All About KEVIN

All About KEVIN
Gagal Maning...



"Bro, ini mereka mau di tinggal semalaman disini atau gimana?" Tanya Bayu dengan polos nya, menatap Kevin dan Dion bergantian.


"Memang nya, lu mau jadi nyamuk dan nungguin pasangan yang lagi bersenang-senang di dalam?" Balas Dion, mengejek pacar sepupu nya itu.


"Dih,, ogah banget!" Balas Bayu dengan cepat. "Dari pada jadi obat nyamuk, mending gue mesra-mesraan sama yayang," sambil nempel-nempel pada Devi, yang di sambut dengan tatapan tajam Devi.


"Belum halal Bay, gak usah mepet-mepet.. ntar lu sendiri yang kelimpungan, karena gak bisa nuntasin hasrat," Rahman mengingatkan sekaligus meledek teman baik nya itu.


Bayu mencebik, seraya garuk-garuk kepala.


"Dah yuk, kita pulang," ajak Kevin, "Dion, sekali lagi thanks ya," ucap Kevin menatap Dion.


"Santai bro.." balas Dion seraya tersenyum tulus.


"Eh, ntar dulu.. jangan buru-buru pulang napa? Pesta nya kan belum selesai? Kita balik ke sana lagi yuk?" Bayu merajuk, menatap Devi dan yang lain nya meminta pengertian.


Devi menggeleng, "sudah malam Bayu sayang,,, baik nya kita pulang, besok kita jalan-jalan berdua deh.. ya?" Bujuk Devi melirik mesra kekasih nya.


"Beneran yang?" Tanya Bayu antusias.


Devi tersenyum dan mengangguk pasti.


"Yes,,," Bayu bersorak bahagia.


"Yaelah.. cuma diajakin nonton, dah kayak menang lotre aja lu Bay," ledek Dion.


"Eh, tapi kalau Rahman dan Dion mau ikut.. boleh kok," tawar Devi, menatap Rahman dan sepupu nya bergantian.


"Sorry ya, gue enggak nawarin kalian berdua.. karena gue tahu, kalian pasti akan ngamar aja sampai seharian kan?" Devi menatap Salma dan Kevin, dan kemudian terkekeh sendiri membayangkan Salma dan Kevin memadu kasih. Dua teman dekat nya, yang belum lama mendeklarasikan jadian tapi ternyata sudah menikah secara diam-diam.


Kevin dan Salma hanya tersenyum.


"Jangan dong yang,, jangan ajak mereka berdua, bikin males aja," tolak Bayu, tidak menyetujui jika Rahman dan Dion ikut nonton bersama.


"Siapa juga yang mau ikut!" Ketus Rahman, "gue mau packing barang, lusa kan gue mau nganter papa dan mama pindah ke Bali," lanjut Rahman, menjelaskan rencana kepindahan orang tua nya.


Ya, pertemuan antara om Adam dan daddy Rehan kemarin di restoran telah tercapai kesepakatan.. bahwa papa Rahman itu bersedia membantu menghandle perusahaan Kevin yang di Bali, hingga Kevin selesai dengan studi nya dan siap untuk terjun ke dunia bisnis yang sudah di wariskan kepada nya itu.


"Gue juga ogah! Mending gue main game di rumah sama adik gue," Dion pun menolak ajakan Devi.


"Ini mau pada pulang, atau mau jadi satpam nya Nathan dan Monik sih?! Gue duluan aja deh," ucap Kevin seraya menggandeng Salma, dan segera berlalu meninggalkan teman-teman nya.


"Ck, mentang-mentang udah bisa ngelakuin yang enak-enak.. udah gak sabaran banget sih, pengin ngamar," Bayu berdecak kesal, dan langsung menggandeng Devi menyusul langkah Kevin dan Salma.


Kevin hanya mengedikkan bahu tak peduli, dan terus melangkah memeluk mesra pinggang istri nya. Membuat teman yang berjalan di belakang nya, semakin berdecak kesal.


"Tunggu oey,, berangkat bareng, pulang ya harus bareng dong!" Seru Rahman, "ayo Dion, kita barengan sekalian," ajak Rahman pada Dion, dan langsung berlari kecil mengikuti teman-teman nya yang telah mendahului nya. Dion pun ikut mengekor di belakang Rahman.


*****


Keesokan hari nya, Monica terbangun dengan kondisi tubuh yang pegal-pegal. "Dimana aku, kenapa tubuh ku rasa nya pegal semua?" Gumam nya, ingin menggeliat tapi dia kesulitan seperti ada beban berat yang menimpa nya.


Monica mencoba membuka mata nya, tapi terasa sangat berat. Dan akhir nya dia urungkan, tatkala diri nya menyadari ada tangan kekar yang melingkar di tubuh nya... dan dia memilih untuk menikmati kembali pelukan hangat dari sang pujaan hati, yang semalaman telah mampu membuat nya kewalahan dan mabuk kepayang.


Pergerakan dan suara Monica ternyata membangunkan laki-laki yang tidur di sebelah nya, "lu sudah bangun Salma sayang,,," lirih Jonathan seraya mengeratkan pelukan nya, dan menelusupkan wajah nya di bukit kembar milik Monica masih dengan mata terpejam.


Awal nya Monica menikmati apa yang di lakukan laki-laki impian yang meniduri nya semalaman, yang kembali memainkan bukit kembar milik nya. Namun sesaat kemudian, setelah Monica menyadari panggilan untuk nya dari laki-laki yang masih betah memainkan lidah nya di puncak bukit milik nya... Monica langsung mendorong tubuh laki-laki itu, hingga Jonathan pun kaget dan membuka mata nya.


"Lu??!!" Teriak Monica dengan suara lantang, dan penuh keterkejutan.


"Monik??!!" Teriakan Jonathan tak kalah keras dan dia pun sangat terkejut menatap gadis di depan nya yang ternyata bukan Salma seperti yang ada dalam imajinasi nya semalam.


Kedua nya saling pandang dalam kebingungan cukup lama, dan sesaat kemudian mereka tersadar dan meneliti tubuh masing-masing yang tanpa busana sehelai pun. "Damn it!!" Umpat Jonathan dengan penuh kekesalan, dan langsung turun menuju kamar mandi.


"Nathan!!!" Teriak Monica histeris,,, dan langsung menyusul ke kamar mandi, Monica tak peduli lagi, kalau kini diri nya tidak memakai apa pun. Dia hanya ingin membersihkan diri, dan kemudian segera membereskan semua kekacauan yang ada.


"Ngapain sih, lu ngikutin gue!" Seru Nathan yang sudah berada di dalam kamar mandi, dengan masih terbawa emosi.


"Gue cuma mau mandi, dan setelah ini kita harus bicara!" Ketus Monica, dan langsung menghidupkan shower. Kedua nya mandi dengan cepat, tanpa ada pembicaraan lagi.


Jonathan keluar dari kamar mandi, hanya dengan melilitkan handuk di pinggang nya. Di susul Monica, yang mengenakan handuk piyama. Rambut nya yang panjang, di gulung ke atas dengan handuk kecil.


Jonathan duduk di sofa, masih dengan memakai handuk.. dan Monica pun mengikuti nya, duduk tak jauh dari Jonathan.


"Sialan si Dion, pasti dia yang telah menukar gelas kita dengan gelas yang seharusnya diberikan pada Salma dan Kevin," ucap Nathan, dengan mendengus kesal.


"Tunggu,, tunggu,, tapi semalam yang membagikan gelas kepada kita kan bukan Dion? Tapi Devi?" Monica mengernyit.


Nathan mengangguk-angguk.


Sejenak, hening menyapa kamar hotel VVIP itu.


"Nath,, apa semalam kamu main tidak pakai pengaman?" Tanya Monica tiba-tiba panik, setelah sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat tidur dan tidak mendapati ada bekas sarung yang habis di pakai.


"Ya, enggak lah.. gue kan emang niat nya mau membuat Salma bunting, gimana sih lu?!" Balas Nathan, masih dengan wajah kesal.


"What??!! Lu main gak pakai pengaman dan lu bisa sesantai ini??!!" Monica mulai frustasi.


"Kenapa memang?" Jonathan nampak mencibir, "kayak anak perawan aja lu pakai histeris segala," olok Jonathan sambil membuang pandangan nya ke arah lain.


"Nath,, lu ini b*go apa gimana sih?! Gue emang sudah sering main, tapi pasangan gue kan selalu pakai pengaman? Dan beberapa kali main sama lu, lu juga pakai pengaman kan?!" Nada bicara Monica masih meninggi, dia masih terlihat syok.


"Gue enggak mau hamil Nath! Lu ceroboh banget sih?! Fu*k you Nath!!" Maki Monica dengan ketus.


"Gue mana tahu, kalau malam tadi lawan main gue ternyata elu?? Udah, udah,, berisik aja dari tadi. Gue juga ogah kali punya anak dari lu?? Dan kalau sampai lu beneran hamil, gue enggak sudi ngakuin anak lu! Karena belum tentu juga itu anak gue! Lu kan main dengan banyak laki-laki!" Ketus Nathan, seraya bangkit dan mengambil pakaian nya yang semalam tercecer di lantai.


Jonathan segera memakai pakaian nya, dan kemudian segera berlalu keluar dari kamar hotel tanpa sepatah kata pun sambil membanting pintu dengan keras.


Menyisakan Monica seorang diri, yang masih merutuki kecerobohan nya. Dan terus menyalahkan Jonathan karena kegagalan rencana nya.


"Gagal maning,, gagal maning! Bodoh! Bodoh!" Monica mengumpat sendiri, dengan wajah yang kesal.


to be continue,,,