All About KEVIN

All About KEVIN
I'm Serious Baby,,,



Ponsel Kevin menyala, tanda ada pesan baru masuk. Buru-buru Kevin membuka ponsel nya, dan membaca chat dari Salma.


"Apa kamu sudah memaafkan papi mu, dan bisa menerima nya sebagai ayah kandung?" Kevin membulatkan mata nya, membaca chat dari Salma tersebut.


"Maaf semua, ada hal penting yang harus kami berdua selesaikan," Kevin meminta ijin pada semua yang hadir, untuk berbicara dengan Salma. "Salma, kita keluar sebentar," titah nya, dan segera beranjak keluar dari ruang tamu menuju teras.


Salma hanya bisa menurut, dan mengekor di belakang nya.


"Ada apa? Kenapa mengajak ku keluar?" Tanya Salma, sesaat setelah kedua nya berada di teras kediaman Salma.


"Kamu mengatakan bahwa kamu punya syarat yang akan kamu ajukan, tapi kenapa kamu malah menanyakan tentang ayah kandung ku?" Tanya Kevin, dengan mengabaikan pertanyaan dari Salma,


"Pertanyaan itu, ada hubungan nya dengan syarat yang aku ajukan," balas Salma.


Kevin terdiam untuk beberapa saat,


"Aku sudah memaafkan papi Vincent, tapi untuk menerima dia sebagai ayah kandung,,, aku belum bisa Salma, aku belum siap." Kevin menggelengkan kepala nya pelan.


Salma menarik nafas dalam, dan menghembus nya perlahan, "belum bisa menerima,,, itu adalah ungkapan lain dari penolakan Kevin, dan itu karena hatimu belum benar-benar tulus memaafkan nya." Lirih Salma, seraya menatap dalam netra biru milik Kevin.


"Aku bersedia menikah dengan mu, jika kamu sudah bisa memaafkan dan menerima om Vincent sebagai ayah kandung mu." Ucap Salma dengan tegas.


Kevin mengerutkan kening nya,


'Karena aku tak mau memiliki suami pendendam, suami yang tak bisa melihat ketulusan seseorang dan tak menghargai usaha orang lain untuk dapat berubah menjadi lebih baik."


Kevin mendesah kasar, "lantas aku harus bagaimana Salma? Mungkin aku masih butuh waktu..." lirih Kevin dengan perasaan yang berkecamuk.


"Waktu? Untuk?' Salma mengernyit.


"Untuk melupakan semua pengkhianatan papi terhadap mommy ku Salma,," balas Kevin sangat lirih dan seakan berbisik. "Papi mengkhianati mommy Keyla saat aku masih berada dalam kandungan mommy, dan laki-laki itu mengabaikan kami berdua Salma. Hingga mommy meninggal,, dan aku di asuh oleh daddy Rey," lanjut nya dengan suara memendam kepedihan.


"Apakah om Vincent sudah meminta maaf? Dan mengakui semua kesalahan nya kepada mu?" Tanya Salma dengan lembut.


Kevin mengangguk,,


"Tidak ada yang dapat dilakukan oleh waktu Kevin,,, karena diri kita sendiri lah yang bisa mengendalikan waktu. Waktu tak akan dapat melupakan kenangan pahit, tidak pula dapat menghapus jejak masa lalu, hingga dengan tiba-tiba kita dapat memaafkan kesalahan seseorang. Karena yang bisa melakukan itu semua adalah hati dan pikiran kita," balas Salma.


"Seberapapun banyak waktu yang kamu butuh, tapi jika hati dan pikiran kamu tidak berusaha untuk melupakan dan menghapus kenangan buruk tersebut, maka waktu yang kamu lalui akan terbuang sia-sia." Lanjut Salma seraya menatap jauh ke depan.


"Dan aku tidak mau hidup bersama, dengan orang yang telah menyia-nyiakan dan tidak menghargai waktu," ucap Salma tegas, seraya beranjak meninggal kan teras untuk masuk kedalam.


Kevin yang dapat memahami apa yang dikatakan Salma, langsung menarik tangan gadis berhijab itu, sebelum Salma mencapai pintu. "Tunggu.." lirih Kevin, sambil memegang tangan Salma.


"Aku akan menerima papi Vincent sebagai ayah kandung ku,,, dan menikah lah dengan ku malam ini juga Salma," pinta Kevin, menatap Salma dengan sungguh-sungguh.


"Apa alasan kamu menerima nya? Apa karena aku?" Tanya Salma menyelidik.


Ya, Kevin mengakui kecerdasan Salma,, dan hanya gadis itu yang bisa dan berani membantah ucapan nya, jika di rasa apa yang Kevin ucap kan tidak pas atau tidak sesuai dengan konteks pembicaraan mereka. Tidak seperti teman-teman gadis nya yang lain, yang hanya patuh dan menyetujui setiap perkataan nya... hanya untuk mencari perhatian dari Kevin.


Salma menatap Kevin, "apa kamu benar-benar serius akan menikahi aku sekarang?" Selidik Salma.


"I'm serious baby,, menikah lah dengan ku, kita akan berjuang bersama-sama.. dan kita akan bahagia selama nya." Balas Kevin dengan penuh penekanan, dia benar-benar serius saat mengucapkan nya.


Salma mengangguk, "baik lah, ayo kita segera masuk dan menikah," ucap Salma, seraya melepaskan tangan nya yang masih di pegang Kevin sedari tadi.


"Tunggu Salma,,," lirih Kevin, "aku sudah memenuhi permintaan mu untuk menerima papi Vincent, dan aku akan meminta nya untuk menjadi saksi pernikahan kita," Kevin menghentikan sejenak ucapan nya.


"Benarkah?" Potong Salma dengan mata berbinar bahagia.


"Tapi ada syarat nya,, kamu harus mencium ku begitu ijab qabul telah terucap," pinta Kevin dengan menatap dalam netra Salma.


"Ish,, itu memalukan Kevin, aku tidak mau," tolak Salma, dengan wajah yang merona merah. Ya, jelas saja Salma malu melakukan nya. Karena dia tidak pernah melakukan hal itu sebelum nya, bahkan bergandengan tangan dengan sengaja saja dia tidak pernah melakukan nya.


"Jadi,, apa arti anggukan mu dan permintaan mu mengajak ku untuk segera masuk dan menikah tadi?!" Tanya Kevin dengan nada kecewa, dia menganggap dengan menolak permintaan nya tadi... itu arti nya, Salma tidak benar-benar serius ingin menikah dengan nya.


"Aku serius dengan ucapan ku Kevin,, tapi untuk mencium mu di depan semua orang, aku memang tak bisa. Tapi.." Salma menjeda ucapan nya, dan mendekatkan wajah nya ke wajah Kevin, "aku akan melakukan nya nanti di kamar," bisik nya di telinga Kevin.


Kevin tersenyum lebar, jantung nya berdebar lebih kencang saat wajah kedua nya sangat dekat tadi,,, ingin rasa nya saat itu juga Kevin mencium gadis cantik itu, jika diri nya tak ingat bahwa mereka berdua belum halal.


"Aku pegang kata-kata mu baby... dan aku akan menagih nya," bisik Kevin, seraya mendorong pelan tubuh Salma untuk kembali masuk kedalam rumah.


Kini kedua nya sudah duduk di tempat nya semula, di ruang tamu bersama keluarga besar Kevin dan sejumlah tamu undangan dari tetangga terdekat pak Sulaiman.


"Lama sekali kalian,, jadi menikah tidak?" Celetuk Ilham dengan tidak sabar, ingin segera mengetahui keputusan dua remaja tersebut.


Kevin hanya melempar senyum kepada adik bungsu dari sang mommy, yang sudah seperti sahabat bagi diri nya itu.


"Papi.. Kevin minta sama papi untuk menjadi saksi pernikahan Kevin, apa papi bersedia?" Pinta dan tanya Kevin pada papi kandung nya dengan hanya memanggil papi, tidak seperti biasa nya yang memanggil pria bule itu dengan sebutan papi Vincent.


Mendengar permintaan dan panggilan Kevin yang tidak biasa, Vincent langsung saja menyambut dengan hati yang membuncah bahagia, "yes son, sure.. papi mau menjadi saksi pernikahan kamu," balas Vincent dengan senyum lebar.


Rehan mengernyit, "gadis ini benar-benar luar biasa.. hanya ngobrol sebentar di luar, tapi dia sudah berhasil membuat Kevin mengambil sebuah keputusan besar dengan menerima Vincent," gumam Rehan seraya menatap Salma dan Kevin bergantian.


Sadar mendapat tatapan dari sang daddy, Kevin hanya tersenyum dan mengacungkan ibu jari nya.


Rehan pun tersenyum,, mengerti kode dari sang putra, dan daddy tampan itu kemudian mengangguk-angguk.


Hening kembali menyapa ruang tamu tersebut, tetangga Salma dan keluarga besar Kevin yang tadi ngobrol hangat sambil menunggu mereka kembali dari teras,,, semua nya terdiam, tak ada yang bersuara.


"Pak Leman, silahkan bisa dimulai saja pernikahan untuk putra dan putri kita," titah Rehan pada ayah Salma.


to be continue,,,