All About KEVIN

All About KEVIN
Putra Mahkota Pemilik Kampus



Acara pembukaan penyambutan mahasiswa baru pun usai, Rektor dan jajaran nya meninggalkan aula gedung dengan berjalan penuh wibawa.


Panitia PKKMB segera mengambil alih mikrofon dari MC yang bertugas pagi ini, dan dengan suara nya yang lantang.. ketua panitia tersebut memberitahukan kepada seluruh mahasiswa baru, untuk menuju lapangan karena pembekalan untuk kegiatan seminggu ke depan akan dilakukan di tanah lapang tersebut.


Semua mahasiswa baru dengan dress code putih hitam tersebut beranjak dan berebut untuk keluar dari aula, agar bisa segera sampai ke lapangan yang di maksud,,, karena waktu yang diberikan panitia hanya sepuluh menit, sedang kan jarak aula menuju lapangan tersebut cukup jauh.


Devi dan teman-teman nya yang lain pun akhirnya segera ikut keluar dengan berlari-lari kecil, setelah Kevin mengatakan bahwa mereka tak perlu mengikuti jalan nya Salma yang tidak bisa cepat-cepat.


Salma masih terus didampingi Kevin, istri cantik Kevin itu tidak diperbolehkan oleh suami siaga nya untuk ikut-ikutan berdesakan dengan yang lain agar bisa lebih cepat sampai ke lapangan.


"Baby,, tak masalah jika kita terlambat sampai di sana," ucap Kevin sambil menuntun sang istri berjalan dengan santai, dan mencoba menenangkan istri nya yang nampak panik.


"Tapi bagaimana kalau kita dihukum mas?" Salma masih saja terlihat khawatir.


Kevin menggeleng, "Tidak masalah baby, jika perlu aku akan minta ijin pada pihak kampus agar kamu memperoleh dispensasi untuk tidak mengikuti kegiatan ini. Karena aku khawatir baby, sejauh yang aku tahu.. kegiatan semacam ini seringkali menggunakan kekuatan fisik dan otot, dari pada kekuatan dan kecerdasan otak." Kevin menatap istri nya, dengan penuh permohonan.


"Aku mau ikut?" Salma mengerucutkan bibir nya, sambil terus berjalan santai mengikuti langkah teman-teman nya yang sudah semakin menjauh.


"Boleh, tapi kamu harus janji baby.. janji ya, jika fisik mu merasa sudah tidak mampu maka kamu harus segera memberitahukan pada pihak panitia," kembali Kevin menatap istri nya.


Salma mengangguk dan tersenyum manis.


"Jangan berikan senyum seperti itu pada orang lain baby,, aku tidak suka," ucap Kevin.


"Senyum ini spesial untuk mas Kevin ku tersayang," lirih Salma seraya bergelayut manja pada lengan sang suami, Salma tak perduli banyak pasang mata yang menatap nya dengan iri.


"Ehmmm,, jalan nya jangan kayak siput! Kegiatan nya udah mau dimulai, jika kalian terlambat maka kalian akan di hukum!" Ketus Yura yang entah sejak kapan berada di belakang mereka.


Lapangan hijau sudah terlihat di depan mata, dan semua mahasiswa baru nampak sudah berbaris rapi mengikuti petunjuk dan arahan dari panitia. Kevin dan Salma akhirnya sampai juga di tanah lapang tersebut, meski sedikit terlambat.


"Hai kalian berdua!" Tunjuk salah seorang panitia laki-laki, dengan memasang wajah sangar. "Kalian berdua maju ke depan!" Titah nya sok berkuasa.


Kevin melirik sang istri dan kemudian mengangguk kan kepala, kedua nya kemudian maju ke depan barisan menghampiri panitia tersebut.


"Ada apa kak?" Tanya Kevin sopan.


"Pakai nanya segala?! Sudah tahu kalian berdua telat, masih juga nanya!" Panitia tersebut melotot pada Kevin.


"Iya kak, kami mengaku salah. Kami terlambat karena teman saya kondisi nya saat ini tidak memungkinkan untuk berlari-larian," Kevin menjelaskan alasan nya seraya melirik Salma.


"Memang nya teman kamu ini sakit?!" Tanya laki-laki tersebut dengan mengintimidasi.


"Tidak kak, tapi dia.."


"Biar yang cewek gue yang urus," ucap seseorang yang tiba-tiba datang, menghentikan ucapan Kevin.


Kevin menoleh kearah sumber suara, dan nampak Bagas tengah tersenyum seringai dan menatap Salma dengan tatapan yang penuh arti. "Dia lagi!" Geram Kevin dalam hati, tapi Kevin berusaha untuk bersikap tenang.


Salma yang sempat menangkap tatapan kecemburuan dari sang suami berbisik, "don't worry mas, you're the only one in my heart."


Kevin pun tertawa gemas mendengar rayuan maut sang istri namun dia hanya bisa melakukan nya dalam hati, karena tak ingin membuat Bagas dan teman nya curiga.


"Oke," balas panitia laki-laki tersebut, "dan kamu! Lari keliling lapangan tiga kali! Jika sudah selesai, baru boleh kembali ke barisan!" Titah laki-laki tersebut pada Kevin dengan sadis.


Salma melongo mendengar perintah tak berperasaan itu, "tiga kali?! Ini luas lho kak?!" Protes Salma, yang merasa keberatan jika suami tampan nya berlari mengelilingi lapangan yang luas itu sebanyak tiga kali.


"Apa urusan nya sama kamu?! Yang aku suruh dia!!" Ketus panitia tersebut dengan menunjuk Kevin, sedangkan tatapan nya melotot kearah Salma yang dirasa cukup bawel.


"Cepat lakukan!" Titah nya lagi pada Kevin, dan Kevin pun kemudian berlari dengan cepat mengelilingi lapangan yang tak terlalu luas itu bagi nya karena suami Salma itu gemar melatih fisik nya.


Laki-laki yang bernama Rendi itu langsung mengkerut, "maaf ndan, gue tidak tahu kalau gadis itu pacar komandan," ucap nya lirih.


Sedangkan Salma mengernyit, "wanita ku??" Gumam nya dalam hati, ingin rasa nya dia tertawa tapi takut memperburuk suasana. Akhir nya Salma hanya bisa diam saja dan mengikuti dulu kemauan Bagas, "oke, wait and see," lanjut Salma bergumam.


"Pergilah, biar dia gue yang urus," titah Bagas sedikit melunak pada Rendi.


Rendi pun segera berlalu, meninggalkan Bagas dan Salma tanpa protes.


Dion dan Rahman yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi geram, "bro, kita harus gimana? Kita harus membantu Salma, lepas dari wakil ketua BEM itu. Sedari tadi di aula, tatapan matanya selalu mesum kearah Salma," lirih Rahman pada Dion.


"Kita tunggu saja dulu, aku yakin.. Salma pasti juga sudah menyadari bahaya yang mengancam nya," balas Dion yang juga nampak khawatir.


"Ya, lu benar bro.. Salma itu gadis yang cerdas dan juga tangguh, dia juga penuh perhitungan," balas Rahman memuji teman dekat nya itu, tiga tahun kebersamaan nya dengan Salma dan itu cukup bagi Rahman untuk bisa menilai seperti apa istri Kevin itu.


"Hey tunggu, tadi lu bilang gadis? Salma bahkan saat ini tengah mengandung bro,, dia bukan gadis lagi?!" Canda Bayu, yang ikut menyahut mencoba mencairkan ketegangan.


Rahman mengernyit, dan sejenak kemudian ikut terkekeh bersama Bayu dan Dion.


Ya, mereka bertiga berada di barisan yang sama dan tergabung dalam satu kelompok. Sedangkan Kevin, seharusnya berada di barisan Devi bareng juga dengan istri nya. Tapi saat ini, Kevin harus menjalani hukuman terlebih dahulu karena terlambat.. sedangkan Salma saat ini masih bersama Bagas, dan belum jelas hukuman apa yang akan diterima nya.


"Kalian bertiga! Perhatikan ke depan!" Seru panitia yang ada di depan, pada Rahman, Dion dan Bayu.


Mereka bertiga pun segera terdiam, dan mengangguk patuh.


Sementara Kevin masih berlari menyelesaikan hukuman nya, satu putaran telah berlalu dan keringat mulai bercucuran membasahi pipi nya hingga membuat wajah tampan nya semakin terlihat seksi. Dan hal itu membuat gadis-gadis yang memperhatikan Kevin saat dia maju ke depan tadi, semakin histeris dalam hati mengagumi ketampanan nya.


Sedangkan Salma yang masih berdiri berhadapan dengan Bagas, dibuat jengah dengan tatapan mata Bagas yang terlihat lapar seolah ingin menelan Salma hidup-hidup.


"Kak, saya jadi dihukum apa tidak? Jika tidak, ijinkan saya kembali ke barisan saya," pinta Salma dengan sopan, dan berharap Bagas mengabulkan permintaan nya.


"Tidak semudah itu cantik, temani aku ke ruangan ku sebentar.. setelah itu, kamu boleh kembali ke barisan mu," ucap nya dengan senyum seringai.


"Untuk apa ke ruangan kakak? Bukan nya kalau kakak mau bicara, bisa disini saja?" Tolak Salma dengan halus.


"Tidak bisa cantik, kita harus bicara dari hati ke hati.. and talk, lip to lip," bisik nya dengan tatapan mesum.


Salma mendengus kesal, dan membuang pandangan nya. Habis sudah kesabaran nya mengahadapi laki-laki buaya rawa yang tak punya otak itu, Salma lelah jika terus-terusan bersikap manis.


"Apa mau nya kakak?" Tanya Salma, sesaat kemudian dengan tatapan tajam.


Kevin yang baru saja menyelesaikan hukuman lari nya, segera kembali ke barisan nya.. namun tatapan nya tak lepas dari sang istri, suami Salma itu tetap waspada dan mode siaga penuh.


"Jangan sok jual mahal cantik, aku tahu gadis seperti mu senang menghambur-hamburkan uang dan shopping bukan? Aku akan menuruti segala keinginan mu, asalkan..." Bagas sengaja menggantung ucapan nya, ingin mengetahui sejauh mana Salma tertarik dengan umpan nya yang sedikit di ulur.


"Maaf kak, aku tidak butuh uang kakak karena uang ku sendiri sudah sangat banyak.. bahkan aku sendiri tidak sanggup untuk menghitung nya. Jika kakak mau, kakak bisa menjadi pegawai ku untuk membantu ku menghitung uang," balas Salma dengan serius tapi santai.


Bagas tertawa mengejek, "besar mulut juga kamu cantik,, tapi tak mengapa, aku suka tantangan," ucap Bagas menatap dalam netra indah Salma.


Salma membalas nya dengan tatapan tajam dan menusuk, aura tegas nya sebagai Chief Executive Officer di Perusahaan keluarga yang telah sah menjadi milik nya nampak keluar. Tegas, berwibawa dan tidak takut dengan siapa pun.. ternyata darah sang kakek sebagai seorang pebisnis, mengalir dalam diri nya.


Kevin yang terus memperhatikan nya sedari tadi, tersenyum bangga. "Istri ku sungguh luar biasa," gumam Kevin dalam hati.


Sedangkan Bagas masih saja dengan senyuman nya yang mengejek, "kita lihat saja cantik, sejauh mana kamu bisa menghindar dari putra mahkota pemilik kampus ini."


to be continue,,