
Esok hari nya, Rahman dan Malika di jemput oleh Kevin, Bayu dan Dion. Dan setelah mendapatkan visit terakhir dari dokter yang menangani Rahman, dan mendengar penjelasan dari dokter tersebut mengenai apa saja yang tidak boleh dilakukan oleh Rahman serta apa saja yang sebaik nya di konsumsi untuk mempercepat proses penyembuhan tangan Rahman... mereka berlima kemudian langsung kembali ke rumah utama, karena keluarga besar Malika dan keluarga Rahman sudah menunggu untuk beramah tamah paska akad nikah serta untuk membahas kembali resepsi pernikahan Rahman dan Malika.
Di sepanjang perjalanan yang ditempuh dalam waktu enam puluh menit lebih itu, tak henti Bayu berceloteh. "Bro, semalam pakai gaya apa lu dengan satu tangan gitu?" Tanya Bayu, tanpa basa-basi, hingga membuat wajah Malika merona merah dan kemudian memilih memejamkan mata dengan meringkuk di pangkuan sang suami.
Karena belum juga mendapatkan jawaban dari Rahman, Bayu kembali iseng menggoda Malika. "Dik Icha sekarang dah berani ya, tidur di pangkuan yayang Rahman? Atau, jangan-jangan semalam udah praktek langsung main pangku-pangkuan nya??" Bayu yang duduk di bangku paling belakang, terus saja menggoda pengantin baru itu.
Dan berhasil membuat Malika yang belum benar-benar tertidur itu, terkekeh pelan sambil menutup mulut nya. Malika teringat kembali permainan nya semalam, sesaat setelah suami dan teman-teman nya ngobrol ngalor ngidul tak karuan di group.
Semalam, diri nya yang sudah tertidur kemudian di bangunkan oleh sang suami agar pindah ke ranjang. Namun saat hendak pindah, Malika teringat bahwa mereka belum jadi main di sofa karena keburu ada telpon masuk. "Abang, kita main si sofa nya jadi enggak?" Tanya Malika dengan polos nya.
"Hah,,? Apa yank? Main,,, gimana maksud nya?" Tanya Rahman tergeragap, sambil menutup layar ponsel nya. Karena tadi, setelah membangunkan sang istri.. Rahman sempat membuka chat dari sang mama, yang memberitahukan rencana untuk besok pagi.
"Main,, kayak tadi di sana," balas Malika seraya mengerling, dan menunjuk kearah ranjang pasien.
Rahman terkekeh demi mendengar jawaban yang tanpa tedeng aling-aling dari sang istri, "istri gue memang beda, bikin hidup gue jadi lebih berwarna dan.. menggoda," bisik Rahman dalam hati.
"Icha tahu gaya nya biar sama-sama enak, karena kan tangan abang lagi sakit," lanjut Malika dengan antusias, seolah dia adalah pemain professional. Padahal dia adalah amatiran, terbukti... semalam berkali- kali usaha nya untuk menjemput bola selalu gagal, hingga akhir nya sang pemilik bola yang dengan gagah perkasa memasukkan sendiri bola nya ke dalam gawang.
Rahman mengernyit, tatkala istri nya langsung naik ke pangkuan nya tanpa aba-aba. Dan sejurus kemudian, Malika telah benar-benar menguasai Rahman dan menerbangkan suami nya jauh tinggi ke langit ke tujuh bersama diri nya yang telah menyatu.
Membawa sang suami menikmati perjalanan panjang yang sangat menyenangkan, terbang di antara gugusan bintang-bintang yang menghiasi indah nya cakrawala malam. Terus terbang melayang hingga setinggi-tinggi nya, untuk bersama-sama mencapai puncak nirwana.
"Bay,, lu udah pernah denger suster ngesot lari terbirit-birit belum?" Tanya Dion yang sedang mengemudikan mobil mewah salah satu koleksi milik daddy Rehan, seraya tersenyum seringai.
"Diam! Jangan bahas yang gituan lagi!" Teriak Bayu seraya menutup telinga nya, dan suara nya yang nyaring berhasil menyadarkan Malika dari lamunan indah nya tentang kejadian semalam di sofa rumah sakit yang empuk.
"Kalau belum pernah lihat, tanya tuh sama si Rahman,," lanjut Dion, yang tetap melanjutkan pembahasan nya tentang suster ngesot tanpa memperdulikan ekspresi Bayu yang sudah ketakutan.
"****!" Umpat Bayu yang merasa kesal setengah mati.
Rahman terkekeh seraya menoleh ke belakang, dimana Bayu duduk. "Kata nya mau dengar cerita gue, gimana cara gue mencetak gol semalam?" Rahman menatap Bayu, seraya memainkan kedua alis nya. Dan berhasil memancing Bayu, untuk tak lagi menutup telinga dan kemudian terlihat antusias ingin mendengar kan cerita dari Rahman.
"Lu pernah baca sebuah artikel yang membahas mengenai berbagai macam posisi bercinta enggak Bay?" Rahman mengawali cerita nya dengan serius, "salah satu gaya nya kan bisa di lakukan oleh orang yang enggak bisa bergerak sekalipun, posisi pasrah..." lanjut Rahman seraya tersenyum simpul, dan melirik sang istri sekilas.
Malika membalas senyum nya, "sangat manis,,," puji Rahman dengan berbisik di telinga sang istri, hingga membuat wajah putih itu, kembali merona merah.
Rahman menggeleng,, "dengerin dulu," pinta Rahman, sejenak menjeda ucapan nya untuk mengulur waktu agar Bayu semakin penasaran.
"Terus gimana?" Kejar Bayu.
"See,, dia memang orang yang tingkat kepo nya tinggi," gumam Rahman dalam hati, seraya tersenyum seringai.
"Jadi pas gue sama dik Icha lagi main, kan ranjang nya bergetar dan bergoyang hebat tuh.. nah, suster ngesot yang sembunyi di bawah ranjang terkejut dan reflek langsung lari sambil membawa tiang infus untuk di jadi kan tongkat." Pungkas Rahman dengan tawa nya yang pecah, tatkala mendapati wajah Bayu yang langsung pias.
Kevin dan Dion yang duduk di depan pun ikut tertawa, "suster ngesot nya lari karena mau ngambil ponsel Bay, mau merekam adegan ranjang bergoyang rumah sakit." Timpal Dion, masih dengan tawa nya.
"Lumayan kan Bay, buat kenang-kenangan saat suster ngesot pensiun nanti dan bisa dijadikan cerita untuk generasi penerus suster ngesot.. ini lho, waktu nenek bertugas ada yang bikin blue film dengan judul ranjang bergoyang," imbuh Kevin, yang membuat nyali Bayu semakin menciut karena nama suster ngesot terus saja di sebut-sebut.
Ya, Bayu memang jahil tapi asli nya dia sangat penakut. Hanya dengan mendengar nama makhluk astral di sebut, Bayu seolah dapat melihat nya dan akan langsung ketakutan. Apalagi jika di ceritakan secara detail seperti tadi, bagaimana suster ngesot bisa berlari.. bisa di pasti kan, sekujur tubuh Bayu akan banjir oleh keringat Dingin.
"Atau jangan-jangan, suster ngesot nya masih ngintilin kalian berdua Man,,, karena penasaran, setelah ranjang bergoyang di rumah sakit kemudian apalagi yang akan bergoyang?" Dion masih saja berusaha untuk memperpanjang bahasan suster ngesot tersebut, yang membuat Kevin geleng-geleng kepala melirik kearah nya seraya menahan tawa.
"Emang ngikut dia tadi.. kayak nya sih duduk di belakang," balas Rahman semakin menjadi.
"Gue enggak mau duduk di belakang sendiri," ucap Bayu dengan gemetaran, dan langsung menyeruak untuk duduk di bangku tengah bersama Rahman dan Malika.
"Iihh,, bang Bayu, sempit nih?!" Protes Malika yang terdesak ke pintu bagian kanan, karena Bayu duduk di sisi paling kiri.
"Enak yang sempit Cha,," balas Bayu asal, sambil mengatur nafas nya.
Apaan sih,, enggak jelas banget ngomong nya," gerutu Rahman, seraya melirik Bayu. Khawatir, sang istri tak nyaman dengan candaan Bayu yang over.
"Punya nya suster ngesot sempit banget tuh Bay, secara kaki nya kan di empit terus tuh.. enggak pernah di buka," timpal Dion, balik ke pembahasan tentang suster ngesot. Yang membuat Bayu mendelik kesal, dan kemudian meninju lengan Dion.
"Aw,, Bay, wah lu KDRT. Gue akan lakukan visum dan membawa bukti visum tersebut ke Pengadilan Agama, dan gue pastikan,,, gugatan cerai gue pasti akan langsung di acc." Ucap Dion dengan mimik serius.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc...