All About KEVIN

All About KEVIN
Kena Batu nya Kan?



Hari terus berganti, dan minggu pun berlalu. Tak terasa, kandungan Salma sudah mencapai usia empat bulan. Dan selama itu pula, istri cantik Kevin itu tak mengalami hal yang menyulitkan bagi nya. Bahkan kehamilan tersebut, dijalani dengan sangat menyenangkan oleh pasangan muda yang senantiasa terlihat romantis itu.


Dan hari ini, di kediaman keluarga Alamsyah diadakan acara selamatan empat bulan kehamilan menantu pertama mereka.


Sejak kemarin, Kevin dan Salma sudah diminta oleh sang mommy untuk menginap di rumah utama tersebut. Dan hari ini, semua keluarga besar Alamsyah dan keluarga besar Antonio berkumpul di rumah utama.


Opa Sultan, oma Sekar, dan keluarga bunda Fatima juga sudah hadir sejak kemarin malam.


Papi Vincent dan keluarga kecil nya, beserta oma Carla yang masih terlihat cantik di usia senja nya juga sudah hadir.


Pak Sulaiman, istri dan adik nya Salma.. juga sudah berada di sana sejak pagi-pagi tadi.


Begitu pula dengan teman-teman dekat Kevin dan Salma, mereka juga pasti nya hadir untuk ikut mendo'akan si bayi yang masih bersembunyi di dalam perut Salma. Selain bagi Rahman dan Dion yang juga memiliki tujuan lain, yaitu ingin mengobati rasa rindu nya kepada kekasih pujaan hati.


Kehadiran Rahman langsung disambut ceria oleh Malika, dan princess keluarga Alamsyah itu langsung meminta ijin pada sang mommy untuk membawa pangeran tampan nya ngobrol di lantai atas.


"Mommy cantik,, boleh enggak, Icha sama bang Rahman ngobrol di lantai atas?" Pinta Malika seraya mengedip-kedipkan mata nya, yang nampak sangat menggemaskan.


"Ciahhh,,, pakai merayu mommy dan bilang mommy cantik, dari dulu juga mommy tuh yang paling cantik sedunia Cha." Timpal Malik yang kebetulan berada di dekat sang mommy, yang tengah menyiapkan menu untuk makan siang.


Mommy Billa tersenyum mendengar pujian sang putra.


"Kak Icha,, biasa nya bang Rahman kan juga ngobrol di atas sama teman-teman nya. Ya udah, kak Icha ikut gabung saja sama abang dan teman-teman nya itu." Balas mommy Billa dengan Santai.


"Maksud Icha bukan rame-rame mom, tapi,,," sejenak gadis belia itu menghentikan ucapan nya. "Kami ingin ngobrol berdua," bisik nya dengan menunjukkan ekspresi wajah nya yang imut.


Mommy Billa geleng-geleng kepala mendengar permintaan sang putri, "no.. kakak," balas mommy Billa dengan tegas.


Malika mengerucutkan bibir nya mendengar penolakan dari sang mommy, sedangkan Malik tersenyum smirk.


"Mommy benar Cha,,, kalau berdua-duaan itu, suka ada setan yang hadir yang akan menggoda kalian," ucap Malik sok dewasa.


"Hallah,, jangan sok nasehatin kamu! Nanti juga kalau Tasya datang, pasti kalian akan menyelinap pergi dan mencari tempat aman untuk berduaan!" Ketus Malika, masih dengan wajah cemberut.


"Beneran mom, om Rahmat dan keluarga nya di undang?" Tanya Malik dengan mata berbinar.


Mommy Billa mengangguk, membenarkan. "Tapi bang Malik juga enggak boleh ngobrol berduaan dengan Tasya, ingat itu." Tegas mommy Billa memperingatkan sang putra.


Wajah Malik yang tadi nya ceria, langsung berubah murung. "Sukurin,, emang enak. Wekk.." ledek Malika seraya menjulurkan lidah nya.


Dan kedua remaja kembar putra putri daddy Rehan dan mommy Billa itu kemudian saling ledek dan saling kejar-kejaran hingga melewati anggota keluarga mereka yang lain yang tengah duduk di ruang keluarga, bahkan Malika seakan lupa bahwa di sana juga ada pangeran tampan yang memperhatikan nya seraya menggeleng-gelengkan kepala nya.


"Sabar bro,, lu harus siapkan fisik agar kalau neng Icha ngajak main kejar-kejaran kayak tadi, lu sanggup meladeni nya," goda Bayu pada Rahman.


Rahman menanggapi nya dengan tersenyum kecut, "ya, saat ini dia memang masih kekanak-kanakan. Tapi gue yakin, empat tahun lagi dia pasti sudah siap menjadi nyonya Rahman Alvaro," bisik Rahman dalam hati, mencoba membesarkan hati nya.


Tapi remaja kembar itu seakan tak peduli dengan banyak pasang mata yang melihat kearah mereka berdua, mereka malah berlari naik ke atas tangga,,


Bertepatan dengan Maira dan kembaran nya yang baru turun dari lantai atas dengan diiringi pengasuh nya, "abang,, kakak,, udah besal juga, masih aja main kejal-kejalan sepelti anak kecil. Bikin pushing aja kalian ini,,," ucap nya dengan bersedekap seraya geleng-geleng kepala, persis seperti emak-emak yang dibikin pusing melihat tingkah anak-anak nya.


Semua yang mendengar ocehan Maira, di buat tertawa oleh gaya gadis kecil itu.


"Mela,, yuk kita ikutan main kejar-kejaran sama abang dan kakak," ajak Mirza, pada adik kembar nya. Mirza juga baru turun bersama saudara-saudara nya yang lain.


"Udah besal,, udah besal,, bicala aja masih belum benal,," olok Mirza seraya menirukan bicara Maira yang masih cadel.


"Abang,, bang Milza nih, belani nya godain anak kecil," adu Maira pada Kevin.


"Bang Mirza,,," Kevin menatap Mirza seraya menggeleng-gelengkan kepala nya, memberi kode agar Mirza mengalah.


"Eh, tadi bilang nya sudah besal.. sekalang ngadu dan bilang kalau masih kecil?! Dasar bocil.." Mirza kemudian bergegas pergi meninggalkan Maira dan Maida bersama saudara nya yang lain.


Sementara Dion, asyik bercengkrama dengan keluarga ayah Yusuf. Sesekali, terlihat mereka tertawa bersama. Pemuda itu memang pandai mengambil hati orang tua, hingga ayah Yusuf dan bunda Fatima di buat kagum dengan sosok Dion yang tetap sederhana dan bersahaja.


Fira tak henti mencuri-curi pandang pada tunangan nya itu, "jangan di lihatin terus dik, nanti dia berubah loh," bisik Zaki di telinga adik nya.


Fira mengernyit, "berubah?"


"Iya, berubah jadi baja hitam," ucap Zaki seraya tergelak, dan kemudian segera beranjak menjauh dari sang adik sebelum diri nya terkena cubitan dari Fira.


"Bang Zaki,,, awas abang nanti," seru Fira dengan suara tertahan, dan kemudian segera kembali ke gaya nya semula yang anggun.


Di sudut yang lain, daddy Rehan nampak sedang ngobrol hangat bersama pak Sulaiman, opa Sultan dan juga kakek Ilyas.


Sementara om Ilham juga tengah asyik bercanda dengan sahabat-sahabat nya daddy Rehan, dan ada papi Vincent pula bersama mereka.


"Honey, tolong buatin kopi lagi ya. Dah habis nih," pinta om Devan pada istri nya, saat tante Lusi sedang melintas di depan mereka.


"Iya, bentar," balas tante Lusi singkat, dengan berjalan cepat sambil membawa bungkusan di tangan nya. Oma Susan mengekor di belakang tante Lusi, dengan membawa barang yang sama.


"Dik Ilham ikut aja, nanti kalau kopi nya dah di buat kan sama mbak Lusi.. dik Ilham yang bawa kemari," titah oma Susan.


"Siap tante ku yang cantik," balas Ilham seraya beranjak dan segera menyusul langkah dua wanita cantik itu.


Tak berapa lama, om Ilham telah kembali dengan lima cangkir kopi di atas baki. Dan ternyata daddy Rehan sudah berada di sana, dan menduduki bangku Ilham.


"Ham, kurang satu lagi kopi nya," ucap opa Alvian seraya menunjuk daddy Rehan dengan dagu nya.


"Ah,, dia kan tuan rumah om, enggak perlu dilayani. Biar aja buat sendiri," balas Ilham tanpa dosa, seraya mendudukkan diri nya di bangku yang lain.


"Siapa yang enggak perlu dilayani dik?" Tanya mommy Billa yang baru datang, seraya membawa kan camilan untuk mereka.


"Dik Ilham mom, kata nya dia enggak perlu lagi dilayani sama dik Jihan. Dik Ilham bilang, malas lihat perut istri nya yang buncit," balas daddy Rehan seraya tersenyum seringai, karena ada tante Jihan yang mengekor di belakang mommy Billa.


"Ayah,,,! Keterlaluan kamu ya, bunda buncit kan gara-gara ayah!" Seru tante Jihan seraya memukul-mukul lengan om Ilham.


"Bunda,, bunda,, itu enggak benar bun, bang Rehan cuma bercanda tadi. Iya kan bang?" Om Ilham memelas, meminta bantuan pada daddy Rehan.


"Siapa yang bercanda dik? Tadi jelas-jelas kamu bilang,, enggak perlu di layani kan?" Daddy Rehan kekeuh menyampaikan omongan om Ilham yang memang sama persis, yaitu menekan kan pada kalimat 'enggak perlu dilayani.


Papa-papa yang lain tertawa, mendengar kejahilan daddy Rehan pada adik ipar nya itu.


"Maka nya dik, jangan suka jahil.. kena batu nya kan?" Ucap om Alek, yang kemudian menengahi tante Jihan dan om Ilham.


to be continue,,,