All About KEVIN

All About KEVIN
Anggap Aja Kami Patung



Acara makan malam keluarga besar itu pun di mulai, makan malam tersebut di gelar secara lesehan di halaman belakang,,, di atas rumput yang di alasi permadani, dan langsung menghadap langit yang cerah yang di penuhi bintang-bintang.


Tiga generasi yang berbeda, mereka duduk bersama dengan tertib menikmati hidangan makan malam yang disiapkan keluarga daddy Rehan.


Anak-anak nampak makan dengan tertib, meski sesekali mereka bercanda namun tidak sampai mengganggu yang lain.


Para orang tua pun menikmati santap malam sambil ngobrol ringan, begitu pun dengan Kevin dan teman-teman nya.


Edo, Dika serta duo sahabat, Sesil dan Yura yang baru pertama kali mengikuti acara di keluarga besar Kevin tersebut,,, dibuat kagum dengan sikap daddy Rehan dan mommy Billa beserta keluarga besar nya, yang hangat dan bersahaja.


Devi yang sempat melirik kearah Yura dan mengetahui bahwa senior nya di kampus itu, yang sempat memusuhi Salma,,, terkagum-kagum dengan keluarga Kevin pun berbisik. "Ini belum lengkap kak Yura, keluarga Salma yang sultan dari Makassar belum ada yang hadir." Bisik Devi, yang membuat Yura semakin melongo.


"Gue pikir, Bagas itu sudah paling tajir sekampus.. tapi ternyata, dia enggak ada apa-apa nya dibanding Kevin." Gumam Yura dalam hati, seraya mengedarkan pandangan mengamati satu persatu keluarga Alamsyah dan Antonio.


"Ternyata benar apa yang di katakan Salma waktu itu, di atas langit masih ada langit... dan jangan lah kita terus mendongak ke atas, karena itu akan membuat kita tersandung,," Bisik Yura dalam hati, seraya melirik pada Edo.


"Mungkin, ini saat nya gue menerima bang Edo. Dia cowok yang baik, dan selama ini sudah banyak membantu gue secara materi dan men support hijrah gue." Dan tepat di saat yang sama, Edo pun sedang melirik Yura. Kedua nya tersenyum, dan hanya mereka berdua yang bisa mengartikan senyuman itu.


Ya, semenjak Yura bekerja di kafe milik Kevin dan Salma.. Edo mulai menaruh hati pada gadis seksi itu. Dan tatkala Yura memutuskan untuk berhijab, Edo semakin semangat mendekati Yura. Ketua tim IT di perusahaan e-commers milik Kevin itu, tak segan-segan membantu Yura, dan selalu mengingatkan Yura dalam hal kebaikan.


"Ra, mau nambah enggak makan nya? Kalau udahan, biar gue beresin piring kotor nya?" Tanya Sesil seraya menyenggol lengan Yura, yang membuat lamunan Yura menjadi buyar.


"Eh, iya Sil.. ayo kita bantu membereskan piring nya," ucap Yura seraya menumpuk piring-piring kotor di kanan dan kiri nya, mereka berdua kemudian membantu membereskan sisa makan malam itu dan membawa nya ke dapur.


"Kak Yura, kak Sesil.. udah, biar kami saja. Kalian duduk lah kembali sama teman-teman kalian, dan nikmati dessert nya," ucap mommy Billa seraya tersenyum lembut.


"Enggak apa-apa tante," balas Yura dengan sopan, dan melanjutkan pekerjaan nya.


Setelah semua nya kembali rapi, dan dessert sudah dihidangkan... Yura dan Sesil, beserta Edo dan Dika memilih pamit untuk kembali ke mess.


"Kok kalian buru-buru? Di makan dulu dessert nya kak?" Tawar bunda Fatima dengan ramah.


"Makasih tante, kami sudah kenyang. Sebaik nya kami pulang sekarang, takut kemalaman," tolak Sesil dengan halus, sedang kan Yura tersenyum mengagumi kecantikan dan keramahan bunda Fatima.


Mereka berempat kemudian pamit pada keluarga besar itu, dan Kevin beserta sang istri mengantarkan mereka hingga ke halaman depan, "makasih ya kak Sesil, kak Yura.. udah nyempetin waktu untuk ikut mendo'akan kami," ucap Salma seraya mengelus perut nya yang sudah mulai terlihat membuncit.


"It's okay dik Salma, kami pasti akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu dan calon anak kalian," balas Sesil, seraya ikut mengelus perut Salma.


"Neng, sudah pengin ya.. kayak gitu?" Tanya Dika seraya tersenyum penuh arti, menatap Sesil.


"Ih,, apaan sih bang Dika," kilah Sesil tersenyum malu.


"Dah, besok langsung lamar aja bang Dika," ucap Kevin yang di dukung oleh Edo.


"Benar Dika, gas pool.. berani gak lu? Atau,, gue duluan?" Tantang Edo, seraya melirik Yura.


Yura pun tersenyum dan dalam hati bersorak, "benarkah bang Edo serius sama gue?"


"Yuk ah, kita jalan," ajak Yura beberapa saat kemudian, mengalihkan perhatian Edo. Dan mereka berempat pun pulang dengan menaiki sepeda motor milik Sesil dan Edo.


Kevin dan Salma kemudian masuk kembali, untuk bergabung bersama keluarga dan teman-teman dekat nya.


"Diam lah cinta,, aku enggak mau kamu kecapekan, karena menuju halaman belakang jarak nya cukup jauh," balas Kevin sambil terus melangkah.


Salma akhir nya melingkarkan tangan nya di leher sang suami, dan netra nya memandangi wajah tampan suami nya. Senyuman manis terbit di bibir nya yang lembut, yang bagai candu bagi Kevin.


"Jangan menatap ku seperti itu cinta,, atau aku tidak akan membawamu ke halaman belakang, tapi ke kamar kita," bisik Kevin, masih dengan langkah nya yang lebar.


Salma mencubit mesra pipi sang suami yang masih halus, "dasar, suami mesum," cibir Salma.


"Tapi kamu suka kan cinta,,," balas Kevin seraya menghentikan langkah nya, menurunkan sang istri tepat di balik pintu menuju halaman Belakang.


Kevin mendorong pelan istri nya agar bersandar di dinding, dan suami Salma itu tanpa aba-aba melabuhkan ciuman nya yang hangat dan singkat di bibir sang istri.


"Ih,, mas Kevin, kalau barusan ada yang lihat bagaimana? Memalukan!" Protes Salma dengan wajah nya yang telah merona merah.


"Santai aja cinta, toh kita pasangan halal.. bukan pasangan mesum, kenapa harus malu?" Kilah Kevin, "dan kamu juga menyukai hal yang seperti tadi kan cinta??" Goda Kevin, seraya mencubit dagu lancip sang istri.


Istri cantik Kevin itu memang selalu terbuai dengan perlakuan mesra suami nya, meski terkadang dia merasa khawatir akan ada yang melihat mereka yang tengah bermesraan.. karena Kevin suka tak melihat tempat saat melakukan nya, bahkan suami nya itu sudah sering tiba-tiba mencium nya tatkala mereka dan teman-teman dekat nya sedang bekerja. "Mereka enggak akan melihat, karena sedang fokus dengan laptop nya," selalu begitu alasan Kevin, jika diri nya protes.


"Ayo, kita gabung dengan yang lain," ajak Kevin seraya memeluk mesra pinggang sang istri, dan menuntun nya menuju halaman belakang.


Salma hanya bisa nurut, meski jantung nya masih berdebar dan sejujur nya menuntut lebih dari perlakuan mesra sang suami tadi atas diri nya.


Di halaman belakang, semua anggota keluarga besar Kevin dan Salma masih duduk di atas permadani seperti ketika santap makan malam tadi.


Kevin dan Salma kemudian duduk diantara teman-teman dekat nya, "cinta, mau pudding?" Kevin menawarkan pudding pada istri nya.


Salma mengangguk, dan Kevin kemudian menyuapi istri nya itu dengan penuh cinta.


"Ehm,,, anggap aja kami patung, yang enggak bisa mendengar dan juga melihat," olok Bayu yang sudah gerah melihat kemesraan Kevin dan istri nya.


"Kalender nya bisa di singkat enggak sih, biar cepat berganti tahun?" Dan pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari mulut Bayu, hingga membuat teman-teman nya tertawa.


"Sabar Bay,,, om Gun sudah memutuskan, pernikahan kalian bukan hanya di tunda sampai awal tahun depan. Tapi nunggu sampai Devi lulus kuliah," canda Dion, yang berhasil membuat Bayu seketika memukul dahi nya sendiri.


"Duh, Gusti..."


to be continue,,,


🌷🌷🌷🌷🌷


Double up lagi 😍😍


Karena aku juga butuh vitamin dari bang Kevin untuk mengembalikan mood ku


Gara2 nulis kisah 'Gus Umar dan dik Aida' dalam novel :


MENJAGAMU DENGAN DO'A, yang cukup menguras energy ku.


Yang belum mampir, yuk intip... dan favorit kan 🥰