All About KEVIN

All About KEVIN
Memangnya Siapa Lu?!



Tepat pukul enam petang waktu setempat, keluarga ayah Yusuf beserta opa Sultan dan oma Sekar telah tiba di mansion milik oma Carla,, Dion pun turut bersama mereka, setelah satu minggu menghabiskan liburan nya di Singapura.


Kedatangan mereka disambut hangat oleh oma Carla, keluarga kecil papi Vincent serta Kevin dan sang istri.


"Udah makin besar ya... cewek apa cowok dik? Gak sabar deh, nungguin si baby nongol,," Tanya Fira sesaat setelah melepas pelukan nya pada Salma.


Salma menggeleng, "biar jadi surprise kak, kami enggak nanya ke dokter jenis kelamin nya," balas Salma.


"Bro, kakak gue kayak nya udah enggak sabar tuh.. pengin segera menimang baby," bisik Kevin seraya menyenggol lengan Dion.


Dion hanya tersenyum kecut, "gue sih hayuk aja kalau di ajak nikah sekarang," balas Dion, dengan menatap Fira penuh cinta.


Sedang kan Fira yang bisa mendengar bisik-bisik Kevin.. mencubit lengan adik sepupu nya itu. "Jangan diracuni terus pikiran bang Dion dik,,," ucap Fira pelan tapi penuh penekanan, seraya melirik Dion.


Salma yang dapat menangkap ada sesuatu diantara mereka berdua pun mengernyit, "memang nya ada apa kak?" Tanya Fira penasaran.


Fira tersenyum pada Salma,, dan belum sempat gadis cantik putri keluarga Yusuf itu bercerita, rombongan keluarga daddy Rehan telah tiba bersama teman-teman dekat Kevin.


Salma dan Kevin segera berhambur memeluk sang mommy, padahal baru seminggu mereka tak bertemu.. tapi kerinduan yang mereka rasa kan terasa begitu dalam.


Pasal nya selama ini, meski Kevin telah tinggal terpisah dengan keluarga nya.. tapi Kevin masih sering mengajak sang istri untuk berkunjung ke rumah utama, meski hanya sekedar untuk makan malam bersama mereka dan tidak menginap.


Dan seminggu sekali, mereka pasti juga bertemu karena Kevin dan istri nya selalu ikut pertemuan rutin keluarga Antonio, yaitu keluarga mommy Billa.


"Kakak,, makin cantik aja, pipi nya makin menggemaskan," puji mommy Billa seraya mencubit pipi menantu nya yang semakin cabi itu, setelah melepas kan pelukan nya. Mommy Billa tahu.. setiap ibu hamil pasti tidak suka jika dikatakan gendut.


"Iya mom, mas Kevin tuh selalu nyuruh Salma makan.. jadi tembem deh pipi Salma," balas Salma seraya mengerucutkan bibir nya dan melirik sang suami, sesaat setelah mereka berdua menyalami daddy Rehan.


"Kamu itu enggak tembem Cinta,, benar apa yang dibilang mommy barusan, kamu itu semakin terlihat cantik dan menggemaskan," Kevin mencuri ciuman di pipi sang istri, di tengah-tengah keluarga besar nya yang baru saja datang.


"Abang, jangan cium-cium kak Salma telus... kasihan tau nanti kak Salma nya kena vilus telus belsin-belsin," protes Maira.


"Eh,, abang kan enggak lagi flu, enggak apa-apa kali dik kalau nyium kak Salma," balas Kevin dengan kembali mencium pipi Salma, untuk menggoda adik bungsu nya.


"Daddy, abang tuh bandel.. di bilangin enggak nulut! Jewel sana abang nya!" Titah Maira pada sang daddy dengan berkacak pinggang, hingga mengundang gelak tawa keluarga yang lain.


"Sudah,, sudah,, bercanda nya lanjut nanti, ayo kita masuk," ajak oma Carla pada keluarga besar nya, yang segera ikut masuk kedalam bersama oma Carla dan keluarga papi Vincent. Menyisakan daddy Rehan dan sang istri, beserta Kevin dan Salma, serta kembar bungsu.


Daddy Rehan tersenyum, dan kemudian mengangkat tubuh mungil Maira dan mengendong nya. "Sudah, biar saja. Kak Salma tidak akan terkena virus, karena kak Salma suka makan yang sehat dan banyak istirahat. Maira juga harus makan dan bobok ya, biar sehat dan tidak gampang kena virus," balas daddy Rehan, dengan menasehati putri nya.


Maira mengangguk, sedangkan Maida yang sedari tadi mendengar kan pun menyahut, "Maida juga makan nya banyak dad, dan kalau siang pasti bobok ditemani mommy yang paling cantik sedunia... ya kan mom?" Maida menarik-narik tangan sang mommy.


Mommy Billa tersenyum dan mengiyakan, mommy Billa hendak mengangkat tubuh Maida dan akan menggendong nya seperti daddy Rehan yang menggendong Maira.. tapi buru-buru di cegah daddy Rehan.


"Biar daddy saja yang menggendong mereka berdua mom, karena mommy sudah menggendong mereka selama sembilan bulan," lirih daddy Rehan seraya melirik mesra sang istri, dan kemudian menggendong Maida di tangan nya yang lain.


Mommy Billa tersenyum bahagia mendengar perkataan manis sang suami, bagi ibu enam anak itu.. daddy Rehan adalah suami yang romantis, yang selalu bersikap manis pada nya dan bisa membuat nya tersenyum meski hanya dengan melakukan hal yang sederhana seperti saat ini.


"Ayo mom, kita masuk," ajak daddy Rehan, yang berjalan masuk dengan menggendong dua buah hati nya, menyusul keluarga nya yang lain yang sudah masuk terlebih dahulu. Mommy Billa mengikuti di samping nya, seraya memeluk pinggang daddy Rehan.


"Daddy so sweet banget ya mas, aku jadi terharu,,," ucap Salma dengan netra nya yang telah berembun.


Kevin mengangguk, membenarkan perkataan sang istri. "Aku juga akan berusaha untuk menjadi suami terbaik untuk mu Cinta..." ucap Kevin seraya menatap dalam netra sang istri, "ingat kan aku jika aku salah, dan jangan pernah kamu mendiamkan ku Cinta. Dan jangan pernah bosan untuk mengajari aku, cara mencintai mu dan membahagiakan mu,,, karena aku ingin, kamu menjadi istri yang paling bahagia," Kevin mencium lembut kening istri nya.


Air mata Salma lolos begitu saja, dia semakin terharu dengan perlakuan manis suami nya. Selama ini Kevin sudah sangat baik memperlakukan nya sebagai istri, dan Salma tidak akan menuntut lebih.


"Aku mencintaimu mas, aku selalu bahagia jika bersama mu. Aku tak ingin lebih.. yang aku mau, terus lah bersama ku hingga saat nya ajal menjemput," Salma menerobos masuk kedalam dekapan hangat suami nya, dan tak ingin waktu cepat berlalu. Dia ingin terus seperti ini,,,


"Cinta, yuk kita masuk," ajak Kevin setelah cukup lama mereka saling mendekap erat.


Ketika sampai di dalam, ruang keluarga terlihat sepi karena masing-masing orang sedang berada di kamar nya untuk membersihkan diri.. sebelum makan malam bersama di mulai.


Kevin pun segera mengajak sang istri menuju kamar nya, untuk menunaikan sholat maghrib yang telah hampir habis waktu nya.


Tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit, semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan yang luas.


Mami Nina nampak masih sibuk membantu asisten nya menyiapkan minuman untuk keponakan-keponakan nya. "Ada yang belum kebagian minum? Atau ada yang request minuman lain?" Tanya mami Nina seraya mengedarkan pandangan, menatap satu persatu keponakan nya.


"Cukup dik, mereka sudah besar. Biar nanti kalau mereka butuh sesuatu, mereka bisa ambil sendiri. Kamu duduk lah, om Vincent nampak nya sudah lapar tuh," ucap bunda Fatima seraya tersenyum.


"Iya kak," mami Nina pun kemudian duduk, dan segera mengambilkan makanan untuk suami nya.. setelah saudara nya yang lain yang lebih tua mengambil makanan.


"Ayo, anak-anak.. silahkan ambil makanan kesukaan kalian," titah oma Carla, seraya menatap teman-teman dekat nya Kevin.


Devi mengangguk, dan kemudian mulai mengambil makanan yang diikuti oleh yang lain.


Setelah semua nya mengambil makanan, makan malam pun di mulai dengan membaca do'a terlebih dahulu. Dan mereka semua menikmati santap malam dengan tertib dan dalam suasana yang hangat, sesekali mereka menikmati makan sambil ngobrol hal-hal yang ringan.


Usai makan malam semua keluarga berkumpul di ruang keluarga, meski ada banyak sofa di sana.. tetapi mereka memilih untuk duduk di bawah, dengan beralaskan matras yang cukup tebal.


Opa Sultan, mama Sekar dan oma Carla, duduk di tengah-tengah anak dan cucu-cucu nya. Tiga generasi keluarga Alamsyah berkumpul, di tengah suasana yang hangat meski udara di luar sana sangat lah dingin di bulan-bulan seperti ini.


"Bro, gimana kabar mama lu? Udah sehat?" Tanya Kevin, di tengah-tengah obrolan nya dengan teman-teman dan saudara nya.


"Alhamdulillah, mama udah sehat.. dan kemarin bisa ikut kami pulang ke Jakarta, mama kangen kata nya sama suasana Jakarta," balas Rahman seraya tersenyum.


"Apa? Mama nya bang Rahman sakit? Kok enggak ada yang kasih tahu Icha?" Protes Malika, kerena diri nya tidak diberitahu bahwa calon mertua idaman jatuh sakit.


"Memang nya siapa lu?! Sok penting!" Ledek Malik, sengaja memancing emosi kembaran nya. Yang disambut dengan gelak tawa oleh saudara nya yang lain, termasuk Kevin dan teman-teman nya.. kecuali Rahman.


Dan benar saja, mendengar perkataan Malik,, gadis cantik itu cemberut dan menatap tajam pada Rahman,, "Icha marah sama abang," ketus Malika pada Rahman.


Rahman garuk-garuk kepala, bingung mesti bersikap bagaimana? Haruskah dia merayu gadis belia itu? Dan berjanji untuk mengajak nya jalan-jalan?


to be continue,,,