
"Kak Icha,, jangan malam-malam ya tidur nya," titah sang mommy menghampiri anak dan keponakan nya, sepeninggal om Ilham.
"Iya mom,," balas Malika singkat.
Mommy Billa berjalan menuju gasebo di sebelah bersama sang daddy, dan diikuti oleh saudara-saudara nya yang lain. Termasuk bunda Fatima dan juga ayah Yusuf.
Sedangkan opa Sultan, oma Sekar dan oma Carla.. langsung menuju lantai dua rumah utama untuk beristirahat, bersama kakek Ilyas, nenek Lin dan nenek bibi.
"Kak Fira, gimana yang tadi?" Tanya Malika berbisik, nampak nya abege itu penasaran dengan jawaban kakak sepupu nya.
Yang lain pun menatap ke arah Fira, dengan tatapan rasa keingintahuan yang tinggi.
Kecuali Dion, remaja itu nampak gelisah.. menanti jawaban dari bidadari khayangan, yang hanya dalam hitungan jam telah mampu memasuki kedalaman hati nya.
Pesona Fira yang anggun dengan balutan hijab yang menutupi kepala nya, dan senyum menawan yang selalu menghiasi wajah cantik nya.. membuat Dion benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kak,, jawab?" Pinta Kevin, yang juga kepo dengan perasaan Fira terhadap Dion.
"Dik, enggak baik loh bikin penasaran orang,," timpal Zaki, seraya menatap adik nya.
"Apaan sih kalian? Pada enggak sabaran banget?!" Gerutu Fira, dengan cemberut.
Mereka berbicara dengan berbisik, takut ketahuan oleh para orang tua yang duduk tidak jauh dari tempat mereka.
"Jangan di tekan, biarkan kak Fira memikirkan nya dulu dengan matang. Lagian, mereka berdua kan baru bertemu. Mereka butuh waktu untuk saling mengenal dan memahami karakter masing-masing," ucap Salma, mencoba menengahi.
Kevin mengangguk-angguk, "ya, kamu benar baby.. bahkan, kita butuh waktu hampir tiga tahun untuk menyadari perasaan masing-masing," bisik Kevin di telinga sang istri.
Sejenak mereka semua terdiam,,
"Emm,, enggak perlu di jawab sekarang, aku enggak apa-apa kok kalau harus menanti." Ucap Dion memecah kesunyian, dia tidak ingin Fira merasa tertekan dan buru-buru dalam menentukan sikap. "Semoga aja penantian ku nanti, berbuah manis," lanjut Dion penuh harap, seraya menatap Fira dengan tatapan hangat.
Cess,, hati Fira serasa melambung tinggi, ke puncak pegunungan. Dingin dan menyejukkan, begitu lah kata-kata Dion yang terdengar di telinga nya. "Aku suka dengan sikap mu yang penuh pengertian itu Dion," gumam Fira dalam hati.
Fira mengangguk, "aku akan memikirkan nya," balas Fira kemudian, seraya tersenyum manis. Dia hanya ingin mengulur waktu, dan biar tidak terkesan bahwa diri nya dapat dengan mudah di dapat kan oleh Dion. Dan benar apa kata Salma, diri nya dan Dion butuh waktu untuk saling mengenal,,, dan Fira juga ingin tahu, sejauh mana Dion berusaha untuk mendapatkan diri nya.
Mendengar jawaban sang adik, Zaki mengangguk-angguk. Dia tahu bahwa sebenar nya Fira juga tertarik pada Dion, namun dia juga setuju dengan keputusan adik nya.. untuk mengulur waktu dan untuk membuktikan keseriusan perasaan Dion, apakah itu hanya kekaguman sesaat atau benar rasa yang datang dari hati.
Sedangkan Rahman nampak berbisik, "jangan menyerah bro,, gue bisa lihat, ada binar bahagia di mata kak Fira kala menatap lu."
Dion hanya tersenyum, dan dalam hati bergumam, "semoga saja itu benar."
"Kak, udah malam,," kembali mommy Billa mengingatkan.
"Iya mommy sayang,," jawab Malika dengan cemberut, dia masih ingin berlama-lama bersama pangeran tampan nya meskipun harus beramai-ramai.. karena tidak mungkin bagi nya bisa berduaan saja dengan Rahman, karena pasti nya semua keluarga nya akan langsung melarang. Dan Rahman,, kekasih pujaan hati nya itu, pasti juga akan mencari seribu alasan untuk menolak nya.
"Udah dik Icha istirahat dulu sana, besok kan kita masih bisa ngobrol," bujuk Rahman dengan lembut.
Malika mengangguk, dan tersenyum manis. "Baik bang, Icha ke atas dulu ya.. selamat malam," lirih nya, dan segera beranjak.
"Dik, tunggu.. kita barengan, kakak juga mau istirahat," cegah Fira, seraya turut beranjak.
Dion mengangguk dan membalas dengan tersenyum hangat, "semoga mimpi indah neng Fira," lirih nya, saat Fira melintas di depan nya.
Fira menoleh sebentar dan mengangguk, kemudian segera turun dari gasebo dan segera berlalu meninggalkan Dion dan yang lain nya bersama Malika.
"Gue juga mau istirahat, capek banget.. tadi pulang dari kampus langsung di ajak berangkat ke sini sama bunda, kata nya kangen ngumpul sama geng nya daddy Rey," pamit Zaki, sedikit mengeluh karena bunda Fatima memaksa nya untuk ikut berangkat bersama. Padahal rencana nya, Zaki akan menyusul begitu tugas kuliah nya telah selesai.
"Tapi ada untung nya juga sih, gue ikut berangkat tadi. Gue jadi bisa bertemu dan kenal sama lu Dion, semangat yah,, moga sukses," lanjut Zaki, menyemangati Dion dalam membuktikan kepada Fira tentang kesungguhan nya.
Zaki beranjak dari tempat duduk nya, dan segera turun dari gasebo.
"Yuk, kita juga harus istirahat baby," ajak Kevin pada istri nya, dan mengabaikan Rahman serta Dion.
"Eh, kok kami malah ditinggalin," protes Rahman, saat Kevin dan Salma sudah turun dari gasebo.
Mereka berdua pun akhir nya ikut turun, dan hendak menuju tempat mereka beristirahat di paviliun nenek bibi.
Melihat anak-anak muda itu akan membubarkan diri, om Ilham segera mencegah nya, "eit,, mau pada kemana?" Tanya om Ilham.
Zaki yang juga masih berada di sana menjawab, "Zaki mau istirahat dulu om, di atas."
"Dih, jam segini udah mau tidur,,, kayak anak perawan aja lu bang," ledek om Ilham, seraya mendekat dengan membawa beberapa cangkir kopi di atas nampan dan kemudian meletakkan nya di dalam gasebo.
Di belakang om Ilham, tante Jihan mengekor dengan membawa camilan ringan dalam toples dan sepiring pisang goreng crispy yang masih nampak panas.
Zaki menggaruk kepala nya yang tidak gatal, jika om Ilham sudah berkata demikian apalagi sambil membawa kopi.. bisa dipastikan, om nya itu akan mengajak mereka semua untuk begadang.
"Abang dan kak Salma juga mau istirahat? Belum cukup yang tadi siang di apartemen?" Kembali mulut bocor om Ilham, meledek keponakan nya itu. Om Ilham kemudian naik ke atas gasebo, yang di susul oleh tante Jihan.
Kevin menaikkan kedua alis nya, "om kayak gak pernah muda aja," balas Kevin seraya tersenyum seringai, dia juga memegang kartu as om Ilham. Selama ini Kevin selalu diam jika di godain, tapi bukan berarti dia tidak dapat menggoda balik. Hanya saja, dia masih menghormati om Ilham sebagai adik dari mommy nya.
Melihat sikap santai Kevin, om Ilham mengernyit,,, "biasa nya tuh bocah kalau di godain suka tersipu malu, tapi kenapa sekarang terlihat santai begitu?" Lirih om Ilham, yang dapat di dengar oleh istri nya.
"Udah kebal kali,, gara-gara sering ayah godain," balas tante Jihan, sambil mencomot satu buah pisang goreng dari atas piring.
"Kak Salma, sini naik," titah tante Jihan pada Salma.
Salma pun naik kembali ke gasebo, yang diikuti oleh sang suami. Sedangkan Zaki, Rahman dan Dion memilih duduk di anak tangga gasebo.
Nampak Kevin berbisik pada om Ilham, "om Ilham aja dulu lebih parah dari Kevin kan? Om ingat enggak, saat kita liburan di villa.. dua hari dua malam, om Ilham dan tante Jihan enggak keluar-keluar dari kamar kan? Ngapain coba, pengantin baru berduaan di dalam kamar.. apa om Ilham lagi main congklak sama tante Jihan?"
Mendengar perkataan Kevin, om Ilham tersenyum kecut.. sedangkan tante jihan yang juga dapat mendengar bisik-bisik Kevin, justru tertawa terpingkal-pingkal, "rasain lu yah, kena batu nya sekarang. Maka nya jangan suka usil.."
Setelah beberapa saat tertawa, tante Jihan nampak berbisik pada Kevin dan Salma.. "om Ilham nya abang ngajak tante untuk main berbagai macam gaya, dan explore gaya baru dalam bercinta. Abang dan kak Salma harus mencoba nya, ini demi menyenangkan pasangan."
"Bunda, kenapa buka rahasia,,,!'
to be continue,,,