All About KEVIN

All About KEVIN
The Most Famous



Sementara itu di apartemen milik Bagas, pemuda arogan itu tengah berjalan menuju kamar utama milik nya.. dimana Yura, gadis seksi yang menjadi pemuas nafsu nya tengah menunggu. Bagas berjalan dengan terus menyunggingkan senyum kebahagiaan, karena dia sangat yakin sang papa akan segera mengambil tindakan tegas untuk rektor yang tidak berguna menurut nya itu dan sang Papa juga pasti akan segera melempar Kevin dan Salma dari kampus milik nya.


Dengan tergesa Bagas membuka pintu kamar lebar-lebar, dan langsung melucuti pakaian nya satu persatu. Bagas kemudian segera menghampiri gadis nya yang juga sudah polos dan menutupi tubuh nya yang berbaring di atas ranjang berukuran king size itu hanya sebatas perut, serta membiarkan dada nya terekspos sempurna dan di nikmati oleh mata liar Bagas.


Tanpa kata-kata, Bagas segera membuang selimut yang menutupi separuh tubuh Yura, Bagas tersenyum seringai,, "let's play honey,, mari kita rayakan kemenangan ini, I'll drive you honey," ucap nya seraya menatap dua gunung kembar milik Yura, dengan tatapan lapar.


Dan Bagas langsung beraksi, menunggangi kuda betina nya yang selalu bisa membuat naf*su nya yang liar itu terpuaskan.


Hanya dalam hitungan detik, kamar yang tadi nya hening.. kini di penuhi oleh suara rintihan, lengu*han dan desa*han dari permainan kedua anak manusia yang saat ini tengah di penuhi naf*su bira*hi tersebut.


Tengah asyik masyuk dengan permainan yang membuat nya bisa melayang-layang itu, tiba-tiba terdengar suara ponsel dari kantong celana milik Bagas.


Awal nya, mereka berdua mengabaikan nya dan masih asyik bergelut di atas ranjang yang empuk.. namun dering ponsel tersebut terus berbunyi nyaring, hingga mengganggu sesi bercinta Bagas dan Yura.


Dengan wajah kesal, akhir nya Bagas mencabut keris pusaka milik nya yang telah terbenam sempurna di gua hangat tempat persemayaman nya itu dan kemudian segera beranjak untuk mengambil ponsel yang masih terus mengeluarkan suara berisik tersebut.


"Papa,," lirih Bagas seraya menatap Yura, dan sebelum Bagas mengangkat panggilan dari sang papa.. Bagas mendekati Yura, dan menuntun gadis seksi tersebut untuk menjaga senjata nya agar tetap berdiri dengan tegak sempurna.


"Hallo pa,," sapa Bagas, dengan menyimpan kekesalan hati nya.


"Anak bo*doh! Apa kamu tahu siapa yang kamu hadapi saat ini! Apa kamu tidak berpikir dulu, sebelum bertindak! Dasar tol lol! Ke kantor papa sekarang!" Teriak suara dari seberang dan langsung menutup panggilan nya secara sepihak, tanpa penjelasan dan tanpa memberi kesempatan pada Bagas untuk bertanya,,, suara papa Bagas tadi terdengar sangat marah, emosi nya seperti sudah tak dapat dikendalikan lagi.


Bagas mengernyit, "apa maksud papa?" Gumam nya tak mengerti, hingga membuat naf"su nya yang tadi sudah sampai di ubun-ubun.. kini menguap entah kemana, dan senjata yang tadi tegak menantang dunia tiba-tiba saja lunglai sebelum menyemburkan bisa beracun nya. Ibarat bunga, dia telah benar-benar layu sebelum berkembang.


Yura jadi bertanya-tanya, "ada apa?" Yura masih memegang senjata milik Bagas yang telah mengecil kembali itu.


Bagas segera melepas nya dan menjauh dari Yura, pemuda sombong itu mengenakan pakaian nya kembali dengan terburu-buru. "Gue harus ke kantor papa sekarang," ucap nya tanpa melihat kearah Yura.


"Tapi ini bagaimana? Ini sudah basah?" Rajuk Yura, dengan tatapan nya yang penuh damba.


"Kamu lanjut kan sendiri, kamu bisa gunakan **** toys seperti biasa nya kan?" Bagas langsung bergegas meninggalkan kamar mewah nya, tanpa memperdulikan Yura yang merengut kecewa karena menahan sesuatu.


Yura segera bangkit dan buru-buru mengambil mainan milik nya yang selalu tersimpan di dalam tas, dan dengan sedikit dongkol gadis seksi itu bermain sendiri untuk memuaskan hasrat nya yang tadi sempat tertunda. "Habis ini, gue harus telpon om John.. gue enggak bisa ******* kalau hanya dengan barang ini," gerutu Yura, sambil terus memainkan barang tersebut.


*****


Di ruangan khusu Presiden Direktur milik papa nya Bagas, laki-laki tambun tersebut terus berjalan mondar-mandir mengitari ruangan nya. "Soni, berhentilah berjalan.. aku ikut pusing melihat kamu seperti ini," ucap rektor tersebut, memanggil papa nya Bagas dengan panggilan yang tidak formal.


Ya, semenjak mengetahui siapa Kevin dan Salma sebenar nya,, kesombongan papa nya Bagas sebagai pemilik kampus itu langsung menguap, dan dia sempat berterima kasih pada rektor yang merupakan teman kuliah nya itu.. karena sempat mengingatkan nya agar mencari tahu dulu siapa dua mahasiswa baru tersebut, sebelum diri nya gegabah bertindak.


"Aku enggak bisa tenang, sebelum aku tahu ada urusan apa antara Bagas dan dua mahasiswa spesial itu. Kenapa anak ku menginginkan agar mereka berdua di keluarkan?" Pak Soni bertanya-tanya.


"Aku juga tidak tahu Son, setiap kali aku tanya.. anak mu selalu menjawab dengan ketus, kalau aku harus menuruti semua perintah nya tanpa banyak bertanya," ucap rektor tersebut dengan jujur.


Pak Soni mendesah kasar, "maaf kan aku,,," lirih nya, dengan penuh penyesalan.


"Kamu juga terlalu memberi nya kebebasan, karena menurut yang aku dengar.. putra mu terlibat skandal dengan salah satu mahasiswi di kampus, bahkan mereka berdua sering melakukan free **** di kantor BEM." Lanjut rektor tersebut dengan mendesah pelan, mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini di tanggung nya sendiri. Karena sebagai rektor, beliau tidak dapat menindak tegas Bagas sebagai putra pemilik kampus di tempat nya bekerja.


"Bohong! Dia bohong pa! Dia memfitnah ku!" Seru Bagas yang tiba-tiba masuk ke kantor papa nya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Kini perhatian kedua orang paruh baya itu tertuju pada Bagas, pemuda berusia dua puluh satu tahun yang merupakan putra semata wayang pak Soni. Yang juga merupakan wakil ketua BEM di kampus milik orang tua nya, "papa jangan percaya pada omongan nya!" Lanjut Bagas seraya menunjuk rektor di kampus nya itu dengan tidak sopan, dan dengan tatapan kemarahan.


Pak Soni menatap putra nya dengan tajam, "hentikan ocehan mu Bagas! Dan bersikap sopan lah pada orang tua, terlebih beliau adalah rektor di tempat kamu kuliah!" Seru pak Soni, kembali tersulut emosi melihat perilaku putra nya yang tidak sopan pada orang yang lebih tua.


"Hahaha,,," Bagas malah tertawa terbahak-bahak, "sejak kapan papa peduli dengan yang nama nya kesopanan?! Bukankah selama ini, papa fine fine aja dengan sikap arogan ku yang meniru gaya papa?!" Bagas menyindir orang tua nya, hingga membuat pak Soni menjadi bungkam.


Memang benar apa yang dikatakan Bagas, bahwa selama ini papa nya itu selalu membiarkan diri nya bersikap semau nya. Cenderung sombong, angkuh dan sifat arogan lain yang ditiru nya dari sang papa.


Pak Soni menunduk, dan kemudian berjalan kearah sofa. "Duduk lah Bagas," titah pak Soni dengan merendahkan suara nya.


Bagas pun menuruti kemauan sang papa, dan duduk di sofa berhadapan dengan papa nya. Sedangkan pak rektor, masih duduk berdiam di tempat nya semula.


"Ada masalah apa antara kamu dan dua mahasiswa baru itu?" Tanya sang papa dengan pelan, sesaat setelah Bagas duduk.


"Aku menyukai Salma pa, sejak pertama kali melihat nya," balas Bagas jujur, nampak jelas terlihat kekecewaan di wajah nya.


"Kenapa kamu tidak mendekati nya dengan cara baik-baik? Lantas, apa hubungan nya dengan tuan muda Kevin?" Tanya sang papa, menatap putra nya.


"Tuan muda Kevin? Kenapa papa menyebut nya dengan tuan muda?!" Bagas menatap papa nya, menuntut penjelasan.


"Dia adalah tuan muda dari keluarga Alamsyah, pemilik perusahaan RPA Group.. yang merupakan donatur utama di kampus kita." Balas pak Soni, "kamu bisa baca sendiri data nya di sini," lanjut pak Soni seraya menyerahkan lembaran kertas yang tadi dibawa asisten pribadi nya.


Bagas membuka lembaran kertas tersebut, dan mata nya seketika membulat sempurna. "Jadi dia.. the most famous versi majalah bisnis Asia itu?!" Ucap Bagas sangat terkejut.


Kearoganan Bagas sedikit melemah, tatkala membaca data diri Kevin.


Melihat putra nya nampak shock, pak Soni pun merasa tidak tega.. bagaimana pun Bagas adalah satu-satu nya putra yang dimiliki nya. "Papa setuju jika kamu mendekati Salma, karena jika kamu berhasil menikahi Salma.. maka kamu bisa menandingi kekayaan Kevin," ucap sang papa, seraya menatap putra nya dengan tatapan lembut.


Bagas mengernyit, "maksud papa?"


"Salma adalah CEO dari perusahaan yang memiliki saham terbesar di perusahaan papa," balas pak Soni, dengan senyum seringai. Membayangkan jika putra nya dapat mengambil hati dan menikahi Salma, maka perusahaan milik nya akan semakin berjaya.


Bagas menggeleng pelan dan mendesah kasar, "tidak mungkin pa, karena Kevin dan Salma... mereka berdua adalah suami istri," jawab Bagas, dengan suara nya yang tidak bersemangat.


Pak Soni seketika menjadi lemas,,,


to be continue,,,