
Setelah membeli beberapa camilan dan minuman ringan di mini market tersebut, Rahman dan Malika kembali melanjutkan perjalanan untuk mendatangi rumah teman-teman Kevin guna menyampaikan undangan pernikahan Kevin dan Salma.
Selama dalam perjalanan, Rahman mencoba untuk bersikap santai dengan mengajak Malika ngobrol. Awal nya Rahman memancing dengan menanyakan kegiatan Malika di sekolah, hingga akhir nya tanpa diminta.. Malika menceritakan semua tentang kegiatan nya, tentang teman-teman nya, hingga mengenai kegemaran dan hal yang paling tidak di sukai oleh gadis belia tersebut.
Rahman mendengar kan dengan seksama, sesekali pangeran tampan Malika itu nampak tersenyum.. dan terkadang Rahman menimpali dengan menyelipkan nasehat-nasehat untuk kebaikan Malika.
Hingga tanpa mereka berdua sadari, suasana di dalam mobil sepanjang perjalanan itu menjadi lebih hangat.. mereka seperti sepasang sejoli yang sudah lama saling mengenal dan dekat, padahal kedua nya baru saja dalam tahap penjajakan untuk lebih saling mengenal.
*****
Sementara itu, Dion dan Fira yang berada dalam satu tim,, awal nya juga nampak canggung, namun karena kedua nya sudah sama-sama cukup usia maka kecanggungan tersebut tidak berlangsung lama.
Dion yang pertama kali membuka obrolan, menceritakan awal kedekatan nya dengan Kevin dan teman-teman nya,, hingga kemudian diri nya bergabung bersama group TTM dan ikut bekerja pada Kevin di bisnis e-commers milik Kevin.
"Aku sama Nathan dan Monik dulu nya teman satu kelas di SMP, dan kedekatan itu berlanjut hingga kami masuk SMU. Awal nya sih perilaku mereka masih wajar menurut ku, meski Nathan dan Monik sering kali berbuat sesukanya pada teman-teman yang kurang mampu.. tapi ya masih sebatas candaan, meski terkadang kata-kata nya menyakitkan juga bagi yang mendengar."
"Tapi lama kelamaan, sikap arogansi mereka berdua semakin menjadi.. apa lagi saat mereka berdua tahu, bahwa Kevin jadian sama Salma. Nathan yang diam-diam naksir sama Salma, dan Monik yang terang-terangan ngejar-ngejar Kevin.. tidak terima dengan kebersamaan Kevin dan Salma, hingga mereka berdua merencanakan untuk memisahkan mereka berdua."
"Kamu tahu rencana mereka berdua?" Tanya Fira menyelidik.
Dion menggeleng, "yang kejadian awal, hingga Salma masuk rumah sakit itu.. aku sama sekali tidak tahu," balas Dion. "Namun untuk rencana menjebak Kevin dan Salma di malam perpisahan, mereka melibatkan aku." Lanjut Dion, seraya melirik Fira sekilas.
"Dan kamu mau mau mengikuti kemauan mereka?!" Fira nampak tidak suka.
Dion tersenyum, "aku menerima nya, tapi aku punya rencana lain... yaitu menggagalkan nya." Balas Dion seraya tersenyum, "yah, meski saat itu, antara aku dan Kevin belum akrab tapi aku tahu kalau Kevin adalah teman baik Devi," lanjut Dion.
"Apa hubungan nya?" Fira mengernyit.
"Bagiku, Devi adalah adik yang harus aku lindungi. Dan karena Kevin serta Salma adalah teman baik nya Devi, maka aku juga harus melindungi mereka berdua. Karena aku tahu pasti, Devi pasti akan sangat sedih jika sesuatu yang buruk menimpa teman baik nya.. dan aku paling tidak bisa melihat Devi bersedih," balas Dion.
"So sweet,,, seneng banget ya jadi Devi, punya abang yang care sama adik sepupu dan teman-teman nya seperti kamu," puji Fira seraya tersenyum tulus.
"Memang nya kamu enggak suka?" Tanya Dion ambigu.
Fira mengernyitkan kening nya, "maksud kamu?" Tanya Fira pura-pura tidak tahu, padahal dalam hati Fira sangat senang.. dia merasa bahwa pertanyaan Dion barusan adalah ungkapan dari seorang pria yang menanyakan tentang perasaan diri nya, namun Fira sengaja jual mahal.
Dion menggaruk kepala nya yang tidak gatal, Dion kemudian menghentikan laju kendaraan nya karena lampu traffic light menyala merah. Remaja tampan yang tengah jatuh cinta itu menatap gadis berhijab yang duduk di samping nya dengan intens, Dion seakan ingin mencari jawaban dari pertanyaan nya tadi melalui netra kebiruan milik Fira.
Dan apa yang dilakukan Dion tersebut, membuat Fira menjadi salah tingkah. "Hai, udah hijau tuh.. fokus dong sama jalanan,,," protes Fira, yang merasa lega karena terbebas dari tatapan Dion yang seakan mengintimidasi nya itu.
Dion tersenyum, dan kemudian segera melajukan kembali mobil nya membelah jalanan ibukota.
Untuk sesaat, kedua nya sama-sama diam.. hingga hanya keheningan yang tercipta.
Fira mengangguk, "iya, apa?"
"Apakah saat ini, kamu sedang tidak menjalin hubungan khusus dengan seseorang?" Tanya Dion, ingin memastikan sendiri pada Fira. Dia tidak mau, jika ternyata diri nya mendekati perempuan yang tengah menjalin ikatan dengan laki-laki lain.. karena itu artinya, diri nya akan menjadi pihak ketiga.
Fira menggeleng,, "aku belum pernah menjalin kedekatan dengan seorang laki-laki, bahkan pergi berdua dengan laki-laki ini adalah yang pertama," balas Fira jujur, "ayah sangat protektif, begitu pun dengan bang Zaki. Apalagi kebanyakan teman-teman ku adalah bule, entahlah.. ayah seperti anti pati pada pria bule, mungkin karena ayah masih teringat dengan kisah cinta mommy Keyla, mommy nya Kevin," lanjut nya tiba-tiba sendu.
Dion menepuk pelan pundak Fira, mencoba menyalurkan ketenangan. "Aku juga enggak nyangka, sosok yang hampir sempurna seperti Kevin ternyata dari keluarga yang broken. Aku sempat tidak percaya saat Devi cerita," ucap Dion pelan.
"Aku salut sama daddy Rey dan mommy Billa dalam mendidik dan menyayangi Kevin, hingga Kevin tumbuh menjadi seperti sekarang tanpa merasa kekurangan kasih sayang orang tua," lanjut Dion penuh kekaguman pada sosok daddy tampan dan istri nya.
Fira mengangguk,, "ya, kamu benar Dion. Bahkan kami semua juga kagum sama daddy dan mommy,, dan kami semua juga sangat menyayangi dik Kevin."
Kembali hening menyapa,,
"Neng Fira, jadi kalau aku dekat sama neng Fira.. enggak ada yang marah kan?" Lagi, Dion ingin memastikan.
Fira tersenyum,, "ada," balas nya singkat.
Dion mengernyit, "siapa? Pacar kamu? Tadi kamu bilang, sedang tidak dekat dengan laki-laki lain?" Cecar Dion dengan banyak pertanyaan, Dion nampak gusar.
Senyum Fira semakin lebar, "ayah yang akan marah," balas Fira, mencoba menakut-nakuti Dion. Fira tidak tahu, jika sang ayah telah menyerahkan semua keputusan pada diri nya.
Dion tersenyum,, "yakin ayah Yusuf akan marah?" Goda Dion tersenyum simpul, seraya melirik Fira.
Fira mengangguk pasti, dan berharap Dion percaya dengan ucapan nya.. hingga Dion tak akan berani mengutarakan isi hati nya dalam waktu dekat, karena Fira masih ingin meyakinkan diri nya terlebih dahulu.
"Aku kan bukan bule? Kenapa ayah Yusuf harus marah kalau kita dekat? Bahkan mungkin yang ada, ayah Yusuf akan mendukung kita kalau beliau tahu kita dekat?" Sanggah Dion dengan santai.
"Dih,, pede banget kamu Dion?!" Cibir Fira.
Dion semakin mengembangkan senyum nya, "harus pede dong,, untuk mendapatkan bidadari impian nan cantik seperti neng Fira, kalau enggak pede enggak bakalan jadi nyata." Balas Dion, penuh percaya diri. Dari serangkaian obrolan yang terjalin sepanjang jalan, Dion dapat menyimpulkan bahwa Fira sebenar nya menyambut baik perasaan nya.
Hanya saja, Dion harus bersabar,, karena seperti nya Fira sengaja mengulur waktu untuk dapat menerima diri nya. Dan Dion dapat mengerti itu, karena diri nya pun ingin mengenal lebih dekat dengan Fira sebelum mereka berdua mengambil keputusan besar untuk menjalin sebuah ikatan yang lebih serius.
Mendengar Dion menyebut diri nya bidadari impian, membuat Fira tersipu dengan wajah nya yang merona merah.
"Gimana neng Fira? Boleh kan, kalah aku mendekati mu dan mengambil hati mu?" Tanya Dion penuh harap, "ijinkan aku membuktikan, bahwa aku layak kamu pertimbangkan," lanjut Dion seraya menatap netra kebiruan gadis cantik, yang telah merebut hati nya itu.
to be continue,,,