
Pagi ini, Dion dan keluarga nya terbang ke Singapura. Turut juga Bayu dan Devi, serta kedua orang tua Devi. Mereka langsung menuju kediaman om Rudi, adik bungsu dari papa Hadi.. yang berada satu komplek dengan tempat tinggal ayah Yusuf, di kawasan Core Central Region (CCR) Singapura.
Sedangkan keluarga besar Alamsyah dan keluarga besar Antonio termasuk om Devan dan keluarga nya, baru akan berangkat sore nanti. Karena menunggu anak-anak, yang pagi ini masih masuk sekolah.
Kevin dan keluarga kecil nya, serta Malika dan sang suami.. yang dari semalam sudah menginap di kediaman orang tua nya di rumah utama keluarga Alamsyah, saat ini tengah ikut menikmati sarapan bareng dengan orang tua dan juga adik-adik nya.
Dan pagi ini, mommy Billa terlihat lebih antusias dari hari-hari biasa nya.. karena putra putri nya berkumpul lengkap, termasuk cucu pertama nya yaitu Vinsa.
Bahkan sejak bangun subuh tadi, Vinsa nampak selalu lengket pada eyang tampan yang sangat menyayangi nya itu.
"Vinsa mau duduk di tengah eyang, di antara eyang tampan dan eyang cantik," rajuk Vinsa, tatkala mommy Billa meletakkan kursi makan khusus milik Vinsa di antara kurdi mommy Billa dan kursi Salma.
"Oh, iya, iya,,, eyang pindahin ya, udah jangan cemberut," bujuk mommy Billa.
Kevin segera beranjak dan memindahkan kursi putri nya, sesuai permintaan sang putri. Dan kemudian mendudukkan putri nya di kursi tersebut.
"Vinsa mau di suapi sama eyang tampan ya?" Tanya daddy Rehan, sesaat setelah Vinsa duduk.
Gadis kecil itu menggeleng, "tidak eyang, Vinsa mau makan sendiri." Balas Vinsa.
"Nih, bubur ayam request anak cantik sudah siap," mommy Billa meletakkan bubur ayam yang masih mengepul itu, tepat di hadapan sang cucu.
"Wah, aroma nya lezat. Sama kayak buatan bunda," ucap Vinsa dengan mata berbinar, "nanti eyang tampan, Vinsa suapi ya?" Vinsa menoleh ke arah daddy Rehan, meminta persetujuan.
Daddy Rehan mengangguk, "oke, dengan senang hati sayang," balas daddy Rehan.
"Dan ini, sarapan untuk eyang kakung yang paling tampan,,," mommy Billa meletakkan sarapan untuk daddy Rehan seraya tersenyum manis.
"Makasih eyang cantik," balas daddy Rehan dengan tatapan nya yang selalu penuh cinta, yang membuat mommy Billa senantiasa merasa menjadi wanita yang paling istimewa.
Setelah semua nya mendapatkan makanan, seperti biasa.. Mirza lah yang memimpin do'a sebelum makan.
Acara makan pagi ini terasa sangat khusyuk, karena Mirza dan kedua adik kembar nya.. makan dengan sedikit lebih cepat dari biasa nya, karena mereka harus segera pergi ke sekolah. Begitu pula dengan daddy Rehan, yang harus buru-buru untuk mengantarkan Maida dan Maira ke sekolah
"Ayo eyang, buka mulut nya," pinta Vinsa, yang mengalihkan semua perhatian orang.
Daddy Rehan pun dengan tersenyum menerima suapan cucu nya itu, "makasih sayang, bubur nya enak," puji daddy Rehan seraya mengusap bibir nya yang belepotan dengan tissue, karena Vinsa memberikan suapan dengan sendok yang penuh.
"Kalau eyang tampan mau, tiap pagi eyang tampan minta saja sama eyang cantik untuk di buatkan bubur ayam kayak ini." Ucap Vinsa, dengan gaya nya yang lucu.
"Kalau eyang, enggak boleh makan bubur tiap hari kak.. nanti eyang lemes, enggak kuat ngapa-ngapain. Enggak bisa gendong eyang cantik juga," balas Malik asal.
Mommy Billa tertegun mendengar ucapan Malik, sedangkan daddy Rehan hanya tersenyum.
Kevin, Rahman dan istri masing-masing pun tersenyum.. karena mereka memang sering mendapati sang daddy melakukan hal itu pada mommy nya.
Sedangkan Mirza, Maida dan Maira,, kembali khusyuk dengan makanan nya, dan tak memperhatikan obrolan di sekitar nya.
"Eyang cantik masih suka di gendong? Kok sama ya kayak bunda nya Vinsa? Bunda juga suka minta gendong sama ayah tuh,,," ucap Vinsa, yang ikutan membuka rahasia kedua orang tua nya.
"Bunda kalau enggak di gendong, suka nangis kak," imbuh Kevin, yang membuat wajah sang istri merona merah.
Mirza nampak sudah menyelesaikan makan nya, dan buru-buru beranjak. "Kak Icha, bang Rahman... kalian harus tanya tuh sama bang Kevin dan kak Salma, resep agar anak nya cerdas dan pinter tapi enggak berisik dan cadel kayak ini nih,,," Mirza menunjuk Maira yang baru saja menyelesaikan sarapan, dengan dagu nya.
"Eh, Mela udah enggak cadel ya bang. Mela juga enggak berisik tau,,," protes Maira, yang meskipun sudah tidak lagi cadel tapi nama panggilan kesayangan nya tetap lah Mela.
Malika mengernyit, begitu pula dengan mommy Billa.
"Terus, maksud bang Mirza ngomong begitu? Arti nya daddy dan mommy, enggak pandai gitu bikin adik?" Pancing Kevin.
Abege yang kini berseragam putih biru itu menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal,, "iya ya, Mirza salah ngomong berarti," lirih Mirza seraya melirik sang daddy, yang nampak cuek menghabis kan sarapan nya.
"Maaf mom, Mirza harus berangkat sekolah sekarang... nanti keburu telat," ucap Mirza, yang langsung menyalami sang mommy dan juga daddy nya dengan takdzim. Dan kemudian segera melesat kabur dari tempat kejadian perkara, sebelum dirinya di interogasi lebih jauh lagi oleh daddy dan mommy nya.
Mommy Billa hanya bisa geleng-geleng kepala, menyaksikan tingkah putra nya itu.
Maira dan Maida pun beranjak, dan segera menyalami sang mommy dengan takdzim serta mencium pipi mommy Billa. "Assalamu'alaikum mom,,," ucap salam kedua nya, yang kini duduk di bangku Sekolah Dasar.
Daddy Rehan yang juga sudah menyelesaikan sarapan nya sedari tadi, ikut beranjak untuk segera mengantar kedua putri kembar nya.
"Vinsa ikut eyang tampan, boleh ya... please??" Pinta Vinsa, yang tiba-tiba merajuk.
"Kak, kakak di rumah saja ya.. nanti kita masak-masak sama eyang cantik," bujuk Salma pada putri nya.
"Ah... Vinsa mau ikut eyang tampan bunda," Vinsa mulai menangis.
"Iya, sayang,,, boleh ikut eyang kok, ayo.." ajak daddy Rehan.
"Tapi dad,,"
"Tidak apa-apa kak Salma, daddy cuma sebentar kok. Dulu juga, ayah nya Vinsa sering ikut daddy ke kantor," ucap daddy Rehan seraya tersenyum ke arah Kevin.
Kevin tersenyum simpul.
"Tapi nanti daddy jadi repot?" Salma masih merasa tak enak hati, takut putri nya berulah dan membuat sang ayah mertua jadi kerepotan.
"Kalau gitu, nanti sepulang nya dari butik.. mommy akan jemput Vinsa, gimana?" Mommy Billa mencoba menengahi.
"Daddy setuju," balas daddy Rehan dengan cepat, "Vinsa salim dulu sama ayah, sama bunda," titah daddy Rehan.
"Mom, daddy berangkat dulu," daddy Rehan seperti biasa, mencium kening istri nya dengan penuh kasih. Dan mommy Billa, mencium pipi sang suami dengan penuh cinta.
Mommy Billa kemudian mengikuti langkah daddy Rehan dan Vinsa yang harus segera berangkat, karena putri kembar nya sudah menanti di dalam mobil.
Menyisakan Kevin dan sang istri, Malika dan sang suami serta Malik yang masih asyik memakan sayur urap buatan mommy Billa kala rindu masakan kampung halaman nya.
"Bang Malik, ntar sore Tasya enggak di ajak?" Tanya Malika.
Malik mengernyit, "emang boleh sama daddy?" Malik yakin, jika dia minta ijin sama kedua orang tua Tasya.. pasti akan di perbolehkan, tapi bagaimana dengan daddy nya?
"Coba aja minta ijin mommy," Malika memberikan solusi.
Malik mengangguk, "cerdas juga lu Cha, kadang-kadang," balas Malik seraya tersenyum.
"Eh, Icha kan emang cerdas bang. Kalau enggak cerdas, mana bisa Icha lulus SMU dua tahun?!" Protes Malika.
"Itu karena guru nya terpesona sama kamu, sampai khilaf kasih nilai," balas Malik yang tak mau kalah.
"Ih,, enggak ya, orang Icha beneran bisa kok?!" Malika cemberut.
"Hubby,, bang Malik tuh, ngeledek Icha mulu," rajuk Malika pada sang suami.
Rahman tersenyum, "itu cara bang Malik mengungkapkan rasa sayang nya sama kamu yank.. jangan di ambil hati," bujuk Rahman.
Malik mencibir, "ogah banget sayang ma Icha."
"Tuh kan? Punya saudara kembar tapi kayak musuh?!" Sungut Malika.
"Bagus dong,,, itu arti nya, kita enggak benar-benar musuh? Daripada punya musuh, tapi pura-pura jadi kayak saudara? Bisa nusuk dari belakang tahu Cha? Serem kan?" Terang Malik.
"Benar juga sih,, emang nya ada ya, yang seperti itu?" Malika mengernyitkan dahi nya.
"Banyak yank,, itu seperti musuh dalam selimut dalam arti kiasan," balas Rahman, "kalau musuh dalam selimut yang sungguhan tahu enggak?" Tanya Rahman kemudian.
"Apa?" Tanya Malika, dengan menyelidik.
"Seperti kita,,," Rahman menatap sang istri dengan penuh damba, "aku dan kamu yang bergelut di bawah selimut bulu yang halus, di waktu dini hari yang sangat dingin. Dan sekarang, ayo kita mengulang nya lagi," bisik Rahman di telinga sang istri.
Kevin dan Salma saling melempar pandang, dan kemudian tersenyum mendengar perkataan absurd dari teman baik nya yang sekarang sudah menjadi ipar nya itu.
Sedangkan Malik langsung melesat pergi, tak ingin otak nya yang masih suci terkontaminasi oleh hal-hal absurd.. dari saudara-saudara nya yang telah menikah itu.
🌷🌷🌷🌷🌷 tbc,,,