsung memeluk Devi, yang seketika mendapat teriakan dari Dion dan Rahman.
"Babay...?!"
Bayu tersadar dan segera melepaskan pelukan nya seraya tersenyum kecut, sedangkan Devi tersipu malu.
"Sabar mas Bayu, nanti ada saat nya," canda pak penghulu seraya terkekeh pelan, begitupula dengan daddy Rehan dan papa nya Dion yang duduk berdampingan.
Sedangkan kedua orang tua Bayu dan Devi hanya geleng-geleng kepala, seraya tersenyum tipis.
"Bay,, pernikahan itu bukanlah akhir dari perjuangan, tapi justru awal dari perjuangan lu yang sesungguh nya sebagai seorang laki-laki." Ucap Kevin pelan, yang membuat Bayu mengernyit kan dahi.
"Akan ada banyak hal baru yang dihadapi, tidak hanya yang bikin bahagia tapi juga yang mungkin bisa bikin hati porak-poranda. Dan membangun sebuah rumah tangga, butuh komitmen dan tanggung jawab yang kuat dari masing-masing pasangan." Lanjut Kevin, yang mendapat anggukan setuju dari para orang tua yang duduk di sana.
🌷🌷🌷🌷🌷