
Kevin mengendarai mobil sport nya dengan kecepatan tinggi, karena dia harus menjemput Salma dulu seperti janji nya semalam.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam, Kevin tiba di kediaman pak Sulaiman yang sederhana. Salma yang sudah menunggu di teras rumah nya, langsung saja menghampiri mobil Kevin yang berhenti tepat di halaman rumah.
Tanpa menunggu di bukakan pintu nya, Salma langsung saja naik kedalam mobil sang suami, "asaalamu'alaikum,," Salma memberi salam seraya tersenyum, dan kemudian gadis cantik berseragam putih abu-abu itu menyalami sang suami dan mencium punggung tangan nya.
Kevin sempat terkejut, dan sedetik kemudian senyum nya mengembang.. "manis sekali kamu baby," lirih Kevin, seraya mengecup kening sang istri.
Sesaat kedua nya saling pandang, wajah mereka sangat dekat,, jantung kedua nya berdebar kencang. Ada kerinduan yang tak dapat di ungkap melalui kata, padahal baru semalam kedua nya bertemu.
Kevin semakin mendekatkan wajah nya, namun tiba-tiba Salma mendorong dada suami nya pelan, "nanti kita terlambat ke sekolah," ucap nya seraya tertunduk malu.
Kevin menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal dan tersenyum kecut, sambil membetulkan duduk nya kembali.
"Bapak dan Ibu, apa sudah berangkat?" Tanya Kevin memastikan sebelum melajukan kendaraan nya kembali.
Salma mengangguk, "iya," balas nya singkat.
Kevin pun segera melajukan kendaraan nya, meninggalkan halaman rumah Salma menuju ke sekolah.
Sepanjang jalan kedua nya sama-sama diam, tak ada yang membuka suara. Ada perasaan canggung, perasaan bahagia, perasaan rindu yang menyatu jadi satu. Hanya debaran jantung mereka yang berpacu dengan waktu yang terus melaju, seiring laju kendaraan Kevin yang baru saja memasuki gerbang sekolah nya.
Tepat saat Kevin baru saja memarkir mobil nya, bel tanda masuk pun berbunyi. Dengan sedikit tergesa, kedua nya berjalan menuju kelas nya yang berada di lantai dua.
Mereka berdua berjalan tanpa bergandengan, seolah seperti layak nya teman biasa. Dan sebelum masuk ke kelas, Kevin menahan tangan Salma.
Salma menoleh kearah sang suami, "ada apa?" Tanya Salma.
"Ada yang belum kita bahas," balas Kevin.
Salma tersenyum, "jangan khawatir, aku percaya sama kamu Kevin." Ucap Salma, dan sejenak menghentikan ucapan nya, "apa kamu juga percaya pada ku?" Tanya Salma menatap intens manik biru sang suami.
Kevin mengangguk mantap, seraya tersenyum.
"Kalau begitu tak perlu risau dengan gangguan yang datang dari luar, yang penting pondasi rumah tangga kita sudah kuat. Dan terus perkuat pondasi itu dengan kepercayaan dan saling pengertian, agar hujan badai tak mampu menerjang dan meruntuhkan pondasi yang telah kita buat," ucap Salma sungguh-sungguh.
Kembali Kevin mengangguk dan kemudian melepaskan tangan Salma, "ayo kita masuk," ajak Kevin dengan lembut.
Kedua nya pun masuk kedalam kelas dan duduk di bangku masing-masing.
Kevin duduk bersebelahan dengan Bayu, salah satu teman dekat nya yang dia rekrut untuk ikut membangun bisnis e-commers milik nya. Sedangkan Salma, duduk bersebelahan dengan Monik. Gadis berambut pirang, blasteran Indonesia Amerika yang mengejar-ngejar cinta Kevin.
Salma baru saja mendudukkan diri nya di bangku kosong sebelah Monik, "Salma, tadi gue lihat... kok lu semobil sama Kevin?" Selidik Monik, yang nampak tidak suka.
Salma mengulas senyum dan dengan tenang menjawab pertanyaan Monik, "kenapa lu kaget gitu Mon.. ini kan bukan yang pertama gue semobil sama Kevin? Rumah kami searah, dan biasa nya kami juga sering bareng kan?" Salma menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
Monik terdiam, dan sesaat kemudian kembali bertanya, "Tapi biasa nya kan ada pak Imron yang nyetir? Oh, ya Salma... mobil Kevin baru ya?"
"Kayak nya sih gitu,," balas Salma sambil membetulkan tempat duduk nya, dan bersamaan dengan itu seorang guru masuk kedalam kelas.
"Selamat pagi anak-anak,,, berhubung bu Rina hari ini ijin, maka beliau memberikan tugas untuk kalian kerjakan," ucap guru tersebut, seraya menuliskan sesuatu di papan tulis.
Suasana di dalam ruang kelas tersebut sejenak hening, semua mata tertuju ke depan kelas.. kearah papan tulis.
"Kalian kerjakan secara berkelompok, tugas yang telah saya tulis ini," titah nya seraya menunjuk tulisan tangan nya, sesaat setelah guru tersebut selesai menuliskan tugas dari bu Rina.
"Baik, saya harus segera ke kelas sebelah. Kevin, pastikan teman-teman mu semua mengerjakan nya dengan tertib di lingkungan sekolah. Jangan ada yang keluar dari pintu belakang," titah nya memberi perintah pada Kevin, selaku ketua kelas.
"Siap pak Dika," jawab Kevin patuh.
Sepeninggal pak Dika, suasana kelas langsung riuh. Semua nampak bergembira, karena guru tua yang terkenal killer itu hari ini tidak masuk.
Kevin segera maju ke depan kelas, untuk menenangkan teman-teman nya, "semua nya, tolong perhatikan saya," ucap nya dengan suara lantang dan tatapan yang tegas.
Dan semua seolah terhipnotis, mereka terdiam dan memperhatikan Kevin yang berdiri di depan kelas.
"Bu Rina memang tidak hadir, tapi itu bukan berarti kita bisa seenak nya saja karena ini masih jam pelajaran. Sebaik nya kita manfaatkan waktu dengan baik, dengan mengerjakan tugas yang sudah beliau berikan."
Kita kerjakan sesuai dengan kelompok masing-masing, silahkan kalian bebas mengerjakan dimana pun yang penting masih di lingkungan sekolah. Dan ingat, jangan sampai mengganggu pelajaran di kelas lain dengan membuat keributan," ucap Kevin panjang lebar.
Tanpa berkata-kata, teman-teman sekelas nya langsung berkelompok sesuai dengan kelompok nya sendiri-sendiri. Kevin menghampiri meja Salma, yang kebetulan satu kelompok dengan nya. Bayu pun ikut menghampiri meja Salma, yang diikuti dua teman nya yang lain.
"Kita mengerjakan dimana Salma?" Tanya Kevin pada Salma, seraya menatap istri nya itu dengan tersenyum canggung. Dia harus pandai bersandiwara, harus bersikap biasa meskipun hatinya berontak ingin selalu berdekatan dan bermanja-manja dengan istri nya itu.
"Di kantin aja gimana? Aku mau traktir kalian, untuk ngerayain ulang tahun Kevin," ajak Monik memberi usul.
Kevin dan Salma saling pandang, dan kedua nya hanya saling tersenyum tipis.
Kevin memang tidak suka ulang tahun nya di rayakan, itu sebab nya teman-teman nya juga seakan melupakan hari ulang tahun Kevin. Hanya Monik yang setiap tahun heboh sendiri dan ingin merayakan nya.
Bayu pun diam, teman dekat Kevin yang satu ini tahu betul bahwa Kevin selalu menghindar dari Monik. Tapi tentang perasaan Kevin dan Salma, Bayu sama sekali tidak tahu.. karena kedua nya pandai menyembunyikan perasaan masing-masing.
Sedangkan dua teman nya yang lain mengiyakan, ide dari Monik. Lumayan lah, bisa mengerjakan tugas plus dapat makan gratis pula.. begitu kira-kira pikir mereka.
Akhir nya merekapun pergi ke kantin untuk mengerjakan tugas terlebih dahulu, dan setelah nya mereka makan-makan dengan di traktir oleh Monik sesuai dengan janji nya tadi.
"Kalian boleh ambil apa aja, dan makan sepuas nya guess.. gue yang bayar," ucap Monik dengan tersenyum lebar kearah Kevin.
"Gue yang akan bayar semua nya," timpal Kevin dengan suara tegas, dia tak ingin dianggap punya hutang sama Monik, "gue yang ulang tahun, jadi gue yang traktir," lanjut nya menegaskan.
Monik terdiam, dan nampak kecewa. Tapi dia tak patah arang, dia masih punya kejutan untuk Kevin.. cowok yang sudah lama di incar nya itu.
"Nah ini, baru siip," ucap Bayu bersemangat, "ayo Salma, Devi, Rahman, kita makan sampai puas," lanjut Bayu terkekeh, mengajak ketiga teman nya dan beranjak menuju meja prasmanan yang tersedia di kantin.
Devi dan Rahman adalah dua teman Kevin, yang juga diajak untuk membangun bisnis e-commers nya.
Bayu, Devi dan Rahman, segera mengambil makanan yang di sukai nya, dan kemudian msreka bertiga menuju meja kasir, "yang bayar, tuan muda Kevin mbak," ucap Bayu pada mbak-mbak yang di kasir.
"Apaan sih lu Bay,, manggil tuan muda - tuan muda segala," protes Kevin yang sudah berdiri di samping Salma, "baby,, kamu mau makan apa?" Bisik Kevin di telinga Salma.
Salma menyikut pelan perut Kevin, "jangan manggil aneh-aneh deh kalau di sekolah," protes Salma mengingatkan.
"Ehm..." suara dehaman Monik mengejutkan kedua nya.
"Eh, Monik.. mau ngambil makan? Silahkan lu duluan," Salma bergeser dan memberi jalan pada Monik.
"Tidak Salma, gue masih kenyang. Gue cuma mau ngasih hadiah ini buat Kevin," ucap Monik seraya menunjukkan kotak jam tangan bermerk buatan Swiss, yang sudah pasti harga nya sangat mahal.
Salma hanya dapat tersenyum kecut.
"Happy birthday Kevin, gue harap kita bisa segera bertunangan.. karena daddy gue, sudah menemui daddy lu dan membahas perjodohan kita." Ucap Monik tersenyum dan dengan penuh rasa percaya diri, seraya menyodorkan kotak jam tangan itu kepada Kevin.
Kevin mengernyit,
Sedangkan Salma, reflek menjatuhkan piring nya, "prang... "
to be continue,,,