All About KEVIN

All About KEVIN
Syarat dari Salma



"Maaf Kevin,, apa yang aku ucap kan semalam memang benar ada nya, bahwa aku pun menyukai mu. Dan seperti hal nya kamu, aku pun tak tahu sejak kapan rasa itu bersemayam di hati ku." Sejenak Salma menghentikan ucapan nya, dan menatap Kevin.


Semua yang hadir, pandangan nya tertuju pada gadis cantik berkulit putih itu... meski pun malam ini Salma memakai pakaian yang sederhana, namun itu tak mengurangi kecantikan alami yang terpancar dari dalam diri nya.


"Tapi aku rasa ini terlalu cepat, Kevin... kamu masih sangat muda, dan bisa saja saat nanti kamu kuliah dan bertemu dengan gadis lain, perasaan mu akan bisa berubah terhadap ku bukan?" Lanjut Salma bertanya.


"Bisa jadi,, perasaan kita saat ini hanyalah rasa nyaman karena sering nya kebersamaan kita, dan bukan nya cinta sejati," ucap Salma kembali memberi alasan.


Sejenak hening menyapa ruang keluarga kediaman sederhana pak Sulaiman, semua saling pandang.. penasaran dengan kelanjutan pembicaraan kedua remaja yang tengah bersitatap dan berbicara melalui mata.


"Apa kamu meragukan cinta ku Salma? Aku bahkan berani menikahi mu malam ini juga, jika kamu bersedia?" Tanya Kevin menatap dalam manik hitam nan bulat milik Salma.


Salma menggeleng,, "entahlah Kevin,, aku hanya tidak siap jika harus tersakiti," balas Salma nampak khawatir, dia tahu betul Kevin di kelilingi oleh gadis-gadis cantik. Dan jika nanti Kevin ternyata kuliah di luar negeri, dan kemudian meninggalkan nya... bagaimana dengan hati nya?


Sedangkan Kevin masih menatap nya, dengan memegang kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin dengan batu permata cantik yang di belinya dengan uang hasil tabungan nya sendiri.


"Pak Sulaiman, saya memohon restu dari bapak, untuk menikahi putri bapak malam ini juga," pinta Kevin dengan suara lantang dan jelas, seraya menatap pak Sulaiman dengan penuh kesungguhan.


Pak Sulaiman tertegun, ayah dari Salma itu bingung harus menjawab apa?


Sementara keluarga Alamsyah hanya saling pandang, dan diam-diam mengagumi keberanian remaja yang baru genap berusia tujuh belas tahun itu.


Rehan pun hanya diam,,,


Sedangkan Salma terlihat kebingungan, dia tak menyangka.. teman sekolah yang diam-diam dia sukai itu, akan begitu nekat seperti ini demi untuk mendapat kan nya yang hanya gadis biasa dan dari keluarga sederhana.


"Ba,, baik lah Kevin, aku,, aku terima pertunangan kita," balas Salma dengan terbata, gadis itu akhirnya menyetujui karena tak ingin urusan nya akan semakin runyam.


Kevin menggeleng.. dan untuk beberapa saat masih terdiam, hingga membuat semua yang hadir semakin penasaran.


"Kenapa Kevin? Tadi kan kamu bilang kamu mencintai ku, dan bermaksud untuk meminang ku? Kenapa sekarang kamu menggeleng... kamu,, apa kamu mempermainkan aku?" Salma mulai menitikkan air mata.


Kevin tersenyum, "tidak Salma, aku memang berubah pikiran tapi sama sekali tidak bermaksud untuk mempermainkan kamu. Aku tidak mau kita hanya bertunangan, tapi aku ingin kita langsung menikah saat ini juga," ucap nya menegaskan, dan dari nada bicara nya tak ingin ada penolakan.


"Pak Sulaiman, tentu bapak tidak ingin kan.. kami terjerumus kedalam lembah dosa, dengan sering berduaan tanpa ikatan yang syah secara hukum agama?" Kevin menatap pak Sulaiman dengan tatapan tegas.


"Dad,, daddy tentu juga tidak mau kan, Kevin bersikap di luar batas pada anak gadis orang yang belum resmi menjadi milik Kevin seutuh nya dalam ikatan pernikahan yang suci?" Kevin menoleh kearah sang daddy.


Salma hanya bisa menunduk, sebenar nya.. apa pun yang akan dilakukan Kevin terhadap nya, dia sangat senang. Hanya saja, dia sempat khawatir tadi bahwa Kevin akan berpaling ketika mengenal banyak gadis di kampus.


Ilham yang sedari tadi mendengar kan negosiasi Kevin dan Salma geleng-geleng kepala. "Tuh bocah dari kecil memang dah pinter membuat orang pusing dengan kata-kata nya." Bisik Ilham pada Alex.


Alex menanggapi nya dengan tersenyum, "itu hasil didikan kamu juga dik,," balas Alex juga berbisik.


Untuk sejenak, hening kembali menyapa ruang keluarga yang tidak terlalu luas itu.


"Bagaimana pak, dad,, apa kami direstui untuk menikah sekarang?" Tanya Kevin, menatap pak Sulaiman, Salma dan daddy nya bergantian.


Pak Sulaiman hanya bisa menatap Rehan dengan pasrah.


Sedangkan daddy tampan itu, menatap dalam netra biru putra nya untuk mencari tahu kesungguhan dari ucapan putra pertama nya itu. Rehan sungguh tidak ingin, Kevin mengambil keputusan dengan terburu-buru dan tanpa pemikiran yang matang.


Sadar di tatap seperti itu oleh daddy nya, Kevin bersuara, "Kevin sudah memikirkan nya dengan matang dad, daddy tak perlu meragukan Kevin," ucap Kevin tegas dan membalas tatapan daddy nya.


"Kevin juga sudah dewasa dad, meski usia Kevin baru tujuh belas tahun. Bukan kah kedewasaan seseorang tak bisa dilihat dari seberapa banyak usia nya?"


"Dan tentang pernikahan di usia muda, yang kata nya rentan dengan perpisahan... banyak kita jumpai di luar sana orang yang menikah di usia yang sangat matang, tapi tetap saja mereka berpisah bukan?"


"Bukan tentang faktor usia, perpisahan terjadi dalam rumah tangga,, tapi karena masing-masing tidak mau mengalah dan tidak bisa memahami pasangan nya, dan Kevin telah yakin.. Salma dan Kevin dapat saling memahami satu sama lain, saling menjaga hati dan kepercayaan. Benar begitu kan Salma?" Kevin menatap Salma, meminta persetujuan.


Ya, selama pertemanan mereka berdua.. kedua nya memang telah menunjukkan rasa saling itu, saling menghargai, saling memahami dan saling menjaga.


Salma mengangguk,,,


Dan perkataan Kevin serta anggukan dari Salma.. cukup lah bagi Rehan untuk mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup putra nya ke depan.


Rehan menatap pak Sulaiman, yang juga tengah menatap nya. "Pak Leman,,, saya atas nama wali dari Kevin meminta restu pada pak Leman, untuk Kevin menikahi putri bapak. Apa pak Leman memberi kan restu bapak?" Tanya Rehan dengan suara tegas dan berwibawa.


Nabila menoleh kearah sang suami, dan menyimpan tanya dalam hati.


Pak Sulaiman terkejut, dan benar-benar di buat bingung dengan apa yang dilihat dan di dengar nya.


Pak Sulaiman menatap putri nya, "Salma, kamu memang putri bapak. Tapi untuk urusan pernikahan, karena kamu yang akan menjalani nya.. maka bapak serahkan sepenuh nya, keputusan kepada mu," ucap pak Sulaiman lirih.


Salma menatap bapak dan ibu nya bergantian, dan kemudian menatap Kevin. "Salma punya satu syarat, jika kamu bisa memenuhi nya.. maka, dengan senang hati aku mau menikah dengan mu Kevin," pinta Salma.


"Katakan Salma, apa syarat nya?" Tanya Kevin dengan tidak sabar, ingin segera tahu syarat dari Salma.


"Ini hal pribadi, aku akan tulis saja dan mengirimkan nya melalui chat." Salma mengambil ponsel jadul nya dari dalam saku, mengetikkan sesuatu dan kemudian mengirim kan nya ke nomor Kevin.


Kevin pun mengambil ponsel nya, dan menunggu dengan gelisah pesan masuk dari Salma.


Sedangkan semua yang hadir, nampak menahan nafas.. dan penasaran dengan kelanjutan hubungan mereka berdua.


to be continue,,,