
Semenjak hari itu, Yura mulai bekerja di kafe yang dikelola oleh Dika tersebut. Yura juga tinggal di mess sesuai perintah Salma, dan atas saran Dika.. Sesil menemani sahabat nya itu dan ikut tinggal di mess.
Tentu saja Sesil menyambut nya dengan senang hati, karena dia bisa lebih dekat juga dengan pemuda yang telah berhasil mencuri hati nya. Siapa lagi kalau bukan Dika?
Sejak pertama Sesil bekerja di kafe tersebut, Dika telah memberikan perhatian khusus pada Sesil. Gadis manis dan sederhana, yang rela bekerja paruh waktu untuk membantu meringankan beban orang tua dalam membiayai diri nya.
Dika atas permintaan Kevin, diminta untuk mengawasi gerak gerik Yura. Dan selaku sahabat, Sesil pun ikut memantau Yura karena dia juga ingin sahabat nya itu bisa kembali ke jalan yang benar.
Dika dan Sesil bekerja sama untuk mengawasi Yura, dan memberikan Yura nasehat-nasehat yang baik agar gadis yang senang berpenampilan seksi itu mau berubah.
Yura yang awal nya merasa terpaksa memakai pakaian yang lebih sopan, akhir nya mau tak mau jadi terbiasa. Dan gadis yang tadi nya bergaya hidup mewah itu lambat laun dapat menyesuaikan diri dengan Sesil yang memang berpenampilan sederhana.
Apalagi Yura juga melihat sendiri bagaimana keseharian Kevin, Salma dan teman-teman nya. Meski pun mereka dari keluarga yang kaya raya, dan mereka juga sudah memiliki penghasilan yang sangat besar.. namun mereka tetap bersahaja, dan tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Kecuali, jika untuk membantu orang lain yang membutuhkan.. mereka tak segan-segan merogoh kocek hingga puluhan juta, seperti yang pernah Yura rasakan sendiri tatkala diri nya bermaksud untuk meminjam uang namun Kevin memberi nya dengan cuma-cuma. Mereka adalah orang-orang yang ringan tangan, dan tetap rendah hati.
Semakin hari, setelah Yura mengenal lebih dekat Kevin, dan yang lain nya.. Yura menjadi semakin malu pada diri nya sendiri. Dia yang lebih senior dari mereka, tapi justru mendapat bimbingan dari yunior-yunior nya.
Siang itu, sengaja Yura mendekati Salma yang tengah menikmati salad buah di kafe seorang diri. "Dik Salma, boleh aku ikut duduk?" Pinta Yura, yang memang belum shift nya untuk bekerja.
Salma tersenyum dan mengangguk.
Yura kemudian duduk di bangku, tepat di hadapan Salma.
Kak Yura mau salad buah? Salma pesankan ya?" Tawar Salma.
"Enggak usah dik, aku baru makan tadi di kantin kampus. Kalau boleh, minta jus alpukat saja," balas Yura jujur.
Salma kemudian memanggil salah seorang karyawan kafe, "mas, tolong buatkan jus alpukat untuk kak Yura ya," titah Salma dengan tersenyum ramah.
"Baik non," balas karyawan tersebut.
"Mbak Yura, jus nya enggak pakai gula kan?" Tanya karyawan, yang merupakan teman kerja Yura itu memastikan.
Yura mengangguk, "iya, Ron,, makasih ya," balas Yura dengan sopan.
Ya, beberapa hari terakhir, setelah beberapa minggu Yura bekerja di kafe tersebut,,, bukan hanya penampilan Yura yang berubah menjadi lebih tertutup, tapi sikap nya juga menjadi lebih sopan meski dengan orang yang lebih muda dari diri nya termasuk pada sesama karyawan di kafe.
Tak berapa lama, jus alpukat pesanan Yura datang.
"Dik, aku mau minta maaf atas semua yang pernah aku lakukan pada dik Salma dan suami," lirih Yura, sesaat setelah karyawan kafe mengantarkan jus buah pesanan Yura.
"Oh,, yang itu? Santai aja kak, kami sudah melupakan nya," balas Salma dengan tersenyum manis. Senyuman yang mampu membuat hati Yura yang membatu, menjadi mencair.
"Makasih dik Salma, aku benar-benar malu sama kalian. Aku manusia yang hina, tapi kalian bersedia merangkul dan membimbing ku menjadi manusia yang lebih baik. Aku berjanji dik Salma, aku tidak akan mengulang kesalahan yang pernah ku lakukan." Ucap Yura dengan serius.
Kembali Salma tersenyum, "enggak perlu mengucap janji kak Yura, tapi buktikan lah bahwa kak Yura sudah benar-benar berubah.. dan berusaha lah untuk menjadi lebih baik, lagi dan lagi," Salma mengatakan nya dengan lembut tapi penuh penekanan, dan menatap Yura dengan tatapan yang hangat.
Yura mengangguk dan tanpa dia sadari, bulir bening jatuh menetes membasahi pipi nya. Yura menangis dalam diam, menyesali semua yang telah dia lakukan. Betapa buruk perilaku nya kala itu,, tidur dengan banyak pria yang kebanyakan sudah beristri, dan Yura jadi teringat dengan perkataan Dika. Bagaimana jika dia berada di posisi istri, dari laki-laki yang jajan kepada nya?
Punggung Yura bergetar, karena isak yang tertahan. Dan melihat hal itu, Salma berdiri dan kemudian memeluk Yura. "Kak, udah.. jangan nangis di sini. Kita ke atas yuk," ajak Salma, seraya menuntun Yura menuju lift. Salma membawa Yura menuju lantai tiga, dimana kantor nya berada.
Devi, Kevin, dan teman-teman nya yang lain, yang melihat kedatangan Salma dan Yura.. menjadi bertanya-tanya. "Dev, lu ikut ke sana gih. Biar tahu apa yang mereka bicarakan." Titah Bayu pada tunangan nya.
"Kok gue? Kevin aja," tolak Devi.
"Lu aja Dev,, kali aja mereka mau ngobrol hal yang privasi tentang masalah perempuan, kan jadi enggak bebas kalau ada Kevin?" Timpal Dion, seraya menatap adik sepupu nya.
Devi mengangguk, "benar juga ya,,, ya udah, gue ke sana sekarang," Devi pun bergegas menghampiri Salma dan Yura di ruangan tersebut.
"Hai kak Yura, lagi free ya?" Tanya Devi berbasa-basi, dan langsung ikut duduk di samping Salma.
"Eh, dik Devi.. iya nih, mumpung belum shift ku jadi bisa ngobrol sama dik Salma." Balas Yura dengan senyum ramah nya.
"Oh,, mau ngobrol penting ya? Kalau gitu, gue pergi deh," pamit Devi pura-pura beranjak dari tempat duduk.
"Di sini aja enggak apa-apa kok dik, enggak ada yang penting juga. Hanya pengin belajar banyak hal aja dari dik Salma, dan dari kalian semua," ucap Yura.
"Oh ya dik Salma, aku mau tanya nih.. tolong jangan di ketawain yah?" Pinta Yura serius.
Salma mengernyit,, emang nya apa kak?" Tanya Salma penasaran.
"Apakah ada syarat khusus bagi perempuan yang ingin memakai hijab, seperti dik Salma dan dik Devi? Apa harus rajin ibadah dulu, atau bagaimana?" Tanya Yura polos.
Yura yang memang tidak pernah mendapat kan bekal ilmu agama dari orang tua nya sama sekali, benar-benar tak mengerti apa yang menjadi kewajiban nya sebagai seorang muslimah. Orang tua nya hanya menyuruh nya untuk sholat dan mengatakan bahwa itu adalah kewajiban, tanpa menjelaskan apa pun mengenai makna sholat itu sendiri.
Salma tertegun mendengar pertanyaan Yura, ada rasa iba menyelinap di hati nya yang lembut. "Tidak kak Yura, tidak ada ketentuan apa pun yang di syarat kan jika kita ingin memakai hijab. Bahkan berhijab bagi seorang muslimah adalah sebuah kewajiban," balas Salma dengan pelan.
"Tujuan dari perintah berhijab itu sendiri adalah untuk menjaga kehormatan dan keselamatan diri para wanita dari gangguan dan godaan laki-laki di luar sana, jadi dengan memakai hijab Insyaallah kita akan terhindar dari hal yang buruk dan pula.. dengan berhijab, kita akan dapat mengontrol perilaku diri kita agar bisa menjadi lebih baik lagi," lanjut Salma.
Yura mengangguk-angguk, "jadi untuk berhijab, kita enggak perlu harus rajin sholat dulu?" Yura menatap Salma.
Salma tersenyum,, "sholat juga merupakan kewajiban bagi seorang muslim kak Yura, apa pun kedudukan nya, bagaimana pun kehidupan nya dan seperti apa perilaku nya di dunia ini.. jika kita mengaku sebagai seorang muslim, maka wajib hukum nya bagi kita untuk mendirikan sholat lima waktu."
"Jadi untuk melaksanakan satu kewajiban, kita tak perlu menunggu untuk melakukan kewajiban yang lain. Karena kedua-dua nya adalah wajib dan harus kita laksanakan semua. Tak perlu menjadi baik dulu, baru sholat. Tak perlu rajin beribadah dulu, baru memakai hijab.. karena Insyaallah, sholat kita, hijab kita, akan membimbing kita ke jalan yang baik. Wallahua'alam,,," lanjut Salma seraya tersenyum hangat.
Kembali Yura mengangguk,
Devi yang sedari tadi ikut mendengar kan pun, mengangguk-angguk. Kini calon istri Bayu itu jadi mengerti, kenapa sang tunangan menyuruh nya untuk berhijab.
"Dik Salma, aku ingin berhijab seperti kalian," ucap Yura dengan sungguh-sungguh.
Salma dan Devi membulatkan mata nya, "benar kah?" Tanya Devi hampir tak percaya.
"Iya dik, aku sudah yakin sekarang," balas Yura mantap.
"Alhamdulillah,,," ucap syukur Salma dan Devi bersamaan.
to be continue,,,