
Jam tujuh on time, rombongan keluarga Rahman tiba di kediaman daddy Rehan. Malam ini Rahman mengenakan batik lengan panjang, yang sama dengan gaun batik yang dikenakan oleh Malika.
Pemuda tampan itu terlihat semakin matang dan nampak berwibawa, sangat pantas jika saat ini Rahman menyandang gelar sebagai CEO muda yang sedang naik daun.
Ya, bisnis Rahman berkembang sangat pesat. Selain karena campur tangan sang papa, tangan dingin daddy Rehan melalui relasi-relasi bisnis nya yang dilakukan secara diam-diam.. juga ikut andil dalam membesarkan nama Rahman yang meski termasuk pemain baru di bisnis properti, menjadi bersinar.
Rahman saat ini di dampingi oleh papa dan mama nya, yang semalam begitu di kabari sang putra bahwa daddy Rehan dan mommy Billa menunggu lamaran nya.. pagi hari, kedua orang tua Rahman tersebut langsung terbang dari Bali menuju Jakarta.
Selain kedua orang tua nya, kakak perempuan Rahman beserta suami dan putra semata wayang nya juga ikut mendampingi Rahman. Hadir juga, tante dari sang mama, beserta keluarga kecil nya.
Sedangkan dari pihak sang papa, sama sekali tak ada yang hadir.. karena memang hubungan persaudaraan mereka telah lama putus. Om Adam, terbuang dari keluarga kandung nya sendiri.
Kehadiran mereka di sambut dengan hangat oleh keluarga besar Antonio, kakek Ilyas selaku sesepuh.. menyalami om Adam dan kemudian mengajak calon besan mommy Billa itu untuk masuk ke dalam.
Semua nya duduk dengan nyaman di ruang keluarga daddy Rehan yang sangat luas, Malika duduk di dampingi sang mommy dan nenek Lin.
Wajah Malika yang memang sudah cantik dari sana nya, malam ini semakin terlihat bersinar dengan sentuhan make up tipis oleh tangan terampil oma Susan.
Gaun batik cantik, dipadukan dengan pasmina berwarna gold yang dililit indah menjuntai ke samping.. semakin membuat gadis cantik itu terlihat anggun.
Rahman yang di dampingi sang papa dan dua teman baik nya, Bayu dan Dion.. tak henti menatap gadis pujaan hati nya, semenjak pertama kali duduk tadi.
"Jangan lupa berkedip," bisik Dion, yang membuat Rahman tersenyum kecut.
Opa Alvian, yang diminta untuk menjadi wakil tuan rumah pun mulai berbicara. Memberikan sambutan dan juga ucapan selamat datang kepada keluarga Rahman, "Ya pak Adam, sebanyak ini lah keluarga kami,, ini belum kumpul semua, karena keluarga pak Rehan belum bisa hadir malam ini di karena kan acara nya dadakan." Ucap opa Alvian, jujur dan apa ada nya.
"Nampak nya, bang Rahman sudah sangat tidak sabar ya ingin segera menghalalkan kakak Malika.. benar tidak bang Rahman?" Tanya opa Alvian menatap Rahman, seraya tersenyum menggoda. "Sampai-sampai, tidak memberi kami waktu untuk mempersiapkan semua nya. Jadi yah, seadanya beginilah sambutan dari kami," pungkas opa Alvian, mengakhiri sambutan nya.
"Ya, seperti nya begitu pak Alvian," balas om Adam sejujur nya, membuka rahasia sang putra yang memang sudah ingin mengesahkan hubungan nya dengan sang kekasih.
Rahman mengusap tengkuk nya yang tidak gatal, karena sang papa membuka rahasia nya.
"Huu,,, bilang nya masih sabar.. santai kayak di pantai? Tau nya ngebet juga lu?!" Cibir Bayu, yang membuat semua yang hadir tersenyum.
Rahman hanya mengedikkan bahu nya, tak peduli dengan apa yang Bayu katakan.
Dan kemudian dari pihak keluarga Rahman yang di wakili oleh om nya pun, menyampaikan maksud kedatangan nya. "Jadi memang awal nya ponakan saya ini ingin melamar neng Malika, putri nya pak Rehan. Tapi tadi sore, saat kami tanya kembali.. bang Rahman mengatakan, kalau boleh,,," om Rico sejenak menghentikan ucapan nya, dan melirik sang keponakan.
Rahman terlihat senyum-senyum sendiri, sedangkan Malika nampak berharap-harap cemas.
Sontak Rahman terkejut, ini benar-benar di luar skenario nya. Karena sejak awal, Rahman sudah meyerahkan sepenuh nya kepada adik dari sang mama tersebut.
Rahman sempat gugup, dan beberapa saat kemudian.. pemuda tampan tersebut dapat menguasai keadaan, dan mulai berbicara dengan pelan dan sangat tenang.
"Benar dad,, mom,, awal nya, Rahman memang hanya ingin melamar dik Icha dulu, dan nanti setelah Rahman wisuda.. baru kami akan melangkah ke jenjang pernikahan." Ucap Rahman dengan jelas.
"Tapi setelah Rahman pikir masak-masak, baik dan buruk nya,,, Rahman memutuskan untuk meminta restu sama daddy dan mommy, sama kakek dan nenek, juga om dan tante semua.. jika di restui, Rahman ingin menikahi dik Icha secepat nya." Rahman mengedarkan pandangan, memberanikan diri menegakkan kepala nya dan menatap anggota keluarga besar Antonio satu persatu.
"Mengingat, hubungan kami yang sudah sangat lama dan sudah sangat dekat... Rahman khawatir, jika tidak segera di halal kan, akan menimbulkan fitnah," lanjut Rahman.
"Betul banget itu bro.. gue miris lihat kedekatan kalian," timpal Bayu, yang kali ini memerankan diri menjadi sohib yang sok bijak.
Kevin dan Dion geleng-geleng kepala mendengar celetukan Bayu, sedangkan yang lain mengernyit.
"Sedekat apa bang?" Tanya mommy Billa khawatir.
"Enggak mom, Bayu jangan di dengerin.." sahut Kevin, yang tak ingin membuat sang mommy menjadi resah. "Tapi menurut abang, kalau memang Rahman serius dan dik Icha nya juga sudah siap.. lebih cepat lebih baik mom," lanjut Kevin, yang tak ingin melihat sang adik yang sangat agresif itu terjerumus ke dalam dosa.
Daddy Rehan dan mommy Billa saling pandang, "kalau itu, bang Rahman sampai kan sendiri pada yang bersangkutan," daddy Rehan menatap calon menantu nya dengan dalam, mencoba menelisik sejauh mana keseriusan Rahman kepada putri nya.
"Baik dad,,," balas Rahman
"Dik Icha, seperti yang bang Rahman sampai kan kemarin malam bahwa bang Rahman tidak bisa menjanjikan apa-apa untuk dik Icha. Bang Rahman belum bisa memberikan kemewahan pada dik Icha, seperti yang selama ini dik Icha nikmati dari orang tua. Tapi bang Rahman akan berjuang untuk selalu membuat dik Icha tersenyum dan bahagia, maukah dik Icha menemani perjuangan abang untuk mewujudkan mimpi indah kita?" Rahman menatap Malika dengan intens.
Tanpa perlu berpikir, Malika mengangguk pasti. "Ya bang, Icha mau," balas Malika, singkat dan jelas. Yang membuat Rahman menjadi lega, begitu pun dengan Kevin.
Tapi tidak demikian dengan mommy Billa, "kak Icha,,, kakak yakin? Kakak baru genap tujuh belas tahun loh.. bahkan kakak masih seusia anak SMA? Kakak siap menjadi ibu di usia semuda ini? Kakak siap menjadi istri yang harus melayani suami, dan setiap pagi menyiapkan segala keperluan nya?" Tanya mommy Billa yang nampak khawatir, karena di mata mommy Billa... Malika masih gadis kecil nya yang dulu.
"Mom,, Icha sudah siap mom, siap banget malah," balas Malika dengan sungguh-sungguh, seraya menggenggam tangan sang mommy untuk meyakinkan bahwa keputusan nya sudah tepat.
Mommy Billa menarik nafas panjang, dan menghembus nya perlahan. Wanita cantik itu, menatap suami nya dengan perasaan gamang.
Daddy Rehan menepuk lembut punggung sang istri, dan kemudian melingkarkan tangan nya di pinggang yang masih ramping seperti delapan belas tahun yang lalu itu. "Mom, daddy percaya.. Rahman pemuda yang baik, sholeh dan bertanggung jawab. Rahman pasti bisa membimbing putri kita mom, tidak ada lagi yang perlu di risau kan?" Bisik daddy Rehan, seraya menatap hangat netra sang istri.
Rahman terlihat cemas dan tak sabar menanti jawab, juga restu dari daddy Rehan dan mommy Billa, "sabar bro, orang sabar di sayang Tuhan," hibur Dion, yang melihat teman baik nya itu gelisah tak sabar menanti dan nampak pula dengan jelas kecemasan di wajah Rahman.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,