All About KEVIN

All About KEVIN
TMI : Appetizer,,,



Setelah menyematkan cincin pernikahan di jari manis sang istri, Fira kemudian mencium punggung tangan sang suami dengan penuh ketakdziman.


Cium tangan yang bermakna memberi rasa hormat pada suami, istri menghormati dan menghargai suami sebagai kepala keluarga.


Dion kemudian mencium kening sang istri dengan begitu dalam, sebagai wujud cinta dan kasih sayang nya kepada Fira.


Ciuman di kening adalah cara menunjukkan, kalau suami akan terus memberi kasih sayang kepada istri nya.


Dion menyudahi ciuman nya dengan membisikkan kata-kata manis, yang akan diingat oleh Fira sepanjang hidup nya. "I love you my wife... and I am the luckiest husband in this world, for having you, my heavenly angel..." Dion kemudian mencuri ciuman sekilas di pipi Fira, ya hanya di pipi. Karena Dion tak ingin membangun kan macan yang sedang tertidur, jika dia berani mencuri ciuman di bibir ranum istri nya.


Wajah Fira merona merah, dada nya bergemuruh mendengar kata-kata Dion yang sangat romantis menurut nya tersebut. Dan ciuman Dion yang sekilas, mampu melambung kan hati Fira hingga ke langit-langit hotel berbintang yang dipenuhi oleh lampu kristal yang sangat indah.


"Kalau mau nyium yang lain, nanti saja bang Dion,," celetuk om Ilham, yang duduk di deretan keluarga Fira. Yang di sambut tawa oleh semua yang hadir dan melihat aksi Dion tadi.


"Bang Dion kayak nya udah enggak sabar deh om, ingin tahu bagaimana rasa nya belah buah cerry," sahut Bayu, yang duduk di deretan keluarga mempelai laki-laki.


"Kok buah cerry? Kecil amat?" Protes Rahman.


"Ya kan, kalau durian itu udah umum bro.. kalau mau yang lebih besar, tinggal ganti aja sama buah kesemek," balas Bayu asal, hingga membuat yang mendengar geleng-geleng kepala.


Dion hanya tersenyum mendengar celotehan om Ilham dan teman-teman baik nya itu, sedangkan Fira tertunduk malu.


"Ayo, pengantin nya sekarang sungkem dulu," titah sang MUA, yang sedari tadi berada di belakang keluarga mempelai wanita.


Dion dan Fira kemudian sungkem kepada orang tua Dion, dan dilanjutkan dengan sungkem kepada ayah Yusuf dan bunda Fatima.


Ayah Yusuf tak kuasa menahan haru, bulir bening pun jatuh membasahi pipi nya. Ayah Yusuf memeluk Dion, tatkala menantu nya itu mencium punggung tangan nya. "Ayah titip kan Fira sama kamu Dion, sayangi Fira seperti ayah menyayangi nya, bahagiakan dia karena dia adalah permata ayah," pesan ayah Yusuf kepada Dion.


"InsyaAllah ayah,,, Dion menyayangi putri ayah dengan sepenuh hati Dion, dan Dion akan terus membahagiakan neng Fira hingga hembusan nafas terakhir Dion," balas Dion, dengan sungguh-sungguh.


Bunda Fatima, yang tengah memeluk putri nya pun berpesan, "jadilah istri yang bisa menyenangkan hati suami kak Fira,,, lepas dan sambut suami dari bekerja dengan senyuman, penuhi semua yang suami butuh kan. Layani suami dengan ikhlas dan penuh keridhoan, InsyaAllah.. Allah meridhoi pernikahan kalian, dan kalian akan bisa terus bersama-sama hingga ke syurga Nya kelak," bunda Fatima kemudian mencium pipi putri nya, dengan penuh kasih.


Sedangkan ayah Yusuf yang mendapat giliran di salami oleh putri nya, tak dapat berkata-kata. Ayah tampan itu hanya memandangi putri nya dengan perasaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Putri kecil nya kini telah dewasa, dan mulai saat ini tanggung jawabnya kepada Fira telah di ambil alih oleh laki-laki lain. Laki-laki yang diharapkan bisa menjaga, melindungi dan membahagiakan permata nya.


"Fira sayang sama ayah," lirih Fira, sambil memeluk ayah nya.


Semua yang menyaksikan, ikut terharu dan menitikkan air mata.


"Sudah bro.. ini hari bahagia putri mu, jangan lama-lama nangis nya," opa Alvian, menyudahi haru biru itu.


"Singa Asia, cengeng juga ternyata," celetuk om Devan, yang disambut tawa oleh semua yang hadir.


Ya, siapa yang tak mengenal sepak terjang ayah Yusuf dalam dunia bisnis. Bukan hanya di tanah kelahiran nya sendiri, di Brunei Darussalam.. di tanah kelahiran sang istri, ayah Yusuf juga mengembangkan usaha nya. Dan yang paling pesat kemajuan bisnis nya adalah di negara tempat dia tinggal saat ini, Singapura. Bahkan bisnis nya, kini telah merambah ke benua Eropa.


"Anak gadis lu kan masih kecil bro, nanti lu juga bakalan tahu bagaimana rasa nya?" Bela daddy Rehan, yang memang sudah pernah menikahkan putri nya. Perasaan bahagia, sedih, seperti kehilangan, tapi juga sekaligus bangga.. bercampur menjadi satu.


Om Devan mengangguk-angguk, begitupun dengan om Alex yang juga memiliki anak perempuan. Sedangkan opa Alvian yang tak memiliki anak perempuan, hanya terdiam.


Ayah Yusuf melerai pelukan putri nya, dan kemudian mencium kening sang putri cukup lama.. sebelum akhirnya merelakan putri nya, untuk kembali di samping Dion.


Dan Dion serta Fira selanjutnya menyalami semua keluarga besar nya, termasuk teman-teman dekat Dion yang sudah menjadi bagian dari keluarga besar tersebut. Kevin dan sang istri, Bayu dan sang istri, serta Rahman yang mendahului nya dengan menikahi Malika.


Selanjutnya semua yang hadir di persilahkan untuk menuju tempat jamuan makan siang, yang masih berada di dalam ballroom tersebut.


Di saat seluruh anggota keluarga tengah menikmati santap makan siang mereka, Dion menggandeng tangan sang istri dan mengajak nya untuk menjauh dari keluarga nya tersebut.


"Kita mau kemana bang?" Tanya Fira.


"Kemana saja, yang penting tempat nya sepi. Bisa tunjukkan dimana tempat yang sepi? Ini kan hotel milik keluarga mu neng, kamu pasti tahu kan?" Dion mengerling pada sang istri.


"Ngapain nyari tempat sepi?" Fira mengernyit kan kening nya.


"Abang mau makan neng,,, makan kamu," lirih Dion di telinga Fira, hingga membuat bulu-bulu di sekujur tubuh Fira meremang.


"Fira tahu tempat nya," balas Fira, dan kemudian mengajak Dion menuju lift.


"Dimana?" Tanya Dion, saat mereka berdua sudah berada di dalam lift.


Fira hanya mengedip kan sebelah mata nya, tanpa menjawab pertanyaan sang suami. Dion yang geregetan dengan sikap Fira, langsung menarik tubuh ramping itu kedalam dekapan nya.


"Aw..." jerit Fira tertahan, karena terkejut tiba-tiba ditarik oleh sang suami. Sesaat pandangan mereka bertemu, perlahan namun pasti Dion mendekatkan wajah nya.. dekat dan semakin dekat, dan ketika wajah kedua nya hampir menyatu, kotak besi yang membawa mereka berdua telah berhenti di lantai yang diinginkan Fira.


Fira langsung mengajak sang suami keluar dari lift, begitu pintu nya terbuka. Dion hanya mengikuti langkah sang istri, tanpa bertanya lagi.


"Kita sudah sampai," ucap Fira, seraya membuka pintu kamar nya yang tak terkunci. Fira sempat terkejut tatkala mendapati kamar nya kini telah berubah, tak seperti tadi saat diri nya di rias.


Rupa nya sang bunda telah menyuruh tim dekorasi untuk menyulap kamar nya, menjadi kamar pengantin. Fira menyunggingkan senyum bahagia, "makasih bunda, makasih ayah," gumam nya dalam hati.


"Our bridal room?" Tanya Dion, yang terkesima melihat kamar pengantin nya.


Fira mengangguk,


"Cantik," ucap Dion, "tapi masih kalah cantik dengan istri ku," lanjut nya seraya menjatuhkan diri di ranjang pengantin tersebut, dan menarik Fira hingga jatuh tepat di atas tubuh nya.


Fira yang sama sekali tak siap, di buat salah tingkah. Pipi putih itu semakin merona merah, dan bibir ranum Fira bergetar karena saking grogi nya.


Fira memang sudah biasa berdekatan dengan Dion, tapi hanya sebatas dekat dan tak sampai saling menempel.. tapi kini, tubuh nya bahkan telah menempel sempurna di atas tubuh sang suami.


Dion tersenyum menatap sang istri, "enak nya langsung makan, atau appetizer dulu neng?" Tanya Dion.


Fira mengernyit, tak mengerti arah pembicaraan Dion. Posisi mereka sekarang seperti ini, tapi mengapa sang suami malah membicarakan makanan? Tapi sedetik kemudian Fira tersadar, "appetizer dulu ya bang, Fira takut.. nanti pas resepsi gak bisa jalan," balas Fira malu-malu.


Dion terkekeh pelan, "kalau istri ku yang cantik ini sampai enggak bisa jalan, abang siap untuk menggendong mu," ucap Dion, sambil mencubit mesra dagu lancip Fira.


"Enggak ah,,, Fira malu bang, kalau sampai ketahuan jalan nya jadi jelek gara-gara itu,," rajuk Fira, yang enggan untuk melakukan nya sekarang.


"Gara-gara itu apa neng?" Goda Dion, yang semakin gemas melihat istri nya yang malu-malu.


"Pokoknya Fira enggak mau sek,,," dan Fira tak lagi dapat melanjutkan kata-kata nya, sebab kini bibir sang suami telah menguasai bibir nya.


Dion melakukan nya dengan penuh perasaan dan kelembutan, memberikan Fira rasa nyaman,,, perlakuan Dion yang manis, membuat Fira merasa disayangi dan dicintai. Dan dengan permainan lidah nya, Dion berhasil membawa Fira melambung tinggi di awang-awang dan menggapai bintang-bintang di angkasa raya.


🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,


Ini baru appetizer ya gaes... main menu nya, skip apa skip nih?? 😁😁