
Bayu mengusap kasar keringat dingin yang membasahi kening nya, remaja berkulit sawo matang dan berparas ganteng itu kelihatan sangat gugup.
Kekasih Devi itu menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. Menata hati dan debaran jantung nya yang terdengar tak beraturan, Bayu membetulkan kembali duduk nya dan mencari posisi ternyaman. Menatap sebentar pada Kevin dan tersenyum lebar.
"Om Gunawan, saya mohon maaf sebelum nya.. jika kedatangan saya dan kedua orang tua saya terkesan mendadak. Saya dan Devi sudah lama menjalin hubungan, kami saling mencintai om," ucap Bayu, dengan mencoba bersikap setenang mungkin.
"Selama hampir tiga tahun kami bersama, dan selama itu pula kami selalu menjaga kesucian cinta kami berdua. Kami saling men support dalam pendidikan, kami saling mengingatkan dalam hal kebaikan, dan setahun terakhir kami saling mendukung dalam pekerjaan." Bayu menghentikan sejenak ucapan nya, dan memberanikan diri menatap om Gunawan.
"Saya akan bekerja lebih keras lagi untuk bisa membahagiakan Devi, dengan memenuhi segala kebutuhan nya. Saya tidak berani berjanji om.. karena seringkali janji di ucapkan untuk kemudian di abaikan. Tapi saya akan berusaha sungguh-sungguh, untuk dapat mewujudkan impian indah kami berdua," Bayu melirik Devi, dan tersenyum mesra pada kekasih nya itu.
"Saya sungguh-sungguh mencintai dan menyayangi putri om Gunawan, dengan segenap hati dan jiwa raga saya. Saya Bayu Prasetya, akan menjaga Devi Permata.. seperti saya menjaga nyawa saya sendiri, karena Devi adalah permata hati saya." Ucap Bayu dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakinan, menatap netra elang om Gunawan dengan sepenuh hati dan memohon untuk diberikan kesempatan.
Devi tersenyum dan tertunduk, perasaan nya membuncah bahagia.. dia sama sekali tak menyangka, Bayu akan berani berterus terang dan mengungkapkan semua perasaan nya yang tulus itu di hadapan kedua orang tua mereka.
Sedangkan om Gunawan terdiam, laki-laki paruh baya yang masih terlihat bugar dengan postur tubuh yang tinggi tegap itu seperti kehilangan kata-kata mendengar penuturan remaja yang baru saja lulus sekolah di hadapan nya itu. Ternyata, remaja seusia Bayu dapat bersikap dewasa.. melebihi pemikiran remaja seusia nya, yang biasa nya hanya ingin bersenang-senang semata.
Om Gunawan menarik nafas dalam, dan menghembus nya pelan. Tatapan nya lekat, menghujam kedalam netra Bayu.. seakan hendak mencari kejujuran dari remaja yang ingin mempersunting putri nya.
Untuk sejenak suasana di raung tamu kediaman om Gunawan menjadi hening, masing-masing sibuk dengan pikiran nya sendiri.
"Om Gunawan, ijinkan saya meminang Devi untuk menjadi pendamping hidup saya," pinta Bayu sungguh-sungguh, memecah keheningan. Hingga membuat semua yang hadir menjadi kehilangan kata-kata, dan merasa terharu mendengar keberanian Bayu.
"Nak Bayu, jujur.. om sangat terkesan dengan penuturan mu, dan om juga sangat berterimakasih karena nak Bayu mencintai dan menyayangi Devi sedemikian rupa. Sebagai orang tua, kami sangat tersanjung," ucap om Gunawan, dengan tersenyum hangat kepada Bayu.
"Tapi perlu nak Bayu dan juga Devi ketahui,,," om Gunawan menghentikan sejenak ucapan nya, menatap Bayu dan putri nya bergantian. "Menikah itu tidak hanya cukup bermodal cinta dan sayang, pekerjaan yang mapan ataupun materi yang cukup. Karena dalam berumah tangga juga di butuhkan rasa saling pengertian, dan toleransi yang sangat tinggi dari kedua belah pihak."
"Bersatu nya dua hati, dua pemikiran serta dua sifat dalam satu atap.. pasti akan menimbulkan banyak sekali perbedaan, entah itu besar ataupun kecil. Dan disinilah sikap toleransi yang tinggi sangat di butuhkan bagi pasangan, agar tidak terjadi saling menyalahkan, saling mencari pembenaran diri.. hingga akhir nya menimbulkan perasaan tidak nyaman, dan merasa paling dirugikan."
"Apakah kalian berdua sudah memikirkan hingga sejauh itu?" Om Gunawan kembali menatap Bayu dan Devi.
Devi tertegun, "darimana Bayu belajar bicara seperti itu ya? Dari tadi, apa yang dia sampaikan seperti sudah di susun dan direncanakan dengan matang? Tapi, bagus lah.. papa jadi bisa mempertimbangkan hubungan kami, dan syukur-syukur merestui keinginan kami untuk segera menikah," Devi bermonolog dalam diam.
Om Gunawan dan tante Linda terlihat mengangguk--angguk, sedangkan pak Zainal dan bu Diah nampak tercenung mendengar kesungguhan ucapan putra nya.
Dan di ujung sofa, Kevin yang duduk bersebelahan dengan sang istri.. tersenyum samar menatap daddy nya, yang juga tengah tersenyum kepada nya.
"Baik nak Bayu, om sudah melihat kesungguhan mu.. dan selanjut nya, om ingin tahu dulu bagaimana dengan Devi." Ucap om Gunawan, masih mengulur waktu.
Bayu mengangguk, "silahkan om," balas Bayu, dengan tenang. Remaja ganteng ini sangat yakin, bahwa kekasih nya juga akan jujur mengatakan perasaan nya di hadapan kedua orang tua mereka.
"Devi,, sebelum papa memutuskan, papa ingin mendengar secara langsung bagaimana perasaan mu terhadap nak Bayu?" Om Gunawan menatap putri nya, dengan intens.
Devi mengangkat wajah nya, dan membalas tatapan ayah nya. Untuk sesaat netra kedua nya saling bertaut.. Devi seakan memohon pada ayah nya, agar merestui Bayu dan diri nya untuk menikah.
"Iya pa, Devi juga mencintai dan menyayangi Bayu. Devi akan belajar lebih banyak lagi, untuk membuang ego dan belajar bersikap toleran pada pasangan Devi nanti nya." Balas Devi diplomatis.
"Pa,, pa,, Ma,, ma,," Ucap Devi dengan terbata menatap kedua orang tua nya, dan sejenak terdiam. Remaja cantik berkulit kuning bersih itu menyusut bulir bening yang jatuh di sudut mata nya, Devi menarik nafas dalam dan menghembus nya kasar, "ijinkan Devi menikah dan berbahagia dengan laki-laki yang Devi sayangi, pa,, ma,," pinta nya sungguh-sungguh.
Tante Linda langsung terisak mendengar permintaan putri nya, antara sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Sedih, mengingat putri nya masih sangat belia dan jalan nya masih sangat panjang untuk mengarungi bahtera rumah tangga yang jalan nya berliku. Bahagia, karena putri nya telah menemukan seseorang yang tepat.. yang mencintai dan menyayangi Devi dengan tulus, seperti Bayu.
Sedangkan om Gunawan terlihat berkali-kali menghembus kasar nafas nya, beliau merasa benar-benar dilema. Di satu sisi, beliau masih ingin bersama-sama dengan putri nya yang bagi om Gunawan Devi adalah putri kecil nya.. dan di sisi yang lain, beliau pun tidak mau egois dengan menghalangi niat baik dan kesungguhan Bayu. Apalagi sang putri juga memiliki perasaan yang sama terhadap Bayu, dan Devi pun telah siap untuk dipinang laki-laki pujaan hati nya itu.
"Nak Bayu, sebagai orang tua yang pasti nya menginginkan kebahagian untuk putri nya,, mendengar penuturan kalian berdua, kami hanya bisa merestui keinginan kalian." Om Gunawan menatap Bayu dan tersenyum lebar, "kami terima pinangan nak Bayu kepada Devi, tapi..." kembali om Gunawan menjeda ucapan nya.
to be continue,,,
😊😊🙏🙏