All About KEVIN

All About KEVIN
Saya Tidak Mau di DO



Setelah melalui perdebatan panjang dan sangat alot, dimana pihak Monica terus-terusan menyangkal... padahal sudah ada bukti kuat yang membenarkan bahwa diri nya lah tersangka utama.


Dan Kevin selaku pelapor serta pak Sulaiman selaku ayah korban, telah menunjukkan foto-foto Salma dengan kondisi nya yang memprihatinkan.. yang saat ini masih di rawat di rumah sakit, akhir nya pihak kepala sekolah memutuskan mengeluarkan Monica dari sekolahan tersebut.


Monica berteriak histeris, "tidak, gue tidak bersalah! Gue hanya ingin mendapatkan sedikit perhatian dari Kevin! Apa itu salah?!" Monica berdiri dan terus meracau dengan tidak jelas.


Sedangkan Mr. Robinson nampak sangat geram, pria bule itu memeluk putri nya dengan sangat erat. "Saya akan membuat perhitungan dengan anda!" Seru nya sambil menunjuk pak Sulaiman, dengan tatapan marah.


Monica melepaskan pelukan ayah nya, " pak, saya sudah mau lulus, saya tidak mau di DO,," pinta Monica dengan penuh harap, gadis itu memelankan suara nya dan minta belas kasih pada kepala sekolah.


Namun kepala sekolah beserta segenap dewan guru, tidak dapat membantu Monica lagi.. karena keputusan tersebut sudah benar-benar final, dan sudah di setujui oleh kepala sekolah itu sendiri bersama jajaran dewan guru yang saat ini ikut hadir dalam rapat tersebut. Mengingat, perbuatan Monica dapat mengancam keselamatan jiwa korban nya.


"Maaf Monica, keputusan nya sudah bulat.. dan tidak dapat di ganggu gugat," jawab bapak kepala sekolah dengan tegas.


"Princess,, mari kita pulang, kamu bisa lanjutkan studi mu di Amerika dan tinggal di sana bersama grandma dan grandpa," ucap Mr. Robinson dengan lembut, membujuk putri nya agar mau pulang.


Monica mengangguk patuh, gadis itu menatap Kevin dengan penuh kebencian.


"Kevin! Kamu sudah menolak putri ku! Aku akan pastikan, perusahaan milik mu di Bali akan aku buat habis tak tersisa!" Lirih Mr. Robinson dengan penuh penekanan, saat melintasi Kevin yang berdiri bersama ayah mertua nya.


Kevin hanya mengedikkan bahu nya.


Setelah ayah dan anak gadis nya itu hilang di balik pintu, kepala sekolah berdeham. "Ehm.."


Semua mata tertuju pada laki-laki paruh baya yang berkharisma itu.


"Pak Sulaiman, atas nama pribadi dan atas nama segenap dewan guru.. saya meminta maaf, atas kejadian yang menimpa putri bapak. Dan kami memberikan dispensasi kepada Salma, untuk mengikuti ujian susulan jika nanti kondisi nya sudah membaik," ucap kepala sekolah tersebut, dengan penuh wibawa.


Pak Sulaiman mengangguk-angguk, "terimakasih banyak pak," balas pak Sulaiman dengan sopan.


Kepala sekolah tersebut tersenyum hangat, "kami yang seharusnya berterima kasih pada pak Leman. karena bapak tidak melaporkan kasus ini ke pihak yang berwajib. Jika sampai itu terjadi, tentu nama baik sekolah kita ini akan menjadi buruk citra nya," ucap pak kepala sekolah dengan tatapan teduh nya.


"Pihak sekolah yang akan mengganti semua biaya perawatan untuk Salma," lanjut kepala sekolah, "saya mohon pak Leman tidak menolak iktikad baik kami, ini hanya bagian kecil dari empati kami atas apa yang menimpa Salma di sekolah," pinta kepala sekolah, agar pak Sulaiman tidak menolak bantuan tersebut.


Pak Sulaiman hanya bisa mengangguk, "baik pak, jika itu sudah menjadi kebijakan dari pihak sekolah, maka kami tidak dapat menolak nya," balas pak Sulaiman menyetujui nya, dan melirik kearah menantu nya agar tidak keberatan untuk menerima nya.


Kevin pun hanya bisa mengangguk,


"Kalau begitu, kami mohon undur diri.. untuk segera kembali ke rumah sakit," pamit pak Sulaiman kepada kepala sekolah, dan dewan guru yang lain.


"Kevin juga mohon undur diri pak, Kevin harus mengantarkan pak Sulaiman kembali ke rumah sakit," ucap Kevin dengan formal, dan kemudian menyalami bapak kepala sekolah dan guru-guru nya yang lain.


"Nak Kevin, terimakasih ya,," ucap bapak kepala sekolah, seraya tersenyum hangat kepada siswa nya yang selalu mendapatkan juara satu itu.


Kevin mengangguk, dan kemudian bergegas melangkah keluar dari ruangan rapat itu mengiringi langkah ayah mertua nya.


*****


Sementara di rumah sakit, Salma dikunjungi oleh teman-teman dekat nya. Begitu mendengar kabar bahwa Salma di bawa ke rumah sakit, dan memastikan langsung kepada Kevin melalui chat.. Bayu mengajak Devi dan Rahman untuk mengunjungi Salma, setelah mereka menyempatkan diri memeriksa pekerjaan di base camp sebentar.


"Ya ampun Salma,, apa yang terjadi?" Tanya Devi, seraya memeluk teman baik nya itu. Devi mengamati wajah Salma dengan tatapan miris.


Salma tersenyum, "alergi ku kambuh Dev," balas Salma, sambil berusaha untuk duduk.


Devi membantu Salma untuk duduk, dan kekasih Bayu itu ikut duduk di tepi ranjang Salma.


"Apa yang lu rasakan Salma?" Tanya Rahman penuh perhatian.


"Tadi nya sih gatal banget, panas dan sedikit nyeri karena leherku kan membengkak," balas Salma.


Devi berusaha membuka hijab Salma, namun buru-buru Salma menahan tangan Devi. "Kalau kamu mau lihat, nanti jika tak ada mereka," bisik Salma.


Devi mengangguk, "Maaf," ucap Devi yang mengerti, bahwa Salma tak ingin membuka aurat nya di depan teman pria nya


"Sempat sesak nafas juga tadi, dan kepala ku pusing.. maka nya dokter menganjurkan untuk di rawat inap," lanjut Salma. "Tapi Alhamdulillah, sekarang udah membaik," Devi tersenyum pada teman-teman dekat nya itu.


Hening menyapa ruang rawat Salma.


"Tadi kata ibu lu, Kevin dan ayah lu ke sekolah?" Tanya Bayu, sesaat kemudian memecah keheningan.


Ya, di ruang tamu tadi.. mereka bertiga bertemu dengan bu Widya seorang diri, karena daddy Rehan dan mommy Billa baru saja pamit untuk pulang karena hari menjelang sore. Daddy dan mommy nya Kevin itu berjanji, akan kembali lagi nanti malam.. selepas mengajari putra putri mereka mengaji.


"Iya, bapak sama Kevin di panggil untuk ikut sidang kasus ku ini," balas Salma.


"Gue berharap, Monik dikeluarkan dari sekolah. Biar dia kapok, dan enggak bisa bikin ulah lagi di sekolah... meresahkan!" Seru Devi, sedikit emosi.


"Sabar sayang,, jangan mudah terpancing emosi," ucap Bayu dengan lembut.


"Habis nya, gue sebel sama cewek model gitu.. cinta nya enggak kesampaian, eh malah cari-cari celah untuk menyakiti pacar gebetan nya. Dih,, enggak banget!" Devi masih emosi.


Sedangkan Salma dan Rahman hanya tersenyum.


"Eh Man, lu masih suka ya sama si Monik?" Tanya Devi kemudian.


Rahman tersenyum dan menggeleng pelan, "kayak nya perasaan gue itu, bukan cinta deh Dev... tapi lebih ke rasa sayang, karena kami berteman sejak kecil dan hubungan orang tua kami cukup dekat saat itu. Sayang terhadap teman mungkin.." balas Rahman seraya mengedikkan bahu nya.


"Baguslah kalau kamu enggak benar-benar cinta sama Monik, dia itu cewek enggak bener.. enggak pantas dia mendapatkan cowok baik kayak lu, bro,," ucap Bayu.


"Benar Man,, aku do'akan semoga nanti nya kamu bisa dapetin cewek yang baik," Salma menimpali dan mendo'akan kebaikan untuk teman nya itu.


"Makasih ya, gue benar-benar bangga memiliki teman-teman baik seperti kalian.. yang selalu kasih support dan tidak pernah menjatuhkan satu sama lain," balas Rahman penuh rasa haru.


"Yah,, melo amat sih lu, kayak perempuan aja." Bayu menyentil pelan dahi Rahman.


"Eh Man,, adik nya Kevin tuh, cantik banget loh dia," Devi mencoba menjadi mak comblang.


Salma mengernyit.


"Maksud lu, Malika... sayang?" Tanya Bayu pada sang pujaan hati.


"Ya iyalah Bayu sayang,,, masak si Mela, dia aja bicara nya masih cedal kan? Masak nanti manggil nya bang Lahman... Mela lindu... kan enggak lucu?!"


"Rahman jadi pedofil dong.. kalau sama Maira," Bayu terkekeh, yang lain pun ikut tertawa.


"Ada apa ini, bawa-bawa nama adik gue?" Tanya Kevin yang baru masuk.


Dan semua nya langsung terdiam..


to be continue..