
Kebisuan diantara anak dan papi kandung itu masih berlanjut, hingga suara dehaman Rehan membuyarkan semua nya.
"Ehm,,," daddy Rehan menatap Kevin, dengan tatapan hangat nya. Netra kedua nya saling bertaut cukup lama, dan seolah berbicara dalam diam.
Kevin menarik nafas dalam, seraya mengalihkan pandangan nya kearah sang mommy. Dan disambut tatapan lembut, serta senyuman tulus mommy Billa.
Cucu dari putri bungsu keluarga Alamsyah itu kemudian menundukkan pandangan nya, dan memejamkan mata untuk beberapa saat.. Kevin mencoba untuk dapat menguasai diri nya, mengalahkan ego nya, dan meredam emosi nya.
Dan elusan lembut di punggung nya, yang berasal dari tangan sang istri,, mampu memberi nya kedamaian dan ketenangan, hingga Kevin berani untuk menatap laki-laki yang kini masih berdiri di hadapan nya dengan perasaan tak menentu.
Kevin dapat melihat, netra biru milik papi Vincent telah berembun.
Dengan segenap kekuatan hati yang dia miliki, remaja tampan itu maju selangkah mendekati papi Vincent. Dua laki-laki dengan postur yang hampir sama, yang satu berwajah bule dengan kulit bule khas milik nya.. sedangkan yang satu nya berwajah blasteran nan tampan rupawan dengan kulit putih dan bersih, kini berdiri dan hanya berjarak beberapa jengkal saja.
"Pi,,," panggil Kevin seraya merentangkan kedua tangan nya, untuk menyambut pelukan dari sang papi.
Vincent terhenyak, untuk sesaat kesadaran papi Vincent seakan menghilang. Dan sedetik kemudian, laki-laki bule itu memeluk putra kandung nya dengan begitu erat. Tak ada kata yang mampu papi Vincent ucap kan, hanya air mata nya yang terus luruh dan mewakili perasaan nya saat ini.
Begitupun dengan Kevin, remaja blasteran berwajah tampan dengan netra biru milik nya yang sama persis dengan milik sang papi.. pun tak mampu berkata-kata, remaja yang tumbuh tanpa pernah melihat wajah mommy kandung nya itupun hanya bisa menangis dalam diam, dan Kevin semakin mengeratkan pelukan nya.
Hingga membuat semua yang berada di sana, ikut menangis haru menyaksikan adegan yang mengharu biru tersebut.
Bunda Fatima yang menyadari bahwa masih ada Nadin dan Naomi diantara mereka, langsung membawa kedua putri papi Vincent dan mami Nina itu naik ke lantai dua untuk bergabung bersama saudara-saudara nya yang lain.
Setelah beberapa lama saling memeluk, Kevin melerai pelukan sang papi. Kevin menatap papi nya dan nampak berbicara lirih, "pi,, Kevin harap papi tidak mengulang kesalahan yang sama pada mommy Key dan melukai mami Nina. Dan jika itu terjadi, Kevin tidak akan pernah mau menganggap papi adalah papi kandung Kevin dan Kevin juga tidak mau lagi kenal sama papi," ucap nya dengan penuh penekanan.
Mami Nina yang berdiri tak jauh dari sang suami, dan masih bisa mendengar dengan jelas perkataan dari putra kandung suami nya itu semakin terisak haru.. ada perasaan bahagian yang menyelimuti hati nya saat ini, mendengar permintaan Kevin pada papi nya.
"Abang, apa itu artinya bang Kevin bisa menerima mami Nina sebagai mami nya abang?" Mami Nina memberanikan diri untuk bertanya pada Kevin.
Kevin menatap istri papi nya itu lekat-lekat, dan kemudian mengangguk. "Mami adalah istri papi, dan itu arti nya mami adalah mami nya Kevin bukan?" Kevin menjawab pertanyaan mami Nina dengan balik bertanya.
Dengan cepat mami Nina mengangguk, "abang,,," Nina merentangkan kedua tangan nya, menginginkan pelukan dari putra kandung suami nya.
Kevin pun menghambur memeluk istri dari papi nya itu, "abang, makasih untuk kebesaran hatimu," bisik mami Nina, sambil menyeka air mata nya yang terus luruh.
Vincent pun mendekati kedua nya, dan memeluk putra kandung.. serta istri nya itu, bersamaan.
Mommy Billa mengusap-usap lengan sang suami, dan tersenyum hangat pada suami tampan nya. "Daddy is the best.." bisik mommy Billa, yang bisa mengerti perasaan suami nya saat ini.
Daddy Rehan tersenyum, dan menatap dalam manik hitam sang istri, "itu semua karena ada mommy, yang mendampingi daddy selama ini," lirih nya, seraya menggenggam erat tangan sang istri, dan mengecup punggung tangan sang istri dengan lembut.
Setelah ketiga nya puas melepaskan semua yang mengganjal di hati selama ini, mereka pun melerai pelukan dan Kevin kemudian kembali duduk di tempat nya semula, di samping sang istri yang masih nampak berkaca-kaca
Kevin menatap sang istri dengan tatapan yang penuh arti, "baby,, kepalaku tiba-tiba sedikit pusing, temani aku ke kamar ya," pinta nya dengan lembut.
"Tapi.." Salma menggantung ucapan nya.
"Sebaik nya kalian semua istirahat lah dahulu di kamar, sambil menunggu waktu maghrib tiba. Nanti selepas isya, kita bisa melanjutkan lagi untuk mengobrol," titah opa Sultan, menatap semua yang berada di sana bergantian.
"Kalau begitu, Kevin permisi dulu," Dengan tidak sabar, Kevin segera menggandeng sang istri menaiki anak tangga untuk menuju ke kamar nya di lantai tiga.
Daddy Rehan yang dapat memahami putra nya itu pun tersenyum, melihat sang putra yang tergesa-gesa hendak menuju ke kamar nya. "Seperti nya putra kita butuh pelampiasan, untuk mengembalikan suasana hati nya agar kembali membaik," bisik nya pada sang istri, "dan daddy juga membutuhkan nya mom," lanjut nya sambil mengedipkan mata nya, menggoda sang istri.
Mommy Billa mencubit pelan perut sang suami, "selalu saja, pandai menciptakan kesempatan," ucap mommy Billa berbisik.
Daddy Rehan terkekeh pelan.
Nampak oma Sekar mempersilahkan besan dari putra nya itu untuk beristirahat, dan menuntun pak Sulaiman serta bu Widya menuju kamar nya yang berada di lantai itu.
Sedangkan Daddy Rehan segera menarik tangan sang istri untuk menuju ke kamar nya, yang juga masih berada di lantai yang sama.
Sementara Kevin yang telah tiba di kamar bersama sang istri, langsung mengunci pintu kamar nya. Dan remaja tampan itu langsung merebahkan diri nya di kasur yang empuk, "baby,, kemari lah," pinta nya pada sang istri, yang masih berdiri mematung di balik pintu.
Salma pun mendekat, dan duduk di tepi ranjang di samping suami nya yang tengah memejamkan mata. Salma memijat lembut kepala sang suami, dia teringat perkataan suami nya tadi sewaktu masih di bawah yang mengeluh bahwa kepala nya pusing.
Baru sebentar Salma memijat, Kevin menarik tubuh sang istri dan membawa nya dalam pelukan nya. "Kepalaku memang pening baby, tapi bukan pijatan mu yang aku butuh kan. Aku butuh belaian lembut mu," lirih nya sambil mendekap erat tubuh sang istri.
Salma mencoba menjauhkan diri nya, "apa pun yang kamu inginkan suami ku, aku akan melakukan nya.. tapi jangan sekarang, sebentar lagi maghrib," tolak Salma dengan halus, yang mengerti arah pembicaraan sang suami.
Kevin mendesah pelan, "ya, aku tahu, baby.." ucap Kevin, "tapi ijinkan aku memeluk mu," kembali Kevin meraih tubuh sang istri dan memeluk nya dengan erat, seakan enggan untuk melepaskan nya kembali.
to be continue,,,,