All About KEVIN

All About KEVIN
Sleeping Beauty



Malika mulai membacakan naskah drama pendek yang harus mereka berdua mainkan, Rahman nampak mendengar kan dengan seksama,, sesekali netra nya melirik gadis belia yang cantik rupawan, yang duduk di samping nya. Mereka berdua duduk di tepi kolam renang, di bawah rindang nya pepohonan.


Malika mengenakan rok soft jeans panjang semata kaki, dipadukan dengan t-shirts lengan panjang yang agak longgar berwarna navy. Dan kepala nya di tutup dengan pasmina bermotif abstrak yang warna nya senada dengan t-shirts nya. Tanpa mengenakan seragam sekolah, gadis belia itu terlihat lebih dewasa dari usia yang sebenarnya.


"Selesai,," ucap Malika, seraya melipat lembaran kertas di tangan nya. "Gimana bang Rahman, udah ada gambaran belum?" Tanya Malika, menatap Rahman dengan netra biru nya yang berkedip-kedip lucu dan menggemaskan.


Rahman menarik nafas dalam, dan kemudian menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. Sejujur nya dengan hanya duduk berduaan saja dengan Malika seperti ini, Rahman ingin berteriak dan protes pada teman-teman nya yang malah seakan membiarkan diri nya terjebak berdekatan dengan Malika.


Rahman benar-benar di buat tak berdaya dengan adik dari Kevin itu, bahkan hingga detik ini.. jantung nya masih belum berdetak dengan normal.


"Abang Rahman?" Panggil Malika dengan lembut, seraya mengibaskan kertas di tangan nya di hadapan Rahman.


"Eh iya dik, gimana tadi?" Tanya Rahman tergagap.


Malika mengerucutkan bibir nya, "dari tadi Icha tuh baca naskah, tapi malah di cuekin sama bang Rahman.. gimana sih?" Protes Malika merajuk.


"Jangan ngambek dong.. enggak di cuekin kok, tadi abang dengerin dik Icha baca naskah nya." Balas Rahman, menatap hangat netra kebiruan Malika, "cuma bang Rahman tuh lagi mikir, gimana cara untuk memerankan nya. Kita kan enggak bisa main dadakan, takut nya salah.. dan feel nya enggak dapat. Kayak nya kita butuh latihan dulu deh dik," usul Rahman.


"Icha setuju bang," sambut Malika antusias.


Sedangkan di sisi yang lain, tante Jihan nampak sibuk memberikan arahan pada Kevin dan teman-teman nya yang lain untuk membuat panggung sederhana untuk pementasan drama singkat nanti sore.


Red karpet juga sudah di pasang mulai dari tempat duduk tamu, menuju panggung.


"Bunda, kalau jalan jangan sambil loncat-loncat gitu ah... ingat tuh yang di dalam perut, jadi ikut loncat ke sana kemari ngikutin gerakan bunda. Kasihan kan kalau debay nya kecapekan?!" Protes om Ilham, yang melihat istri nya begitu aktif mempersiapkan pesta ulang tahun keponakan nya.


"Ayah, ih.. lebay deh. Ya enggak mungkin lah debay nya loncat ke sana kemari.. emang nya debay nya kecebong, yang bisa loncat-loncat?" Tante Jihan geleng-geleng kepala, seraya terkekeh sendiri dengan perumpamaan nya.


"Iya,, tapi bunda kan bisa kasih arahan sambil duduk cantik," om Ilham menarik pelan lengan sang istri dan mendudukkan nya di salah satu bangku.


Tante Jihan pun hanya bisa nurut, apa kata suami nya.


"Abang,, ini panggung nya udah siap, kali aja kak Icha mau latihan sama pangeran nya. Sana gih panggil kak Icha nya," titah tante Jihan yang sudah duduk di bangku, menatap kearah Kevin.


"Siap tan," balas Kevin singkat, dan langsung menghampiri Malika dan Rahman.


"Dik, mau latihan dulu enggak? Latihan di panggung aja sana, biar nanti enggak malu-maluin,," titah Kevin menatap adik nya, dan kemudian menatap Rahman dengan mengulas senyum simpul.


"Iya bang, kami mau langsung latihan di panggung.. biar enggak grogi dan feel nya juga biar dapat," balas Malika, dan langsung berlalu meninggalkan abang nya dan Rahman.


Rahman mendengus kesal,,, "sialan kalian semua, malah ngerjain gue!" Bisik nya, seraya meninju pelan lengan Kevin sesaat setelah Malika menuju panggung kecil untuk pementasan nya.


"Tapi lu suka kan di kerjain kayak gini?" Kevin mengedipkan sebelah mata nya, menggoda Rahman.


Kembali Rahman menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, "tapi enggak gini juga cara nya bro? Tapi ya udah lah.." balas Rahman akhir nya menyerah, sambil mengikuti langkah Kevin yang menuju panggung.


Rahman dan Malika nampak tengah mempersiapkan diri di sisi panggung, yang lain langsung menuju bangku-bangku panjang yang telah di sediakan untuk tamu undangan dan duduk di sana untuk menyaksikan latihan drama Sleeping Beauty yang dibawakan oleh Malika dan Rahman.


Tante Jihan berperan membacakan prolog dongeng tersebut ;


"Kisah tentang raja dan permaisuri yang belum dikaruniai keturunan. Setiap hari mereka selalu berdoa agar dikaruniai seorang anak. Akhirnya, doa Raja dan permaisuri dikabulkan. Setelah 9 bulan mengandung, permaisuri melahirkan seorang anak wanita yang cantik. Raja sangat bahagia, ia mengadakan pesta dan mengundang kerajaan sahabat serta seluruh rakyatnya."


"Diundang lah 7 penyihir hebat untuk memberi doa-doa baik bagi sang anak. Penyihir pertama sampai keenam sudah mengeluarkan doa mereka. Saat penyihir ketujuh akan mengucap doa, tiba-tiba datang penyihir jahat yang marah karena tidak diundang dalam pesta kelahiran itu. Ia pun lantas mengutuk putri raja akan mati terkena jarum pemintal benang."


"Untung saja, masih ada penyihir ketujuh yang bisa meringankan kutukan sang penyihir jahat. Ia berdoa bahwa sang putri tidak akan mati jika terkena jarum pemintal. Putri hanya akan tidur selama 100 tahun. Ia akan bangun lagi setelah ada pangeran yang datang."


"Namun kutukan tak bisa dihindarkan. Pada usianya yang beranjak remaja, sang putri dijebak oleh penyihir jahat. Ia pun terpancing menyentuh jarum pemintal benang. Maka tidurlah ia... untuk beberapa lama."


Malika berjalan pelan masuk ke dalam panggung, dan nampak penasaran dengan alat pemintal benang yang tiba-tiba saja terlihat berada di sana. Dan tanpa ia sadari, Malika menyentuh jarum pemintal benang tersebut.. hingga kemudian ia tertidur pulas di atas sofa.


Rahman nampak ragu memasuki panggung, remaja berwajah khas melayu yang tampan itu terlihat bingung dan berjalan mengitari Malika yang tengah tertidur di atas sofa,, hingga beberapa saat.


"Ayo Rahman,,, lakukan, tunggu apa lagi?" Titah om Ilham nampak tidak sabar, karena sedari tadi Rahman hanya berputar mengitari sofa.


"Maaf om, Rahman tidak bisa melakukan nya," balas Rahman, merasa tak enak hati.


"Kenapa?" Tanya tante Jihan mengernyit.


"Saya tidak mau mencium seorang gadis yang bukan mahram saya, karena jika saya melakukan nya, itu sama saja,, saya telah melecehkan nya," balas Rahman dengan tegas.


Daddy Rehan dan mommy Billa yang turut menyaksikan dari kejauhan, tersenyum lega.. "seperti nya, dia memang jodoh yang terbaik untuk putri kita mom," lirih daddy Rehan, menatap istri nya.


Mommy Billa membalas nya dengan mengangguk dan tersenyum lebar.


"Brother,, ganti saja dengan mengusap puncak kepala nya!" Seru Kevin dari bangku yang disiapkan untuk tamu undangan.


Rahman mengangguk setuju.


Rahman kemudian berjongkok di samping sofa, dan kemudian mengusap puncak kepala Malika, "putri, bangun lah,, aku datang untuk mu. Bangun lah,, dan menikahlah dengan ku, karena aku sangat mencintai mu," Rahman mengucap kan nya dengan segenap perasaan yang tulus, dan sepenuh hati.


Malika pun membuka mata nya, dan kemudian bangun dari sofa.


Kedua nya berdiri berhadapan, jarak kedua nya sangat dekat, "abang, benarkah yang bang Rahman katakan tadi?" Bisik Malika.


Rahman tergagap, dia hanya reflek mengatakan nya tadi.


"Enggak perlu di jawab sekarang bang, asal abang tahu,, aku juga sudah lama menaruh hati pada bang Rahman," lirih Malika, menatap dalam netra elang Rahman.


Kedua nya mengulas senyum lebar.


"Dan benar saja, sang putri pun terbangun dari tidur panjang nya, dan mereka pun akhirnya menikah dan hidup berbahagia." Tante Jihan mengakhiri cerita nya.


"Holle,,, celita nya selu,," teriak Maira dari bangku paling belakang, yang diikuti tepuk tangan dari daddy Rehan, mommy Billa dan saudara-saudara Malika. Malik, Mirza dan kembar bungsu Maira dan Maida.


"Daddy, mommy,, Mela juga mau dung jadi putli tidul kayak kakak," pinta Maira dengan gaya imut nya.


"Kalau Mela jadi putli tidul, pangelan nya siapa Mela?" Tanya Mirza dengan senyum jahil nya.


"Yang pasti Mela enggak mau kalau pangelan nya bang Milza, bang Milza suka usil," balas Maira, seraya menjulurkan lidah nya.


"Daddy,, nanti calikan Mela pangelan tampan kayak abang Lahman yah?" Pinta nya merajuk.


Daddy Rehan tersenyum dan hanya bisa mengangguk, mengiyakan permintaan putri bungsu nya.


Di panggung, Rahman dan Malika saling pandang. Cukup lama netra kedua nya saling bertaut, seolah bercengkrama dalam diam.


Rahman dan Malika kemudian berjalan bersisihan, menuju bangku tamu undangan untuk menyalami tamu undangan nya nanti.


"Jalan nya harus nya bergandengan, biar kelihatan mesra," celetuk Bayu, dari bangku tamu undangan.


"Menunjukkan kemesraan pada pasangan tidak selama nya harus dengan bersentuhan Bay, dengan sikap pun bisa... misal nya dengan senyuman, dengan pandangan mata, atau dengan bicara yang lembut. Kecuali jika sudah halal, baru lebih afdhol kalau dengan sentuhan." Rahman tersenyum lebar, menatap Bayu.


Kembali daddy Rehan tersenyum mendengar perkataan Rahman.


to be continue,,,